Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: MALAM DI GUA SIANGIT
Seusai membuat Kontrak Darah Kesetiaan dengan Ular Kobra Emas itu, Bima Samudra menatapnya dengan senyum usil.
"Tunjukkan wujud manusia mu dan perkenalkan nama mu," perintah Bima.
"Baik, Tuan," kata Ular Kobra Emas itu dengan sangat hormat.
Seketika tubuh ular raksasa itu bercahaya keemasan yang sangat terang. Perlahan-lahan cahaya itu memudar dan berubah menjadi sosok seorang gadis yang berparas sangat cantik. Rambutnya panjang hitam legam, matanya berwarna keemasan, kulitnya putih bersih, mengenakan gaun kuning keemasan yang indah berkilauan seperti sisik.
Wanita itu langsung berlutut dengan satu kaki di hadapan Bima seraya berkata, "Kencana memberi hormat kepada Tuan Muda."
"Berdirilah, ternyata kamu juga sangat cantik, Kencana," ujar Bima seraya tersenyum hangat.
"Terima kasih, Tuan, atas pujian mu," kata Kencana dengan wajah yang memerah seperti buah apel.
"Kencana, mulai sekarang kamu akan tinggal di dalam Alam Jiwa milik ku. Aku akan memanggil mu jika aku membutuhkan mu. Di sana ada tiga kakak mu, Sari, Anjani, dan Sekar. Belajarlah banyak dari mereka," kata Bima.
"Baik, Tuan," jawab Kencana dengan sangat patuh.
Sesaat kemudian, Bima membuka Alam Jiwanya dan muncullah gerbang cahaya yang indah dan megah.
"Silakan masuk," perintah Bima.
Kencana pun dengan patuh segera masuk ke dalam gerbang itu. Setelah Kencana masuk, Bima segera menutup kembali gerbang jiwanya.
Para wanita dari Perguruan Anggrek Putih yang melihat kejadian itu hanya bisa terkagum-kagum, mulut mereka terbuka lebar. Mereka baru pertama kali melihat ada manusia yang bisa memiliki Alam Jiwa dan bisa mengubah siluman menjadi manusia.
Setelah menyimpan gerbang jiwa itu, Bima berbicara dengan para pelayannya di dalam Alam Jiwa menggunakan telepati, meminta mereka untuk menerima Kencana dengan baik dan menganggapnya sebagai rekan dan adik baru.
Setelah itu, mereka kembali ke gua di pinggir Sungai Siangit.
Sesampainya di gua, Bima mengeluarkan Ikan Mas Ajaib yang tadi ia tangkap dari Cincin Semestanya.
Melihat ikan itu, para wanita itu kaget dan gembira bukan main. Karena menurut tabib di Desa Ngargoyoso, daging Ikan Mas Ajaib ini memiliki banyak manfaat. Bisa menambah tenaga dalam, memperhalus kulit, dan mempercepat penyembuhan luka.
Lalu Bima dengan cekatan memotong ikan itu masing-masing sekitar dua kilo. Setelah dipotong-potong dengan ukuran yang sama, terdapat sekitar seratus potong daging segar.
Bima mengambil beberapa potong, kemudian meraciknya dengan bumbu rempah khas Jawa seperti kunyit, kemiri, dan madu hutan Lawu, lalu memasaknya di atas api unggun.
Karena daging itu sangat banyak, Bima juga mengirim sebagian daging itu kepada para pelayannya di dalam Alam Jiwa, yaitu Sari, Anjani, Sekar, Kencana, dan juga Ayu Lestari sang Roh Pedang. Mereka sangat senang menerima pemberian dari Tuan mereka.
Sementara itu, Bima makan bersama Intan dan keempat saudari seperguruannya. Para wanita itu makan dengan sangat lahap, karena masakan Bima memang seenak masakan koki hotel bintang lima di Solo.
"Wah, Bima, kamu jago masak juga ya, enak sekali," puji Intan sambil tersenyum.
Setelah selesai makan, Bima menyimpan sisa daging itu ke dalam Cincin Semestanya agar tetap segar, kemudian masuk ke dalam gua untuk tidur. Para wanita itu sudah terlebih dahulu tidur beralaskan daun pisang kering yang empuk.
Bima yang menemukan posisi yang bagus untuk tidur, segera mengeluarkan sebuah ranjang mewah yang begitu besar dari Cincin Semestanya, lengkap dengan kelambu sutra dan selimut tebal yang hangat. Ranjang itu sangat luas dan mewah, seperti ranjang milik para raja di Keraton Yogyakarta.
Bima pun segera naik ke ranjang untuk tidur.
Setelah berbaring, Bima teringat dengan para wanita cantik tadi yang tidur di atas daun yang dingin, dan segera memanggil mereka dengan suara lembut.
"Nona-nona, sebaiknya kalian bergabung dengan ku di sini. Sayang kulit kalian yang mulus tidur di atas daun yang dingin. Di sini lebih hangat dan luas," kata Bima dengan ramah dan tulus, tanpa ada niat buruk sedikit pun.
Mendengar itu, mereka saling pandang dengan wajah ragu dan malu.
Intan bertanya dengan penasaran, "Di mana kamu dapat semua ini, Bima...? Ranjang semewah ini...?"
"Itu tidak penting, Intan. Segeralah kalian naik dan beristirahat bersama ku di sini. Anggap saja kita sedang kemah keluarga," kata Bima sambil menepuk-nepuk kasur di sebelahnya sebagai tanda menyuruh para wanita itu menempatinya.
Dengan malu-malu, semuanya naik, dua orang dari sisi kiri dan dua orang dari sisi kanan Bima, sementara Intan berada paling dekat di sebelah Bima.
Melihat ini, Bima tersenyum sambil bercanda untuk mencairkan suasana yang canggung.
"Sekarang aku merasa seperti seorang kaisar yang dikelilingi oleh dayang-dayang cantik dari Perguruan Anggrek Putih. Tidak apa-apa lah, anggap saja aku jadi Kaisar Ranjang satu malam yang bertugas menjaga kalian biar tidak kedinginan," canda Bima.
Mendengar itu, semua wanita itu jadi tertawa kecil dan tersipu malu. Suasana gua yang tadinya dingin menjadi hangat karena tawa mereka.
"Baiklah, mari kita istirahat. Besok kita harus bangun pagi-pagi," kata Bima dengan suara yang lebih lembut.
Malam itu, mereka tidur bersama di atas ranjang yang luas itu dengan penuh kehangatan sebagai teman seperjalanan. Bima berada di tengah, dikelilingi oleh lima wanita yang tertidur dengan pulas karena kelelahan seharian bertarung. Tidak ada hal yang aneh-aneh terjadi. Bima hanya menarik selimut untuk menyelimuti mereka semua agar tidak masuk angin. Ia menjaga mereka dengan tulus seperti seorang kakak menjaga adik-adiknya, walau di dalam hati kecilnya, ia tidak bisa bohong kalau jantungnya berdegup sedikit lebih kencang karena dikelilingi wanita-wanita cantik.
Keheningan malam di Gunung Lawu begitu damai, hanya ditemani suara gemericik Sungai Siangit dan suara jangkrik.
Perlahan, fajar pun menyingsing dengan cahaya yang indah keemasan masuk ke dalam gua.
Saat bangun, Intan masih tertidur dengan pulas bersandar di bahu Bima, sementara para wanita yang lain sudah bangun lebih awal dan sedang merapikan rambut mereka di luar gua.
Saat Intan membuka matanya dan mendapati dirinya bersandar di bahu Bima, ia pun tersipu sangat malu, wajahnya langsung merah padam, lalu langsung bangun dan merapikan pakaiannya sambil berlari kecil keluar gua.
"Eh, Intan mau kemana...? Malu ya...?" goda Bima sambil tertawa kecil.
Bima hanya tersenyum melihat tingkah Intan yang begitu menggemaskan.
Setelah Intan pergi, Bima pun bangun dan menyimpan kembali ranjang mewahnya ke dalam Cincin Semestanya, lalu bergegas keluar.
Terlihat di luar gua, para wanita itu sudah siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Perguruan Anggrek Putih di Desa Ngargoyoso.
"Bima, ayo kita pergi mumpung masih pagi," ajak Intan, wajahnya masih sedikit memerah karena kejadian tadi pagi.
"Apakah tidak sebaiknya kita makan dulu...?" tanya Bima.
"Kami masih kenyang karena sudah banyak makan daging Ikan Mas Ajaib semalam. Nanti kita makan lagi saat istirahat di perjalanan," kata Intan.
"Hemmm, baiklah kalau begitu," jawab Bima.
Bima lalu meminta mereka semua untuk mendekat.
"Kalian semua berpegangan tangan dan pejamkan mata kalian. Intan, kamu bayangkan gerbang Perguruan Anggrek Putih mu itu dengan sejelas-jelasnya," kata Bima.
Tanpa bertanya, mereka semua menuruti perintah Bima dengan penuh percaya, karena mereka sudah tahu Bima bukanlah orang sembarangan.
Dalam sekejap.
"Wussshhh..."
Cahaya keemasan menyelimuti mereka berlima.
Bima membawa mereka berteleportasi menggunakan Teknik Ruang Dimensi yang ia dapat dari warisan Eyang Jagat.
Dalam sekejap mata, mereka sudah berada tepat di depan gerbang kayu besar Perguruan Anggrek Putih yang megah di lereng Desa Ngargoyoso.
"Kalian semua buka mata kalian dan lihatlah," kata Bima dengan santai.
Saat mereka membuka mata dan melihat mereka sudah berada di gerbang perguruan mereka, mereka kaget bukan kepalang.
"Benarkah kita sudah sampai...? Ini kan gerbang perguruan kita...?" tanya para wanita itu yang masih tidak percaya. Padahal jarak dari gua ke perguruan itu seharusnya satu hari perjalanan.
"Iya," Bima mengangguk dengan santai.
"Ayo masuk," Intan mengajak mereka masuk dengan perasaan campur aduk antara kaget dan kagum. Saat berjalan di halaman perguruan, Intan berbisik pada Bima.
"Bima, jika kamu bisa membawa kami sampai secepat ini, kenapa kemarin kamu harus mengajak kami bermalam di gua...? Kan bisa langsung datang ke sini dari kemarin...?" tanya Intan pada Bima dengan tatapan curiga namun manja.
Bima menjawab dengan alasan kocaknya yang khas.
"Jika aku mengajak kalian pulang kemarin sore, tentu tadi malam aku tidak dapat menjadi Kaisar Ranjang yang menjaga kalian dari hawa dingin Gunung Lawu. Dan kita juga tidak akan dapat makan ikan bakar bersama di tepi sungai. Rugi dong..."
Seraya tersenyum jail, Intan pun mencubit pinggang Bima dengan gemas.
"Dasar nakal," kata Intan sambil tersenyum manis, namun di dalam hatinya ia justru merasa senang dan berdebar.
Setelah sampai di dalam perguruan, suasana yang tadinya tenang langsung menjadi tegang. Para murid lain berlarian panik.
Intan segera berlari ke ruangan adiknya yang sakit.
Sampai di dalam kamar yang harum kayu cendana itu, Intan menyerahkan empedu Kadal Api itu kepada tabib tua yang sudah menunggu, seorang tabib terkenal dari Karanganyar bernama Mbah Wiro.
Namun saat tabib akan menggunakan empedu itu untuk adik Intan, Bima menghentikannya dengan suara yang tegas namun sopan.
"Tunggu, maaf Mbah, bukannya saya lancang, tapi empedu itu hanya bisa meredam sakitnya sementara. Setelah itu penyakitnya akan kambuh dan menjadi dua kali lipat lebih kuat dan berbahaya," kata Bima menghentikan tabib itu.
"Apa maksudmu, Anak Muda...? Bukankah ini penyakit Dingin Ekstrem yang akan sembuh dengan hawa panas dari empedu Kadal Api ini...?" kata tabib itu dengan nada sedikit tersinggung dan bertanya.
"Tidak, Mbah. Ini bukan penyakit Dingin Ekstrem biasa, ini adalah Racun Dingin Seribu Tahun yang bersarang di sumsum tulang. Bila terkena panas dari empedu ini, dia akan mereda sesaat, namun setelah itu racunnya akan makin kuat setelah hawa panas itu menyatu dengan racun itu. Ini sangat berbahaya," jelas Bima dengan sangat detail.
"Jika diizinkan, saya akan mencoba mengeluarkan racun itu dengan jarum," kata Bima menawarkan diri dengan penuh percaya diri.
Tabib Mbah Wiro menatap Bima dalam-dalam, lalu melihat tatapan penuh harap dari Intan. Akhirnya ia mengangguk.
"Baiklah, silakan, Anak Muda. Cobalah."
Dengan cepat, Bima mengeluarkan Jarum Suci Dewa nya. Cahaya putih keperakan menyala di ujung jarinya.
Ia menggunakan Teknik Lima Elemen yang baru saja ia kuasai.
Gerakan Bima sangat cepat, lincah, dan indah, seperti seorang penari, sehingga mereka tidak dapat melihat pergerakan jarinya dengan jelas. Puluhan jarum melayang di udara dan menusuk titik-titik meridian penting di tubuh adik Intan yang terbaring pucat.
Setelah beberapa saat, jarum-jarum yang tadinya putih mengkilat itu berubah menjadi hitam kebiruan, tanda racun dingin itu terserap keluar.
Setelah sepuluh menit yang terasa sangat menegangkan, akhirnya proses itu selesai. Bima pun menyimpan kembali jarum-jarumnya dengan satu kibasan tangan.
Sesaat kemudian, adik Intan yang bernama Sari Anggrek yang tadinya pucat dan tidak sadarkan diri selama berhari-hari, perlahan membuka matanya dan sadar.
" Kak Intan..."
Tangis haru pun pecah di ruangan itu. Tahap pengobatan pun sukses total.
Intan langsung memeluk adiknya sambil menangis bahagia, lalu menatap Bima dengan tatapan yang penuh dengan rasa terima kasih, kagum, dan cinta yang mulai tumbuh diam-diam di dalam hatinya.
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?