Siapa yang ingin bercerai? Bahkan jika hubungan pelik sekalipun seorang wanita akan berusaha mempertahankan rumah tangganya, terlebih ada bocah kecil lugu, polos dan tampan buah dari pernikahan mereka.
Namun, pada akhirnya dia menyerah, ia berhenti sebab beban berat terus bertumpu pada pundaknya.
Lepas adalah jalan terbaik meski harus mengorbankan sang anak.
Bekerja sebagai sekertaris CEO tampan, Elen tak pernah menyangka jika boss dingin yang lebih mirip kulkas berjalan itu adalah laki-laki yang menyelamatkan putranya.
laki-laki yang dimata Satria lebih pantas dipanggil superhero.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - TERUNGKAP
Jadilah baik, bukan karena membalas bagaimana orang memperlakukanmu, tapi karena kamu memang benar-benar orang yang baik~
Jika keburukan seseorang dibalas dengan hal yang buruk, bukankah berarti kita sama saja seperti mereka?
***
"Elen, pelan-pelan, tenangkan dirimu!" bisik Divine, ia menggenggam telapak tangan wanitanya yang dingin. Sama persis seperti sikapnya jika berhadapan dengan orang yang tak disuka.
Menghela napas, Alexan menekuk wajahnya. Menakhlukan klien ternyata lebih mudah baginya ketimbang membujuk ponakan sendiri.
"Begini, Kakek Arkan selama ini sudah menaruh orang mengawasi kediaman kalian. Dari kamu remaja, bahkan hingga sekarang. Kehidupan macam apa yang orang tuamu berikan? Awalnya beliau membiarkan Roy dan Ratna seperti itu dengan harapan menjadi miskin mereka akan berubah, paling tidak sedikit saja kebiasaan ayahmu itu hilang."
Kini Elen yang dibuat terdiam.
"Tuan Alexan, meminta saya kembali karena kasian dengan kehidupan saya atau karena Tuan membutuhkan penerus keluarga Shain?"
"Semuanya, kamu tahu saat ini adikmu sedang menuntut ilmu di luar negeri!" Alexan menghembuskan napasnya.
"Tuan Alexan, saya tidak tertarik dengan apapun yang ada di keluarga Shain, terlebih menjadi penerus! Anda paham saya ini wanita, sudah punya anak, dan janda!"
"Tapi..." Pertama kalinya Alexan tak mampu menghadapi seseorang, dan itu adalah ponakannya sendiri.
"Jika memang kedatangan anda untuk menjadikan saya penerus? kenapa tidak ayah saya saja? Dia belum cukup tua dan lagi pengangguran. Jika sebuah keluarga terdapat masalah, harusnya kakek memberi solusi. Minimal mengajari ayah saya agar menguasai bisnis, bukan malah membuang dan mengusir kami dengan alasan seorang bayi perempuan, permisi!" Elen bangkit, ia mengisyaratkan pada Divine bahwa dirinya saat ini sudah tak ingin berlama-lama.
***
"Mau es krim?" tawar Divine, ia kelabakan saat melihat wajah murung Elen sejak bertemu dengan keluarganya.
"Aku bukan anak kecil, Div."
"Siapa yang bilang kamu anak kecil, hm?"
Divine membukakan pintu mobilnya agar Elen masuk, lalu memutar tubuh dan masuk ke kursi kemudi.
"Jangan memikirkan apapun!" pinta Divine.
"Tidak ada."
"Elen, aku yakin ada maksud tersembunyi Tuan Alexan memintamu kembali. Bukan apa-apa, beliau hanya pamanmu. Bisa jadi karena..."
"Aku tahu , Div! Aku tahu itu, lagian Ibuku saja diusir apalagi aku? Cucu yang dari awal tak diinginkan?"
Memikirkannya semakin membuat kepala Elen semakin pusing.
Apalagi mengaitkan satu persatu ucapan Ibu dan Ayahnya, juga Tuan Alexan yang mengatakan jika sejak remaja keluarga Shain menyuruh orang mengawasi mereka.
Ingatannya menerawang jauh, dimana semua berawal sejak ia menjadi remaja.
"Jika mereka membenciku karena terusir dari keluarga Shain, bukankah mereka bisa saja membunuhku dari kecil? Bukankah mereka bisa bersikap jahat sejak aku masih kecil? Tapi hal itu bermula setelah aku remaja, apa itu...?"
Menghela napas berat, ia menatap Divine berharap laki-laki itu memberinya solusi.
"Mungkin ada hal yang membuat orang tuamu seperti itu. Elen, di dunia bisnis atau di keluarga pembisnis! Keluarga bisa jadi musuh atau sebaliknya, orang lain bisa menjadi keluarga kita. Itulah sebabnya Ayahku memilih merintis perusahaan sendiri, dari pada berebut dengan orang tua Noah. Lagi pula, sejak kecil kakek Djaja sudah membedakan kami," ujar Divine.
"Aku mau mampir ke rumah orang tuaku, apa boleh?" tanya Elen.
"Tentu saja, apa perlu kita jemput Satria dulu! Hari juga sudah sore?"
"No, nanti saja. Satria lebih aman sama Keyra, aku nggak mau Satria melihat perdebatan kami," ujar Elen.
"Ya, ya! Menurutmu, apa kita terlalu buru-buru menikah? Aku hanya tak tahan melihatmu," aku Divine.
"Maksudmu apa?"
"Ah, bukan mengarah kesitu. Maksudku, ya aku tak tahan melihatmu menanggung sedih sendirian."
"Oh, aku kira kamu tak tahan..."
"Ya, sama itu juga. Elen, apakah sampai detik ini kamu masih menyukai cowok yang menggodamu di lapangan basket sewaktu SMA?" tanya Divine.
"Tidak, ah bukan. Aku saja bahkan tak tahu namanya!"
"Benarkah? Sayang sekali, aku dengar gosip kamu sangat menyukainya sampai menjadi penguntit di sekolah."
"Itu hanya gosip, lagian itu hanya cinta monyet!" elak Elen.
"Hm, cinta monyet ya? Sudahlah, kalau sampai saat ini kamu pun masih menyukainya, aku bisa apa."
"Div, maksudmu?"
"Aku tidak bilang menyukai! Divine, jangan membahas masalalu," sambung Elen lagi.
"Aku hanya memastikan, Elen sayang! Kalau sebenarnya, kita sudah ditakdirkan bersama hanya sedikit tertunda."
"Jadi..."
"Jadi apa?" tanya Divine. Melihat ekpresi Elen yang terkejut membuatnya gemas.
"Jadi cowok itu kamu? Keyra pasti mentertawakanku karena jika tau hal ini."
"Hahahaha..."
"Ish, tawa lagi. Div kita berhenti dulu di jarak jauh rumahku ya? Bagaimana?"
"Boleh!"
Divine hanya bisa menuruti Elen, terlebih saat wanitanya turun dan izin menelusup masuk ke rumah tetangganya dan memintaa Divine menunggu di mobil. Tetangganya yang memiliki rumah dua lantai tentu bisa melihat jelas pekarangan samping rumah orang tuanya.
"Emil, sejak kapan rumah orang tuaku ada mata-mata?" tanya Elen mengerutkan kening.
"Mbak Elen gak tau? bukannya dari dulu rumah orang tua Mbak Elen selalu ada yang jaga?" tanya balik Emil.
Elen bahkan melihat ibunya bertingkah aneh di teras, kemudian masuk lagi.
"Div, bisakah tolong aku?" tanya Elen.
"Apa sayang? Kamu dimana sekarang?" tanya Divine.
"Aku masih di dalam rumah Emil. Kamu datanglah ke rumah, ajak ibuku keluar. Ingat, hanya Ibuku."
"Baiklah sesuai perintah."
Divine memajukan mobilnya tepat di depan rumah Elen, bisa ia lihat dari kaca mobil Ibu Elen seperti terkejut dan tampak waspada melihat kedatangannya.
"Selamat sore, Ibu Ratna."
"Hm, mau apa?"
"Apakah Ibu bisa ikut saya ke bank? Bukankah kemarin saya berjanji akan memberi uang, asalkan Ibu dan Ayah menikahkan saya dengan Elen."
Ratna mengangguk, "ya sudah, ayo!"
Divine mempersilahkan Ratna masuk ke dalam mobilnya, mengirim pesan kepada Elen agar wanitanya itu menunggu di rumah tetangganya.
Divine menyalakan rekaman ponselnya, ia akan mengobrol dengan Ratna.
"Bu Ratna, apa anda setuju saya menikahi Elen?" tanya Divine, Ratna mengintip ke belakang. Merasa tak ada yang mengikuti akhirnya ia pun memilih jujur.
"Hal itu aku serahkan ke Elen, biarkan dia yang menentukan pilihannya sendiri. Nak, tolong jaga putriku!"
"Tapi sikap anda dan suami anda kemarin?" tanya Divine.
"Kami terpaksa, beberapa tahun ini keluarga Shain menempatkan orang di sekitar rumah, lalu melaporkannya pada Alexan. Aku harus melatih anakku agar menjadi wanita kuat, dan berharap Alexan menjemputnya agar mendapat kehidupan yang lebih bahagia," terang Ratna.
"Saya akan memberi uang lima puluh juta seperti janji saya kemarin malam," ujar Divine.
"Aku tidak membutuhkannya, uang itu. Berikan saja kepada Elen, atau tabunglah untuk masa depan Satria."
Divine mengerutkan keningnya, tapi bisa ia simpulkan bahwa sebenarnya orang tua Elen sangat menyayangi putrinya.
Setelah mengajak Ratna berkeliling. Divine akhirnya, berhenti di depan rumah Emil, meminta Elen masuk ke dalam mobilnya.
Ibu," panggil Elen dengan nada rendah.
"Elen putriku," gumam Ratna. Menunduk dengan tubuh bergetar.
"Ibu tahu, bagi seorang anak, apa yang penting di dunia ini?" tanya Elen.
Ratna diam.
"Seorang anak tidak membutuhkan uang ataupun harta lain, ia hanya butuh kasih sayang dari orang tua yang utuh. Tak perduli sekeras apapun hidup, asalkan dilalui dengan ikhlas dan sayang maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya."
"Ibu salah Elen, maafkan Ibu."
RAHIM ELEN JUGA SUBUR....