“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi.
Malam begitu sunyi. Hanya suara angin yang sesekali berembus melewati pepohonan di depan sebuah rumah sederhana milik Bibi Sinta.
Di teras rumah itu, seorang pria berdiri dengan wajah kusut.
Haikal.
Sejak hampir satu jam lalu, pria itu tidak beranjak dari tempatnya.
Tatapannya terus tertuju pada pintu rumah.
Pintu yang ia harapkan akan terbuka.
Pintu yang di baliknya ada wanita yang selama ini telah ia sakiti.
Tiara.
Haikal menarik napas panjang.
“Aku menyesal, Tiara.”
Suaranya begitu lirih.
“Maafkan aku.”
Tidak ada jawaban.
Haikal menunduk.
Ia tahu, mungkin Tiara sudah tidur. Namun entah mengapa, ia tetap berharap wanita itu keluar dan menyambutnya seperti dahulu.
Dulu, setiap kali ia pulang larut malam, Tiara selalu menunggunya.
Membukakan pintu.
Menanyakan apakah ia sudah makan.
Menyiapkan air hangat.
Terkadang bahkan memijat bahunya ketika ia mengeluh lelah.
Namun semua itu telah hilang.
Dan orang yang menghancurkan semuanya adalah dirinya sendiri.
“Aku benar-benar bodoh,” gumam Haikal.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku membuang wanita yang paling tulus mencintaiku.”
Tiba-tiba terdengar suara isak tangis dari luar.
Tiara yang sedang tidur di kamar mendadak membuka mata.
Ia mengernyitkan dahi.
Suara apa itu?
Tiara duduk di atas tempat tidur.
Isak tangis terdengar lagi.
“Hiks...”
Tiara bergidik.
“Jangan-jangan... hantu?”
Ia menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.
Namun rasa penasaran membuatnya bangun.
Dengan langkah perlahan, Tiara berjalan menuju jendela.
Ia menyibak hordeng sedikit.
Matanya langsung membesar.
“Haikal?”
Di teras, pria itu ternyata sedang bersimpuh.
Kepalanya tertunduk.
Sesekali bahunya bergetar.
Tiara terdiam beberapa saat.
Kemudian wajahnya berubah kesal.
“Dasar pria gila!”
Ia menutup kembali hordeng.
Tiara tidak berniat membuka pintu.
Tidak sedikit pun.
Biarkan saja pria itu di luar.
Bukankah dulu ketika dirinya menangis, Haikal tidak pernah peduli?
Bukankah ketika ia memohon agar dipercaya, Haikal justru mengusirnya?
Sekarang setelah semuanya terbongkar, baru pria itu datang membawa penyesalan.
Terlambat.
Tiara kembali ke tempat tidurnya.
Namun malam itu, ia tidak bisa benar-benar tidur.
Hujan mulai turun menjelang subuh.
Awalnya hanya gerimis.
Lalu semakin deras.
Tiara sempat bangun dan kembali melihat keluar jendela.
Haikal masih ada di sana.
Kini seluruh tubuh pria itu basah kuyup.
Tiara menghela napas.
Ada sedikit rasa kasihan di dalam hatinya.
Tetapi ia segera menyingkirkannya.
“Bukan urusanku lagi.”
Ia kembali berbaring.
Hingga pagi tiba, Haikal tetap berada di depan rumah itu.
Pukul tujuh pagi.
Tiara keluar rumah membawa tas belanja.
Ia hendak pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur.
Begitu membuka pagar, langkahnya mendadak terhenti.
Haikal berdiri tidak jauh dari sana.
Rambutnya masih basah. Wajahnya terlihat pucat dan lelah.
“Tiara.”
Wanita itu langsung mengalihkan pandangan.
“Permisi.”
Ia hendak berjalan melewati Haikal.
Namun pria itu segera mengikutinya.
“Tiara, tunggu.”
“Aku mau ke pasar.”
“Aku ikut.”
“Tidak perlu.”
“Aku hanya ingin bicara.”
“Aku tidak punya waktu.”
Haikal berdiri di depannya.
“Berikan aku kesempatan.”
Tiara menatapnya dingin.
“Kesempatan untuk apa?”
“Untuk meminta maaf.”
Haikal menelan ludah.
“Aku tahu aku sudah menghancurkan semuanya.”
Tiara tertawa hambar.
“Baru sadar?”
“Aku salah.”
“Ya. Kau memang salah.”
“Aku menyesal telah berselingkuh. Aku menyesal telah mengusirmu dari rumah. Aku menyesal sudah mempercayai kebohongan Intan.”
Haikal mulai berkaca-kaca.
“Aku juga tahu sekarang bahwa kau tidak pernah mandul.”
Tiara terdiam.
Namun wajahnya tetap dingin.
“Aku sudah kehilanganmu karena kebodohanku sendiri.”
Haikal menggenggam kedua tangannya.
“Tiara, aku mohon. Maafkan aku.”
“Tidak.”
Jawaban itu keluar begitu cepat.
Haikal terdiam.
Tiara menatapnya.
“Tidak ada maaf bagimu, Mas.”
“Tiara...”
“Penyesalanmu datang terlambat.”
“Aku bisa berubah.”
“Aku tidak peduli.”
“Aku masih mencintaimu.”
Tiara menggeleng.
“Cinta?”
Ia tersenyum pahit.
“Di mana cintamu ketika kau membiarkan ibumu menghina aku?”
Haikal diam.
“Di mana cintamu ketika kau mempercayai hasil pemeriksaan palsu itu?”
Haikal menunduk.
“Di mana cintamu ketika kau membawa Intan ke rumah kita?”
Air mata Tiara mulai menggenang.
“Dan di mana cintamu ketika tanganmu menamparku?”
Haikal tidak mampu menjawab.
“Aku sudah terlalu lama menangis karena kamu.”
Tiara menarik napas.
“Sekarang aku ingin hidup tenang.”
“Tiara, aku mohon.”
“Pergilah.”
“Aku tidak bisa.”
“Kamu harus bisa.”
Haikal mulai kehilangan kesabarannya.
“Jadi setelah semua yang terjadi, kau benar-benar tidak mau memberiku kesempatan?”
“Tidak.”
“Karena Permana?”
Tiara menatapnya.
“Jangan bawa-bawa Permana.”
“Dia sudah menggantikan aku?”
“Itu bukan urusanmu.”
Jawaban itu membuat Haikal semakin emosi.
Ia tiba-tiba meraih tangan Tiara dan mencengkeramnya kuat.
“Aduh!”
Tiara meringis.
“Lepaskan tanganku!”
“Jawab aku!”
“Haikal, sakit!”
Namun sebelum Haikal sempat melakukan sesuatu lebih jauh, sebuah suara keras terdengar.
“Lepaskan tangannya!”
Haikal menoleh.
Permana berdiri beberapa meter dari mereka.
Wajahnya terlihat sangat marah.
Tanpa banyak bicara, Permana berjalan mendekat.
Ia menarik tangan Haikal dari Tiara.
“Berani sekali kau menyentuhnya.”
Haikal belum sempat menjawab.
Buk!
Sebuah pukulan mendarat di wajahnya.
Haikal terhuyung.
Permana langsung berdiri di depan Tiara.
“Pergi dari sini.”
Haikal menyeka sudut bibirnya.
“Kau—”
“Jangan ganggu calon istriku lagi.”
Permana menatapnya tajam.
“Atau aku akan patahkan tangan dan kakimu.”
Tiara terkejut mendengar kalimat itu.
Sementara Haikal menatap Permana penuh kemarahan.
“Kau pikir masalah ini selesai?”
Permana tidak bergeming.
“Ini peringatan terakhir.”
Haikal menunjuk Permana.
“Awas kau, ya!”
Suaranya penuh ancaman.
“Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!”
Permana hanya tersenyum tipis.
“Kalau kau masih mengganggu Tiara, datanglah.”
Ia berdiri tegak.
“Tapi ingat, kali ini kau berhadapan denganku.”
Haikal mengepalkan tangan.
Namun akhirnya ia berbalik dan pergi.
Tiara menatap punggung mantan suaminya yang semakin jauh.
Permana kemudian menoleh kepada Tiara.
“Kau tidak apa-apa?”
Tiara menggeleng.
“Hanya sedikit sakit.”
Permana melihat bekas kemerahan di pergelangan tangannya.
Wajahnya kembali mengeras.
“Dia tidak boleh menyentuhmu lagi.”
Tiara mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, hatinya merasa sedikit tenang.
Sementara di kejauhan, Haikal terus berjalan dengan amarah memenuhi dadanya.
Ia memang telah kehilangan Tiara.
Tetapi kini, masalahnya bukan lagi sekadar penyesalan.
Ada Permana yang berdiri di antara dirinya dan wanita yang masih belum bisa ia lepaskan.
Dan Haikal tidak berniat membiarkannya begitu saja.
Bersambung....