Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 03
Part 03
Alfan masih terdiam, belum menjawab ataupun memikirkan jawabannya. Karena ia sendiri tahu, bila tindakannya itu terkesan konyol dan memalukan. Ia sudah memperkenalkan asisten pribadinya ke keluarga besarnya dan bahkan seluruh undangan tamu adiknya. Sekarang ia harus mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Tina, yang tentu saja tidak akan mudah bila mengatakan yang sebenarnya.
"Tolong jawab, Pak. Kenapa Bapak memperkenalkan saya sebagai calon istri Bapak?" Tina kembali mengulang jawabannya, merasa penasaran kenapa bosnya itu selalu bersikap seenaknya dengannya. Ia tahu, bila ia cuma asistennya, ia juga mau melakukan apapun selama itu masih masuk kategori pekerjaannya. Namun bukan berarti bosnya itu bisa menyuruhnya jauh-jauh ke rumahnya, untuk memperkenalkannya pada keluarganya sebagai calon istri, rasanya Tina seperti dipermainkan.
"Memangnya kenapa kalau saya memperkenal kamu sebagai calon istri saya di depan keluarga saya? Kamu kan asisten saya, tugas kamu melakukan semua yang saya perintahkan." Alfan menjawab seadanya, berusaha untuk tetap tenang, namun tidak dengan Tina yang tampak menghela nafas, merasa kesal dengan sikap bosnya.
"Saya tahu bila saya ini asisten Bapak, Bapak berhak memerintah saya, tapi asisten tidak harus diperkenalkan sebagai calon istri kan, Pak? Apalagi Bapak juga tidak memberitahukan ke saya dulu sebelumnya bila Bapak akan melakukan ini, meskipun Bapak ingin berpura-pura setidaknya saya harus tahu dulu." Tina menjawab lelah, ia sudah bisa menebak bila bosnya itu pasti hanya ingin memanfaatkannya, namun cara bosnya itu terlalu mendadak, ia bahkan tampak seperti orang bodoh selama di sana.
"Berpura-pura?" tanya Alfan tak mengerti, kenapa ia harus berpura-pura untuk sesuatu yang memang diinginkannya.
"Iya. Bapak sedang berpura-pura kan, supaya keluarga Bapak percaya bila Bapak punya calon istri. Tapi sebenarnya Bapak itu ...." Tina menghentikan ucapannya, merasa ragu dengan ucapannya.
"Kenapa dengan saya?"
"Bapak cuma mau menutupi homoseksual Bapak kan?"
"Kamu ... kenapa bisa berpikir sejauh itu? Itu terlalu konyol namanya." Alfan menunjuk ke arah Tina dengan wajah memerah, merasa marah dengan tuduhan asistennya.
"Memangnya saya salah ya, Pak? Bukannya Bapak itu dikabarkan menyimpang? Maksudnya Bapak belok ...." Tina merapatkan bibirnya, berusaha tanya dengan hati-hati, meski ia tak yakin ucapannya tadi tak membuat bosnya sakit hati.
"Apa kamu bilang?" Alfan mendelikkan matanya, jantungnya berdebar kuat mendengar kabar yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Maaf, Pak. Sepertinya saya salah." Tina menunduk takut, merasa bodoh karena telah percaya dengan rumor yang beredar di kantor, bila bosnya itu belum mau menikah padahal umurnya sudah bisa dikatakan tua karena memiliki kelainan di seksualnya.
"Dari mana kamu mendengar kabar menjijikkan seperti itu? Dari mana?" Alfan yang biasanya tenang kini tidak bisa menyembunyikan amarahnya, matanya bahkan membara seolah tidak akan memaafkan siapapun yang sudah membicarakannya.
"Rumor itu beredar di perusahaan sudah lama, Pak. Bahkan sebelum saya bekerja di sana." Tina tidak mau menatap ke arah bosnya yang tampak geram, merasa harus mematahkan rumor itu dengan segera.
"Rumor itu tidak benar. Bisa-bisanya mereka membicarakan saya dengan kabar menjijikkan seperti itu?"
"Jangan terlalu dipikirkan, Pak. Mereka berpikir seperti itu karena Anda tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun, Anda juga belum mau menikah padahal usia Anda sudah cukup tua ... eh maksudnya dewasa." Tina menyunggingkan senyumnya, berusaha menenangkan bosnya meski sempat salah kata, ia juga tidak mau bosnya itu membuat masalah dengan para karyawannya.
"Baiklah, saya mengerti arah pembicaraan kamu." Alfan menghela nafas kesalnya, berusaha untuk tetap tenang meski ucapan Tina terdengar begitu menyakitkan.
"Baguslah, Pak. Tapi bagaimana dengan saya? Bapak sudah memperkenalkan saya sebagai calon istri, padahal kita kan cuma atasan dan bawahan di kantor, Pak." Tina mencoba membicarakan topik awalnya, ia juga harus meminta pertanggung jawaban bosnya.
"Memangnya kenapa?"
"Maksud Bapak bagaimana? Saya kan asisten Bapak, mana mungkin saya jadi istri Bapak? Saya pikir, akan lebih baik bila Bapak menjelaskan yang sebenarnya ke keluarga Bapak tentang siapa saya sebenarnya." Tina berusaha tersenyum ramah, meski sebenarnya ia ingin sekali marah dan mengatakan bila tidak seharusnya bosnya itu bisa bersikap seenaknya.
"Saya tidak mau."
"Loh kenapa, Pak?" tanya Tina tampak waswas, bosnya itu sudah tidak waras atau bagaimana, mana mungkin ia bisa menjadi calon istrinya.
"Karena saya memang akan menikahi kamu." Alfan menjawab tenang, namun tidak dengan Tina yang tampak tak percaya.