NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Rangga menatap foto di layar ponselnya sampai rahangnya mengeras. Jingga berdiri di antara Samudera dan Leo, mengenakan gaun biru gelap dengan senyum yang tak pernah lagi ia tunjukkan kepadanya. Pesan anonim di bawah foto itu terasa seperti tamparan.

“Dua pria?” gumamnya. “Secepat itu kau menggantikanku, Jingga?”

Rangga segera menghubungi detektif yang beberapa minggu terakhir ia tugaskan untuk menyelidiki Samudera. Namun, hingga kini, tidak ada informasi berarti yang berhasil diperoleh. Hubungan Samudera dan Jingga sejauh ini hanya sebatas dokter dan perawat, tanpa kedekatan khusus yang bisa dijadikan alasan untuk menuduh mereka lebih dari itu.

“Kali ini, selidiki lebih dalam semua tentang hubungan Samudera dengan Jingga. Dan juga Leo. Cari tahu apa yang mereka rencanakan.”

“Baik, Tuan.”

Panggilan berakhir, tetapi kegelisahan Rangga tidak ikut lenyap. Ia tak lagi punya hak atas Jingga. Kenyataan itu justru membuatnya semakin sulit menerima bahwa perempuan yang dulu selalu menunggunya kini bisa tersenyum di samping lelaki lain.

Pagi berikutnya, Jingga tiba di rumah sakit dengan jadwal yang padat. Ia baru selesai memeriksa catatan pasien ketika kepala bagian keperawatan memanggilnya ke ruang rapat.

Di sana sudah ada Samudera, dua dokter senior, dan seorang perwakilan yayasan kesehatan yang menjadi mitra program pelatihan perawat.

“Program pelatihan lanjutan yang saya tawarkan kemarin ternyata mendapat tambahan kuota,” ujar Samudera. “Namun ada perubahan. Peserta harus melewati simulasi penanganan pasien gawat darurat di depan tim penilai hari ini.”

Jingga mengerutkan kening. “Hari ini?”

“Jadwalnya dimajukan karena salah satu penilai harus kembali ke luar kota. Kalau kamu tetap ingin ikut, kesempatan itu masih terbuka.”

Jingga tidak menyukai kejutan mendadak, tetapi lebih tidak suka jika orang menganggap dirinya akan mundur hanya karena keadaan berubah. “Saya ikut. Tolong kirimkan materi dan ketentuannya.”

Salah satu dokter senior mengangguk puas. Samudera tidak tersenyum lebar, tetapi sorot matanya menunjukkan ia menghargai jawaban Jingga.

“Penilaian dilakukan terbuka. Saya tidak akan menjadi penilaimu, Jingga. Saya ingin tidak ada yang bisa menuduh kesempatan ini diberikan karena ada sesuatu diantara kita.” Ujar Samudera.

"Saya juga tidak ingin nama saya dipakai sebagai alasan orang meragukan kemampuan saya.” Jawab Jingga tegas.

Jawaban wanita itu membuat Samudera terdiam sesaat. Ia tahu Jingga sedang menjaga batas yang jelas. Jika ingin mendekatinya, ia harus belajar bahwa bantuan tidak boleh berubah menjadi kendali.

Menjelang siang, seorang staf administrasi datang membawa map yang seharusnya diserahkan ke bagian pelatihan. Di dalamnya terdapat salinan berkas peserta, termasuk lembar evaluasi awal milik Jingga. Ada catatan tulisan tangan di tepi kertas: Kandidat ini berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.

Jingga membaca kalimat itu dengan wajah menegang.

“Siapa yang menulis ini?” tanyanya.

Staf tersebut tampak gugup. “Map ini baru saja dikembalikan dari ruang administrasi, Suster. Saya tidak tahu.”

Jingga tidak langsung menuduh siapa pun. Ia memotret halaman itu, lalu menyerahkannya kepada kepala bagian keperawatan. Jika seseorang ingin menggagalkan kesempatan ini, ia tidak akan memberi mereka alasan untuk menyebutnya emosional.

“Saya ingin catatan ini diperiksa secara resmi,” katanya. “Saya bersedia dinilai berdasarkan kemampuan, tetapi bukan berdasarkan gosip tentang kehidupan pribadi saya.”

Di lorong, Leo menunggu Jingga dengan map tipis di tangan. Ia datang untuk menghadiri rapat kemitraan, tetapi rupanya sudah mendengar kabar tentang catatan tersebut.

“Aku tidak akan bertanya siapa yang membuatnya,” kata Leo. “Aku hanya ingin memberitahumu bahwa perusahaan kami tidak akan ikut campur dalam penilaian. Kalau ada pihak yang memakai nama mitra untuk menekanmu, kami akan meminta pemeriksaan terbuka.”

“Kau bisa melakukan itu tanpa membelaku secara pribadi?”

“Justru karena aku ingin membantumu secara benar.” Leo menyerahkan kartu nama petugas penghubung program. “Hubungi dia kalau diperlukan. Keputusan tetap di tanganmu.”

Jingga menerima kartu itu. “Terima kasih, tapi jangan menganggap aku akan menerima ajakan makan malammu hanya karena ini.”

Leo tersenyum kecil. “Aku tidak sebodoh itu.”

Akhirnya, Jingga tertawa meski sangat singkat. Dari ujung lorong, Samudera melihatnya. Ia tidak menyukai betapa mudah Leo membuat Jingga tertawa, tetapi ia menahan diri untuk tidak menyela.

Persaingan bukan alasan untuk memperlakukan Jingga seperti hadiah yang harus direbut.

Simulasi dimulai pukul dua siang. Jingga menghadapi skenario pasien dengan kondisi memburuk, tim yang panik, dan waktu yang terus berjalan. Ia memberi instruksi tegas, memeriksa respons pasien simulasi, lalu membagi tugas tanpa membuang waktu. Ketika salah satu anggota tim sengaja mengubah informasi vital sesuai skenario penilaian, Jingga menyadari ketidaksesuaian itu dan meminta konfirmasi ulang.

Setelah sesi berakhir, para penilai berdiskusi tertutup. Jingga keluar dengan telapak tangan berkeringat, tetapi tidak menyesali satu pun keputusannya.

Hasilnya belum diumumkan. Namun seorang dokter senior menghampirinya dan berkata, “Anda menangani tekanan dengan baik. Apa pun hasil akhirnya, Anda layak berada di sini.”

Jingga mengangguk, menahan kelegaan yang mulai menghangat di dadanya.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan Leo atau Samudera. Nomor tak dikenal mengirimkan foto halaman evaluasi yang sama, disertai pesan.

[Kalau masih ingin bekerja dengan tenang, berhentilah menarik perhatian keluarga Cendana.]

Jingga merasakan dingin merambat di tengkuknya. Jadi, ini bukan sekadar gosip. Seseorang sengaja memakai masa lalunya untuk menekan kariernya.

Ia segera menunjukkan pesan itu kepada kepala keperawatan dan meminta agar nomor serta waktu pengiriman dicatat. Setelah itu, ia menghubungi bagian keamanan rumah sakit. Ia tidak akan menyelesaikan ancaman dengan bersembunyi.

Sore itu, Rangga menerima laporan singkat dari orang suruhannya. Tidak ada bukti hubungan khusus antara Jingga dan Samudera, tetapi Leo memang mengajak wanita itu makan malam. Ada pula masalah berkas pelatihan yang mulai diperiksa pihak rumah sakit.

Ia menelepon Jingga, panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua juga. Pada panggilan ketiga, Jingga akhirnya menjawab.

“Apa lagi, Rangga?”

“Kau harus berhenti berhubungan dengan Leo. Dia keluarga kami. Jangan menyeretnya ke dalam masalahmu.”

Jingga tertawa hambar. “Kau meneleponku untuk mengatur siapa yang boleh berbicara denganku?”

“Aku sedang memperingatkanmu.”

“Tidak! Kau hanya melupakan bahwa kita sudah bercerai dan berani mengusikku.” Suara Jingga tegas. “Kalau kau khawatir nama keluargamu tercoreng, urus keluargamu sendiri. Jangan ganggu pekerjaanku atau hidupku lagi!”

“Jingga—”

Tak lama, Rangga menerima sebuah paket dari detektif yang ditugaskannya untuk mengungkap identitas orang yang menyebarkan bukti perselingkuhannya. Namun, begitu melihat isi paket tersebut, mata Rangga sontak terbelalak. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang terungkap di hadapannya.

1
Cicih Sophiana
semangat Senja 💪
Cicih Sophiana
jodohkan Senja dan Samudra thor...
Cicih Sophiana
suami nya buang aja ketempat nya yg pantas buat dia senja 🤭😄
Cicih Sophiana
ayo Jingga semangat 💪 bangunlah dari keterpurukan dan bangkitlah untuk melawan orang orang zolim...
Cicih Sophiana
bagus Jingga semangat... libas si Rangga biar dia menyesal nanti..
Cicih Sophiana
nah gitu Jingga... aq suka perempuan yg tegas jgn bisa nya cuma nangis...
Cicih Sophiana
jgn mundur Jingga walau di ancam... Rangga tdk mencerai mu hanya karena nama baik kluarga nya bukan krn mencintai mu
Cicih Sophiana
punya suami lebih perhatian samacuma ipar nya😭😭
Cicih Sophiana
mampir thor... seperti nya seru nih cerita nya
Mundri Astuti
ni nih modelan org egois...dah punya anak, dah punya keluarga masih ngerecokkin rmh tangga ipar ...dpt karma masih ga sadar...masih nyalahin org
Mundri Astuti
nah iya knapa kamu yg berantakan rangga😄
Mundri Astuti
bapaknya Dira arogan juga...anaknya sendiri juga salah lo...dah main belakang sama Rangga disaat Rangga masih terikat dng pernikahan ..
awalnya ta kira Dira yatim piatu ...jadi nyari perhatian terus dari keluarga Rangga dng dalih kehilangan suami...lah taunya masih ada ortu...janggal jadinya
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
si serangga ini mmg ringan tangan yh serem deh😒
Mundri Astuti
ya ngga akan bahagia lah endingnya...kalian mulainya salah
Mundri Astuti
nah kan was" suamimu di deketin perempuan lain, mikir ngga jingga kamu gituin juga...
bahagia ngga kamu skrg ..
Mundri Astuti
mudah"an ga ada yg rusuh lagi ... akhirnya jingga menemukan bahagianya
Mundri Astuti
kirim org ke buat ngawasin keluarga mendiang istrimu sam...
Mundri Astuti
oiiiii Dira ....ga usah pake nyalahin org ..dah tau lagi berkendara suamimu ...malah ngajak ribut lagi...

denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita
Agunk Setyawan
karma
Sarmini Isang
rasain rangga,dl km mensia siakan anak dan istrimu,sekarangpun Allah ambil anakmu dan bahkan tidak diberikan kesempatan memiliki anak lg selama ber istrikan dira,nikmat kan hasilnya kerena dl menyakiti anak dan istri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!