NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — PEJABAT YANG MENUTUP PINTU KEBENARAN

Arga Pratama membaca nama pada layar komputer itu sekali lagi.

HENDRA MAHARDIKA.

Ayah Rendy.

Pria yang sebelumnya bersedia membuka arsip perusahaan dan membantu memeriksa dokumen ARX-9. Pria yang memberikan catatan rapat lama kepada Arga agar perubahan laporan keselamatan dapat ditelusuri.

Kini, nama yang sama muncul sebagai pejabat yang menolak akses terhadap dokumen SEC-22.

Arga tidak langsung berbicara.

Di sampingnya, Nadia membaca pemberitahuan itu dengan ekspresi serius.

“Ini aneh,” katanya akhirnya.

“Apa yang aneh?”

“Hendra sebelumnya bersedia membantu pemeriksaan arsip. Sekarang, permintaan akses terhadap dokumen yang berhubungan dengan kartu hilang justru ditolak atas namanya.”

“Apakah keputusan itu membuktikan dia menyembunyikan sesuatu?”

“Tidak. Kita belum mengetahui alasan lengkapnya. Bisa jadi dokumen tersebut sedang diperiksa oleh tim audit, atau aksesnya dibatasi karena mengandung informasi keamanan.”

Arga mengangguk.

Ia tidak ingin mengulang kesalahan orang-orang yang dahulu menghancurkan reputasinya dengan menganggap dugaan sebagai fakta.

“Kalau begitu, kita minta penjelasan resmi.”

Nadia segera menyiapkan surat permintaan klarifikasi. Mereka mencantumkan nomor dokumen SEC-22, alasan pemeriksaan, dan hubungan dokumen tersebut dengan audit keselamatan ARX-9.

Fajar turut membantu memastikan bahwa permintaan itu mengikuti prosedur yang berlaku.

Setelah surat dikirim, mereka tidak mencoba mencari jalan pintas.

Namun, Arga tahu satu hal yang harus dilakukannya.

Ia perlu berbicara dengan Rendy.

Bukan untuk menuduh ayahnya, melainkan agar tidak ada rahasia yang membuat persahabatan mereka berubah menjadi kecurigaan tanpa dasar.

Rendy sedang berada di area latihan ketika Arga menghampirinya.

“Kamu terlihat serius,” kata Rendy. “Ada perkembangan tentang ARX-9?”

“Ada.”

Arga menunjukkan pemberitahuan penolakan akses SEC-22.

Rendy membaca nama pejabat yang tercantum di bagian bawah.

Wajahnya berubah.

“Ayahku?”

Arga mengangguk.

“Keputusan ini menggunakan namanya. Aku belum tahu apakah dia sendiri yang memeriksa permintaan tersebut atau keputusan itu diterbitkan atas kewenangan jabatannya.”

Rendy membaca pemberitahuan itu sekali lagi.

“Aku akan bertanya langsung kepadanya.”

“Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak menuduh ayahmu.”

“Aku mengerti.”

Rendy mengembalikan ponsel itu.

“Tapi aku juga tidak akan berpura-pura tidak melihatnya. Kalau ayahku memang menolak akses tanpa alasan yang jelas, aku ingin tahu mengapa.”

Arga menatapnya.

“Kita harus memisahkan hubungan keluarga dari pemeriksaan bukti.”

Rendy mengangguk tegas.

“Aku tidak akan menutupi kesalahan siapa pun hanya karena dia keluargaku.”

Setelah percakapan itu, Rendy menghubungi ayahnya dan meminta waktu untuk bertemu.

Hendra menyanggupi pertemuan pada sore hari di kantor perusahaan.

Sebelum pergi, Rendy kembali menghampiri Arga.

“Ada satu hal yang ingin kutanyakan.”

“Apa?”

“Kalau ternyata ayahku benar-benar terlibat dalam penutupan laporan itu, apa yang akan kamu lakukan?”

Arga tidak menjawab dengan tergesa-gesa.

“Aku akan meminta bukti dan penjelasan. Kalau ada kesalahan, kita harus memastikan siapa yang mengambil keputusan dan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak ingin menghukum orang berdasarkan nama yang muncul di dokumen.”

Rendy mengangguk.

“Baik. Itulah yang ingin kudengar.”

Mereka berpisah untuk melanjutkan persiapan kompetisi.

Namun, pikiran Rendy tidak lagi sepenuhnya tertuju pada kendaraan uji.

Untuk pertama kalinya, ia harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa urusan bisnis keluarganya memiliki hubungan lebih dekat dengan masa lalu Arga daripada yang pernah ia bayangkan.

Sore harinya, Rendy tiba di kantor ayahnya.

Hendra Mahardika sudah menunggu di ruang rapat kecil. Di atas meja terdapat salinan pemberitahuan penolakan akses SEC-22.

“Ayah tahu aku akan datang,” kata Rendy.

Hendra mengangguk.

“Aku menerima pesanmu.”

Rendy duduk dan meletakkan ponselnya di meja.

“Ayah yang menolak permintaan akses dokumen ini?”

Hendra membaca pemberitahuan tersebut.

“Namaku tercantum sebagai pejabat yang menyetujui pembatasan akses.”

“Apakah Ayah mengetahui isi SEC-22?”

“Aku mengetahui bahwa dokumen itu berkaitan dengan pemeriksaan kartu akses setelah proyek ARX-9 dihentikan. Namun, aku belum membaca salinan lengkapnya.”

“Kalau begitu, mengapa aksesnya ditolak?”

Hendra membuka sebuah berkas di komputernya.

“Permintaan itu masuk ketika tim audit sedang memeriksa sejumlah dokumen lama. Ada aturan yang membatasi akses terhadap dokumen yang sedang diperiksa agar salinan yang beredar tidak mengganggu proses verifikasi.”

“Apakah itu berarti Arga tidak boleh melihatnya?”

“Bukan begitu. Pembatasan tersebut seharusnya bersifat sementara. Setelah pemeriksaan selesai, dokumen dapat dibuka melalui prosedur yang sesuai.”

Rendy menatap ayahnya.

“Apakah Ayah tahu bahwa Arga sedang menyelidiki ARX-9?”

“Ya. Aku tahu dia sedang mencari penjelasan tentang laporan yang merusak kariernya.”

“Lalu mengapa Ayah tidak memberitahunya bahwa dokumen itu sedang diperiksa?”

Hendra terdiam.

“Aku seharusnya memastikan pemberitahuan itu menjelaskan alasannya dengan lebih baik.”

Rendy menyandarkan tubuhnya.

“Ayah, aku tidak ingin menuduh Ayah melakukan sesuatu. Tetapi aku perlu tahu apakah ada alasan lain yang tidak disampaikan.”

Hendra memandang putranya.

“Rendy, lima tahun lalu aku menjadi anggota komite evaluasi eksternal. Aku membaca ringkasan laporan dan beberapa dokumen pendukung. Aku tidak terlibat dalam pemeriksaan teknis secara langsung.”

“Apakah Ayah pernah melihat laporan keselamatan awal?”

“Tidak secara lengkap. Aku mengetahui ada rekomendasi penundaan pengujian, tetapi saat itu aku mengira persoalannya sudah diselesaikan oleh tim teknis.”

“Dan Ayah menerima laporan final?”

“Ya.”

“Tanpa memastikan apakah rekomendasi keselamatan tetap tercantum?”

Hendra menunduk.

“Ya. Itu salah satu hal yang sekarang kusesali.”

Rendy menarik napas panjang.

“Apakah Ayah tahu siapa yang memerintahkan penundaan pemeriksaan kartu hitam?”

“Tidak. Aku tidak pernah menerima instruksi untuk menghentikan pemeriksaan itu.”

“Apakah Ayah pernah menggunakan kode EW-01?”

“Tidak.”

Jawaban Hendra terdengar tegas, tetapi Rendy tidak berhenti di sana.

“Apakah Ayah bersedia memberikan keterangan resmi mengenai penolakan akses SEC-22 dan peran Ayah dalam komite evaluasi?”

Hendra mengangguk.

“Tentu. Aku juga akan meminta tim audit mencatat bahwa pembatasan akses itu bersifat sementara dan harus ditinjau kembali.”

Rendy mengamati ayahnya.

Ia belum mengetahui seluruh kebenaran.

Namun, setidaknya sekarang ada penjelasan yang bisa diperiksa.

Sebelum pertemuan berakhir, Hendra membuka satu dokumen lain.

“Ada sesuatu yang mungkin membantu Arga. Ketika komite evaluasi menerima laporan final ARX-9, aku pernah melihat catatan tentang sebuah ruang penyimpanan yang tidak termasuk dalam inventaris utama.”

“Ruang bawah tanah?”

Hendra menatap putranya.

“Kamu tahu tentang itu?”

“Arga menemukan catatan akses yang menyebut ruang arsip bawah tanah.”

Hendra mengangguk perlahan.

“Kalau begitu, mungkin kita sedang membicarakan lokasi yang sama. Dalam rapat evaluasi, seseorang mengatakan bahwa dokumen keamanan tertentu telah dipindahkan dari ruang tersebut. Namun, aku tidak ingat siapa yang menyampaikannya.”

“Apakah ada notulen rapat?”

“Ada kemungkinan. Aku akan memeriksa arsip komite.”

Rendy berdiri.

“Ayah, tolong jangan hanya mencari dokumen yang mendukung penjelasan Ayah. Cari semuanya, termasuk yang mungkin membuat Ayah terlihat salah.”

Hendra menatap putranya dengan ekspresi berat.

“Aku akan melakukannya.”

Di bengkel Agung Joyo Motor, Arga menerima kabar dari Rendy mengenai pertemuan tersebut.

Ia mendengarkan penjelasan itu tanpa menyela.

“Jadi, ayahmu mengatakan pembatasan akses dilakukan karena audit sedang berlangsung?” tanya Arga.

“Ya. Dia juga mengakui bahwa dia menerima laporan final tanpa memeriksa seluruh lampiran keselamatan.”

“Itu kesalahan yang serius, tetapi belum membuktikan bahwa dia terlibat dalam penutupan pemeriksaan kartu.”

“Aku tahu.”

Rendy terdiam sejenak.

“Aku juga ingin meminta maaf.”

“Untuk apa?”

“Dulu, aku sering menganggap semua masalah bisa diselesaikan dengan uang dan pengaruh keluarga. Aku tidak pernah berpikir bahwa keputusan orang-orang di balik perusahaan bisa menghancurkan kehidupan seseorang.”

Arga tidak langsung menjawab.

Ia teringat hari ketika Rendy datang ke bengkel dengan mobil mewahnya dan meremehkan kemampuan Arga hanya karena tempat kerjanya sederhana.

“Kamu sudah mulai berubah,” kata Arga akhirnya. “Buktikan dengan tindakanmu.”

Rendy mengangguk.

“Aku akan membantu memeriksa catatan rapat yang dimiliki ayahku. Kalau ada sesuatu yang relevan, aku akan menyerahkannya melalui jalur resmi.”

“Jangan mengambil dokumen tanpa izin.”

Rendy tertawa kecil.

“Kamu benar-benar tidak pernah bosan mengingatkan orang tentang prosedur.”

“Karena prosedur yang benar melindungi bukti dan orang-orang yang terlibat.”

“Baiklah, Pak Mekanik.”

Arga tersenyum tipis.

Untuk sesaat, ketegangan penyelidikan itu terasa sedikit berkurang.

Namun, ketenangan tersebut tidak berlangsung lama.

Nadia menelepon beberapa menit kemudian.

“Arga, aku menemukan hasil pemeriksaan awal terhadap catatan akses yang kamu terima.”

“Apa hasilnya?”

“Gambar itu memang memiliki format yang menyerupai log sistem lama, tetapi kami belum bisa memastikan bahwa isinya autentik. Ada perbedaan pada penamaan kolom dan urutan pencatatannya.”

“Apakah berarti gambar itu palsu?”

“Belum tentu. Bisa saja gambar itu merupakan hasil ekspor dari sistem berbeda atau telah melalui proses konversi. Kita membutuhkan berkas sumbernya.”

Arga mengangguk.

“Bagaimana dengan catatan bahwa kartu hitam digunakan pada pukul 02.17?”

“Belum terverifikasi.”

“Kalau begitu, kita jangan menggunakannya sebagai dasar tuduhan.”

Nadia menyetujui.

Namun, sebelum panggilan berakhir, ia menyampaikan temuan lain.

“Pengelola arsip menemukan referensi lokasi ruang bawah tanah dalam dokumen pemindahan lama. Ruang itu memang pernah digunakan untuk menyimpan dokumen keamanan dan hasil audit internal.”

“Apakah kita bisa mengaksesnya?”

“Ruang fisiknya sudah tidak digunakan. Dokumen yang tersisa dipindahkan ke beberapa tempat penyimpanan. Kami sedang menelusuri daftar pemindahannya.”

“Cari apakah VIS-09 atau SEC-22 termasuk dalam daftar itu.”

“Sudah kulakukan. Ada satu entri yang menarik.”

Arga menunggu.

“Menurut catatan pemindahan, sejumlah dokumen keamanan dipindahkan dari ruang bawah tanah ke ruang arsip sementara dua hari setelah laporan final ditandatangani. Namun, daftar isi paketnya tidak lengkap.”

“Siapa yang mengesahkan pemindahan itu?”

Nadia menarik napas.

“Nama pengesahnya tercatat sebagai pemegang kewenangan eksternal EW-01.”

Arga terdiam.

Jadi, kode yang sama kembali muncul.

Bukan hanya dalam penerbitan kartu hitam.

Bukan hanya dalam penundaan pemeriksaan.

Kini, kode itu juga tercantum dalam dokumen pemindahan arsip setelah laporan final ditandatangani.

Tetapi tetap belum ada nama yang bisa dipastikan sebagai pemegang kewenangan tersebut.

Malam itu, Arga, Nadia, Fajar, Kevin, dan Bima mengadakan pertemuan daring.

Mereka menyusun kronologi berdasarkan dokumen yang telah ditemukan dan memisahkan fakta yang dapat diverifikasi dari dugaan yang belum terbukti.

Fajar membacakan catatan pertama.

“Pada malam pengujian, Raka Wibisono mengajukan permintaan penghentian. Catatan lama menyebutkan pukul 22.14, tetapi kita masih perlu memastikan kesesuaian jam pada setiap sistem.”

Nadia melanjutkan.

“Pada malam yang sama, kartu akses hitam diterbitkan melalui jalur otorisasi EW-01. Identitas penerima belum terverifikasi.”

Bima menambahkan, “Setelah proyek dihentikan, satu kartu hitam tidak tercatat kembali. Pemeriksaan inventaris kemudian dinyatakan selesai berdasarkan konfirmasi pengawasan eksternal.”

Kevin membaca dokumen berikutnya.

“Dua hari setelah laporan final ditandatangani, sejumlah dokumen keamanan dipindahkan dari ruang bawah tanah. Daftar isinya tidak lengkap.”

Arga menulis kesimpulan sementara.

“Semua ini menunjukkan adanya rangkaian administrasi yang perlu diperiksa. Tetapi belum ada bukti yang memastikan siapa yang menggunakan kartu tersebut, siapa yang menunda pemeriksaan, atau apakah pemindahan arsip dilakukan untuk menyembunyikan sesuatu.”

Mereka menyetujui pernyataan itu.

Lalu Nadia menunjukkan satu temuan tambahan.

“Ada kemungkinan dokumen pemindahan arsip memiliki lampiran tanda terima yang disimpan secara terpisah. Jika ditemukan, lampiran itu mungkin menunjukkan siapa yang menerima dokumen setelah dipindahkan dari ruang bawah tanah.”

“Bagaimana kita menemukannya?” tanya Fajar.

“Melalui kode referensi pada daftar pemindahan.”

Arga memperhatikan kode yang muncul di layar.

TR-09/17-B.

Ia pernah melihat format kode yang serupa.

Namun, ia belum ingat di mana.

Arga membuka buku catatan lamanya dan menelusuri beberapa halaman.

Kemudian ia berhenti.

Pada salah satu halaman yang ditulis lima tahun lalu, terdapat catatan pendek yang hampir tertutup oleh coretan.

TR-09/17-B — salinan diterima, lampiran belum lengkap.

Arga membaca tulisan itu dengan napas tertahan.

Ia mengenali tulisan tangannya sendiri.

Catatan tersebut dibuat pada minggu setelah pengujian ARX-9, ketika ia masih berusaha mengumpulkan dokumen untuk membantah laporan final yang menyalahkannya.

Tetapi ia tidak ingat siapa yang memberinya salinan itu.

Ia juga tidak ingat mengapa lampirannya dinyatakan belum lengkap.

“Arga?” suara Nadia terdengar dari pengeras suara. “Apa yang kamu temukan?”

Arga memotret halaman buku catatannya dan membagikannya kepada mereka.

“Aku pernah mencatat kode TR-09/17-B lima tahun lalu. Artinya, dokumen pemindahan arsip ini mungkin pernah berada di tanganku sebelum aku kehilangan akses terhadap berkas proyek.”

Kevin terdiam.

“Apakah kamu ingat siapa yang menyerahkannya?”

“Belum.”

Fajar memperhatikan tulisan tersebut.

“Kalau catatan itu benar-benar dibuat sebelum laporan final, kita mungkin bisa mengetahui kapan dokumen tersebut pertama kali beredar.”

Arga mengangguk.

Mereka mulai membandingkan tanggal pada buku catatan dengan jadwal rapat, dokumen pengiriman, dan surat-menyurat yang masih tersedia.

Setelah hampir satu jam, Nadia menemukan kecocokan pada sebuah catatan inventaris.

Kode TR-09/17-B berkaitan dengan pemindahan dokumen dari ruang arsip sementara ke bagian evaluasi internal.

Tanggal pemindahan tercatat tiga hari setelah laporan final ditandatangani.

Namun, nama penerimanya tidak tercantum dalam salinan yang tersedia.

Sebagai gantinya, terdapat satu keterangan:

DITERIMA LANGSUNG OLEH PEMEGANG KEWENANGAN EKSTERNAL.

Arga menatap kalimat itu.

Dokumen tersebut pernah berada dalam jangkauannya lima tahun lalu, tetapi ia tidak mengingat bagaimana dokumen itu sampai ke tangannya.

Seseorang mungkin telah memberinya salinan untuk membantu penyelidikan.

Atau ia mungkin memperolehnya melalui proses administrasi yang kini sudah terlupakan.

Apa pun yang terjadi, catatan itu membuka satu kemungkinan baru.

Orang yang memiliki kewenangan eksternal tidak hanya mengendalikan akses pada malam pengujian.

Kode tersebut juga muncul dalam pemindahan dokumen setelah laporan final ditandatangani.

Arga menutup buku catatannya.

“Kita harus menemukan siapa yang menyerahkan salinan itu kepadaku.”

Nadia mengangguk.

“Aku akan memeriksa daftar korespondensi yang masih tersimpan.”

Kevin berkata, “Aku akan memeriksa apakah ada catatan penerimaan dokumen pada arsip teknis.”

Fajar menambahkan, “Aku akan meminta Ratih menelusuri daftar serah terima bagian evaluasi.”

Mereka membagi tugas dan mengakhiri pertemuan.

Arga tetap duduk sendirian setelah layar laptopnya padam.

Ia berusaha mengingat masa lima tahun lalu.

Hari-hari ketika ia berulang kali meminta kesempatan untuk menjelaskan hasil pengujiannya.

Hari-hari ketika semua orang memperlakukannya sebagai penyebab kegagalan.

Hari-hari ketika ia mencoba mengumpulkan bukti, tetapi dokumen-dokumen penting seolah menghilang satu per satu.

Dan di antara semua kenangan itu, ada satu hal yang paling mengganggunya.

Ia pernah menerima salinan dokumen TR-09/17-B.

Ia sendiri yang mencatatnya.

Namun, ia tidak lagi mengingat siapa yang menyerahkannya.

Pukul sebelas malam, Arga sedang bersiap pulang ketika sebuah pesan masuk.

Nomor pengirimnya tidak dikenal.

Kamu sudah menemukan catatan yang pernah kamu buat lima tahun lalu.

Arga berhenti berjalan.

Pesan berikutnya muncul.

Jangan mencoba mengingat siapa yang menyerahkan dokumen itu kepadamu. Kamu sudah tahu jawabannya, tetapi seseorang membuatmu percaya bahwa dokumen tersebut berasal dari bagian administrasi.

Arga segera menyimpan pesan tersebut.

Ia tidak membalas.

Kemudian datang sebuah foto.

Foto itu memperlihatkan ruang kerja ARX-9 lima tahun lalu.

Di tengah ruangan terdapat meja yang dipenuhi dokumen. Arga mengenali dirinya sendiri sedang duduk di depan komputer, sementara seorang pria berdiri di seberangnya.

Wajah pria itu terlihat jelas.

Arga memperbesar gambar tersebut.

Ia mengenali pria itu.

Pria yang pernah menemaninya memeriksa hasil pengujian.

Pria yang pernah mengatakan bahwa ia akan membantu membuktikan kebenaran.

Pria yang selama lima tahun terakhir tidak pernah muncul dalam penyelidikan.

Bima Saputra.

Namun, di bagian belakang foto terdapat sebuah jam dinding yang menunjukkan pukul 23.41.

Pada sudut bawah foto tercetak tanggal.

Tanggal itu adalah malam ketika Arga pertama kali mencatat kode TR-09/17-B.

Arga menatap gambar tersebut dengan pikiran kacau.

Jika foto itu asli, berarti Bima berada bersamanya pada saat dokumen tersebut diterima.

Tetapi Bima baru saja mengatakan bahwa ia tidak bisa mengingat seluruh detail kejadian malam itu.

Apakah ia benar-benar lupa?

Atau ada sesuatu yang belum ia ceritakan?

Sebelum Arga sempat menghubunginya, ponselnya bergetar sekali lagi.

Sebuah pesan terakhir muncul di layar.

Tanyakan kepada Bima mengapa dia menyerahkan dokumen itu kepadamu, lalu meminta semua orang percaya bahwa dia tidak pernah melihat laporan keselamatan awal.

Arga menatap pesan tersebut.

Ia tidak tahu apakah pengirimnya ingin membantunya atau justru mengarahkannya pada tuduhan baru.

Namun, kali ini ia memiliki sesuatu yang harus diperiksa secara langsung.

Bukan hanya sebuah kode.

Bukan hanya salinan dokumen.

Melainkan foto yang memperlihatkan dirinya sendiri bersama seseorang yang mungkin mengetahui lebih banyak tentang malam ketika hidupnya berubah.

Arga memasukkan ponsel ke saku.

Besok pagi, ia akan menemui Bima lagi.

Dan kali ini, ia tidak hanya akan bertanya tentang kartu hitam.

Ia akan bertanya tentang dokumen yang pernah diterimanya lima tahun lalu.

Tentang laporan keselamatan awal.

Dan tentang alasan Bima tidak pernah menceritakan pertemuan mereka sebelumnya.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!