Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 12 Rumah Baru langgur
Dua bulan setelah surat warisan 500 juta dari Jakarta cair, Langgur berubah total seperti desa baru.
Dulu Langgur adalah desa kayu yang rumahnya dari papan dan atap rumbia, mudah terbakar. Sekarang, di sepanjang jalan desa, berdiri 12 rumah baru dari batu bata merah, cat putih bersih, atap seng biru mengkilap, jendela kaca besar, lantai semen halus. Setiap rumah punya teras kecil dengan satu pot bunga dan satu bibit Pohon Revan Baru yang ditanam Dion di depannya.
Dua belas rumah itu adalah rumah warga yang dulu dibakar Dion dan Pak Hendra. Sekarang semua sudah selesai 100%, bahkan lebih bagus dari sebelumnya.
Hari peresmian 12 rumah baru itu diadakan besar-besaran. Pak RT Unus potong pita merah di depan rumah Mama Ino yang pertama, karena rumah Mama Ino yang paling parah dibakar dulu.
Mama Ino yang masuk ke rumah baru itu langsung menangis sambil pegang dinding batu bata.
"Rumahku... rumahku dulu kayu lapuk dimakan rayap... sekarang jadi rumah batu... keras... tidak akan terbakar lagi..." Mama Ino peluk Dion yang berdiri di sampingnya dengan baju kuli bangunan yang kotor semen.
"Terima kasih ya, Dion... Kamu sudah bangun lagi rumah Mama... Mama sudah maafkan kamu sepenuhnya, Nak..."
Dion yang dipeluk Mama Ino juga menangis, tapi kali ini menangis bahagia, bukan menangis takut.
"Sama-sama, Mama... Maafkan aku dulu..."
Setelah peresmian 12 rumah, giliran peresmian gedung SD Langgur yang baru.
Gedung SD itu sekarang sudah jadi gedung beneran, bukan balai desa darurat lagi. Ada 3 kelas besar, ada kantor guru kecil untuk Ara, ada perpustakaan kecil dengan 100 buku baru yang dibeli dari Tual pakai sisa uang warisan, ada lapangan kecil untuk upacara.
Anak-anak SD Langgur yang dulu belajar di bawah Pohon Revan Baru karena tidak punya kelas, sekarang masuk ke kelas baru dengan seragam baru yang juga dibelikan pakai uang warisan. Mereka duduk di meja kursi baru dan teriak senang, "SEKOLAH BARU! SEKOLAH BARU!"
Ara sebagai guru satu-satunya di SD Langgur, berdiri di depan kelas baru itu dengan air mata bahagia.
"Satu tahun lalu, sekolah kita dibakar jadi abu. Hari ini, sekolah kita jadi gedung batu. Ini semua karena kita mau memaafkan dan mau membangun lagi."
Ara menatap Dion yang berdiri di pintu kelas dengan baju kuli yang masih kotor, tapi wajahnya bersinar bangga.
"Dion, masuk sini, ini sekolahmu juga."
Dion masuk ke kelas dan semua anak-anak SD bertepuk tangan untuknya, "KAK DION! KAK DION!"
Dion malu-malu, tapi senang, karena dulu anak-anak takut sama dia, sekarang sayang sama dia.
Sore setelah peresmian, Pak RT Unus menghitung sisa uang warisan 500 juta di buku besar desa.
"Jadi, 12 rumah habis 300 juta, sekolah 3 kelas habis 100 juta, seragam dan buku 20 juta, jadi sisa 80 juta. Sisa 80 juta ini kita mau pakai untuk apa, warga?"
Warga bermusyawarah di bawah Pohon Revan Baru yang buah mangganya sudah besar, sudah hampir matang, lima buah mangga hijau kekuningan.
Jali usul, "Bagaimana kalau sisa 80 juta kita pakai untuk beli perahu besar baru? Perahu kita yang dulu buat tenggelamkan peti sudah bocor, sudah tua."
Mama Ino usul, "Beli genset besar biar Langgur ada listrik malam, tidak pakai pelita lagi."
Ara diam sebentar, lalu berdiri dan usul yang paling mengejutkan.
"Bagaimana kalau sisa 80 juta ini kita pakai untuk buat Tugu Revan? Tugu untuk ingat Revan, penjaga Langgur yang sebenarnya. Kita buat tugu batu di tempat Pohon Revan lama tumbang, di samping Pohon Revan Baru. Di tugu itu kita tulis, 'Revan - Penjaga Langgur Selamanya - 2005-2024'. Biar anak cucu kita nanti tahu, Langgur merdeka karena ada anak bernama Revan yang jaga kita."
Semua warga langsung setuju dengan usul Ara, bahkan lebih keras dari usul perahu dan genset.
"SETUJU! BUAT TUGU REVAN!"
"REVAN PAHLAWAN LANGGUR!"
Dion yang mendengar usul itu langsung mengangkat tangan, "Aku yang buat tugunya! Aku yang cari batu besar di gunung! Aku yang ukir namanya!"
Akhirnya diputuskan, sisa 80 juta dibagi dua, 40 juta buat beli perahu besar baru dan genset kecil, 40 juta buat buat Tugu Revan dari batu andesit hitam yang kuat, yang tidak akan hancur 100 tahun.
Minggu depan, tukang batu dari Tual datang lagi untuk buat Tugu Revan.
Tugu itu tingginya 2 meter, dari batu hitam mengkilap, bentuknya seperti Pohon Revan yang kecil, di depannya ada ukiran wajah Revan yang dibuat berdasarkan ingatan Ara, wajah Revan yang senyum dengan jaket hitamnya.
Di bawah ukiran wajah itu, ada tulisan yang diukir dalam,
"REVAN
PENJAGA LANGGUR SELAMANYA
YANG RELA MATI JAGA TANAH LELUHUR
2005 - 2024
JASAMU TIDAK AKAN KAMI LUPAKAN"
Saat tugu itu selesai dan diresmikan, seluruh warga Langgur berkumpul lagi di sekitar Pohon Revan Baru dan Tugu Revan itu. Mereka bawa bunga, bukan bunga mangga, tapi bunga liar dari hutan Langgur.
Ara yang melihat tugu wajah Revan itu, tidak bisa tahan lagi, dia peluk tugu batu hitam yang dingin itu dan menangis keras, menangis yang paling keras sejak Revan hilang setahun lalu.
"VAN! INI KAMU! INI WAJAH KAMU! KAMU SUDAH JADI TUGU! KAMU SUDAH JADI PAHLAWAN! SEMUA ORANG INGAT KAMU, VAN!"
Pohon Revan Baru di samping tugu itu bergoyang pelan, dan lima buah mangganya yang sudah besar, jatuh satu persatu ke tanah, tepat di depan tugu, seperti persembahan.
Buah pertama jatuh di depan kaki Ara, buah kedua di depan kaki Dion, buah ketiga di depan kaki Pak RT, buah keempat di depan kaki Mama Ino, buah kelima di tengah-tengah warga.
Lima buah mangga itu pecah dan di dalamnya bukan biji, tapi ada cahaya keemasan kecil yang terbang ke atas langit dan hilang, seperti lima jiwa yang tenang.
Warga percaya, lima cahaya itu adalah lima hantu penjaga emas yang dulu di peti, yang sekarang sudah tenang karena Langgur sudah damai dan sudah memaafkan.
Dion mengambil satu buah mangga yang jatuh di depannya, mengupasnya, dan memakannya, rasanya manis sekali, manis seperti madu hutan.
"Manis, Kak Ara! Manis sekali! Seperti Langgur sekarang, manis!"
Ara juga makan buah mangga yang jatuh di depannya, sambil tetap memeluk Tugu Revan yang dingin itu.
"Manis ya, Van? Ini hasil pohon barumu..."
Malam itu, genset baru yang dibeli pakai sisa uang warisan dinyalakan untuk pertama kalinya. Lampu-lampu baru di 12 rumah baru itu menyala terang, menerangi Langgur yang dulu gelap pakai pelita.
Dari kejauhan, dari laut, Langgur terlihat seperti bintang kecil di tengah kegelapan Maluku, terang karena 12 rumah baru dan satu Tugu Revan hitam yang berdiri tegak menjaga desa itu selamanya.
Langgur yang dulu desa kayu yang mudah dibakar, sekarang jadi desa batu bata yang terang dan kuat, dibangun dari penyesalan dan maaf.