NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.

​Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.

​Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5: Aturan Rumah Tangga Rahasia

Mobil sedan hitam mewah bernomor polisi khusus membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati lampu-lampu malam. Di dalam kabin penumpangnya yang senyap, keheningan antara Reynand dan Aira terasa begitu pekat.

​Aira menatap gaun malam berwarna krem yang baru saja dibelikan oleh asisten Reynand beberapa jam lalu. Gaun itu sangat pas di tubuhnya—elegan, tidak mencolok, namun memancarkan aura anggun. Di sebelahnya, Reynand sibuk memeriksa beberapa berkas di tablet kerjanya, seolah tak terpengaruh oleh makan malam keluarga yang akan segera mereka hadapi.

​"Nyonya Besar Aristha—ibu saya—bukan wanita yang mudah dibodohi," ujar Reynand tiba-tiba, membuka suara tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet. "Beliau memiliki intuisi yang tajam. Satu kesalahan kecil saja dari tindakanmu, beliau akan tahu hubungan ini palsu."

​Aira memutar tubuhnya menghadap Reynand. "Lalu apa yang harus saya lakukan? Anda belum memberi tahu saya latar belakang keluarga Anda."

​Reynand mematikan layar tabletnya lalu menatap Aira tajam. "Ibu saya menyukai wanita yang tenang, tidak haus harta, dan memiliki harga diri. Jadi, bertindaklah seperti dirimu yang biasa. Jangan berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan beliau."

​"Bagaimana dengan Devan?" tanya Aira mengingatkan. "Dia pasti akan ada di sana dan mencari celah untuk menjatuhkan kita."

​"Abaikan Devan," sahut Reynand dingin. "Di depan keluarga, panggil saya 'Reynand'. Jangan pernah sekali pun memanggil saya 'Pak'. Dan satu hal lagi..."

​Reynand meraih tangan kanan Aira. Sebelum Aira sempat menariknya karena terkejut, pria itu sudah menyematkan sebuah cincin berlian bermata tunggal yang berkilau indah di jari manis Aira.

​"Ini cincin tunangan kita. Jangan pernah dilepas di depan orang lain," bisik Reynand, menatap jemari Aira yang kini dihiasi perhiasan mewah tersebut.

​Aira menatap cincin itu dengan perasaan campur aduk. Kilauan berlian tersebut terasa seperti belenggu manis yang mengikat kebebasannya selama satu tahun ke depan.

​Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kediaman megah berarsitektur klasik di kawasan elite Jakarta. Pak Broto membukakan pintu, dan Reynand keluar lebih dulu sebelum mengulurkan tangannya pada Aira.

​Aira ragu sejenak, namun kemudian menyambut uluran tangan dingin itu. Genggaman Reynand terasa erat dan protektif saat mereka melangkah bersama memasuki pintu utama kediaman Aristha.

​Di ruang makan yang megah, seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat anggun duduk di ujung meja. Di sampingnya, Devan tampak tersenyum miring saat melihat kedatangan mereka.

​"Selamat malam, Ibu," sapa Reynand tenang, menghampiri wanita itu dan mencium tangannya.

​Nyonya Rosalinda Aristha menatap anaknya, lalu pandangannya beralih sepenuhnya kepada Aira. Matanya yang tajam mengintimidasi menyusuri penampilan Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki.

​"Jadi ini wanita yang membuatmu membuat keputusan mendadak tanpa memberi tahu Ibu terlebih dahulu, Reynand?" suara Nyonya Rosalinda terdengar tenang namun berbobot.

​Aira melangkah maju dengan anggun, mengukir senyum sopan di wajahnya. Ia membungkuk hormat. "Selamat malam, Nyonya Aristha. Saya Aira Anindita. Maafkan kami jika kabar ini mengejutkan Anda."

​Nyonya Rosalinda diam selama beberapa detik, menciptakan ketegangan yang membuat Devan hampir tertawa puas di kursinya. Namun, ekspresi Nyonya Rosalinda perlahan melunak saat melihat cara Aira berdiri—tegap, tidak gemetar, dan tatapan matanya yang jujur.

​"Duduklah, Aira," ujar Nyonya Rosalinda akhirnya, mengisyaratkan kursi kosong tepat di sebelah Reynand. "Malam ini, Ibu ingin mendengar cerita sebenarnya tentang bagaimana seorang asisten pribadi sanggup mencuri hati putra Ibu yang berdarah dingin ini."

​Aira melirik Reynand tipis melalui sudut matanya. Permainan peran sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!