Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Dokter Karin dan Sepatu Hak Di Atas Lumpur
Jam tujuh pagi, bus ALS dari Medan baru sampai di simpang Sungai Rumbai.
Semua pekerja yang sudah mulai kerja di loading ramp melirik ke arah mobil Avanza putih yang masuk ke halaman pabrik. Bukan mobil Rizki, tapi mobil rental yang masih bersih.
Pintunya terbuka. Keluar seorang perempuan tinggi, rambut panjang dicat coklat pirang, pakai seragam dokter putih yang sangat bersih, rok span hitam ketat, dan sepatu hak tinggi 10 cm yang sama sekali tidak cocok dengan lumpur pabrik.
Dr. Karin.
Cantik. Sangat cantik. Kulitnya putih seperti tidak pernah kena matahari Dharmasraya, bibirnya merah, kacamata tipis di hidung, dan tas dokter kulit coklat di tangan.
Di belakangnya ada koper besar warna pink.
Arif yang sedang cek suhu sterilizer di lantai bawah, langsung jalan cepat menghampiri. Wajahnya tegang, tidak senang, tapi berusaha sopan.
"Eh..Karin, kamu sudah sampai. Kenapa gak bilang kalau sudah dekat? Biar saya jemput di simpang," kata Arif, coba ambil koper Karin.
Karin tidak kasih kopernya. Ia lepas kacamata, menatap Arif dari atas ke bawah, lalu menatap sekeliling pabrik dengan tatapan jijik.
"Arif, ya Tuhan. Kamu kerja di tempat seperti ini? Bau apa ini? Bau solar? Dan lumpur di mana-mana! Sepatu saya sampai tenggelam!" keluh Karin keras, suaranya manja tapi menusuk telinga semua orang di dekat situ.
Beberapa mandor yang dengar langsung berbisik.
Arif tarik napas panjang, tahan malu.
"Namanya juga pabrik sawit, Sayang. Sudah, masuk dulu ke kantor. Di sini panas," kata Arif pelan.
Karin jalan dengan susah payah, sepatu hak tingginya nancep di lumpur setiap langkah. "Arif! jalan nya Pelan donk! Pegangin! Aku bisa jatuh! Kalau aku jatuh, Jas dokter aku bisa kotor!"
Gelar dokter. Selalu dibawa.
Mereka masuk ke ruang administrasi. Semua mata langsung ke Karin.
Nadia yang sedang fotokopi laporan rendemen, berdiri kaku. Mbak Sari yang di sebelahnya langsung bisik, "Itu dia... tunangan Pak Arif yang dokter itu."
Bu Lastri yang sedang rekap absen, menatap Karin dengan tatapan tidak suka. Bu Lastri paling benci orang sombong.
Karin masuk ke kantor menuju ruangan Arif matanya langsung melihat Nadia dengan sinis. Ia sudah lihat foto Nadia dari foto satpam yang viral di grup WA.
"Oh, jadi kamu yang bernama Nadia?" tanya Karin langsung, tanpa salam, tanpa senyum. Suaranya keras biar satu ruangan dengar. "Admin baru yang kemarin dapat lemburan jam delapan malam itu ya?"
Nadia menunduk. "Iya, Dok. Saya Nadia."
Karin melangkah mendekat, sepatu haknya bunyi keras di lantai semen. Ia lihat meja Nadia yang penuh buku timbangan yang bau oli.
"Jadi kamu yang bikin pacar saya transfer uang tengah malam? Kamu tahu gak, uang itu untuk pre-wedding kami di Danau Toba? Saya ini dokter, lho. Saya tahu nilai uang. Saya sekolah kedokteran 6 tahun, zaman sekarang gak gampang cari uang," kata Karin, sengaja sombongkan gelar.
Kata dokter diulang lagi. sekolah kedokteran 6 tahun.
Mbak Sari gak tahan lagi lihat kesombongan Karin. "Dok, itu uang lemburan resmi dari keuangan, Dok. Bukan uang pribadi Pak Arif. Ada slipnya. Saya saksinya."
Karin menoleh ke Mbak Sari, ? menatap Mbak Sari dari atas ke bawah. "Kamu siapa? Operator timbangan ya? Maaf ya, saya bicara sama admin yang bersangkutan, bukan sama operator. Tolong jangan ikut campur urusan saya sama tunangan saya."
Mbak Sari wajahnya merah menahan marah.
Arif yang dari tadi diam di pintu, akhirnya meledak pelan.
"Karin! Cukup! Ini area kerja! Kalau kamu mau visit klinik, klinik di sebelah! Jangan ganggu staf saya!" bentak Arif, suaranya tegas, sama seperti waktu ia bentak Karin di telepon.
Satu ruangan hening.
Karin terbelalak, tidak percaya dibentak Arif di depan Nadia. Air matanya langsung keluar, drama.
"Arif! Kamu bentak aku! Demi dia! Aku datang jauh-jauh dari Medan naik bus 20 jam, kamu bentak aku di depan perempuan ini! Aku ini dokter lo Arif! Aku calon istri kamu!" teriak Karin sambil nangis.
Pak Hendra Manager yang dengar ribut-ribut dari ruangannya, keluar.
"Ada apa ini? Ribut-ribut di jam kerja?" tanya Pak Hendra dengan suara Batak yang keras.
Karin langsung pasang wajah korban, lap air mata.
"Pak Hendra, saya Dr. Karin, dokter dari klinik Medan, tunangannya Arif. Saya datang untuk visit klinik, tapi staf Bapak tidak sopan sama saya," kata Karin manja ke Pak Hendra.
Pak Hendra menatap Arif, lalu Nadia, lalu Karin. Ia paham situasi.
"Dr. Karin, selamat datang di PKS Dharmasraya. Klinik ada di sebelah, silakan visit. Tapi ruang administrasi ini untuk kerja, bukan untuk urusan pribadi. Tolong jaga profesionalitas," kata Pak Hendra tegas, tidak memihak.
Karin hentakkan kaki, sepatu haknya bunyi lagi.
"Oke! Saya ke klinik! Tapi saya mau tidur di mana? Saya pesan mess tamu yang bersih ya, Pak! Saya tidak bisa tidur di mess yang bau solar seperti mess karyawan!"
Pak Hendra mengangguk ke satpam. "Antar Dr. Karin ke mess tamu. Mess tamu yang di dekat pos utama, yang ada AC-nya."
Koper karin yang berwarna pink itu di angkat oleh satpam menuju mess tamu. Mess tamu itu memang satu-satunya mess yang bagus di pabrik, ada AC, ada kasur spring bed, khusus untuk tamu direksi dari Jakarta.
Nadia, Mbak Sari, dan Bu Lastri ditinggal di ruang administrasi dengan suasana tegang.
Bu Lastri tiba-tiba bicara, keras.
"Nadia, kamu kerja yang benar! Jangan hiraukan dokter-dokteran itu! Gelar dokter tidak bikin dia bisa injak lumpur dengan sepatu hak!" kata Bu Lastri, suaranya keras tapi membela Nadia.
Nadia mengangguk, matanya berkaca-kaca, tapi ia tahan.
Siang itu, kabar menyebar cepat: Dr. Karin, tunangan Pak Arif yang bergelar dokter itu, tidur di mess tamu ber-AC, minta air mineral galon khusus, minta makan siang ayam goreng tanpa minyak, dan tidak mau makan di kantin pabrik karena takut kolesterol.
Sementara Nadia, Mbak Sari, dan Bu Lastri makan bakso di kantin yang panas, berkeringat, tapi tertawa bersama.
Sore jam lima, Arif tidak pulang ke mess putra. Ia duduk di depan mess tamu, di bangku kayu, menunggu Karin selesai mandi.
Nadia lewat hendak ke mess putri, bawa tumpukan laporan. Ia lihat Arif duduk sendirian, menunduk, pegang kepala.
Untuk pertama kalinya, Nadia lihat Arif yang selalu kuat dan tegas, terlihat sangat lelah dan terjebak.
Nadia ingin menyapa, tapi tidak jadi. Ia jalan terus ke mess putri.
Di dalam mess tamu ber-AC, Karin sedang video call dengan teman dokternya di Medan.
"Gila, tau gak? Pacar aku kerja di tengah hutan sawit! Bau! Aku harus pakai masker! Dan ada admin genit yang gangguin dia! Tapi tenang, aku sudah tandai dia! Aku dokter, dia cuma admin lulusan kampus swasta!"
Suara Karin terdengar dari jendela mess tamu yang terbuka sedikit.
Nadia yang sudah di dalam mess putrinya yang panas tanpa AC, dengar samar-samar. Ia tutup pintu messnya pelan.
Malam itu, mess tamu ber-AC terang, mess putri gelap cuma pakai lampu kuning 5 watt.
Tapi yang tidak bisa tidur justru yang di mess ber-AC. Karin bolak-balik di kasur spring bed, cek ponsel Arif yang tidak ada chat dari Nadia, tapi ada foto Nadia di galeri - foto laporan kerja yang Arif foto untuk bukti ke Pak Hendra.
Di mess putri yang panas, Nadia sudah tidur lelap karena capek kerja seharian, dengan kipas angin kecil yang berisik.
Dan di bangku kayu depan mess tamu, Arif masih duduk sendirian sampai jam sebelas malam, merokok, menatap bintang di atas kebun sawit yang luas.
Dua perempuan, satu laki-laki, satu pabrik.
Badai baru saja dimulai.
Bersambung
---