Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti
"Papa! Papa buka pintunya, Pa! Tolong Aris, Pa! Ada polisi di bawah... Mereka mau tangkap Aris sekarang, Pa!"
Suara histeris Aris dari balik pintu kayu jati kamar utama memecah keheningan malam yang syahdu. Gedoran tangan pria muda itu pada daun pintu terasa makin liar, beradu dengan gemuruh suara hujan deras dan petir yang bersahut-sahutan di luar jendela.
Hendra melepaskan ciumannya dari bibir Aura secara perlahan. Dahi tegas sang taipan berkerut dalam, memancarkan aura kejengkolan dan amarah yang pekat karena momen intim bersama istrinya terus-menerus diinterupsi oleh kelakuan putranya.
Aura membetulkan posisi gaun tidur sutra merah marunnya, lalu menatap Hendra dengan raut wajah yang tenang dan terkontrol. Binar kejutan sempat melintas di matanya saat mendengar kata 'polisi', namun dengan cepat ia menguasai diri.
"Mas Hendra..." panggil Aura lembut seraya menyentuh lengan tegap suaminya. "Sebaiknya kita temui dia di luar. Sepertinya ada hal yang sangat serius terjadi di bawah."
Hendra menghembuskan napas panjang yang berat. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu berdiri dari ranjang, mengenakan kembali jubah mandi hitam mewahnya dan mengikat talinya dengan kencang di pinggang. Matanya yang dingin menatap ke arah pintu dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan mendalam.
"Tunggulah di dalam kamar, Aura. Saya yang akan membereskannya," ujar Hendra dengan suara beratnya yang bernada tegas.
"Tidak, Mas. Saya adalah istri Anda dan komisaris perusahaan. Kalau ini ada hubungannya dengan kasus audit kantor pusat, saya harus mendampingi Anda," balas Aura tanpa ragu, berdiri anggun di samping suaminya.
Hendra memandangi Aura sejenak, mengagumi keberanian dan keteguhan hati istrinya yang tak pernah gentar menghadapi situasi seburuk apa pun. Pria itu mengangguk singkat, lalu meraih jemari Aura dan melangkah menuju pintu utama kamar.
KLAK.
Kunci pintu diputar. Begitu Hendra menarik daun pintu ke dalam, sosok Aris seketika hampir tersungkur masuk ke dalam kamar.
Penampilan Aris malam itu benar-benar mengenaskan. Kemeja mewahnya basah kuyup akibat menerobos hujan dari luar, matanya sembab, merah, dan memancarkan keputusasaan yang luar biasa. Peluh dingin dan air hujan menyatu di wajahnya yang pucat pasi.
"Pa! Tolong Aris, Pa!" ratap Aris histeris, langsung berusaha memegang tangan ayahnya dengan tubuh gemetar hebat. "Ada tim penyidik kepolisian sama Jaksa di lantai bawah! Mereka bawa surat penangkapan atas nama Aris!"
Hendra menepis tangan Aris dengan gerakan tajam dan dingin. "Jaga sikapmu! Kenapa pihak kepolisian bisa datang ke kediaman pribadi saya malam-malam begini?!"
"Aris... Aris nggak tahu, Pa! Mereka bilang Aris terlibat kasus tindak pidana pencucian uang dan penggelapan dana proyek di Bali!" tangis Aris pecah, berlutut di lantai lorong koridor di depan pintu kamar ayahnya.
Mendengar kata 'penggelapan dana proyek di Bali', mata Aura berkilat dingin. Laporan audit independen yang baru saja diselesaikannya sore tadi bersama tim akuntan publik ternyata telah mengekspos kebocoran anggaran yang jauh lebih besar daripada sekadar penggelembungan dana lima belas persen yang sempat ia pertanyakan di ruang rapat.
"Penggelapan dana?" beo Hendra dengan suara rendah yang sangat berbahaya. Pria matang itu melangkah keluar kamar, membimbing Aura di sampingnya menuruni tangga utama menuju area serambi lantai dasar.
Di ruang tamu utama berlantai marmer yang megah, empat orang pria bersetelan formal dengan tanda pengenal kepolisian dan kejaksaan berdiri menunggu. Tiga pengawal pribadi kediaman Fahreza tampak mengawasi mereka dengan sigap.
Kepala tim penyidik—seorang pria paruh baya berwajah tegas—melangkah maju dan menundukkan kepala dengan penuh hormat saat melihat Hendra Fahreza berjalan menuruni tangga bersama istrinya.
"Selamat malam, Bapak Hendra Fahreza," sapa kepala penyidik itu dengan suara resmi. "Mohon maaf kami menggangu waktu istirahat Anda malam ini. Kami dari Tim Tindak Pidana Korupsi dan Ekonomi Khusus Polda Metro Jaya."
Hendra berdiri tegap di anak tangga terakhir, memancarkan aura dominasi mutlak seorang taipan puncak yang tak tergoyahkan. Tangannya merangkul pinggang Aura dengan protektif.
"Selamat malam, Inspektur," sahut Hendra datar. "Bisa Anda jelaskan alasan institusi Anda mendatangi rumah pribadi saya pada jam istirahat seperti ini?"
Penyidik itu mengeluarkan sebuah map dokumen berstempel resmi kejaksaan, lalu menyerahkannya kepada Hendra.
"Kami datang untuk melaksanakan Perintah Penangkapan dan Penahanan atas nama Saudara Aris Fahreza," terang penyidik tersebut. "Berdasarkan bukti audit independen yang kami terima sore tadi dari Kejaksaan Tinggi, Saudara Aris terbukti secara sah melakukan pemalsuan dokumen vendor dan penggelapan dana perusahaan sebesar dua puluh lima miliar rupiah pada proyek pembangunan resort di Bali."
DEG.
Aris yang merangkak menuruni tangga di belakang ayahnya seketika menjerit ketakutan. "Nggak! Itu bohong, Pa! Aris cuma pakai uang itu sedikit buat investasi sama keluarga Siska! Siska yang suruh Aris tanda tangan dokumen itu, Pa!"
Hendra tidak mengindahkan jeritan putranya. Pria matang itu membuka map dokumen penangkapan tersebut, membaca setiap pasal dan rincian transaksi bodong yang tercantum di sana. Mata cokelat gelap milik Hendra makin meredup, menyisakan kekecewaan dan amarah pembunuh yang membeku di dalam dadanya.
Dua puluh lima miliar rupiah! Angka itu memang tidak ada artinya bagi total kekayaan Fahreza Group yang mencapai belasan triliun rupiah, namun perbuatan Aris yang mencuri uang perusahaan, memalsukan dokumen, dan menggunakan nama besar ayahnya demi memanjakan Siska adalah sebuah kejahatan fatal yang merusak integritas keluarga Fahreza.
"Siapa yang menyerahkan bukti audit ini ke pihak kejaksaan sore tadi, Inspektur?" tanya Hendra dengan suara beratnya yang menekan.
Penyidik itu melirik sekilas ke arah Aura yang berdiri anggun di samping Hendra, lalu kembali menatap sang taipan.
"Laporan dan berkas audit ini diserahkan oleh tim hukum independen atas instruksi dari Komisaris Utama Fahreza Group, Nyonya Aura Fahreza," jawab penyidik itu dengan lugas.
Aris membelalakkan matanya yang sembab, menatap Aura dengan pandangan penuh kebencian, syok, dan keputusasaan yang membakar jiwanya.
"Aura... Kamu... Kamu yang ngelaporin aku ke polisi?!" teriak Aris histeris dari atas tangga. "Kamu wanita iblis, Aura! Kamu sengaja mau jeblosin aku ke penjara!"
Aura tidak sedikit pun gentar oleh teriakan Aris. Ia melangkah satu titik ke depan di samping suaminya, menatap Aris yang berlutut di tangga dengan pandangan dingin yang penuh kejayaan.
"Saya menjalankan tugas saya sebagai komisaris perusahaan, Aris," tutur Aura dengan suara yang begitu halus, jernih, dan berbobot. "Sebagai komisaris yang memegang kepercayaan suamiku dan dewan direksi, aku wajib membersihkan setiap tindakan kriminal dan kebocoran anggaran di Fahreza Group tanpa memandang siapa pelakunya."
"Kamu jebak aku, Ra! Kamu balas dendam karena aku campakkan kamu!" jerit Aris, mencoba berlari menuruni tangga untuk menyerang Aura.
SET!
Dua pengawal pribadi kediaman Fahreza dengan sigap menghadang dan mengunci kedua lengan Aris di tempat. Pria muda itu berontak histeris, menangis parau di atas lantai marmer.
Hendra menutup map dokumen kejaksaan tersebut dengan gerakan yang sangat tenang. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu memandangi putra tunggalnya yang kini tak lebih dari seorang kriminal yang merangkak hancur di depan matanya.
Hendra tidak marah pada Aura. Sebagai pengusaha sejati yang memegang teguh hukum dan profesionalisme, Hendra tahu bahwa tindakan Aura adalah tindakan yang sangat tepat untuk menyelamatkan Fahreza Group dari skandal finansial yang lebih besar di kemudian hari. Jika kasus ini dibiarkan dan meledak di media tanpa ada tindakan tegas dari internal perusahaan, saham Fahreza Group di bursa efek bisa anjlok drastis.
Hendra menatap kepala tim penyidik dengan mata elangnya yang tajam.
"Silakan lakukan tugas Anda, Inspektur," ucap Hendra tegas tanpa ada keraguan sedikit pun dalam suaranya.
"Papa! Nggak, Pa! Jangan biarkan mereka bawa Aris! Aris anak Papa satu-satunya, Pa!" jerit Aris hysteris saat dua petugas kepolisian melangkah mendekat dan memasangkan borgol besi di kedua pergelangan tangannya.
KLIK.
Suara denting borgol besi yang mengunci tangan Aris bergema nyaring di dalam serambi megah tersebut.
Hendra melangkah mendekati putranya yang kini berdiri gemetar dalam cengkeraman petugas. Sang taipan menatap Aris lurus-lurus dengan pandangan dingin yang menghujam.
"Papa sudah memberimu kesempatan bertahun-tahun untuk menjadi pria sejati, Aris," kata Hendra dengan suara rendahnya yang amat dalam. "Tapi kamu memilih menjadi pria pengecut, penipu, dan menyalahgunakan wewenangmu. Belajarlah mempertanggungjawabkan perbuatanmu di balik jeruji besi."
"Papa... Aris mohon, Pa... Minta Aura cabut laporannya, Pa!" tangis Aris pecah, air matanya menetes deras membasahi kemeja mewahnya.
Hendra berbalik membelakangi Aris, melingkarkan tangannya di pinggang Aura dengan gerakan yang sangat lembut dan protektif.
"Bawa dia keluar dari rumah saya," perintah Hendra kepada tim penyidik.
Para petugas kepolisian membawa Aris melangkah keluar dari pintu utama kediaman Fahreza. Jeritan, tangisan, dan raungan penyesalan Aris perlahan memudar tenggelam di antara deru suara hujan deras di luar sana.
Pintu utama kediaman ditutup rapat kembali oleh pengawal.
Suasana di dalam rumah megah itu kembali hening dan tenang. Pak Biantoro dan seluruh staf rumah tangga menundukkan kepala mereka dalam-dalam, terkesima oleh ketegasan sang taipan dan keanggunan Nyonya baru mereka yang berhasil menumbangkan keangkuhan Aris dalam waktu singkat.
Hendra menundukkan kepalanya, menatap Aura yang berdiri rapat di dalam dekapannya. Pria matang itu mengusap lembut pipi mulus istrinya dengan ibu jarinya, memandangi mata jernih Aura dengan binar penuh kekaguman dan kasih sayang yang teramat pekat.
"Kamu bertindak sangat cepat dan tepat, Aura," bisik Hendra tulus, suaranya yang berat memancarkan rasa terima kasih yang mendalam. "Jika bukan karena ketajaman analisismu sore tadi, kasus penggelapan dana Aris bisa menjadi senjata bagi lawan bisnis kita untuk menghancurkan Fahreza Group di bursa saham."
Aura mendongak, menyentuh dada bidang suaminya dengan jemari lentiknya. "Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang istri dan mitra tepercaya Anda, Mas Hendra. Saya tidak akan membiarkan siapa pun merusak apa yang sudah Anda bangun."
Hendra tersenyum menawan—sebuah senyuman penuh kebanggaan yang membuat wajah tegasnya tampak begitu tampan dan berkarisma. Pria itu membungkuk sedikit, mengecup bibir merah Aura secara mesra di hadapan para staf rumah tangga, sebelum mengangkat tubuh jenjang istrinya ke dalam dekapannya untuk dibawa kembali ke kamar utama.
Keesokan harinya di Gedung Polda Metro Jaya.
Ruang tahanan sementara itu tampak dingin dan remang. Aris duduk di atas bangku kayu dengan pakaian tahanan berwarna oranye. Wajahnya yang dulu selalu memancarkan kesombongan kini hancur tanpa sisa. Keangkuhannya sebagai putra tunggal taipan properti telah runtuh sepenuhnya.
Suara derit pintu besi ruangan dibuka dari luar.
Seorang petugas kepolisian membukakan pintu, lalu mempersilakan seorang tamu wanita untuk masuk.
Denting sepatu hak tinggi yang teratur dan berkelas bergema di dalam ruangan yang dingin itu.
Aris mendongak perlahan. Matanya yang sembab membelalak saat melihat sosok wanita yang melangkah masuk mengenakan setelan blazer berwarna putih gading dari bahan kasmir yang amat mahal. Kalung berlian melingkar indah di leher jenjangnya, dan cincin pernikahan bersepuh emas berkilau mewah di jari manisnya.
Aura Paramitha—Nyonya Hendra Fahreza.
Aura melangkah anggun, melipat kedua tangannya di depan tubuh, lalu berdiri tepat di depan meja besi tempat Aris duduk. Tidak ada pengawal atau Hendra di sampingnya saat ini. Aura datang seorang diri untuk memberikan salam perpisahan terakhir pada mantan kekasihnya.
Aris mengepalkan kedua tangannya di atas meja besi, air mata kefrustrasian kembali genang di sudut matanya.
"Kamu puas sekarang, Aura?!" bisik Aris dengan suara parau yang penuh dengan kebinasaan. "Kamu berhasil bikin aku masuk penjara! Kamu berhasil rebut semua harta Papa! Kamu berhasil hancurin hidup aku!"
Aura menatap Aris dari atas ke bawah dengan pandangan dingin, tenang, dan penuh kemenangan mutlak. Ia menyunggingkan senyuman tipis yang amat anggun di bibirnya.
"Aku tidak menghancurkan hidupmu, Aris," tutur Aura dengan suara selembut sutra namun menusuk hingga ke dasar tulang. "Kamu sendiri yang menghancurkan hidupmu saat kamu memilih untuk menjadi pria arogan, curang, dan meremehkan wanita yang pernah tulus mencintaimu."
Aris menundukkan kepalanya, memukulkan dahi mewahnya ke atas meja besi seraya menangis parau. "Aku nyesel, Ra... Aku minta maaf... Please, cabut laporannya... Aku nggak sanggup hidup di penjara, Ra..."
Aura memiringkan kepalanya sedikit, mengamati pria yang dulu pernah mencampakkannya di kafe dengan tuduhan 'cewek biasa yang tidak selevel'.
"Penjara adalah tempat terbaik untuk kamu belajar cara menjadi manusia yang tahu rasa hormat, Aris," balas Aura datar. "Nikmatilah waktu lima tahunmu di dalam sana. Dan ingatlah setiap hari... bahwa wanita yang kamu buang dulu kini adalah pemilik sah dari seluruh kehidupan yang pernah kamu banggakan."
Aura memutar tubuhnya yang anggun, melangkah menuju pintu keluar ruang tahanan tanpa sudi menoleh lagi ke belakang.
"Aura! Aura, jangan pergi, Ra! Aura!" jerit Aris histeris dari balik meja besi, meraungkan nama wanita yang kini telah berada di puncak kekuasaan tertinggi di atas hidupnya.
Aura melangkah keluar menuju mobil Rolls-Royce hitam yang sudah menunggunya di halaman gedung kepolisian. Sopir pribadi membukakan pintu belakang dengan penuh rasa hormat.
Aura duduk di dalam kabin mewah yang harum, menyandarkan punggungnya pada kursi kulit premium. Ponsel mewahnya bergetar halus, memperlihatkan sebuah pesan masuk dari Hendra:
‘Sayang, saya sudah memesan meja untuk makan malam kita berdua di restoran privat malam ini. Saya menunggu kehadiran Ratu saya di rumah.’
Aura mengulas senyuman paling manis dan tulus di bibirnya, membalas pesan suaminya dengan jemari lentiknya:
"Saya sedang dalam perjalanan pulang, Mas Hendra."