Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Digendong Lagi
Tiga hari setelah pulang, Senja mulai bosan diperlakukan seperti pasien.
Pagi itu ia menyisir rambut sendiri, berjalan dua putaran di koridor, lalu membujuk perawat pendamping agar mengizinkannya duduk di taman. Bintang membawa buku gambar dan sekotak krayon, senang karena Mamanya akhirnya keluar kamar.
"Mama gambar Papa," perintahnya.
"Kenapa Papa?"
"Karena gambar Bintang sudah banyak. Papa belum punya."
Senja mencoba menggambar wajah Damar, tetapi hasilnya terlihat seperti kotak dengan alis tebal. Bintang tertawa sampai rebah di rumput.
"Papa lebih ganteng."
"Mama bukan pelukis."
Mereka baru memilih krayon hitam ketika nyeri tajam muncul di perut bawah Senja. Mula-mula hanya seperti remasan. Dalam beberapa detik, rasa sakit itu menjalar ke pinggang dan membuat pandangannya berkunang.
Senja meletakkan krayon. Menstruasinya memang sering menyakitkan sejak kuliah, terutama ketika ia melewatkan makan. Setelah operasi, siklusnya terlambat dan tubuhnya belum benar-benar pulih.
"Mama kenapa?"
"Enggak apa-apa. Duduk sebentar."
Keringat dingin muncul di pelipis. Senja membungkuk, menekan perut, lalu perlahan merosot dari bangku taman. Bintang menjatuhkan buku gambar.
"Papa! Mama sakit!"
Anak itu berlari masuk sambil menangis. Perawat pendamping berusaha membantu Senja berdiri, tetapi otot pinggangnya menegang dan kedua lutut tidak kuat menyangga.
Bik Inah datang membawa selimut tipis. "Ya Allah, wajah Ibu putih sekali."
"Cuma nyeri haid, Bik. Tolong kompres hangat."
"Kita pindah ke kamar dulu."
Damar muncul dari pintu taman sebelum mereka sempat mencoba lagi. Ia bekerja dari rumah pagi itu dan masih mengenakan kemeja putih tanpa jas. Bintang memegang tangannya dengan kedua tangan.
"Papa, Mama mau pingsan."
Damar berjongkok di depan Senja. "Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Saya kira akan hilang sendiri."
"Bisa berdiri?"
Senja mencoba. Nyeri lain datang begitu kuat hingga napasnya terputus. Tangannya refleks mencengkeram lengan Damar.
Tanpa berkata lagi, Damar menyelipkan satu tangan di punggung dan satu di bawah lututnya. Tubuh Senja terangkat dari rumput.
"Mas, saya bisa jalan."
"Kamu baru saja hampir jatuh. Diam."
Ini bukan pertama kali Damar menggendongnya. Namun malam di tangga dipenuhi darah, sirene, dan ketakutan. Kali ini Senja sadar sepenuhnya pada dada keras yang menahan bahunya, aroma sabun dari leher Damar, serta lengan kuat di bawah lututnya.
Pipinya panas meski seluruh tubuh dingin. Ia tidak tahu harus memegang apa, akhirnya mencengkeram sedikit kain di bahu Damar.
Damar merasakan beratnya yang terlalu ringan. Bahkan setelah sebulan mendapat program gizi, Senja tetap seperti dapat hilang dari pelukannya jika ia mengendurkan tangan.
"Papa jangan jatuhin Mama," kata Bintang sambil mengikuti.
"Papa tidak akan menjatuhkannya."
Jawaban itu membuat langkah Damar melambat sepersekian detik. Senja mendengarnya juga. Bayangan tangan yang terlambat di tangga seolah berjalan bersama mereka sampai kamar.
Ia meletakkan Senja di ranjang dengan hati-hati, lalu menyuruh Bik Inah menghubungi dr. Regina.
"Jangan," kata Senja cepat. "Cuma nyeri haid biasa. Dokter enggak perlu datang untuk ini."
"Wajahmu seperti orang mau pingsan."
"Karena anemia dan belum pulih. Kompres hangat cukup. Kalau perdarahannya tidak normal atau saya benar-benar pingsan, baru panggil dokter."
Nada profesionalnya membuat Damar menahan perintah. Ia tetap menelepon rumah sakit dan meminta petunjuk dari dokter jaga tanpa menyebut nama Senja. Setelah memastikan tidak ada tanda bahaya lain, ia meminta Bik Inah menyiapkan air hangat, teh jahe dengan sedikit gula aren, serta obat yang memang sudah disetujui tim medis.
Saat Bik Inah hendak keluar, Senja memanggilnya pelan. Ada kebutuhan pribadi yang harus dibeli, tetapi ia terlalu malu mengatakannya di depan Damar. Pandangannya berpindah dari perempuan tua itu ke rak kecil di kamar mandi.
Bik Inah langsung paham. "Persediaannya masih ada, Bu. Waktu Ibu di rumah sakit, Pak Damar sudah minta semua kebutuhan Ibu disiapkan."
Senja menoleh begitu cepat hingga perutnya kembali tertarik. Damar sedang memeriksa pesan di ponselnya, seolah urusan pembalut, pakaian tidur, sampai obat pereda nyeri istrinya adalah hal biasa yang dapat masuk daftar belanja rumah.
"Mas yang minta?"
"Aku hanya menyuruh mereka melengkapi kamar," jawabnya tanpa mengangkat kepala.
Jawaban singkat itu justru membuat dada Senja terasa aneh. Selama ini ia terbiasa menyimpan pembalut di dasar tas dan menahan sakit sambil tetap bekerja. Tidak pernah ada orang yang memikirkan kebutuhannya sebelum ia meminta.
Damar kemudian melihat nampan sarapan yang masih utuh di meja. "Kamu belum makan?"
"Tadi mau makan setelah menemani Bintang menggambar."
"Berarti belum."
Senja tahu kalimat itu bukan pertanyaan. "Saya sedang tidak berselera."
"Dua suap tetap makan. Obatmu tidak boleh masuk ke perut kosong."
Bik Inah membawa bubur hangat. Senja menerima mangkuknya, tetapi tangannya gemetar saat mengangkat sendok. Damar mengulurkan tangan, kemudian berhenti seolah baru menyadari apa yang hendak dilakukannya.
"Saya bisa sendiri," kata Senja cepat.
"Aku tidak bilang mau menyuapimu. Pegang mangkuknya dengan benar."
Ia memindahkan mangkuk ke meja kecil yang ditarik mendekati ranjang. Senja menyembunyikan senyum dan menelan tiga suap agar lelaki itu berhenti mengawasinya. Damar baru mengalihkan pandangan setelah obat benar-benar diminum.
"Jangan minum sembarang jamu," katanya kepada seluruh orang di kamar.
Bik Inah mengangguk. "Bik tahu, Pak."
Senja ingin tertawa melihat Damar memberi instruksi seolah sedang memimpin rapat, tetapi nyeri membuatnya meringis.
Damar langsung menoleh. "Makin sakit?"
"Gelombangnya datang dan pergi."
Kompres hangat diletakkan di atas perut. Bintang naik ke ranjang dari sisi lain, lalu meniup selimut tiga kali.
"Sudah sembuh?"
"Sedikit."
"Papa juga tiup."
"Tidak perlu," jawab Damar.
"Papa harus jagain Mama. Jangan kerja terus."
Damar yang biasa menolak interupsi direksi kini kalah oleh telunjuk anak lima tahun. Ia menarik kursi dan duduk di sisi ranjang.
"Papa duduk di sini. Cukup?"
Bintang mengangguk puas. Senja memejamkan mata, tetapi tidak dapat mengabaikan kehadiran Damar. Setiap kali napasnya berubah, lelaki itu mengangkat kepala dari ponsel. Ketika kompres mulai dingin, ia sendiri yang menyerahkannya kepada Bik Inah untuk diganti.
Dalam keadaan setengah mengantuk, Senja merasakan jari kecil Bintang meraba tangannya. Anak itu menempelkan telapak mereka, lalu menaruh tangan Damar di atasnya.
"Kalau bertiga, Mama cepat sembuh," gumamnya.
Damar tidak menarik tangannya. Kehangatan telapak lelaki itu menutupi jemari Senja yang dingin. Beberapa detik kemudian Bintang sudah tertidur, tetapi kedua orang dewasa itu sama-sama tidak segera bergerak.
Senja akhirnya menarik tangannya perlahan. Ia takut kenyamanan sesaat itu berubah menjadi sesuatu yang kelak sulit ia tinggalkan.
Setelah hampir satu jam, warna wajah Senja perlahan kembali. Ia membuka mata dan mendapati Bintang tertidur di sisi kakinya, sedangkan Damar masih duduk di kursi.
"Mas bisa kembali bekerja. Saya sudah lebih baik."
"Aku tahu."
Namun Damar baru berdiri setelah memastikan Senja mampu minum tanpa mual. Di pintu, ia berhenti dan menoleh.
"Lain kali kalau sakit, panggil aku."
Kalimat itu terdengar seperti perintah. Bagi Senja, itu tetap menjadi pertama kalinya Damar memintanya bergantung kepadanya.