NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KONFRONTASI DI AMBANG PINTU

Vania duduk bersila di atas sofa beludru hijau tua di kamarnya, sebuah piring porselen berenda emas bertengger di pangkuannya. Di atas piring itu, terdapat dua potong roti tawar. Tapi ini bukan roti tawar polos yang membosankan, dan bukan roti tawar dengan olesan mentega tipis ala sinetron tahun 90-an yang selalu dihidangkan di meja makan keluarga besar.

Ini adalah roti tawar yang diolesi selai kacang kental dan selai stroberi.

Vania mengambil satu potong, menggigitnya dengan nikmat, dan memejamkan mata sejenak. Rasa manis stroberi bercampur dengan gurih dan asinnya selai kacang menciptakan simfoni rasa yang meledak di lidahnya. Dia menghela napas puas, lalu menatap "kamera" imajinernya yang melayang di dekat rak buku.

"Kalian tahu apa yang paling menyedihkan dari hidup di mansion ini?" bisik Vania pada penonton tak terlihat itu, mengunyah rotinya dengan santai. "Pantry-nya seluas lapangan futsal, tapi isinya cuma roti tawar tanpa kulit, orange juice, dan air mineral. Tidak ada selai kacang. Tidak ada Nutella. Tidak ada skippy. Aku harus menggeledah lemari paling belakang di dapur umum, di balik tumpukan kaleng kaviar yang tidak pernah disentuh, baru aku menemukan toples selai kacang ini. Ini adalah pemberontakan kecilku. Namanya comfort food, dan aku sangat membutuhkannya."

Tepat saat Vania akan mengambil gigitan kedua, gagang pintu kamarnya berputar.

Klik.

Pintu terbuka lebar. Tidak ada ketukan. Tidak ada salam. Hanya ada Kevin yang berdiri di ambang pintu, dengan aura gelap yang langsung membuat suhu ruangan terasa turun lima derajat. Pria itu masih memegang kertas catatan dari tukang becak tadi, rahangnya mengeras, dan tatapannya terkunci tajam pada Vania.

Vania tidak terkejut. Dia bahkan tidak menurunkan piringnya. Dia hanya mengunyah rotinya dengan tenang, menelan, lalu menatap Kevin dengan ekspresi datar.

"Kau tidak mengetuk," ucap Vania datar, suaranya serak karena baru saja menelan roti.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku," balas Kevin, melangkah masuk ke dalam kamar. Pintu tertutup sendiri di belakangnya dengan suara klik yang pelan. Dia berjalan mendekati sofa, bayangannya jatuh menutupi Vania. "Kau mengirim dokumen itu ke Raka. Kau bermain di belakang punggungku, Vania. Kau mencoba memanipulasi situasimu sendiri."

Vania menatap pria itu, lalu menatap piring di pangkuannya. Dia mengambil sepotong roti tawar yang masih utuh, yang sudah diolesi selai kacang dan stroberi dengan rapi.

"Saya tidak bermain di belakang punggung Anda, Tuan Kevin," ucap Vania, suaranya tenang dan tanpa nada membela diri. "Punggung Anda terlalu lebar dan kaku. Lagipula, saya tidak memanipulasi apa pun. Saya hanya mengembalikan dokumen yang bukan milik saya ke pemilik aslinya. Itu namanya administrasi, bukan konspirasi."

Kevin menatapnya, alisnya berkerut. Dia jelas tidak menyangka Vania akan menjawab dengan setenang ini. Biasanya, wanita yang dituduh akan menangis, berteriak, atau setidaknya terlihat gugup. Tapi Vania? Vania terlihat seperti sedang menikmati camilan sore di hari Minggu.

"Kau pikir aku akan percaya omong kosong itu?" desis Kevin, mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Vania dari atas. "Kau tahu persis apa isi dokumen itu. Kau tahu itu bisa menghancurkan Raka. Tapi kau malah menyelamatkannya. Kenapa?"

Vania menghela napas pelan. Dia menatap Kevin, lalu menatap potongan roti di tangannya. Dengan gerakan lambat dan santai, dia mengulurkan tangannya, menawarkan potongan roti tawar berlapis selai itu ke arah Kevin.

"Mau?" tanya Vania.

Kevin terdiam. Matanya yang tajam menatap potongan roti itu, lalu menatap wajah Vania. Otaknya yang terbiasa memproses ancaman dan intrik bisnis tiba-tiba mengalami lag. Dia menatap tangan Vania yang terulur, menatap roti yang terlihat... aneh. Warnanya cokelat kemerahan, teksturnya lengket.

"Apa itu?" tanya Kevin, suaranya datar, penuh kecurigaan.

"Roti tawar. Selai kacang dan stroberi," jawab Vania. "Cobalah. Ini enak. Dan ini akan membantu menstabilkan gula darahmu, yang sepertinya sedang anjlok karena kau terlalu sering marah-marah tanpa makan siang."

Kevin menatap roti itu. Dia seharusnya menolak. Dia seharusnya menepis tangan Vania dan melanjutkan interogasinya. Tapi ada sesuatu tentang tatapan Vania yang begitu tenang, begitu tidak bersalah, yang membuat tangan kanannya bergerak sendiri. Secara refleks, pria itu mengambil potongan roti dari tangan Vania.

Vania tersenyum tipis. "Nah, gitu dong."

Kevin menatap roti di tangannya selama beberapa detik. Lalu, dengan gerakan yang masih terlihat kaku dan penuh kecurigaan, dia mendekatkan roti itu ke mulutnya dan menggigitnya.

Crunch.

Rotinya sedikit garing di bagian luar, tapi lembut di dalam. Selai kacangnya kental dan gurih, sementara selai stroberinya memberikan ledakan rasa manis dan asam yang segar. Kombinasi itu meledak di lidah Kevin, menciptakan rasa yang sama sekali asing, namun sangat... enak.

Kevin berhenti mengunyah. Matanya terbelalak sedikit, sebuah ekspresi mikro yang sangat jarang terlihat di wajah pria yang selalu terlihat seperti patung es ini. Dia menelan rotinya perlahan.

Hening.

Vania menatapnya, lalu menoleh ke arah "kamera" imajinernya, mengangkat satu alisnya. Lihat kan? tatapan matanya seolah berkata. Villain paling kejam, paling ditakuti, dan paling posesif di sinetron ini, bisa dibungkam cuma dengan selai kacang.

Kevin menatap potongan roti yang tersisa di tangannya. Dia menggigit lagi. Kali ini, gerakannya lebih cepat, lebih antusias. Dia mengunyah dengan serius, seolah sedang menganalisis komposisi kimia dari makanan itu.

"Enak," gumam Kevin pelan, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. Dia menatap Vania, tatapannya sedikit berbeda. Tidak lagi setajam tadi, tapi ada kilatan kebingungan yang tulus di matanya. "Rasanya... tidak seperti roti tawar biasa."

"Tentu saja tidak," jawab Vania sambil mengambil serbet dan mengelap sudut bibirnya. "Itu karena ada selainya. Kau terlalu sering makan steak dan lobster, Tuan Kevin. Lidahmu butuh liburan."

Kevin menatap Vania. Dia menatap wanita yang duduk santai di sofa, dengan remah roti di sudut bibirnya dan tatapan yang begitu damai. Untuk sesaat, aura gelap di sekitar Kevin menipis, digantikan oleh suasana yang hampir... domestik. Nyaman.

Tapi kemudian, mata Kevin menyipit. Ingatan tentang dokumen itu, tentang Raka, dan tentang obsesi lama Vania kembali menyerbu otaknya. Aura gelap itu menebal lagi, lebih pekat dari sebelumnya. Dia meletakkan piring kosong di atas meja kopi dengan suara tak yang keras.

"Kau menyelamatkan Raka," ucap Kevin. Kali ini, suaranya bukan lagi tuduhan, tapi sebuah pernyataan yang diucapkan dengan nada berbisik, berat, dan penuh dengan emosi yang tertahan.

Dia melangkah maju, mengurangi jarak di antara mereka hingga lututnya hampir menyentuh kaki Vania. Kevin menunduk, menatap lurus ke dalam mata Vania. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh dengan kecemburuan yang tidak bisa lagi dia sembunyikan.

"Mengapa kau melindungi pria itu?" bisik Kevin, suaranya serak, bergetar tepat di dekat telinga Vania. "Apa kau ada maksud lain? Atau... kau masih berharap padanya? Kau masih mencintainya, Vania?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, tajam dan menusuk. Vania menatap mata Kevin yang begitu dekat, melihat badai emosi yang berkecamuk di dalamnya. Pria ini benar-benar percaya bahwa Vania masih cinta pada Raka. Pria ini benar-benar cemburu.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!