Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AYAM DI PEKARANGAN
# PELET LAKNAT 2
## Bab 22: Ayam di Pekarangan
Langkah Jaka saat kembali ke tempat parkir motor terasa bagai memakai sepatu besi yang berat. Terik matahari siang memancar makin menyengat, namun tubuh Jaka justru diguyur keringat dingin yang membasahi seluruh pakaiannya.
"Gila... tujuh ratus ribu paling murah! Uangku cuma ada lima ratus ribu di saku! Masih kurang dua ratus ribu, belum upah dan bensin!" jerit Jaka frustrasi di dalam hati seraya menyalakan mesin sepeda motornya, jarinya menekan tombol starter berkali-kali padahal mesin sudah menyala.
Mesin motor menderu pelan. Di tengah kepanikan yang membakar dadanya, otaknya terus berputar mencari jalan keluar.
"Bagaimana ini?! Satu-satunya barang berharga yang bisa dijual cuma motor ini. Kalau motor ini dijual, pasti bisa menutupi semua kekurangan!" seru Jaka panik dari balik helmnya.
"Tidak ada cara lain... aku harus cepat-cepat menjual motor ini daripada nyawaku yang terancam!" gumam Jaka seraya memacu motornya kian kencang, tangannya mencengkeram gas lebih dalam dari biasanya.
Setelah berkeliling hampir satu jam menembus terik matahari, laju motor Jaka perlahan melambat tepat di depan sebuah gubuk bambu atau pos ronda di kampung sebelah. Keringat sudah membasahi punggung kaosnya, dan tenggorokannya terasa kering seperti tak minum seharian. Niat hatinya ingin mengiklankan motornya di media sosial agar cepat laku. Ia berhenti sejenak, menyandarkan motor ke pos ronda kosong itu sambil merogoh ponsel dari saku celana.
Namun, entah mendapat ilham atau memang kebetulan, suara ayam jago berkokok lantang dari balik pagar bambu di pekarangan rumah panggung tua yang tak jauh dari pos ronda.
Kukukuruyuk!
Mata Jaka yang kusam dan menyipit mulai celingukan mencari sumber suara. Benar saja, seekor ayam dengan warna serba hitam pekat tengah bertengger di atas pagar.
"Hah?! Itu bukannya ayam cemani yang selama ini aku cari?!" tanya Jaka pada dirinya sendiri, ponsel di tangannya sampai terlupakan, tergantung lemas di ujung jari.
Jaka menelan ludah yang terasa sangat pahit. Jantungnya berdegup kencang bak ditabuh, namun sebuah pikiran licik mulai meracuni benaknya. Senyum tipis berbau kejahatan perlahan terukir di wajahnya.
"Daripada aku harus beli mahal atau sampai jual motor, mending nanti malam aku sikat saja ayam itu! Kebetulan di sini tempatnya sepi," gumam Jaka licik dalam hati, matanya mengukur jarak dari pagar ke jalan setapak, menghitung rute kabur yang paling aman.
"Ini kesempatan emas bagiku... ini pasti petunjuk dari Mbah Usman!" bisik Jaka penuh obsesi yang kian membutakan nuraninya.
Setelah bergulat dengan pikiran liciknya, Jaka lantas bergegas pergi dari pos ronda itu agar tidak memancing kecurigaan warga setempat. Saat malam tiba, ia berencana untuk kembali demi membawa kabur ayam tersebut.
"Kamu tunggu dulu di situ ya, Yam! Nanti malam aku akan datang menjemputmu!" gerutu Jaka seraya menyalakan mesin motornya dan tancap gas.
Sementara jauh di sisi lainnya, Dea tengah tertidur pulas. Terus-menerus diganggu makhluk tak kasat mata setiap malam membuatnya tak pernah bisa tidur tenang; praktis hanya pada siang harilah ia bisa mengistirahatkan tubuhnya.
Fisik Dea yang tadinya chubby dan gemas kini tampak sedikit menyusut—efek buruk dari kurang tidur dan rasa takut yang tiada henti menghantuinya. Setiap kali ia mengenakan baju kesayangannya, pakaian itu kini tampak melonggar, tak lagi pas seperti biasanya. Kantung matanya juga makin gelap, tak bisa disembunyikan lagi walau sudah dibedaki tebal-tebal setiap pagi.
Namun, perubahan perilaku Dea dari hari ke hari menyisakan tanda tanya besar di benak kedua orang tuanya.
"Pak! Ibu merasa ada yang aneh sama anak kita akhir-akhir ini?" tanya Ibu Nengsih cemas, tangannya berhenti melipat kain sarung di pangkuannya.
"Aneh bagaimana toh, Bu? Bapak lihat biasa saja, tidak ada yang aneh sama Dea," sahut Pak Wawan santai seraya menghisap rokoknya, matanya tak lepas dari koran yang ia baca.
"Ih, memang Bapak ini ya! Tidak ada perhatiannya sama anak sendiri!" gerutu Ibu Nengsih jengkel, ia menaruh kain lipatannya dengan sedikit dihentakkan.
"Iya, iya... memang kenapa anak kita, Bu? Coba cerita sama Bapak!" desak Pak Wawan mengalah, akhirnya melipat korannya dan meletakkannya di meja.
Ibu Nengsih menghela napas panjang sebelum bercerita. "Begini, anak gadis kita itu, Pak... akhir-akhir ini sering sekali mengurung diri di kamar kalau siang begini, makan telat, dan tubuhnya kini makin kurus, Pak!" jelas Ibu Nengsih risau, jarinya meremas-remas ujung kain sarung yang belum sempat ia lipat.
"Oh, soal itu... biarkan sajalah, Bu! Namanya juga anak muda, Ibu seperti tidak pernah mengalami saja!" ejek Pak Wawan terkekeh.
"Ih, Bapak ini! Ditanya serius malah bercanda. Sudah ah, Ibu mau menyetrika baju dulu!" sahut Ibu Nengsih ketus seraya bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, langkahnya sedikit menghentak menunjukkan kekesalannya.
Mendapat protes dari sang istri, Pak Wawan hanya terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. "Ibu... Ibu... anak lagi puber malah dicurigai begitu. Gimana Ibu ini!" gumam Pak Wawan lirih, kembali menyalahkan rokoknya yang sempat padam.