NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Rumah Aman

Aris tidak ingin mengambil risiko kehilangan barang bukti krusial ini sebelum waktunya. Dengan gerakan cepat, dia memasukkan kotak beludru hitam berisi sisa racun ungu dan memo tahun 1959 itu ke dalam saku dalam jaket kulitnya. Cklek... Cklek... Gagang pintu ruang kerja Ir. Anwar di belakangnya bergoyang semakin keras, disusul ketukan.

Aris mengabaikan pintu tersebut, dan langsung menuju jendela kaca besar di balik meja. Dia membuka slot kuncinya perlahan, lalu mendorongnya. Di bawah jendela, terdapat sebuah atap beton kanopi lantai satu yang menjorok sekitar dua meter.

Jalur itu cukup kuat untuk menahan bobot tubuhnya. BRAK! Tepat saat pintu ruang kerja Anwar berhasil didobrak paksa dari luar oleh petugas keamanan kantor, Aris sudah keluar. Kakinya mendarat di atas atap beton kanopi. Dia merunduk, membiarkan tubuhnya bersembunyi di balik pembatas dinding luar gedung agar tidak terlihat dari dalam ruangan.

"Hei! Ada orang melompat dari jendela!" sebuah teriakan histeris terdengar dari dalam ruang kerja Anwar, namun Aris tidak menoleh lagi.Dia berlari cepat di sepanjang atap, lalu melompat turun ke area halaman samping gedung dinas yang dipenuhi semak-semak lebat.

Dia membersihkan debu di jaketnya dan berjalan cepat menuju mobil miliknya yang terparkir beberapa blok di luar pagar dinas. Begitu masuk ke dalam kabin mobil, Aris menyalakan mesin dan langsung memacu mobilnya menjauh sebelum alarm keamanan kantor berbunyi.

Tangannya meraba kantong jaket, memastikan kotak beludru itu aman. Kini dia tahu, Ir. Anwar adalah kunci utama. Memo tahun 1959 di dalam kotak itu membuktikan bahwa Anwar memiliki hubungan dengan masa lalu kelam keluarga Hadiningrat di lereng Gunung Kelam.

Pembunuhan Ratna dan Dani bukan sekadar masalah mistis dukun Ki Raksamaloka, melainkan pembungkaman saksi sejarah yang terorganisir di lingkungan urban.

Aris mengambil mikrofon radio komunikasi panggil (HT) di dasbor mobilnya, menghubungi Januar di markas. "Januar, monitor. Cek keberadaan Ir. Anwar sekarang juga melalui data imigrasi atau manifes pelabuhan kota.

Atasan Herman itu tidak sedang di luar kota untuk proyek, dia ada di Marunda dan baru saja mencium pergerakanku."

Suara statis radio berderit, sebelum Januar menjawab dengan nada panik. "Aris! Baru saja ada laporan masuk dari petugas piket luar. Rumah aman tempat kita menitipkan Herman... baru saja diserang oleh orang tidak dikenal!"

Aris memutar kemudi miliknya dengan tajam, membuat ban mobil mencicit keras di atas aspal jalanan kota Marunda. Mengabaikan klakson protes dari kendaraan lain, dia menginjak pedal gas sedalam-dalamnya.

Di balik kepulan asap rokok kretek yang kembali dia nyalakan. Herman adalah satu-satunya saksi hidup yang mengetahui benang merah antara racun kecubung hitam, Ki Raksamaloka, dan keterlibatan Ir. Anwar.

Jika Herman tewas di rumah aman, maka penyelidikan kasus pembunuhan ibu dan anak ini akan membentur dinding tebal.

"Januar! Pertahankan posisi di rumah aman! Aku tiba dalam lima menit!" teriak Aris ke mikrofon radio HT di dasbor, suaranya bersaing dengan raungan mesin mobil yang dipaksa bekerja melewati batasnya.

Suara Januar terdengar terputus-putus.

"Aris... mereka... mereka bukan polisi! Mereka pakai topeng... sialan, jaringannya buruk Hubungan radio mendadak mati total. Faksi radikal Gunung Kelam atau orang-orang suruhan Anwar yang menggunakan kedok mistis itu tampaknya telah menyusup jauh ke pusat kota untuk membereskan sisa kekacauan ini. Lima menit kemudian, Aris mengerem mendadak di depan sebuah rumah dinas kepolisian yang dijadikan rumah aman di pinggiran kota yang sepi.

Pagar rumah tersebut sudah roboh dihantam sesuatu yang berat. Kaca jendela depan hancur berantakan, serpihan tajam yang berkilat tertimpa sinar matahari sore.

Aris keluar dari mobil, mencabut pistol revolver dari pinggangnya, dan melangkah masuk pintu depan. Di ruang tengah yang berantakan, Januar terkapar di lantai, mencoba bangkit sambil memegang lengannya yang terluka.

"Aris..." panggil Januar, menunjuk ke arah pintu belakang yang terbuka.

"Mereka... mereka membawa Herman. Pria bersafari hitam bersama dua orang bertopeng iblis. Itu Ir. Anwar, Aris... aku sempat melihat wajahnya sebelum dia memasang topeng!"

Ir. Anwar ternyata bergerak lebih cepat dan lebih nekat daripada yang dia duga. Dia tidak lagi bersembunyi di balik meja kantor dinas, melainkan turun langsung ke lapangan untuk mengeksekusi bawahannya sendiri.

Aris berlari ke pintu belakang, melihat ke arah gang sempit di belakang rumah aman. Di ujung gang, mobil van sewaan berwarna abu-abu baru saja melaju kencang.

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!