Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kopi Berisik dan Selembar Kertas Hitam di Atas Putih
Dewa menutup bibirnya rapat-rapat. Rasa heran yang teramat sangat berkecamuk di dalam benaknya. Tatapan mata Nadia yang dingin dan seolah tak tersentuh oleh akting noraknya membuat Dewa merasa tertantang. Ia sengaja mengikis jarak di antara mereka, memajukan tubuhnya hingga siku lengan kemeja tropisnya menempel di atas meja kayu kafe.
"Kamu ini benaran enggak ada masalah sama sekali sama sikap saya?" tanya Dewa, matanya membelalak kaget sambil mengamati ekspresi Nadia yang masih saja datar.
"Tidak ada," jawab Nadia singkat, nada suaranya teratur dan sangat datar tanpa alunan emosi.
"Aneh banget. Cewek mana pun kalau ditemuin cowok modelan kaya saya pasti langsung angkat kaki dari menit pertama. Kamu kok tahan?"
Nadia memiringkan kepalanya tipis, menatap kacamata hitam berbingkai emas yang tergeletak di samping cangkir kopi Dewa.
"Karena saya datang ke sini bukan untuk mencari sosok pria idaman atau pasangan romantis. Saya punya kepentingan, dan kamu hanya perlu mendengarkannya," balas Nadia dingin.
Dewa tertawa hambar, mencoba menutupi kegugupan yang mulai merayapi hatinya. Ia meraih cangkir espresso-nya yang masih tersisa separuh, lalu sengaja menyeruputnya kembali dengan suara yang jauh lebih nyaring dari sebelumnya.
Srrrruuuupppp! Slrrruuup!
Suara desupan itu terdengar begitu bising di area kafe yang tenang. Beberapa pengunjung di meja sebelah bahkan menoleh dengan raut wajah sangat terganggu, namun Dewa sengaja tak peduli. Setelah meneguknya, Dewa melepas cangkir itu hingga berdentang cukup keras di atas piring alasnya.
"Ahhh! Segar banget! Kopi mahal memang beda ya, walaupun biji kopinya agak keset di lidah," celetuk Dewa sengaja sok tahu, menyapu bibirnya kasar memakai punggung tangan. "Kamu tahu enggak, Nadia? Kopi kaya begini ini sebenarnya racikannya belum pas. Harusnya barista di sini tambahin dikit ekstrak vanila sama gula aren kampung biar rasanya lebih masuk di lidah orang berkelas kaya saya."
Nadia tidak menunjukkan raut wajah geli atau jijik sedikit pun. Ia hanya memandangi tingkah Dewa seperti seorang pengamat yang sedang memperhatikan objek eksperimen.
"Sudah selesai sok tahunya?" tanya Nadia tenang.
"Loh, saya ini penikmat kopi sejati! Saya tahu betul mana racikan kelas atas sama racikan pasaran," sahut Dewa menepuk dadanya sendiri dengan rasa percaya diri yang dibuat-buat. "Kalau kamu nikah sama saya, tiap pagi saya bakal kritik semua masakan kamu kalau rasanya enggak sesuai sama selera lidah saya yang tinggi ini."
"Saya punya juru masak pribadi di rumah. Kamu tidak perlu khawatir soal itu," jawab Nadia datar.
Dewa mendengus frustrasi dalam hati. Batu banget ini cewek. Gimana caranya bikin dia ilfil kalau semua ocehan gue dibalas santai begini?
Dewa pun mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya, mencoba mencari celah baru untuk membuat Nadia risih.
"Tapi kan tetap aja, saya ini orangnya dominan. Pria sejati itu harus diatur-atur sama kata-katanya sendiri, bukan diatur sama cewek. Mana mau CEO kaya kamu punya suami yang hobinya cuma leha-leha, minta uang jajan, terus sok pinter nasehatin urusan bisnis kamu?"
"Saya tidak membutuhkan nasihat bisnismu," pangkas Nadia cepat.
"Nah! Itu dia! Nanti kita bakal sering bertengkar tiap hari gara-gara saya sok tahu urusan Nugroho Group. mendingan kamu batalkan saja niat perjodohan ini sekarang sebelum menyesal, kan?" cibir Dewa, mencoba memancing reaksi emosional dari wanita di depannya.
Bukannya terpancing emosi, Nadia justru meraih tas kulit hitam elegannya yang berada di kursi sebelah. Dengan gerak-gerik yang sangat tenang dan penuh perhitungan, ia membuka ritsleting tas tersebut, lalu mengeluarkan sebuah stofmap tipis berwarna biru tua.
Dewa memperhatikan setiap gerak-gerik Nadia dengan dahi berkerut. "Apaan itu? Jangan bilang kamu mau kasih saya surat perjanjian ganti rugi gara-gara saya minumnya berisik?"
Nadia tidak menjawab guyonan tersebut. Ia membuka stofmap itu, mengambil dua rangkap kertas dokumen tebal yang sudah terikat rapi, lalu menggesernya tepat ke hadapan Dewa. Di bagian atas kertas tersebut, tertera judul tebal bermata surat hukum yang tegas.
"Baca dan pahami," perintah Nadia singkat.
Dewa menunduk, matanya menelusuri tulisan berformat rapi di lembar pertama. Bibirnya membacanya dengan nada setengah berbisik karena tak percaya.
"Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak... Jangka Waktu... Satu Tahun?" Dewa mendongak cepat, matanya membelalak sempurna menatap Nadia. "Ini... ini maksudnya apa-apaan, Nadia?"
"Itu adalah kontrak pernikahan yang sudah disiapkan oleh pengacara pribadi saya. Pernikahan kita hanya akan berlangsung selama tiga ratus enam puluh lima hari, terhitung sejak hari akad dilaksanakan," jelas Nadia sangat lancar, seolah sedang mempresentasikan laporan keuangan bulanan.
Dewa tertawa panik, dadanya mulai berdegup kencang. Rencana awal yang hanya sebatas membuat Nadia ilfil dan membatalkan perjodohan secara baik-baik, tiba-tiba berbelok arah menjadi situasi hukum yang sangat serius.
"Tunggu, tunggu dulu! Kamu gila ya? Pernikahan disamain sama kontrak sewa kontrakan begini? Pake ada jangka waktunya segala lagi!" seru Dewa dengan nada suara yang tak bisa lagi ditahan.
"Saya sangat sadar dan tidak gila, Bimo," sahut Nadia tenang. "Kakek saya sedang sakit-sakitan dan beliau menginginkan saya segera menikah. Saya membutuhkan sosok suami di atas kertas untuk memenuhi keinginan beliau, sementara kamu butuh mempertahankan nama baik keluargamu."
"Tapi enggak gini caranya dong! Ini namanya penipuan! Pernikahan itu sakral, bukan mainan kertas hitam di atas putih begini!" protest Dewa sengit, lupa dengan akting sok tahunya dan kini murni panik sebagai dirinya sendiri.
Nadia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menatap Dewa dengan sorot mata yang teramat dingin dan mengintimidasi.
"Di dalam dokumen itu sudah tercantum semua pasal. Kamu tidak wajib menjalankan peran sebagai suami secara riil di kehidupan pribadi saya. Kita tinggal di rumah yang sama tetapi beda kamar. Saya tidak akan mencampuri urusan pribadimu, dan kamu tidak boleh mencampuri urusan bisnis saya. Setelah satu tahun, kita bercerai secara diam-diam tanpa ada tuntutan harta gono-gini."
Dewa menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya yang agak gemetar. Otaknya berputar keras memikirkan Bimo yang saat ini mungkin sedang bersantai di rumah, tanpa tahu bahwa perjodohan ini bukannya batal, melainkan malah berujung pada draft pernikahan kontrak legal.
"Nadia, dengar ya. Kamu itu cantik, kaya, punya segalanya. Kenapa harus repot-repot bikin pernikahan kontrak sama cowok kaya saya yang penampilannya norak dan kelakuannya minus begini? Kamu bisa cari pria lain yang jauh lebih pantas!"
"Karena waktunya tidak banyak. Dan namamu adalah nama yang disetujui oleh Kakek saya serta orang tuamu," jawab Nadia tanpa keraguan sedikit pun. "Lagipula, kelakuanmu yang norak dan bebas seperti yang kamu pamerkan dari tadi justru memudahkan saya. Pria seperti kamu tidak akan merepotkan saya dengan urusan perasaan atau cinta."
Dewa tertegun, lidahnya serasa kelu. Ia menatap dokumen di atas meja lalu kembali menatap Nadia. Rasa syok yang luar biasa menghantam kesadarannya secara bertubi-tubi. Wanita yang dihadapinya saat ini bukanlah wanita biasa yang mudah diusir dengan tingkah konyol, melainkan seorang wanita karir berdarah dingin yang sudah memperhitungkan segalanya dengan matang. Dewa benar-benar terpaku, bingung bagaimana harus merespons tawaran gila yang sama sekali tidak ada dalam skenario penyamarannya.