NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Predatorku, Mangsaku

Kuda yang kutunggangi meringkik panik, mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Insting binatangnya merasakan bahaya mematikan yang bahkan belum tertangkap oleh matanya.

"Tenang," bisikku, mengalirkan sedikit mana netral ke leher kuda itu untuk menenangkannya, lalu aku melompat turun dari pelana. Kutepuk bagian belakang kuda itu, menyuruhnya berlari menjauh menuju area aman. Aku tidak butuh penonton, apalagi kendaraan yang merepotkan.

Kini, aku berdiri sendirian di tengah pembukaan kecil di Hutan Emerald. Pohon-pohon pinus raksasa menghalangi sinar matahari, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari ditiup angin.

Udara di sekitarku mendadak membeku. Suara jangkrik berhenti total.

Dari dalam bayangan pohon ek terbesar di sebelah kiriku, sepasang mata merah menyala muncul. Perlahan, sesosok makhluk merangkak keluar dari kegelapan. Ukurannya sebesar beruang grizzly dewasa, dengan bulu sehitam jelaga yang tampak terus bergerak seperti asap. Taringnya yang setajam pedang meneteskan liur korosif yang membakar rumput di bawahnya.

Serigala Bayangan tingkat B+. Monster yang biasanya butuh satu regu Ksatria elit berzirah lengkap untuk sekadar membuatnya mundur.

Di tempat perkemahan sana, Pangeran Julian pasti sedang menunggu kabar kematianku sambil meminum anggur merahnya. Sayang sekali, Pangeran. Kau mengirim monster yang salah kepadaku.

Grrr...

Serigala itu menggeram rendah, memamerkan deretan taringnya. Ia tidak langsung menyerang. Ia sedang menilaiku. Insting buasnya mungkin merasakan ada yang aneh; manusia di depannya ini tidak memancarkan ketakutan sedikit pun.

Tanpa basa-basi, aku melangkah maju. "Ayo. Jangan buang waktuku. Aku harus kembali sebelum jamuan teh sore."

Provokasi itu berhasil. Serigala Bayangan itu mengaum keras hingga menggetarkan pepohonan, lalu melesat ke arahku. Kecepatannya tidak masuk akal. Tubuhnya seolah mencair menjadi genangan asap hitam, menyatu dengan bayangan di tanah, lalu tiba-tiba muncul tepat di belakangku dengan cakar terangkat tinggi.

Itulah kemampuan khas Serigala Bayangan: Shadow Leap. Jika ini adalah Arthur yang lama, kepalanya pasti sudah terpisah dari tubuhnya sekarang.

Tapi aku tidak repot-repot menoleh.

Kutekan pusaran Mana Core di jantungku. Sirkulasi Vespera: Aktif.

Ledakan energi hitam pekat menyembur dari punggungku, membentuk sulur-sulur kegelapan yang padat. Saat cakar serigala itu menghantam punggungku, ia tidak merobek daging, melainkan menabrak perisai bayanganku yang tebal bagai rawa tak berdasar.

Kraaak!

Serigala itu memekik kaget. Cakarnya tertahan di dalam perisai bayanganku, dan anehnya, bulu asap di lengannya mulai memudar. Sihirku... sedang memakan elemen bayangannya.

"Kau pikir kau penguasa kegelapan di hutan ini?" bisikku, membalikkan badan dengan santai. Mata biruku menatap langsung ke dalam mata merah monster itu. "Kau hanyalah anjing peliharaan yang tersesat di duniaku."

Aku mengayunkan tangan kananku. Sihir kegelapan mengumpul di tanganku, membentuk sebuah pedang panjang yang terbuat dari api hitam murni. Tanpa ragu, kutebas kaki depan monster itu.

Tidak ada darah yang memuncrat. Serigala itu melolong kesakitan saat kaki kanannya terputus dan langsung menguap menjadi partikel hitam yang dihisap oleh pedangku.

Merasa terancam, monster itu melompat mundur sejauh sepuluh meter. Asap hitam kembali menyelimuti lukanya, mencoba meregenerasi kakinya yang putus. Namun ia gagal. Mana bayangannya telah dilahap habis oleh kegelapan mutlak milikku.

Menyadari ia tidak bisa menang dalam pertarungan jarak dekat, serigala itu membuka mulutnya lebar-lebar. Bola energi bayangan yang sangat pekat mulai terbentuk di tenggorokannya. Shadow Howl—serangan area tingkat tinggi yang bisa meratakan radius lima puluh meter menjadi debu.

"Terlalu lambat," gumamku.

Aku memusatkan mana ke kedua kakiku. Berkat pemahamanku dari Grimoire, aku meniru persis teknik pergerakan serigala tadi. Aku menyelam ke dalam bayangan pohon di dekatku, lalu muncul seketika di bayangan tepat di bawah perut monster itu.

Mata merah serigala itu terbelalak lebar. Serangannya terputus.

Sebelum ia sempat bereaksi, aku meninju dadanya dengan tangan kiri yang telah dibalut mana gelap berkonsentrasi tinggi. Bunyi retakan tulang rusuk terdengar mengerikan. Saat monster itu terhuyung ke belakang, aku mengarahkan telapak tangan kananku lurus ke jantungnya.

"Devour," perintahku dingin.

Pusaran hitam raksasa meledak dari telapak tanganku, menelan seluruh tubuh Serigala Bayangan itu. Monster buas yang ditakuti para ksatria itu bahkan tidak memiliki kesempatan untuk meronta. Dalam hitungan lima detik, tubuh raksasanya menyusut, terurai, dan tersedot habis ke dalam pusat Mana Core di dadaku.

Rasa panas yang luar biasa menyebar ke seluruh pembuluh darahku. Inti sihirku berdenyut kencang, berevolusi perlahan setelah mencerna energi monster tingkat B+. Otot-ototku terasa lebih padat, dan pandanganku di dalam kegelapan menjadi seterang siang hari.

Aku menghela napas panjang, mengeluarkan uap tipis dari mulutku. Pakaianku bahkan tidak terlipat sama sekali.

Tuk. Tuk. Tuk.

Suara tepuk tangan pelan terdengar dari atas pohon. Nox sedang duduk santai di dahan pinus, mengayun-ayunkan kakinya sambil tersenyum lebar.

"Luar biasa, Penjahat Kecil! Sangat efisien, brutal, dan elegan," puji gadis berambut perak itu, melompat turun. "Kau benar-benar memakan Shadow Wolf itu tanpa sisa. Sayang sekali, Pangeran Kesayangan kita tidak ada di sini untuk melihat hewan peliharaannya ditelan mentah-mentah."

"Bisa kau tebak raut wajah Julian jika tahu monster peliharaannya malah menjadi suplemen gratinku?" balasku sambil membersihkan telapak tanganku yang bersih.

Nox tertawa geli. "Dia pasti akan muntah darah. Tapi Arthur... ada satu masalah kecil." Nox menunjuk ke arah tanah yang kosong melompong. "Perburuan ini menentukan pemenang dari Mana Core monster yang dibawa. Kau memakannya tanpa sisa. Apa yang akan kau tunjukkan pada Pangeran sebagai bukti?"

Aku menyeringai misterius. "Siapa bilang aku memakannya tanpa sisa?"

Aku menjentikkan jariku. Dari udara kosong di depanku, segumpal bayangan muntah, menjatuhkan sebuah kristal hitam sebesar kepalan tangan yang berkilau keunguan. Mana Core Serigala Bayangan tingkat B+. Aku menyerap energi kehidupan dan tubuhnya, tapi sengaja memuntahkan kristal intinya untuk suvenir.

Kutangkap kristal itu di udara, melempar-lemparnya ringan layaknya bola kasti.

"Waktunya pulang, Nox," kataku seraya berbalik menuju arah perkemahan. "Aku tidak sabar melihat wajah sang Hakim Keadilan saat pion yang seharusnya mati, justru berjalan kembali membawa mahkota kemenangannya."

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, melukis langit Hutan Emerald dengan warna jingga kemerahan.

Di area perkemahan, suasana sangat meriah. Para bangsawan berkumpul di depan paviliun utama tempat Pangeran Julian dan para Juri duduk. Satu per satu, peserta perburuan keluar dari hutan dan memamerkan hasil buruan mereka. Rata-rata hanya membawa inti sihir dari monster tingkat E atau D, seperti Horned Rabbit atau Wind Boar.

Leon, sang protagonis kita, maju ke depan dengan sorakan riuh. Ia melemparkan sebuah kristal berwarna merah cerah ke atas meja evaluasi.

"Inti sihir Fire Bear tingkat C+!" seru Kepala Juri dengan nada kagum. "Luar biasa, Tuan Leon! Ini adalah pencapaian tertinggi sejauh ini!"

Pangeran Julian tersenyum bangga, menepuk bahu Leon. "Kerja bagus, Leon. Kekaisaran membutuhkan talenta kuat sepertimu."

Leon menunduk hormat. "Terima kasih, Yang Mulia."

Julian lalu mengalihkan pandangannya ke pintu masuk hutan. Senyumnya berubah menjadi seringai tipis yang hanya bisa disadari oleh orang-orang tertentu. "Tampaknya waktu perburuan sudah hampir habis. Apakah ada peserta yang belum kembali?"

Seorang Ksatria melangkah maju, menunduk. "Lapor, Yang Mulia! Hanya Tuan Muda Arthur Pendelton yang belum kembali dari Zona 7."

Bisik-bisik langsung menyebar di antara para bangsawan.

"Zona 7? Bukankah itu area yang cukup berbahaya?"

"Dasar bocah manja. Paling dia tersesat atau ketakutan dan bersembunyi di atas pohon."

"Atau mungkin... dia sudah mati dimakan monster?"

Julian menghela napas yang sengaja dibuat-buat agar terdengar sedih. "Sayang sekali. Jika Tuan Pendelton tidak kembali hingga trompet dibunyikan, kita harus mengirim tim pencari untuk menemukan... sisa-sisa jasadnya."

"Tidak perlu repot-repot, Yang Mulia."

Suara berat dan datar itu membelah keramaian seperti pisau yang memotong mentega.

Seluruh kepala serempak menoleh ke arah sumber suara. Dari ujung jalan setapak, aku berjalan dengan langkah pelan dan santai. Jas berburuku sedikit pun tidak kotor. Tidak ada noda darah. Tidak ada tanda-tanda kepanikan. Rambut putihku sedikit tertiup angin senja, dan mata biruku menatap langsung ke arah Julian.

Wajah Pangeran Julian mendadak kaku. Senyumnya memudar. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga urat di lehernya menonjol. Ia menatapku seolah sedang melihat hantu.

"Arthur... Pendelton?" gumam Leon tak percaya di sebelah Julian.

Aku berjalan membelah kerumunan bangsawan yang secara refleks membuka jalan untukku. Kutuju meja evaluasi di depan paviliun. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku mengeluarkan sesuatu dari sakuku dan menjatuhkannya ke atas baki perak di meja itu.

Klang!

Sebuah kristal hitam keunguan seukuran kepalan tangan berputar di atas nampan, memancarkan aura mana yang begitu pekat hingga membuat beberapa bangsawan di barisan depan sesak napas dan mundur selangkah.

Kepala Juri membelalakkan matanya hingga nyaris keluar dari rongganya. Tangannya gemetar saat mengangkat kristal itu.

"I-Ini... I-Inti sihir dari Shadow Wolf! Tingkat B+!" jerit sang Juri, suaranya pecah karena shock.

Hening. Keheningan yang memekakkan telinga melanda seluruh perkemahan. Tidak ada yang berani bernapas. Mereka semua menatapku dan kristal hitam itu bergantian.

Aku menoleh ke arah Pangeran Julian, yang kini mencengkeram lengan kursinya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan kebingungan meledak-ledak di matanya. Bagaimana mungkin si sampah Pendelton selamat dari Serigala Bayangan, apalagi membunuhnya? Begitulah kira-kira isi pikiran sang Pangeran saat ini.

Aku menempatkan tangan di dada dan memberikan sedikit bungkukan yang sangat formal dan elegan, sebuah ejekan halus yang diselimuti tata krama bangsawan.

"Maaf saya sedikit terlambat, Yang Mulia," ucapku dengan senyum simpul yang mematikan. "Saya kebetulan berpapasan dengan seekor anjing peliharaan yang tersesat di zona saya. Karena dia mencoba menggigit saya... saya terpaksa harus mendisiplinkannya. Saya harap hadiah kecil ini cukup untuk menghibur Anda."

1
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!