Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 28 - Aku Tidak Bisa Melakukan Apa-apa
Pagi datang perlahan bersama cahaya matahari yang menembus sela tirai kamar.
Aluna adalah orang yang pertama terbangun.
Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya, dan untuk beberapa detik ia hanya menatap kosong langit-langit kamar sambil mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Namun begitu kesadarannya kembali utuh, wajah Aluna langsung memanas. Bayangan pertama yang ia ingat adalah saat Aluna tanpa rasa malu bergoyang di atas pangkuan suaminya.
Rasanya Aluna ingin melupakan kenangan tersebut saking malunya.
Aluna refleks menoleh ke samping dan seketika napasnya tertahan. Davion masih tertidur di sana.
Pria itu berbaring miring dengan wajah damai yang jarang sekali Aluna lihat, dada bidangnya terbuka sebagian karena selimut yang turun hingga pinggang. Rambut hitamnya sedikit berantakan, membuat penampilannya terlihat jauh lebih muda.
Aluna membeku.
Untuk sesaat ia hanya menatap pria di sampingnya dengan jantung berdebar sangat keras.
Wajah Aluna memerah hingga ke telinga. Dengan sangat hati-hati ia menyingkap selimut, lalu turun dari ranjang sepelan mungkin agar tidak membangunkan Davion.
Begitu berhasil keluar dari kamar, barulah ia mengembuskan napas panjang sambil memegangi dadanya sendiri.
"Ya Tuhan..." gumamnya lirih, masih belum bisa menenangkan jantungnya.
Namun setelah menenangkan diri beberapa menit, Aluna segera berjalan menuju kamarnya sendiri untuk membersihkan tubuh.
Setelahnya ia mulai menyiapkan sarapan untuk Davion. Tangannya bergerak lincah memasak sambil sesekali senyum kecil terbit sendiri di wajahnya saat mengingat kejadian semalam.
Begitu semuanya selesai, Aluna menata makanan di meja makan lalu menulis sebuah catatan kecil.
'Aku pergi ke sekolah musik hari ini. Ada beberapa hal yang harus kuurus. Sarapanmu ada di meja. Jangan lupa makan.'
Catatan itu ia letakkan rapi di samping piring sebelum akhirnya bersiap pergi.
Tak lama setelah Aluna meninggalkan apartemen, Davion akhirnya bangun.
Pria itu duduk perlahan di atas ranjang sambil mengusap wajahnya kasar, rambutnya sedikit berantakan dan pikirannya masih belum sepenuhnya terkumpul.
Namun saat ia melihat sisi ranjang kosong di sebelahnya, entah kenapa dadanya terasa sedikit aneh.
Davion segera menepis pikiran itu dan keluar kamar.
Begitu tiba di meja makan, pandangannya langsung jatuh pada sarapan yang telah tertata rapi dan catatan kecil di sampingnya.
Davion mengambil kertas itu, membaca isinya perlahan. Merasa tak puas ia pun membuang begitu saja catatan tersebut.
Di kantor Harold Kingdom.
Davion baru saja masuk ke ruangannya ketika Haris mengikuti dari belakang dengan membawa beberapa dokumen.
Namun langkah Haris mendadak terhenti. Matanya membulat menatap leher Davion.
“Tuan,” panggil Haris ragu.
Davion menoleh dingin. “Apa?”
Haris menunjuk leher sang atasan dengan canggung. “Leher Anda terluka."
Davion mengernyit sebentar, lalu baru ingat pada goresan yang dibuat Aluna semalam. Tatapan pria itu langsung berubah datar.
“Dicakar anjing,” jawabnya singkat.
"Apa? Anjing? bagaimana jika terjadi infeksi? lebih baik kita ke rumah sakit sekarang," balas Haris mendadak cemas.
"Tidak perlu," balas Davion acuh.
Dan Haris tak mampu berkata-kata lagi, namun sungguh dia benar-benar mengkhawatirkan sang Tuan.
Tak lama kemudian, saat menjelang siang Juana datang membawa beberapa berkas tambahan. Namun wanita itu juga langsung menangkap luka merah di leher Davion.
Dan berbeda dengan Haris yang takut, Juana justru hampir tersenyum lebar.
Ia langsung tahu siapa tersangka yang membuat leher Tuannya terluka, jelas saja nyonya Aluna.
'Ya ampun, jadi Nyonya Aluna ternyata cukup aktif juga semalam,' batin Juana gemas sendiri.
Wajahnya sampai sedikit memerah membayangkan betapa harmonisnya kehidupan rumah tangga pasangan tersebut.
Sementara itu di International Music School. Hari ini Aluna baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya, namun bukannya langsung pulang Aluna lebih dulu menemui pimpinan tertinggi untuk pamit.
Begitu masuk, pria itu langsung menyambut dengan senyum ramah.
"Kak, aku baru saja selesai mengajar. Aku mau pamit pulang," ucap Aluna.
"Kenapa buru-buru, duduklah dulu. Ada yang ingin kubicarakan juga," balas Samuel.
Dengan tersenyum Aluna duduk di sofa bersama Samuel. Mereka adalah teman lama, pertemuan pertama saat mengikuti olimpiade piano di Paris beberapa tahun lalu. Keluarga Samuel adalah pendiri sekolah ini dan sekarang Samuel yang memegang penuh kendalinya.
"Ada apa, Kak?" tanya Aluna setelah mereka duduk bersama.
“Aku sangat terkesan dengan kualitas pengajaranmu selama menjadi guru tamu di sini. Karena itu aku ingin menawarkanmu posisi tetap sebagai guru piano profesional di sekolah ini. Apa kamu mau?”
Mata Aluna langsung membesar.
“Aku?” tanyanya nyaris tak percaya.
“Tentu. Anak-anak sangat menyukaimu dan kemampuanmu memang selalu menakjubkan sejak dulu.”
Jantung Aluna berdebar kecil, untuk sekarang tawaran itu terasa sangat membahagiakan. Seperti membuka jalan baru Untuknya setelah benar-benar terlepas dari keluarga Myles, dan juga lepas dari pernikahannya dengan Davion.
Namun setelah beberapa detik terdiam, Aluna pun tersenyum kecil. “Terima kasih banyak Kak, tapi bolehkah aku meminta waktu untuk memikirkannya dulu?”
“Tentu saja," balas Samuel.
Setelahnya Aluna pun keluar dari ruangan tersebut, pergi dengan hati yang kini campur aduk.
Namun baru beberapa langkah berjalan, ponselnya berdering. Nama Papa Pieter muncul di layar.
Senyum Aluna perlahan lenyap, ia menarik napas sebelum mengangkat panggilan itu. Tiba-tiba papa Pieter menelpon dan mungkin saja ada hubungannya dengan kedatangan Aluna serta Davion ke perusahaan Myles kemarin.
“Hallo, Pa?”
Namun baru saja Aluna menyapa, suara Pieter langsung meledak. “APA YANG SEBENARNYA KAMU LAKUKAN DI SANA?!” bentaknya keras.
Aluna sampai tersentak mendengar teriakan itu. “Pa?”
“Sudah ku katakan hamil dulu! Bukannya malah jadi seperti ini! Untuk apa kami membesarkanmu kalau begini hasilnya?!”
Wajah Aluna langsung berubah pucat. Ia menggenggam ponselnya erat, menahan napas.
“Pa, kemarin aku sudah bertemu dengan kak Vincent. Davion hanya mau membantu jika kak Vincent menerima syaratnya_”
“JANGAN AJARI AKU!” bentak Pieter memotong. “Tugasmu adalah membuat suamimu menuruti keinginan keluarga! Bujuk dia! Rayu dia! Atau bicara pada Aston juga!”
Aluna memejamkan mata sesaat. Dulu mungkin ia akan langsung menangis dan meminta maaf. Namun kini ia tidak ingin melakukannya lagi.
Setelah semua yang ia lalui, setelah semua yang akhirnya ia pahami tentang dirinya sendiri dan keluarga ini... untuk pertama kalinya Aluna tidak merasa ingin menunduk.
“Aku tidak bisa melakukan apa-apa, Pa.”
Di seberang sana mendadak hening. Pieter seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Apa katamu?”
“Aku tidak bisa memaksa Davion maupun Daddy Aston,” ulang Aluna, “Jika Papa ingin menyelamatkan perusahaan, maka turuti saja keinginan Davion.”
Hening.
Benar-benar hening.
Di ruang kerja keluarga Myles, Sarah dan Vincent sama-sama membelalak mendengar kata-kata Aluna tersebut.
Sementara wajah Pieter perlahan berubah merah karena marah.
“Kamu berani membangkang padaku sekarang?!” tanyanya murka.
Air mata mulai memenuhi mata Aluna, namun suaranya tetap stabil. “Aku tidak membangkang, Pa. Aku hanya mengatakan kenyataan.”
“Kenyataan?!” Pieter tertawa sinis penuh amarah. “Setelah semua yang kami lakukan untukmu, sekarang kamu justru membela suamimu dibanding keluarga sendiri?!”
Dada Aluna terasa sesak mendengar itu. Namun kali ini ia tidak ingin menangis. Karena entah kenapa kata-kata itu sudah tak lagi melukainya seperti dulu.
Mungkin karena sekarang ia akhirnya benar-benar mengerti. Di mata keluarga Myles ia tak akan pernah lebih dari sekadar alat.
“Kalau memang Papa menganggap aku bagian keluarga,” suara Aluna bergetar pelan, “maka Papa tidak akan memaksaku seperti ini sejak awal.”
Deg! Ucapan itu membuat seluruh ruangan di sisi sana membeku, termasuk Pieter.
Dan sebelum pria tua itu sempat membalas, Aluna sudah lebih dulu mematikan teleponnya.
Klik!
Tangannya gemetar hebat setelah melakukan hal yang belum pernah berani ia lakukan seumur hidupnya.
Namun bersamaan dengan itu, Aluna pun merasa seolah satu rantai besar yang selama ini membelenggu lehernya akhirnya mulai retak sedikit demi sedikit.
nano nano kan😆