Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Makan malam di rumah keluarga Naya malam itu terasa seperti sebuah keajaiban kecil. Meja makan kayu jati yang biasanya menjadi saksi bisu ketegasan dan aturan kaku Pak Haris, kini dipenuhi oleh suara tawa dan denting sendok yang beradu dengan piring.
Bu Tari memasakkan rawon daging kesukaan Naya dan beberapa lauk pauk tradisional lainnya. Di luar dugaan, Kafka yang terbiasa dengan hidangan Barat selama lima tahun menetap di London, makan dengan sangat lahap. Pria itu bahkan tidak segan menambah porsi nasinya, memuji masakan Bu Tari dengan tulus hingga membuat ibu tiri Naya itu tersipu malu dan terus-menerus menyendokkan lauk ke piring Kafka.
Namun, yang paling membuat Naya takjub adalah interaksi antara Kafka dan ayahnya. Pak Haris, yang tadi siang nyaris mengusir Kafka di teras, kini tampak sangat menikmati obrolan mereka. Dari membahas iklim investasi properti, hingga diskusi ringan tentang filosofi wayang kulit yang ternyata sangat dipahami oleh Kafka. Pria itu menempatkan dirinya dengan sempurna—tidak menggurui meskipun pengetahuannya sangat luas, dan tetap menunjukkan rasa hormat yang tinggi kepada pria yang lebih tua.
Naya mengunyah makanannya dalam diam, sesekali mencuri pandang ke arah Kafka yang duduk di seberangnya. Di bawah cahaya lampu ruang makan yang kekuningan, wajah Kafka terlihat begitu rileks. Kemejanya sedikit kusut di bagian siku, memberikan kesan maskulin yang hangat. Menyadari dirinya sedang diperhatikan, Kafka tiba-tiba menoleh. Mata legamnya langsung menangkap basah Naya yang sedang menatapnya.
Alih-alih memalingkan wajah, Kafka justru menahan tatapan itu. Di tengah penjelasan Pak Haris tentang silsilah keluarga, Kafka mengukir sebuah senyum miring yang sangat tipis, nyaris tak terlihat oleh siapa pun kecuali Naya, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan gerakan kilat.
Naya nyaris tersedak kuah rawon. Ia buru-buru menunduk, meraih gelas air putihnya dengan tangan gemetar, sementara wajahnya memanas hingga ke telinga. Kafka benar-benar tidak kenal ampun.
Malam beranjak semakin larut. Setelah obrolan panjang di ruang keluarga selesai, Pak Haris menyuruh mereka beristirahat. Kafka ditempatkan di kamar tamu lantai bawah, sementara Naya menempati kamar masa kecilnya di lantai dua.
Di dalam kamarnya yang bernuansa warna pastel, Naya duduk di depan meja rias tuanya. Suasana Solo malam itu sangat tenang, hanya terdengar suara jangkrik dari arah kebun belakang. Naya baru saja selesai mencuci wajahnya. Ia meraih wadah kecil pelembap Glad2Glow andalannya, mengoleskan gel ringan itu ke kulit wajahnya. Sensasi dingin yang meresap perlahan dari pelembap itu sangat kontras dengan hawa panas yang sedari tadi bersarang di dadanya.
Semuanya terasa seperti mimpi. Kemarin ia menangis hancur karena ancaman Reno, dan hari ini, pria yang duduk di ruang makan tadi telah membalikkan seluruh dunianya, memberikan jaminan keamanan mutlak dan bahkan merebut restu ayahnya dalam hitungan jam.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pelan di pintu kamarnya menghentikan gerakan tangan Naya.
"Nduk? Udah tidur?" Suara berat Kafka mengalun dari balik pintu, sengaja meniru panggilan ayahnya namun dengan nada bariton yang menggoda.
Jantung Naya melompat. Ia buru-buru merapikan piyamanya, bangkit dari kursi, dan membuka pintu setengah. Kafka berdiri di ambang pintu, menyandarkan sebelah bahunya di kusen. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kaus oblong hitam yang santai dan celana selutut. Rambutnya sedikit berantakan.
"Kamu ngapain ke atas, Kaf? Nanti kalau ketahuan Bapak gimana?" bisik Naya panik, melongok ke arah tangga untuk memastikan ayahnya tidak sedang berpatroli.
"Bapakmu sudah tidur sejak sepuluh menit yang lalu, Kak. Aku dengar suara dengkurannya sampai ke kamar bawah," jawab Kafka santai. Pria itu mencondongkan tubuhnya, menyusupkan sebelah tangannya melewati celah pintu untuk menahan daun pintu agar Naya tidak bisa menutupnya.
"Terus ngapain ke sini?" Naya menelan ludah, berusaha mengabaikan aroma sabun mandi dan mint yang menguar dari tubuh pria itu.
"Hanya ingin mengucapkan selamat malam," bisik Kafka. Jari telunjuknya terangkat, menyentuh pelan ujung hidung Naya. "Dan memastikan kau tidak sedang memikirkan hal-hal buruk lagi."
"Aku... aku nggak mikirin apa-apa," sangkal Naya, menundukkan pandangannya.
Kafka terkekeh pelan. Ia menarik tangannya, lalu menyandarkan keningnya di pinggiran pintu. "Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Besok kita pulang ke wilayah kita."
Tanpa menunggu balasan Naya yang sudah membeku layaknya patung karena panggilan 'Sayang' itu, Kafka membalikkan badan dan berjalan menuruni tangga dengan langkah tanpa suara. Naya buru-buru menutup pintu, bersandar di baliknya, dan merosot perlahan hingga terduduk di lantai. Tangannya mencengkeram dada kirinya yang berdegup gila-gilaan.
Keesokan paginya, perpisahan di teras rumah diwarnai oleh suasana yang jauh lebih hangat. Pak Haris bahkan menepuk bahu Kafka beberapa kali, mengingatkan pria itu untuk tidak lupa mampir jika ada pekerjaan bisnis di Jawa Tengah. Naya tidak bisa menahan senyumnya melihat bagaimana ayahnya begitu cepat takluk pada pesona dan ketegasan Kafka.
Penerbangan kembali ke Jakarta memakan waktu singkat, namun terasa sangat mendebarkan bagi Naya. Di kursi kelas bisnis yang luas, Kafka tidak melepaskan genggaman tangannya sedetik pun. Bahkan ketika pramugari datang menawarkan minuman, Kafka hanya menggunakan sebelah tangannya untuk menerima gelas, sementara tangan yang lain tetap menaut jemari Naya di atas pangkuannya.
"Kaf, tanganku sampai berkeringat," protes Naya dengan suara berbisik saat pesawat mulai menurunkan ketinggian di atas langit Jakarta.
"Biar saja," jawab Kafka santai, matanya tetap fokus pada layar tablet di tangan kirinya yang menampilkan kurva saham. "Aku hanya sedang membiasakan diri memegang apa yang sudah mendapatkan cap persetujuan dari ayahmu."
Naya mencubit pelan paha Kafka dengan tangannya yang bebas, membuat pria itu mengaduh tertahan namun bibirnya justru mengukir senyum lebar yang sangat menawan.
Mobil jemputan sudah menunggu mereka di bandara. Menjelang siang, mereka tiba di rumah Nessa di kawasan Kemang. Begitu pintu depan dibuka, suara tembakan virtual dan teriakan frustrasi langsung menyambut mereka.
"Mundur woy, mundur! Ah elah, buta map semua ini tim gue! Turret atas jebol itu, heh!"
Nessa sedang duduk bersila di atas sofa ruang keluarga, ponsel dalam posisi horizontal digenggam erat di tangannya. Matanya melotot tajam menatap layar, sepenuhnya terhisap ke dalam pertempuran sengit Mobile Legends yang sedang ia mainkan.
"Kak Nessa," panggil Kafka dengan nada datar.
Nessa terlonjak kaget. "Mati kan gue! Ah, assassin-nya nge-flank dari semak-semak!" Ia membanting ponselnya ke atas sofa dengan wajah merengut, lalu menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat Kafka dan Naya berdiri di lorong, wajah Nessa langsung semringah.
"Kalian udah pulang?!" Nessa melompat dari sofa dan berlari memeluk Naya. "Gimana, Nay? Bapak lo ngamuk nggak? Ini adek gue berguna kan buat jadi tameng?"
Naya melirik Kafka dengan perasaan canggung yang luar biasa. "B-berguna kok, Nes. Semuanya udah beres. Bapak udah tahu kebenarannya, dan... dan dia udah nggak marah lagi."
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Lo bawa Kafka mah urusan kelar. Dia itu kalau udah ngomong, aura bos mafianya keluar semua," Nessa tertawa bangga, lalu menepuk lengan adiknya keras-keras. "Gimana lo di sana, Kaf? Nggak bikin malu keluarga kita kan di depan Pak Haris?"
Kafka memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap kakaknya dengan ekspresi datar yang tidak terbaca. "Pak Haris justru sangat menyukaiku, Kak. Beliau bahkan memberikanku sebuah izin yang sangat penting."
Naya terbatuk pelan, matanya melotot memberikan isyarat agar Kafka tidak berbicara macam-macam. Ia belum siap menghadapi reaksi histeris Nessa jika sahabatnya itu tahu bahwa 'izin' yang dimaksud adalah izin untuk menjadikan Naya sebagai istrinya kelak.
"Izin apaan?" tanya Nessa, menautkan alisnya bingung.
"Izin untuk memastikan sahabat kakaknya ini makan teratur dan tidak begadang menangisi pria tidak berguna," jawab Kafka dengan kebohongan yang sangat mulus, membuat Naya menghembuskan napas lega yang panjang.
"Baguslah!" Nessa mengangguk setuju. "Ya udah, kalian istirahat sana. Gue mau lanjut push rank lagi. Kalau kalian lapar, tadi gue sempet order ayam geprek, ada di meja dapur."
Nessa kembali fokus pada ponselnya, sepenuhnya tidak menyadari perubahan atmosfer yang sangat drastis di antara adiknya dan sahabatnya.
Kafka meraih koper kecil milik Naya. "Ayo, aku bawakan ke atas."
Naya mengekor di belakang Kafka, menaiki anak tangga satu per satu. Saat mereka tiba di lantai dua, lorong terasa sunyi karena Nessa memutar volume game-nya cukup keras di bawah. Kafka meletakkan koper Naya di depan pintu kamar tamu.
"Makasih, Kaf," ucap Naya, berniat meraih gagang pintu kamarnya.
Namun sebelum Naya sempat menyentuh gagang pintu, Kafka melangkah maju, memutari tubuh Naya, dan menyandarkan punggungnya sendiri ke daun pintu kamar tersebut. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, menghalangi jalan masuk Naya sepenuhnya.
"Kaf? Aku mau masuk, mau mandi," protes Naya, menatap pria yang kini menunduk menatapnya dengan intensitas yang mengintimidasi.
"Masa percobaannya sudah habis, Kak Naya," suara bariton Kafka mengalun pelan, bergetar di udara lorong yang sepi itu.
"M-masa percobaan apa?"
Kafka mencondongkan tubuhnya, menumpukan sebelah tangannya di dinding tepat di sebelah kepala Naya. Aroma kayu dan mint yang memabukkan itu langsung merengkuh Naya.
"Masa di mana aku menahan diri karena menghormati ketakutanmu dan belum mendapatkan izin dari ayahmu," bisik Kafka, matanya menatap bibir Naya sebelum kembali menatap matanya. "Sekarang, aku memiliki keduanya. Kau sudah tidak takut padaku, dan ayahmu secara resmi telah menyerahkanmu kepadaku."
Naya menelan ludah, tubuhnya seolah terkunci oleh tatapan Kafka. "Lalu... apa hubungannya dengan pintu kamarmu?"
Kafka tersenyum miring. Senyum yang menjanjikan sebuah bahaya yang luar biasa manis. Ia memiringkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Naya.
"Hubungannya adalah... mulai sekarang, jangan harap aku akan membiarkanmu bersembunyi di balik pintu ini setiap kali Kak Nessa tidak melihat kita, Sayang. Karena aku berniat menagih setiap detik yang terbuang sia-sia selama tiga tahun terakhir."