NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:660
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lapak Sembako

Suasana di depan Toko Sembako Haji Marni mendadak terasa jauh lebih panas dari yang seharusnya, dan bukan karena terik matahari pagi yang mulai membakar aspal pasar. Di bawah terpal biru yang menaungi pelataran toko, deru suara mesin motor bebek tua berpadu dengan suara klakson bersahut-sahutan dari jalan utama desa, menciptakan latar suara bising yang sangat khas perkampungan.

Raka baru saja menyelesaikan tumpukan karung beras terakhir di dekat pintu gudang, mengelap keringat di pelipisnya menggunakan ujung lengan kaus.

Sementara itu, Bayu dan Dimas beristirahat sejenak di atas bangku kayu panjang milik warung kopi sebelah, meneguk air mineral gelas yang dibelikan oleh Haji Marni untuk melepas lelah setelah setengah jam membanting tulang memindahkan puluhan karung.

Di dekat meja kasir, Maya masih berdiri ramah, melanjutkan percakapannya dengan Raka mengenai tugas kuliah dan rencana kegiatan karang taruna desa minggu depan. Sesekali perempuan berambut kuncir kuda itu tersenyum renyah, menanggapi cerita Raka tentang kerepotan mereka mengurus izin kegiatan pemuda dusun.

Beberapa meter dari sana, Zahmira berdiri bersidekap dengan dagu terangkat tinggi. Bibir mungilnya mengerucut kesal, membentuk ekspresi manyun yang sangat kentara. Perempuan bergaun ungu itu memelototi Maya dari ujung kaki hingga ujung rambut seolah-olah mahasiswi lokal itu adalah ancaman terbesar bagi keselamatan tatanan dunia gaib.

Kenapa perempuan fana itu betah sekali berdiri di sana dan terus-terusan tersenyum kepada Raka? batin Zahmira bergejolak sebal di dalam hatinya. Apakah di desa ini tidak ada pekerjaan lain selain mengobrol di depan karung beras? Dan lagi, kenapa manusia praktis itu menanggapi senyuman perempuan itu dengan begitu antusias?

Zahmira mendengus keras-keras, sengaja menghentakkan kaki kanannya ke lantai semen agar suaranya terdengar. Namun, karena tidak ada manusia yang bisa melihat wujudnya, entakan kaki itu hanya menghasilkan bunyi angin kosong yang sama sekali tidak menarik perhatian siapa pun. Di sekitarnya, lalu-lalang warga desa yang membawa keranjang belanjaan terus berjalan tanpa peduli.

Merasa diabaikan, Zahmira melangkah mendekat dengan langkah gemulai yang dipaksakan. Ia berdiri tepat di antara Raka dan Maya, lalu melambaikan tangannya tepat di depan wajah Raka meskipun tangannya menembus udara begitu saja karena wujudnya yang tidak kasat mata bagi orang biasa.

"Raka!" seru Zahmira kesal, berbicara langsung di dekat telinga pemuda itu. "Berapa lama lagi kamu mau berdiri di sana sambil memamerkan gigi putihmu? Kita ke sini untuk bekerja, bukan untuk menghadiri acara ramah tamah desa!"

Raka, yang tentu saja tidak bisa mendengar suara Zahmira secara langsung, tiba-tiba merasa tengkuknya merinding oleh embusan angin dingin yang tidak biasa. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan kening berkerut bingung. "Eh? Kok tiba-tiba hawa di sini jadi dingin ya? Padahal mataharinya lagi terik."

Maya yang melihat Raka mendadak celingukan langsung bertanya dengan nada prihatin, "Ada apa, Rak? Kamu cari sesuatu? Masuk angin?"

"Ah, nggak apa-apa, May. Cuma perasaan aja, mungkin gara-gara tadi keringetan terus kena angin kipas toko," jawab Raka cepat sambil tersenyum canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Melihat Raka mengabaikan protesnya dan kembali tersenyum kepada Maya, kesabaran Zahmira benar-benar habis. Ia membetulkan letak rambut panjangnya dengan gerakan cepat, lalu sengaja mendekatkan diri dan melipat tangan di dada tepat di samping Raka, menatap Maya dengan sebelah alis terangkat sinis.

"Manusia menyebalkan!" gerutu Zahmira tertahan, memutar bola matanya jengah. "Bukannya segera menyelesaikan urusan lalu pulang, dia malah asyik mengobrol soal organisasi desa yang tidak penting sama sekali!"

Bayu, yang sedang duduk selonjoran di dekat karung beras sambil menghabiskan air mineralnya, kebetulan melirik ke arah sudut tempat Zahmira berdiri. Melihat ekspresi wajah sang putri jin yang tertekuk masam dengan mata melotot tajam ke arah Maya, Bayu langsung tersedak kecil. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan tangan, lalu menyenggol siku Dimas yang duduk di sebelahnya.

"Dim, coba lo lihat ke arah Zahmira," bisik Bayu setengah tertawa, menunjuk dengan lirikan mata ke arah sudut toko. "Mukanya udah masam banget. Kira-kira kenapa tuh anak?"

Dimas menoleh santai, melirik Zahmira sejenak tanpa mengubah ekspresi datarnya, lalu kembali meneguk air mineralnya dengan tenang. "Entahlah. Mungkin dia nggak suka melihat orang lain ngobrol."

Sambil menunggu Raka selesai, Bayu iseng melipat tangannya dan bergumam pelan di sebelah Dimas. "Zahmira Al-Qadira... panjang banget, ya."

Dimas melirik Bayu sekilas. "Kenapa?"

"Kalau tiap mau manggil harus lengkap begitu, keburu orangnya pergi," sahut Bayu nyengir. Ia mencoba mengeja pelan di kepalanya. "Zahmira... Zah... Mira... Mira!"

Bayu tiba-tiba mengangkat sedikit suaranya dan memanggil ke arah sudut tempat Zahmira berdiri, "Mira!"

Zahmira, yang sedari tadi sedang sibuk merengut kesal ke arah Maya, seketika menoleh kaget mendengar panggilan tersebut. Ia membelalakkan matanya menatap Bayu. "Apaan?!"

Bayu langsung menepuk paha Dimas dengan penuh kemenangan. "Nah! Bisa. Mulai sekarang Mira saja."

Zahmira langsung melotot tajam ke arah Bayu, berkacak pinggang dengan gaya angkuhnya. "Namaku adalah Zahmira Al-Qadira, seorang putri bangsawan dari istana gaib! Bukan Mira seperti gadis-gadis desa pencuci baju!"

Dimas menjawab tenang tanpa mengubah posisi duduknya, "Nama lengkapmu terlalu panjang. Kalau Raka mau manggil kamu dari ujung jalan, bisa habis napas."

"Benar tuh," tambah Bayu cengengesan. "Bayangin kalau pas keadaan darurat ada bahaya, terus saya harus neriakin, 'Wahai Yang Mulia Zahmira Al-Qadira, tolong lindungi saya!', keburu saya dimakan macan."

Raka yang kebetulan baru saja mengakhiri percakapannya dengan Maya karena gadis itu pamit pulang, mendekati Bayu dan Dimas. Ia mencoba memanggil, "Mira, sini sebentar."

Zahmira melotot tajam ke arah Raka, merasa kesal karena mereka benar-benar mulai menggunakan nama singkatan itu. Namun, ia tidak tahu harus membela diri bagaimana lagi di hadapan tiga manusia menyebalkan tersebut.

"Ya sudah, kalau itu membuat kalian lebih mudah memanggilku, silakan," ketus Zahmira akhirnya, mengibaskan tangan ungunya sebal untuk menutupi rasa gengsinya.

"Berarti resmi, ya?" tanya Bayu memastikan.

Raka mengangguk singkat. "Resmi."

Dimas ikut menambahkan dengan nada datar, "Setuju."

Bayu tersenyum lebar. "Mulai sekarang Zahmira Al-Qadira kita panggil Mira."

Zahmira mendengus pelan, membuang muka dengan gaya anggun yang dipaksakan, namun ia tidak lagi memprotes ketika nama itu diucapkan.

Di saat yang bersamaan, Maya akhirnya benar-benar pamit undur diri kepada Raka karena belanjaannya sudah selesai dikemas oleh penjaga toko. "Raka, aku duluan ya, mau bantu mama di warung. Semangat kerjanya!"

"Siap, Maya. Hati-hati di jalan!" balas Raka melambaikan tangan sopan, mengantar kepergian gadis itu dengan pandangan ramah.

Begitu sosok Maya berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan toko sembako, menyatu dengan kerumunan emak-emak yang sedang memilih sayur bayam, Mira langsung mendengus nyaring. Ada secercah rasa lega yang aneh di dalam dadanya, meskipun ia buru-buru menutupinya dengan kembali memasang wajah dingin.

"Akhirnya perempuan cerewet itu pergi juga," gumam Mira pelan, lalu menoleh tajam ke arah Raka. "Cepat selesaikan urusan kalian di sini, Mira sudah lelah berdiri di tempat bau ikan ini!"

Raka menahan senyumnya mendengar sang putri jin akhirnya secara tidak langsung menerima nama panggilan baru itu. Ia memasukkan uang upah ke dalam saku jaketnya, lalu menepuk bahu Bayu dan Dimas.

"Urusan beres, saatnya kita pulang," ujar Raka. Ia melirik sekilas ke arah Mira. "Ayo, Mira, kita jalan sekarang."

Mira mendelik sekilas, lalu membuang muka dengan gaya anggun yang dipaksakan, mengekor di belakang ketiga pemuda itu. Hari-hari mereka di Desa Kertajaya sama sekali tidak pernah membosankan sejak perempuan berambut panjang itu datang menumpang di kamar kos nomor empat.

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!