Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Perundingan yang Tidak Pernah Netral
Ruang pertemuan itu berada di lantai tertinggi gedung milik keluarga Wijayanto. Dindingnya penuh lukisan kapal-kapal tua dan foto hitam putih generasi pertama keluarga itu membangun kerajaan pelabuhan mereka. Begitu Alya melangkah masuk menggandeng lengan Raze, dia bisa merasakan tatapan dari setiap sudut ruangan menilai dirinya seperti barang yang baru saja dipajang di etalase. Karpet merah tebal meredam suara langkah mereka, dan bau kayu jati tua bercampur cerutu yang belum lama dipadamkan mengambang di udara ruangan yang terlalu dingin untuk terasa nyaman.
"Kamu yakin mau ikut?" Raze berbisik sebelum pintu terbuka, tangannya menggenggam tangannya erat. "Ini bisa jadi berbahaya."
"Kamu janji aku jadi partner, bukan cuma orang yang nunggu di rumah," Alya berbisik balik, meremas tangannya untuk meyakinkan dirinya sendiri sekaligus dirinya. "Aku ikut, Raze."
Dia mengecup keningnya sekilas, cepat, sebelum pintu itu terbuka sepenuhnya. Gestur kecil yang membuat Alya merasa sedikit lebih berani menghadapi apa pun yang menunggu di dalam.
Pak Hartono Wijayanto duduk di ujung meja panjang. Seorang pria berusia enam puluhan dengan rambut memutih rapi dan senyum yang terlalu terlatih untuk terasa tulus, tangannya terlipat di atas meja kayu jati yang mengilap, dan begitu mereka duduk di seberangnya, dia mengangguk sopan, matanya menjelajahi Alya dengan penilaian yang membuat kulitnya meremang.
"Suster Nireva," katanya, suaranya halus tapi dingin, "atau haruskah saya panggil calon Nyonya Aldevar? Selamat, saya dengar pertunangan kalian baru saja diumumkan."
"Kita di sini bukan untuk basa-basi, Hartono," Raze memotong, suaranya tajam. "Apa maumu sebenarnya, sampai berani menyeret nama adik iparku ke dalam undangan resmi?"
"Adik ipar," Hartono mengulang, tersenyum tipis. "Menarik sekali, bagaimana keluarga bisa terbentuk dari kepingan yang selama ini terpisah."
"Kau tau soal Rani?" Alya bertanya, tidak sanggup menahan diri. Suaranya tajam menantang meski jantungnya berdegup kencang.
"Aku tau segalanya yang perlu kutau, Nona," Hartono menjawab, matanya berkilat licik. "Itu caraku bertahan di bisnis ini selama tiga puluh tahun."
"Aku tidak tertarik pada permainan kata-katamu," Kesabarnya mulai menipis. "Katakan apa yang kau inginkan."
Hartono membuka map di depannya, menggeser selembar dokumen ke tengah meja. "Aku ingin akses ke jalur distribusi pelabuhan barat yang sekarang dikuasai penuh oleh Aldevar Group," katanya, langsung. "Sebagai gantinya, aku akan melupakan utang Rani sepenuhnya, dan tidak akan pernah menyebut namanya lagi di depan siapa pun."
"Kau pikir aku akan menyerahkan jalur bisnis yang kubangun bertahun-tahun, hanya karena kau menemukan satu titik lemah?" Raze bertanya, suaranya berbahaya tenang.
"Aku pikir," Hartono berkata, lebih pelan, "kau akan melakukan apa saja untuk melindungi dua wanita yang duduk di sisimu sekarang, sama seperti yang sudah kau lakukan selama ini."
"Kau meremehkan seberapa jauh aku bisa pergi untuk melindungi mereka, kalau kau memilih jalan yang salah," Raze berkata, suaranya turun jadi bisikan dingin yang membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat. "Jangan salah menilai kesabaranku sebagai kelemahan, Hartono."
"Kenapa jalur pelabuhan itu begitu penting buatmu?" Alya bertanya, tiba-tiba, suaranya cukup tegas untuk membuat Hartono mengalihkan perhatiannya kepadanya.
Hartono menatapnya lama, sesuatu yang menyerupai rasa hormat muncul di matanya. "Karena dua puluh tahun lalu," katanya, akhirnya, "keluarga saya kehilangan jalur itu dari ayah angkat Raze, dalam kesepakatan yang, menurut catatan yang saya warisi, tidak sepenuhnya adil."
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin, dan Alya merasakan tangan Raze mengeras di sampingnya.
"Apa hubungannya itu dengan kecelakaan dua puluh tahun lalu?" Alya bertanya, suaranya bergetar, insting yang tidak bisa dia jelaskan mendorongnya untuk bertanya.
Untuk sesaat, Hartono terdiam. Matanya berpindah antara Alya dan Raze, seolah menimbang seberapa jauh dia ingin membuka kotak yang seharusnya tetap tertutup. "Kau benar-benar tidak tahu?" tanyanya, kepada Raze, bukan kepada Alya, nada suaranya berubah, hampir menyerupai keterkejutan sungguhan.
"Tahu apa?" Raze bertanya, rahangnya mengeras, jelas tidak menyukai arah percakapan ini.
"Kecelakaan yang merenggut keluarga gadis-gadis ini," Hartono berkata, pelan, "bukan kecelakaan biasa. Ada laporan yang sengaja dihilangkan, tentang sebuah truk yang seharusnya tidak ada di jalur itu malam itu. Truk milik salah satu anak perusahaan yang, waktu itu, masih berada di bawah kendali keluarga yang sekarang menjadi ayah angkatmu."
Waktu seolah berhenti di ruangan itu. Alya bisa mendengar detak jantungnya sendiri berdegup keras di telinganya, mencoba mencerna implikasi dari kalimat yang baru saja diucapkan.
"Kau bilang itu bukan kecelakaan," Raze berkata, suaranya nyaris tidak terdengar, kendali yang biasa dia jaga rapi mulai retak untuk pertama kalinya di depan orang lain.
"Aku tidak punya bukti pasti, hanya laporan lama yang tidak pernah diselidiki tuntas," Hartono berkata, dan untuk pertama kalinya, nada suaranya kehilangan kesombongannya. "Tapi aku pikir, kau pantas tahu, sebelum kau melangkah lebih jauh membangun keluarga di atas fondasi yang mungkin dibangun dari kebohongan yang sama yang dulu merenggut kebenaran dari gadis-gadis ini."
"Kenapa kau baru cerita ini sekarang, kalau kau udah tau sejak lama?" Alya bertanya, suaranya penuh amarah yang baru terbentuk.
"Karena sampai kalian duduk di depanku hari ini, aku tidak tahu ada hubungan antara kecelakaan itu dan wanita yang akan dinikahi Raze," Hartono menjawab, jujur untuk pertama kalinya. "Dunia bisnis kami penuh kebetulan yang mengerikan, Nona. Ini salah satunya."
"Siapa lagi yang tau soal laporan ini?" Raze bertanya, suaranya kembali dingin dan menuntut.
"Hanya aku, dan mungkin satu dua orang tua di kantor pelabuhan yang masih hidup dari generasi itu," Hartono menjawab. "Aku menyimpannya bertahun-tahun sebagai jaminan, seandainya suatu hari aku butuh leverage melawan keluargamu. Aku tidak pernah menyangka akan menggunakannya dengan cara seperti ini."
Alya menggenggam tangan Raze erat-erat, merasakan gemetar yang tidak bisa lagi dia sembunyikan. Prioritas pertemuan itu jalur distribusi, utang, negosiasi bisnis semuanya terasa tidak relevan dibandingkan dengan kebenaran baru yang baru saja terbuka di hadapan mereka.
"Aku akan mempertimbangkan permintaanmu soal jalur distribusi," suara Raze kembali terkendali meski Alya bisa merasakan ketegangan yang masih bergetar di bawahnya. "Tapi aku ingin semua dokumen yang kau miliki soal malam itu, diserahkan penuh, sebagai syarat negosiasi apa pun ke depannya."
"Deal," Hartono mengangguk, mengeluarkan map tipis lain dari tasnya, menyerahkannya melintasi meja. "Anggap ini sebagai tanda niat baik. Meski aku curiga, kebenaran di dalamnya akan membuka lebih banyak pertanyaan daripada jawaban."
Dia berdiri, mengancingkan jasnya, menatap mereka berdua sekali lagi sebelum melangkah menuju pintu. "Aku turut prihatin atas apa yang mungkin kalian temukan di dalam sana," katanya terdengar seperti ketulusan yang sesungguhnya, bukan kesopanan berlapis kepentingan bisnis. "Tidak semua orang pantas menanggung dosa orang tua mereka, Raze. Ingat itu, apa pun yang kau temukan."
Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang, Alya duduk diam, map itu di pangkuannya, belum berani membukanya. Raze menggenggam tangannya erat di atas persneling, matanya sesekali melirik ke arahnya penuh kekhawatiran.
"Kamu baik-baik saja?" Raze bertanya, pelan.
"Aku nggak tau harus ngerasa apa," Alya berbisik. "Kalau ini bener, berarti kecelakaan yang misahin aku sama Alia bukan takdir. Itu keputusan seseorang."
"Kalau ini benar," Raze berkata, suaranya berat, "berarti orang yang membesarkanku, yang kubenci sekaligus kuhormati selama ini, adalah orang yang bertanggung jawab atas separuh hidupmu yang hilang. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menanggung itu, Alya, tanpa kehilangan bagian dari diriku yang masih mempercayai bahwa aku pantas berdiri di sisimu."
"Kamu bukan dia, Raze," Alya berkata, cepat, menggenggam wajahnya dengan kedua tangan. "Apa pun yang dia lakuin, itu bukan salah kamu."
"Aku mewarisi kerajaannya," Raze berkata, pelan, matanya penuh keraguan yang jarang sekali dia perlihatkan. "Bagaimana kalau aku juga mewarisi dosanya, tanpa pernah menyadarinya?"
"Kamu udah buktiin, bertahun-tahun, kamu beda dari dia," Alya berkata, tegas, menatap matanya lurus-lurus. "Kamu nyari aku dan Alia, bukan buat nyembunyiin, tapi buat nyatuin lagi. Itu bukan tindakan orang yang ngewarisin dosa, Raze. Itu tindakan orang yang berusaha nebus sesuatu yang bahkan bukan salahnya sendiri."
Kata-kata itu meresap perlahan ke dalam dirinya. Alya bisa melihat sebagian ketegangan di bahunya mulai mengendur, meski matanya masih menyimpan kekhawatiran yang belum sepenuhnya reda.
Raze menepikan mobil, menariknya ke dalam pelukan yang erat, membiarkan Alya menangis di bahunya, tangannya mengusap punggungnya lembut. "Apa pun yang kita temukan di dalam map itu," katanya, "kita akan hadapi bersama. Aku janji, kali ini, tidak ada rahasia yang akan kusimpan sendirian."
Dia mengecup keningnya, lama, lalu turun ke pipinya, mengusap air matanya dengan ibu jarinya, sebelum akhirnya mencium bibirnya, lembut, penuh penghiburan yang tidak sanggup dia ucapkan dengan kata-kata malam itu. Alya membalas ciuman itu, tangannya meremas kerah kemejanya, mencari kepastian di dalam kehangatan yang selalu berhasil menenangkannya di tengah badai apa pun yang menerpa hidup mereka. Mereka duduk berpelukan lama di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, tidak peduli pada waktu yang terus berjalan, hanya membiarkan detak jantung masing-masing menjadi satu-satunya jangkar yang mereka butuhkan malam itu.
Di malam itu, buku bersampul kulit hitam itu terbuka dengan tulisan yang penuh kegelisahan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Hartono membuka kotak yang seharusnya tetap tertutup. Kalau yang dia katakan benar, ayah angkatku orang yang membesarkanku, yang kubenci sekaligus kuhormati mungkin bertanggung jawab atas kecelakaan yang merenggut separuh keluarga Alya.
Aku tidak tahu harus merasa apa. Marah pada masa lalu yang tidak bisa kuubah, atau takut pada masa depan yang mungkin akan menghancurkan segalanya yang baru saja kubangun dengan Alya. Sepanjang hidupku, aku membangun kekuasaan untuk memastikan tidak ada yang bisa mengendalikanku. Malam ini, aku sadar, bahkan kekuasaan sebesar apa pun tidak bisa melindungiku dari dosa orang yang membentukku.
Map itu ada di mejaku sekarang. Aku belum berani membukanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku takut pada kebenaran yang selama ini kukejar mati-matian.
Alya bilang aku bukan dia. Aku ingin mempercayainya sepenuhnya. Tapi bagian dari diriku bagian yang sama yang mengancam keluarga Bayu, yang memata-matai kehidupan orang-orang yang kucintai selama bertahun-tahun bertanya-tanya, seberapa jauh sebenarnya aku dari pohon yang menumbuhkanku.
Aku sudah berjanji pada Alya, tidak ada lagi rahasia yang kusimpan sendirian. Besok pagi, kami akan membukanya bersama, apa pun yang tertulis di dalamnya. Aku hanya berharap, cinta yang baru saja kami bangun cukup kuat untuk menahan beban kebenaran yang mungkin sudah lama menunggu untuk dibongkar.
❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜