NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berjalan Kaki dan Kehujanan

Malam yang dingin di kontrakan itu bukan lagi sekadar metafora kesengsaraan, melainkan realitas fisik yang menekan dada Bagas Pratama. Setelah kepergian tim pengacara Pak Hendra dan suara deru mesin truk yang menjauh, ruangan itu terasa dua kali lipat lebih kosong. Tidak ada lagi lampu gantung yang terang, tidak ada lagi perabotan empuk, hanya tersisa beberapa helai baju kumal yang berserakan di atas ubin semen yang retak. Bagas masih terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding kayu yang berderit setiap kali ia menarik napas berat.

Ibu Melati masih terisak di sudut ruangan, suaranya parau dan terputus-putus. Ia sesekali memukul dadanya sendiri, mencoba mengeluarkan sesak yang bersarang di sana.

"Kita benar-benar sudah habis, Bagas," isak Ibu Melati sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya yang gemetar. "Apa lagi yang tersisa untuk kita makan besok? Tidak ada beras, tidak ada uang, bahkan perhiasan terakhir sudah mereka rampas."

Bagas memalingkan wajah, menolak menatap mata ibunya yang kini terlihat cekung karena kurang tidur dan stres berkepanjangan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, namun bayangan wajah Laras yang dingin dan tanpa ekspresi saat proses hukum berlangsung terus muncul di benaknya.

"Jangan tanyakan itu padaku, Bu," sahut Bagas dengan suara serak dan penuh penekanan. "Aku sedang mencoba berpikir bagaimana cara kita bertahan hidup tanpa harus mengemis."

Siska, yang sejak tadi terdiam di pojok ruangan dengan tatapan kosong, tiba-tiba berdiri dengan gerakan kasar. Ia menendang sisa tas kain yang sudah dikosongkan oleh para petugas tadi hingga menghantam pintu kayu.

"Ini semua salah Ibu!" teriak Siska dengan nada penuh kebencian. "Kalau Ibu tidak terus-terusan memanas-manasi Mas Bagas untuk mengusir Mbak Laras, kita tidak akan berakhir seperti ini!"

Ibu Melati terlonjak kaget, menatap putrinya dengan mata terbelalak tidak percaya. Ia berdiri dengan susah payah, menopang tubuhnya pada meja kayu reot yang tersisa satu-satunya.

"Apa katamu? Berani sekali kau menyalahkan Ibu setelah semua fasilitas yang Ibu berikan padamu selama ini?" bentak Ibu Melati, suaranya mencoba bangkit meski tenaga fisiknya sudah habis. "Dulu kau yang paling rajin meminta uang jajan dan tas bermerek pada Laras, sekarang kau berlagak suci!"

"Itu karena Ibu yang menyuruhku bersikap manja!" sahut Siska dengan nada meninggi, tidak lagi takut pada otoritas ibunya. "Ibu bilang Laras itu bodoh, Laras itu tidak punya harga diri, dan kita bisa menginjak-injaknya sesuka hati. Sekarang lihat, siapa yang sebenarnya bodoh?"

Bagas bangkit berdiri, tubuhnya terasa pegal dan remuk akibat kejadian tadi malam. Ia berjalan perlahan ke tengah ruangan, menatap kedua wanita yang paling ia cintai namun kini justru menjadi sumber kegaduhannya.

"Berhenti berdebat!" teriak Bagas dengan suara menggelegar, memotong perdebatan antara ibu dan adiknya. "Kalian pikir dengan saling menyalahkan, kondisi kita akan membaik? Laras sudah menang, titik. Dia sudah memenangkan segalanya dan kita hanya sampah yang dibuang ke pinggiran kota ini."

Suasana mendadak hening kembali. Hanya suara jangkrik dari lahan kosong di belakang kontrakan yang terdengar bersahutan.

"Apa rencanamu besok, Bagas?" tanya Ibu Melati dengan suara yang jauh lebih lemah dari sebelumnya. "Kita bahkan tidak punya modal untuk sekadar membuka warung kopi kecil."

Bagas menghela napas panjang, menatap langit-langit kontrakan yang berlubang di beberapa bagian. Ia merasa seolah langit di atas sana sedang menertawakan kebodohannya yang luar biasa.

"Besok aku akan mencari mandor proyek di ujung jalan," jawab Bagas dengan nada datar, seolah ia sedang membacakan nasib kematiannya sendiri. "Aku dengar mereka sedang membutuhkan kuli angkut batu bata. Aku akan bekerja di sana, apa pun bayarannya."

Siska tertawa sinis, suara tawanya terdengar sumbang dan menyakitkan telinga. Ia menatap kakaknya dengan pandangan yang merendahkan, meski dirinya sendiri kini tidak jauh lebih baik.

"Bagas Pratama, manajer yang dulu sering mengenakan setelan jas puluhan juta, sekarang ingin jadi kuli bangunan?" sindir Siska sambil melipat tangan di dada. "Apa kau sanggup mengangkat sak semen dengan tanganmu yang halus itu?"

Bagas tidak menanggapi sindiran adiknya. Ia berjalan menuju sudut ruangan tempat kasur lantai tipis miliknya berada. Ia merebahkan diri tanpa melepaskan pakaian kotor yang melekat di tubuhnya.

"Sanggup atau tidak, aku harus melakukannya," gumam Bagas dengan mata menatap dinding kayu yang berlubang. "Satu-satunya pilihan kita sekarang hanyalah bertahan hidup dengan sisa tenaga yang ada."

Ibu Melati kembali terduduk di lantai, menatap kosong ke arah pintu yang tertutup rapat. Ia teringat masa kejayaannya saat dulu sering memerintah Laras untuk menyiapkan air hangat dan sarapan pagi tepat di meja makan.

"Andai saja aku bisa memutar waktu," bisik Ibu Melati lirih, hampir seperti desahan angin. "Aku tidak akan pernah menyentuh satu sen pun milik Larasati."

Bagas membalikkan tubuhnya, membelakangi ibu dan adiknya. Ia tidak ingin mendengar penyesalan yang terlambat. Penyesalan itu baginya seperti racun yang menggerogoti sisa kewarasannya.

"Sudahlah, Bu. Tidurlah," ucap Bagas dengan nada dingin. "Besok fajar akan menyapa dan kita harus menghadapi dunia yang lebih kejam lagi."

Siska ikut merebahkan diri di atas lantai yang dingin, tidak ada bantal empuk atau selimut sutra yang biasa ia gunakan. Ia meringkuk seperti janin, memikirkan betapa cepat dunia berputar menjatuhkannya ke jurang yang paling dalam.

Di luar sana, sebuah lampu jalan remang-remang berkedip sebelum akhirnya padam sepenuhnya, meninggalkan kontrakan itu dalam kegelapan pekat. Tidak ada lagi harapan yang tersisa di dalam rumah itu, hanya tumpukan ego yang hancur berkeping-keping.

Sementara itu, Larasati mungkin sedang tidur nyenyak di apartemennya yang mewah dan tenang. Laras tidak akan pernah tahu—dan mungkin tidak akan pernah peduli—bahwa di sebuah sudut gang yang sempit, tiga manusia yang dulu sombong kini sedang gemetar ketakutan menghadapi hari esok.

Bagas mencoba memejamkan mata, namun pikirannya terus melayang. Ia teringat kembali momen saat ia pertama kali bertemu Laras, wanita yang dulu begitu tulus mencintainya sebelum ia rusak oleh ambisinya sendiri.

"Maafkan aku, Laras," bisik Bagas dalam hati, sebuah pengakuan yang tidak akan pernah sampai kepada sang mantan istri. "Tapi kurasa, ini adalah takdir yang memang pantas aku terima."

Malam itu, mereka bertiga tidur dalam keadaan lapar dan tanpa harapan. Keheningan malam seolah menjadi hakim yang memutuskan bahwa hidup mereka di kota besar ini telah resmi berakhir, dan hari-hari perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bagas merasa sangat lelah. Ia tidak lagi peduli pada harga diri atau gengsi yang selama ini ia junjung tinggi. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah bertahan sampai matahari terbit, meski ia tahu bahwa fajar esok hanyalah awal dari siksaan baru.

Mereka adalah keluarga yang telah kalah dalam pertempuran hidup karena keserakahan. Dan kini, mereka harus belajar bahwa dunia tidak akan pernah memberikan belas kasihan kepada mereka yang lupa cara menghargai kebaikan orang lain.

Laras telah menutup babak itu dengan sempurna, menyisakan Bagas dan keluarganya di titik nol yang sunyi. Tidak ada drama lagi yang tersisa untuk diperdebatkan, karena segalanya telah diambil paksa oleh kebenaran.

Bagas pun perlahan jatuh ke dalam tidur yang gelisah, diiringi suara desiran angin malam yang masuk melalui celah dinding kayu, membawa serta dinginnya kenyataan yang akan mereka hadapi besok pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!