Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Kehidupan asrama
Seraphina mendorong pintu kayu bercat putih di ujung koridor. Sebuah ruangan luas nan megah menyambut kedatangan mereka, lengkap dengan deretan meja dan kursi kayu kokoh yang tertata rapi. Atapnya dirancang bertingkat dengan panel kaca transparan, membiarkan pendar cahaya luar menerangi seluruh ruangan.
"Ini adalah kantin utama akademi, Anak-Anak. Kalian bebas mengambil makanan apa pun secara gratis di sini," terang Seraphina lembut.
Mendengar kata 'makanan', telinga Emery seketika menegak bersemangat. Gadis bersurai cokelat itu langsung mengambil piring keramik dan masuk ke dalam barisan antrean para murid akademi.
Stella yang menyaksikan tingkah Emery hanya bisa memutar bola matanya malas. "Selain urusan otot, isi otak bocah besi itu ya makanan," gerutu Stella.
Namun, karena perutnya sendiri sudah keroncongan, ia akhirnya ikut mengantre di belakang. Para Aetherist muda lainnya mengekor pasrah, menyadarkan diri bahwa mereka memang membutuhkan energi.
Sementara itu, Airyn hanya berdiri memaku. Pikirannya masih melayang, melamunkan kenyataan pahit tentang sosok sang nenek. Flora dan William yang menyadari hal itu dengan lembut menuntun Airyn untuk ikut masuk ke barisan antrean.
Airyn menggenggam piringnya erat-erat, namun pandangan matanya kosong.
Mereka melewati beberapa counter hidangan—mengambil potongan roti hangat, kentang panggang gurih, telur rebus, serta deretan buah dan sayuran segar. Tak lupa, pilihan susu dan jus disajikan di barisan paling ujung.
"Ingin jus atau susu, gadis manis?"
Sebuah suara berat menyapa saat Airyn tiba di barisan terakhir. Teman-temannya yang lain sudah lebih dahulu membawa piring mereka menuju meja makan.
Namun Airyn tidak merespon. Pikirannya masih terpaku pada tembok kosong di koridor sejarah tadi.
"Halooo..." Pria berkumis itu mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Airyn.
"Y-ya?" Airyn tersentak, mengeripkan matanya dan buru-buru mengumpulkan kembali kesadarannya.
"Kau ingin susu segar atau jus buah, gadis manis?" ulang pria bersurai coklat itu seraya tersenyum ramah.
"Susu saja, Tuan," sahut Airyn pelan.
Pria itu mengambil kotak susu segar lalu meletakkannya di atas piring Airyn. "Dan ini set alat makanmu. Kau lupa mengambilnya di depan tadi," tambah si pria seraya menyerahkan sendok dan garpu.
"Terima kasih banyak, Tuan," balas Airyn seraya menunduk hormat.
"Tidak perlu seformal itu. Namaku Barnaby, kepala koki di akademi ini. Panggil saja Paman Bar," tutur pria itu penuh kehangatan.
"Baik, Paman Bar," ujar Airyn menyunggingkan senyum tipis.
Barnaby mengamati penampilan Airyn sejenak. "Hmm... gadis muda, kau ini Aetherist air atau bukan?"
"Benar, Paman. Aku Aetherist air," jawab Airyn polos.
"Oh... Soalnya ciri fisikmu sedikit berbeda dari gambaran Aetherist air yang biasa diceritakan dalam buku sejarah. Terutama manik mata emasmu itu. Eh, jangan tersinggung ya! Paman cuma mengatakan apa yang pernah Paman dengar," buru-buru Barnaby memberikan penjelasan, khawatir ucapannya melukai perasaan Airyn.
Airyn terkekeh pelan melihat kepanikan koki ramah itu. "Tidak apa-apa kok, Paman Bar."
"Ah, aku lupa siapa namamu gadis manis?"
"Airyn, Paman."
"Baiklah, Airyn. Selamat menikmati sarapanmu!" Barnaby mengacungkan jempolnya.
Airyn membungkuk pamit lalu berbalik arah, menghampiri meja panjang tempat teman-temannya sudah melahap hidangan masing-masing.
"Di mana Fin?" tanya Airyn seraya menduduki bangku kosong di samping Flora.
"Sepertinya dia ada urusan lain, jadi pamit pergi duluan," sahut Flora lembut.
Mereka menyantap sarapan pagi itu dengan tenang, hingga suara derap langkah menghentikan aktifitas mereka sebentar.
"Bagaimana rasa hidangannya?" Profesor Alistair berdiri di samping meja mereka, tersenyum menyapa.
"Enak sekali, Profesor! Menu untuk makan siang nanti apa?" Seru Emery antusias dengan mulut yang masih menyisakan kunyahan roti. Stella yang duduk di sebelahnya dengan cepat menyikut rusuk Emery gemas.
Profesor Alistair terkekeh. "Baguslah kalau kalian menikmatinya. Terhitung mulai hari ini, kalian resmi menetap di asrama akademi. Profesor Seraphina yang akan mengantarkan kalian ke sana."
"Barang-barang kami masih tertinggal di penginapan atas, Profesor. Kami bahkan belum sempat berkemas," sela Stella seraya memainkan sendoknya.
"Jangan khawatir, para penjaga diatas sudah memindahkan seluruh barang kalian ke asrama," sahut Seraphina yang berdiri di belakang Alistair.
Alistair menatap kedelapan murid muda itu dengan raut serius. "Ingat, Anak-Anak... selama berada di lingkungan akademi, bertindaklah selayaknya murid. Hormati para profesor dan staf. Dilarang keras menggunakan kekerasan, apalagi mengerahkan Aether kalian kepada murid-murid biasa. Dan juga dilarang saling menyerang sesama Aetherist di luar jadwal latihan resmi."
Stella tampak memutar bola matanya muak mendengar deretan aturan itu. Andrew menggeletukkan giginya—pemuda itu tipe yang bisa tersulut emosi hanya karena ditatap orang asing lebih dari sepuluh detik.
Snow tampak bersikap apatis seolah tak peduli, sedangkan Teira terdiam menatap langit-langit kantin seperti sedang merancang simulasi strategi. Dan Emery? Pikiran gadis besi itu jelas hanya berputar di antara dua hal: otot dan makanan.
"Saya rasa kalian sudah paham. Saya masih ada urusan lain. Profesor Seraphina, saya serahkan mereka padamu," ujar Alistair pamit meninggalkan kantin.
"Mari Anak-Anak, ikuti saya ke gedung asrama," ajak Seraphina.
Mereka bangkit dari bangku dan berjalan mengekor di belakang Seraphina. Menerobos lorong belakang kantin, mereka menaiki tangga melingkar yang cukup tinggi menuju lantai tiga gedung.
"Setelah menaiki tangga ini, lorong sebelah kiri adalah blok asrama putri, sedangkan lorong sebelah kanan adalah blok asrama putra. Saya sudah mengosongkan kamar-kamar terdepan untuk kalian tempati" jelas Seraphina.
Mereka menuju ke sayap kiri terlebih dahulu. Berjalan menyusuri lorong yang lebih ringkas ketimbang kamar sebelumnya.
"Stella, Emery, Flora dan Airyn silakan ikuti aku, para pria kalian menunggu dulu di luar sini." Jelas Seraphina lalu ia membuka pintu ganda menuju lorong di asrama putri diikuti para Aetherist perempuan.
Deretan pintu kayu berlapis cat vernis memenuhi lorong. Seraphina membuka pintu kayu paling depan. Sebuah kamar sederhana berisikan dua ranjang kayu, dua meja belajar, dan lemari pakaian tertata rapi. Tidak mewah, namun sangat bersih dan terawat.
"Ini... ini bahkan lebih mirip kamar pelayan!" keluh Stella spontan begitu melongokkan kepala.
"Satu kamar akan diisi oleh dua orang murid. Kalian bisa menentukan pasangan kamar kalian sendiri, bukan?" tanya Seraphina pada para gadis.
Mendengar kata 'dua orang', Stella spontan mundur selangkah dengan raut horor. Beruntung Emery yang berada di belakangnya refleks menahan tubuh Stella agar tidak jengkang.
"Kamar sempit begini untuk dua orang?! Ini namanya penyiksaan!" Seru Stella dramatis.
"Kalian berada di sini untuk belajar, maka sudah sepantasnya kalian diperlakukan sama seperti murid-murid lainnya," pangkas Seraphina tegas tanpa kompromi.
"Kakekku akan murka kalau melihat cucunya diperlakukan begini!" ancam Stella menunjukkan dominasi tahtanya. Namun Seraphina bahkan tidak mengedipkan mata mendengar ancaman itu.
"Kamar lainnya berada persis di seberang lorong ini. Silakan tentukan pasangan kamar kalian. Saya akan mengantarkan para murid laki-laki ke asrama mereka." Ujar Seraphina seraya berbalik melangkah pergi.
Airyn dan Flora melangkah mengecek kamar di seberang. Desainnya persis sama—tidak terlalu luas, namun sangat memadai. Keberadaan kamar mandi dalam membuat kamar itu terasa nyaman.
"Ini bahkan jauh lebih luas dan bagus dibanding kamar sewaan yang pernah kutinggali di dermaga," gumam Airyn seraya mengamati sekeliling.
"Tempat ini sangat nyaman, tidak terlalu besar seperti kamar kemarin," puji Flora yang juga menyukai suasana kamar baru mereka.
Sementara itu di kamar seberang, Stella masih didera syok berat hingga terduduk lesu di atas kasur. Emery justru tampak santai, malah menjaja kekuatan kasur dengan melompat-lompat kecil—tindakan yang makin membuat pelipis Stella berdenyut pusing.
Selesai melihat kamar, para gadis melangkah keluar menuju tangga utama. Para pemuda sudah berdiri menanti bersama Profesor Seraphina.
"Barang-barang pribadi kalian akan segera diantarkan. Nanti, saya akan membagikan jadwal pelajaran resmi kalian. Untuk hari ini, kalian dipersilakan beristirahat. Sampai jumpa besok pagi," pangkas Seraphina menutup pengarahan sebelum melangkah pergi.
Lorong menuju asrama mendadak hening. Beberapa Aetherist memilih langsung berbalik menuju kamar masing-masing untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
"Kalian mau jalan-jalan berkeliling akademi?" tawar William menghampiri Airyn dan Flora.
"Aku ingin mandi dulu, William. Pakaian latihan ini terasa sangat gerah," sahut Flora halus.
"Flora benar. Kalau mau berkeliling, nanti saja," tambah Airyn.
"Baiklah, nanti sebelum makan siang aku temui kalian lagi di depan lorong," ujar William melambaikan tangan lalu berbalik menuju asrama putra.
Airyn dan Flora kembali ke kamar mereka. Sembari menanti kedatangan barang-barang mereka, keduanya mulai merapikan sudut-sudut kamar yang akan menjadi tempat tinggal baru mereka dalam beberapa waktu ke depan.