NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pintu mobil dibukakan dari luar oleh salah seorang pria berjas hitam.

Begitu Musa dan Laila melangkah keluar, puluhan anak buah Musa yang berjaga di pelataran kediaman mewah tersebut langsung berdiri tegap, merapatkan barisan, dan membungkuk hormat dengan penuh takzim.

Seorang pria muda berparas supel dengan gaya rambut sedikit berantakan—Yusuf, tangan kanan sekaligus kepercayaan Musa di dunia bawah tanah—melangkah maju mendekati mereka.

Matanya berbinar-binar gembira menatap Laila yang berdiri di samping sang bos.

"Wah, wah! Akhirnya Bos sudah berhasil menemukan

'Bidadari 365 Hari' yang dicari-cari!" seru Yusuf dengan nada heboh tak dibuat-buat.

Ia mengalihkan pandangannya pada Laila dengan raut santun namun jenaka.

"Asal Umi tahu saja ya, selama satu tahun belakangan ini Bos Musa itu persis seperti anak kecil yang kehilangan permen! Seram sih seram, tapi kalau sudah kepikiran Umi, mukanya langsung ditekuk seharian!" lanjut Yusuf sambil tertawa terbahak-bahak.

Laila terkekeh pelan di balik cadarnya. Rasa gugup yang sempat menghimpit dadanya menguap seketika mendengar celotehan hangat anak buah suaminya.

"Kenapa aku dipanggil Umi? Panggil aku Laila saja," sahut Laila ramah diiringi tawa kecil yang sejuk dan merdu.

Mendengar tawa halus nan merdu itu, Yusuf langsung memegang dadanya, membelalakkan mata dramatis, lalu berpura-pura pingsan dengan menyandarkan tubuhnya ke bahu anak buah di sebelahnya.

"Aduh, pingsan aku! Suaranya sejuk banget bagai embun pagi, pantesan Bos Musa sampai kepincut setengah mati!"

Namun, saat matanya kembali memperhatikan penampilan Laila dari atas sampai bawah, Yusuf memiringkan kepalanya dengan raut penasaran.

"Tapi Bos, kenapa sih wajah Umi pakai ditutup cadar segala? Kan kita semua penasarannya setengah mati sama paras penolong Bos!"

TAK!

Dengan gerakan kilat, jemari Musa mendarat tepat menyentuh kening Yusuf.

"Aduh! Sakit, Bos!" ringis Yusuf sambil memegangi keningnya yang tersentil.

"Agar kamu tidak kepo," dengus Musa dingin, namun ada gurat kehangatan yang tak bisa disembunyikan di matanya.

Ia merangkul pinggang Laila dengan posesif. "Cepat panggil semua anggota di markas ini. Aku ingin memperkenalkan istriku secara resmi kepada kalian semua."

Yusuf langsung menegakkan tubuhnya, memberi hormat ala prajurit dengan senyum jenaka yang tak pernah luntur.

"Siap, Bos! Dalam hitungan detik, semua regu bakal kumpul di aula!"

Namun, sebelum melangkah pergi, mata Yusuf mendadak berbinar saat melihat Laila menurunkan tas khusus hewan yang dibawanya.

Dari balik selambu jaring tas tersebut, muncul sepasang mata bulat nan mungil yang menatap sekeliling dengan ragu.

"Masya Allah! Bos, ini ada personel baru ya?!" seru Yusuf heboh, langsung berlutut di atas lantai marmer pelataran tanpa peduli pada celana kain mahalnya.

Laila tersenyum lembut di balik cadarnya, membukakan ritsleting tas agar sang kucing bisa keluar.

"Namanya Milo, Mas Yusuf. Dia agak pemalu kalau sama orang baru."

"Halo, Komandan Milo!" Yusuf mengajak bicaranya dengan nada suara dibuat-dibuat seperti anak kecil, melambaikan jarinya di depan hidung mungil sang kucing.

Milo memiringkan kepala, lalu menjilat ujung jari Yusuf sebelum tiba-tiba menepuk pipi pria tegap itu dengan telapak kakinya yang empuk tanpa mengeluarkan kuku.

"Aduh! Saya baru saja ditampar sama Letnan Milo! Bos, tolong saya, saya dikeroyok pasangan pengantin baru dan peliharaannya!" jerit Yusuf dramatis, berpura-pura jatuh terlentang di lantai.

Laila tak sanggup menahan tawa renyahnya. Suara tawa yang begitu murni itu membuat Musa yang berdiri di sampingnya tak berkedip menatap sang istri.

Musa lalu melirik Yusuf yang masih asyik berguling-guling di lantai sambil dikejar Milo.

"Yusuf, fokus. Urus penyambutan," tegur Musa datar, meski ada gurat kehangatan tipis di matanya.

"Dan, Milo, jangan sampai membuat bajunya kotor."

"Siap, Bos! Letnan Milo ikut saya dulu ke ruang penjagaan ya, mau saya beri camilan ikan salmon kualitas premium!" seru Yusuf kegirangan sambil menggendong Milo bagaikan membawa barang berharga, lalu berlari kecil meninggalkan mereka.

Setelah sesi perkenalan singkat yang hangat namun sarat rasa hormat dari seluruh anak buah Musa di aula utama, Musa membimbing Laila menuju lantai atas—area privat yang sama sekali tak boleh diakses oleh siapa pun tanpa izin khususnya.

Pintu kayu jati tebal berukir itu terbuka, memperlihatkan sebuah kamar utama yang teramat luas.

Interiornya didominasi warna-warna hangat, pencahayaan temaram yang menenangkan, serta aroma kayu cendana dan mawar yang lembut merayapi indra penciuman Laila.

Musa menutup pintu rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam.

Suara kunci yang berputar pelan di tengah keheningan kamar membuat dada Laila mendadak berdesir hebat.

"Laila,." panggil Musa pelan.

Suaranya yang tadinya terdengar begitu tegas dan dingin di hadapan orang lain, kini berubah menjadi amat dalam dan serak.

Laila membalikkan badan dengan jemari yang saling bertaut erat di depan tubuhnya.

"I-iya, Musa?"

Musa melangkah mendekat. Setiap pijakan kakinya seolah mengikis pasokan udara di dalam ruangan.

Ia berhenti tepat di hadapan Laila, menjulang tegap hingga bayangannya menutupi tubuh mungil sang istri.

Rasa hangat yang memancar dari tubuh Musa serta aroma maskulinnya yang khas membuat Laila sedikit merinding, disergap rasa gugup yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Dengan gerakan yang amat lembut, jemari tegap Musa terulur ke belakang kepala Laila, melepas tali cadar hitam yang menutupi paras ayu itu.

Kain halus itu terlepas, menyingkap sepenuhnya kecantikan polos Laila yang merona merah.

Ibu jari Musa mengusap lembut pipi Laila yang hangat.

Tatapan matanya begitu pekat, sarat akan rasa kepemilikan, kerinduan selama 365 hari, dan pengabdian yang utuh.

"Satu tahun aku merindukan senyum ini, Laila," bisik Musa, memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafas hangatnya menyapu kening Laila.

"Sekarang, kamu sepenuhnya milikku. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi jarak. Hanya ada aku dan kamu."

Sentuhan itu, bisikan itu, dan intensitas pendar mata Musa yang begitu memuja membuat bulu kuduk Laila berdiri halus.

Jantungnya berdegup begitu kencang di dalam rongga dadanya, menyadari bahwa pria di hadapannya ini bukan sekadar seorang Ustaz yang santun, melainkan sesosok pelindung yang siap melahap siapa saja demi dirinya.

Laila membelalakkan matanya saat merasakan napas hangat Musa kian mendekat di atas keningnya.

Namun, tepat di detik yang paling mendebarkan itu, dering nyaring dari tas ranselnya memecah heningnya kamar utama.

Kringgg! Kringgg!

Laila tersentak pelan. Jantungnya berdegup makin kencang.

"M-Musa, ponselku berdering," bisik Laila terbata-bata, mencoba menetralisasi rasa gugupnya.

Musa tidak menyahut seketika. Manik matanya yang pekat tetap terkunci pada paras cantik di hadapannya.

Jemari tegapnya bergeser mengelus rahang Laila dengan lembut.

"Sebentar saja, jangan diangkat," bisik Musa rendah, suaranya terdengar begitu dalam dan serak saat ia makin mendekatkan bibirnya ke kening Laila.

Namun, naluri kedokteran Laila refleks membunyikan tanda bahaya.

Dering ponsel di saat-saat tak terduga biasanya membawa kabar darurat dari rumah sakit.

Tanpa pikir panjang, Laila memberanikan diri mendorong pelan dada tegap suaminya, lalu bergegas menghampiri tasnya dan menggeser layar ponsel.

"Halo, Assalamu'alaikum." ucap Laila sedikit terengah-engah.

"Wa'alaikumsalam, Dokter Laila! Maaf mengganggu waktunya," suara Perawat Tika terdengar panik dan terburu-buru dari seberang telepon.

"Dokter, ada pasien korban kecelakaan lalu lintas dengan perdarahan hebat di ruang IGD! Dokter spesialis lain sedang ada tindakan operasi besar, kita butuh penanganan operasi mendadak sekarang juga, Dok!"

Laila membelalakkan matanya seketika. Seluruh rasa gugup dan kecanggungan di dalam kamar itu mendadak sirna, tergantikan oleh fokus dan profesionalisme seorang dokter.

"Baik, Tika! Siapkan ruang operasi sekarang. Saya langsung meluncur ke sana!" tegas Laila sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon.

Ia berbalik dengan tergesa-gesa, menatap Musa yang masih berdiri di tempatnya dengan alis bertaut tipis.

Ada riak kekecewaan yang sangat jelas di paras tampan sang suami, namun Laila tahu tugas kemanusiaan tak bisa ditunda.

"Musa, maafkan aku." ucap Laila panik sembari mengambil jas dokter dan peralatan medis ringkas dari tasnya.

"Ada pasien kecelakaan kritis yang butuh operasi darurat malam ini. Aku harus ke rumah sakit sekarang juga."

Musa menghela napas panjang. Aura dingin yang tadinya melunak mendadak kembali menyelimuti tubuhnya, tetapi tatapannya pada Laila tidak pernah memancarkan kemarahan—hanya kepedulian yang teramat protektif.

"Rumah sakit mana?" tanya Musa singkat, suaranya dalam dan tak terbantahkan.

"Rumah Sakit Hasta Utama, Musa. Pasiennya mengalami perdarahan hebat," jawab Laila cepat sembari merapikan kembali jilbabnya.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Musa melangkah menuju lemari, mengambil jaket hitam tebal dan kunci mobilnya.

Ia menghampiri Laila, lalu meraih kain cadar yang sebelumnya sempat ia lepas dari wajah istrinya.

"Aku yang antar," tegas Musa sambil dengan telaten dan lembut memasangkan kembali cadar itu ke paras ayu Laila.

"Di luar sana sudah malam, dan aku tidak akan pernah membiarkan istriku pergi sendirian ke mana pun."

Laila menatap sepasang mata tajam Musa di balik cadarnya, merasa berdesir hangat akan perhatian dan perlindungan pria itu.

"Tapi, Musa, lengan kamu masih terluka—"

"Luka kecil ini tidak ada artinya dibanding keselamatanmu," potong Musa pelan.

Ia menggenggam erat jemari Laila, membimbingnya keluar dari kamar utama menuju lantai bawah.

Saat menuruni tangga, Laila mendongak menatap suaminya yang tampak begitu berwibawa namun memancarkan aura dominan yang intimidatif.

Laila berdehem pelan, mengumpulkan keberanian.

"Musa, boleh aku minta tolong?" bisik Laila.

"Jangan perlihatkan sosok Musa yang mafia ya. Aku ingin Musa yang ustaz. Aku tidak mau pasien-pasienku nanti malah kabur ketakutan."

Musa menghentikan langkahnya sejenak, melirik istrinya lalu mengulas senyum tipis yang amat samar.

"Baiklah, demi Bidadariku."

Musa kemudian memanggil Yusuf yang sedang sibuk bersantai di area depan.

"Yusuf! Bersiap, ikut kami ke rumah sakit."

Musa lalu melemparkan selembar kain tenun berkualitas tinggi ke arah tangan kanannya itu.

"Dan, ganti celanamu. Pakai sarung ini."

Yusuf yang berhasil menangkap kain itu membelalak kaget.

Ia melihat sarung di tangannya, lalu menatap Musa dan Laila bergantian dengan raut wajah melongo.

"Sarung, Bos?!" tanya Yusuf polos, tak membayangkan dirinya yang bertubuh kekar dan biasa memegang senjata kini harus menyamar memakai sarung bak santri pondokan.

Laila tak sanggup menahan tawa kecilnya di balik cadar melihat ekspresi Yusuf, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.

"Ayo cepat, kita berangkat sekarang!" seru Laila terburu-buru, melangkah cepat mendahului mereka menuju mobil.

1
Rahmawati Amma
akhirnya tamat juga bagus ceritanya ngak terlalu panjang babnya saya suka karna saya suka ceritanya kuberi gift nonton iklan 10× traktir kopi 🍵 plus kasih vote maaf thor cuma itu yg bisa saya beri😖😢🙏
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Muft Smoker
cerita ny bagus kak ,, aq suka ma ceritanya 😁🤗
Muft Smoker
akhirnya semua udh bertemu dengan kebahagiaan masing2 ,,

makasih buat cerita ny yx kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,, semangat buat cerita terbaru ny
total 2 replies
Yani Agustin
thor, katanya dua2nya keturunan kyai tapi koq ga ada shalat2 nya, trus ga ada ritual ahalat sunat dulu sebelum MP, trs kelakuan bu nyainya tdk mencerminkan bu nyai seh thor 🙏
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
alhmdulillah versi mini dr kalian telah lahir dg sehat dan selamat ,,
Muft Smoker
waah bayi ny aj janjian mau keluarnya ,, 🤭 ,, semoga ibu dan bayi ny sehat2 ,, baik Laila atau pun Musdalifah ,,,
Rahmawati Amma
kok sepi pembaca ya padahal novelnya lumayan bagus 🤔
Rahmawati Amma
bagus ceritanya
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🙏
total 1 replies
Rahmawati Amma
ya berhubung nonton iklan sisa 7kali ya aku cuma bisa ngasi segitu plus traktir kopi 🍵 😅
Rahmawati Amma
ini aneh laila lah katanya bisa bela diri lah ini kenapa lembek 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
weh thor kok nama doang yg di sebut ngak sopan itu panggil abang ke atau mas lah ini nama doang tampa embel2 😔
my name is pho: terima kasih kak. tapi nanti ada di bab ke sekian ada panggilan mas
total 1 replies
Rahmawati Amma
lah bukannya laila bercadar di sampul novelnya 🤔😅
Yati Susilawati: mungkin nnt klu sdh nikah😌
total 1 replies
Muft Smoker
akhirnya semua udh berdamai dg masa lalu ,, begitu juga dg Zafar ,, semoga stelah masa hukuman km telah selesai segera pertanggung jawabkan perbuatan mu terhadap Musdalifah ,,
Muft Smoker
alhmdulillah smua udh baik2 aj ,,
semoga ,,

lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
semoga Musdalifah bnr2 berubah ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
sri hastuti
semoga selanjutnya bahagia semua thor, semua rukun ,🙏
sri hastuti
bagus, musa tegas sbg pria tau batasannya, jd gak semua wanita brani goda, siippp Musa, 👍👍
sri hastuti
semoga sdh tdk ada gangguan lagi, atau pelakor,atau kejahatan ,biar mereka berdua bahagia thor 🙏
Muft Smoker
putri angkat???
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁gpp kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!