Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Iblis Hakone
Di balik tembok batu setinggi tiga jo Benteng Odawara, keheningan yang menekan menyelimuti Aula Besar Honmaru. Aroma kayu cendana yang biasa menenangkan kini tertutup oleh bau sengat minyak pelita dan kepulan asap lilin yang mulai meredup disapu angin malam Teluk Sagami.
Hojo Ujimasa, mantan kepala klan Hojo yang masih memegang kendali tertinggi keputusan perang, duduk bersila di atas panggung tatami. Wajah pria tua itu kaku bagaikan topeng noh. Di hadapannya, peta wilayah Kanto terbentang, ditindih oleh puluhan penanda kayu yang kini hampir seluruhnya dikelilingi oleh warna merah—warna panji Toyotomi.
"Serangan di gerbang utara makin liar, Tuan Ujimasa!" seru seorang komandan senior Hojo seraya bersujud dengan napas terengah-engah. "Panji koin emas Rokumonsen milik klan Sanada dan klan Date telah merobek barisan pertahanan luar Hojo Ujifusa. Menara pengawas barat kita terbakar total. Jika kita tidak mengirimkan pasukan cadangan dari sektor tengah sekarang, gerbang sekunder akan runtuh sebelum fajar!"
Ujimasa mencengkeram erat tongkat kayu di tangannya. Dahinya berkerut dalam.
"Dua ratus ribu prajurit dari barat berkumpul di pesisir, tetapi mereka justru memukulkan pukulan terkerasnya di celah utara..." gumam Ujimasa, suaranya parau oleh rasa lelah yang menumpuk bertahap selama berminggu-minggu pengepungan. "Hideyoshi ingin memancing kita agar membuka barisan tengah, ataukah Sanada dan Date yang memang bertindak ceroboh?"
"Tuan!" desak perwira lain di ruangan itu. "Sanada Nobushige dan Date Masamune membakar seluruh pos pasokan kita di utara. Jika jalur utara jatuh, kita tidak akan pernah bisa melakukan serangan balasan ke arah Kai!"
Ujimasa menghembuskan napas panjang, sebuah hembusan pasrah yang berat. "Arahkan tiga ribu prajurit cadangan dari dinding tengah menuju gerbang utara. Bantu Ujifusa menahan celah itu sampai mati."
"Sesuai perintah Anda!" Perwira itu berbalik dan berlari keluar aula dengan terburu-buru.
Ujimasa menatap lantai kayu di depannya dengan tatapan kosong. Ia tidak menyadari bahwa keputusan mengalihkan sebagian besar pasukan cadangan dari sektor tengah menuju utara adalah persis apa yang ditunggu-tunggu oleh Kuroda Kanbei di atas Gunung Ishigaki—sebuah celah psikologis yang akan menghancurkan pertahanan Odawara tanpa perlu memanjat temboknya.
Namun, di luar tembok batu Odawara yang panik, di dalam rimba belantara Pegunungan Hakone yang diselimuti kabut tebal dan jurang-jurang terjal, pertempuran yang jauh lebih sunyi dan berdarah sedang berlangsung.
Srrr... srrr...
Dedaunan kering pohon sugi tua terinjak halus oleh langkah-langkah yang tak berbobot. Di balik kerapatan vegetasi Hakone—benteng alami yang selama berabad-abad menjadi domain mutlak klan ninja Fuma—kabut putih merayap tebal bagaikan kain kafan.
Rokusuke, pemimpin unit penyusup Suppa milik Kuroda Kanbei yang dulunya selamat dari pembantaian di Gunung Kurama, berjalan merayap di sepanjang celah tebing batu. Bekas luka terkoyak di bahu dan lehernya akibat cakar Karasu Tengu beberapa minggu lalu telah mengering menjadi parut merah yang buruk rupa. Matanya yang tersisa memancarkan keliaran orang yang tak lagi takut pada kematian.
Di belakang Rokusuke, lima belas pembunuh Suppa pilihan merayap dalam keheningan total. Tugas mereka malam ini dari Kuroda Kanbei bukan untuk menyerang benteng, melainkan meretas jalur komunikasi rahasia klan Hojo di Pegunungan Hakone dan memburu para shinobi Fuma yang menjadi mata dan telinga Odawara.
"Jaga jarak," bisik Rokusuke sangat rendah, suaranya hampir tak terdengar di antara deru angin gunung. "Hutan ini milik klan Fuma. Sekali saja kakimu menyenggol tali jebakan, bayangan tempat ini akan mencabut nyawamu."
Seorang prajurit Suppa di belakangnya mengangguk tipis, menggeser belati chokuto-nya agar tak beradu dengan gesper kulit.
Namun, sebelum langkah berikutnya sempat diayunkan, angin malam di celah Hakone mendadak berhenti berhembus.
SWAAT!
Sebuah bayangan raksasa meluncur turun dari dahan pohon cedar setinggi sepuluh meter. Tanpa ada bunyi angin atau desau pakaian, sosok itu mendarat tepat di atas pundak prajurit Suppa di barisan paling belakang.
Dua tangan berukuran tak proporsional—jemarinya panjang, kekar, dan berkuku hitam tajam—mencengkeram rahang dan batok kepala prajurit Suppa tersebut. Dengan sekali sentakan melingkar yang bertenaga raksasa—
KREK!
Tulang leher prajurit itu patah seketika. Pria itu bahkan tak sempat menghembuskan napas jeritan; matanya mendelik, dan tubuhnya yang terkulai kaku ditarik kembali naik ke atas kanopi pohon dalam hitungan detik.
"Penyergapan!" jerit Rokusuke seraya mencabut pedang lurusnya dan melompat mundur.
Dari balik kegelapan kabut Hakone yang pekat, belasan sosok jangkung melangkah keluar dari balik batang-batang pohon besar. Mereka adalah para shinobi klan Fuma—kelompok pembunuh liar pegunungan yang terkenal memiliki postur tubuh tinggi menjulang, kulit pucat bagaikan mayat, dan teknik bertarung yang mengandalkan kebuasan alami di medan terjal.
Di terdepan kelompok itu, berdiri sesosok pria berjangkut kaku dengan tinggi hampir dua meter. Wajahnya tersembunyi di balik topeng kayu bermotif iblis gunung bersungut merah, sementara matanya yang kuning keemasan menatap Rokusuke bagaikan elang menatap mangsa yang terpojok.
"Tikus-tikus dari Kansai..." suara sang pemimpin Fuma bergema parau dan dalam dari balik topeng kayunya. "Kuroda Kanbei berpikir dia bisa menguasai Hakone hanya karena dia mengumpulkan dua ratus ribu prajurit di pantai?"
Rokusuke menggeram, membetulkan pegangan pedangnya dengan kedua tangan yang bersimbah keringat dingin. "Fuma Kotaro..."
"Hutan ini adalah kuburan bagi siapa saja yang tidak diundang oleh klan Hojo," potong sang pemuda Fuma, mengangkat tangan kanannya yang dibalut sarung tangan besi berduri. "Habisi mereka tanpa sisa. Jangan biarkan satu pun dari orang-orang Kanbei kembali ke Gunung Ishigaki!"
KRAK!
Pertempuran dalam gelap meletus di Celah Hakone.
Berbeda dengan pertempuran gaya konvensional di Odawara, perang antara Suppa dan Fuma adalah pembantaian jarak dekat di dalam ruang yang teramat sempit. Para shinobi Fuma bertarung bagaikan monster kelaparan. Mereka memanfaatkan kelenturan tubuh jangkung mereka untuk melompati jurang-jurang tebing, menyambar leher musuh menggunakan kusarigama ---rantai berujung sabit---, atau mencabik tenggorokan lawan menggunakan cakar besi.
Seorang pembunuh Suppa mencoba menusukkan chokuto-nya ke dada prajurit Fuma, namun sang ninja Fuma memiringkan tubuhnya dengan kelincahan yang tak masuk akal, menangkap pergelangan tangan sang penyusup, dan mematahkannya ke arah berlawanan hingga tulang putih menembus kulit. Darah segar menyemprot basah ke atas dedaunan pakis.
Rokusuke bertarung dengan kesetanan. Trauma kekalahan dari para yokai Kurama bertransformasi menjadi amukan amarah yang liar. Pedang lurusnya mengayun memutar, menebas leher seorang ninja Fuma yang mencoba menyerangnya dari samping. Darah hangat menyiram wajah Rokusuke saat ia melompat menghindari tebasan kusarigama.
"Mundur ke arah celah batu!" teriak Rokusuke pada lima prajurit Suppa yang masih tersisa. "Gunakan bom racun belerang!"
BUMM!
Dua bom asap meletus, membumbung tinggi melepaskan uap kuning yang membakar mata dan tenggorokan. Menggunakan kesempatan beberapa sekon tersebut, Rokusuke dan pasukannya yang tersisa berbalik dan melompat menuruni lereng tebing basah menuju arah timur.
Namun klan Fuma tidak melepaskan mangsanya begitu saja. Dari atas dahan-dahan pohon cedar, bayangan-bayangan jangkung itu terus melompati kanopi hutan, mengejar para penyusup Kanbei dengan kecepatan yang sejajar dengan helai angin malam.
Di dasar jurang Hakone yang gelap, Rokusuke berlutut di atas tanah berlumpur, terengah-engah dengan napas yang terasa membakar paru-paru. Ia menoleh ke belakang, menatap kabut tebal yang bergulung-gulung mengisolasi pegunungan itu dari dunia luar.
Ia sadar bahwa meskipun klan Hojo di dalam benteng Odawara telah terpojok oleh kecerdikan Kuroda Kanbei dan amukan Sanada-Date, pegunungan Hakone di balik tembok itu masih merupakan domain berdarah tempat para hantu klan Fuma berkuasa—sebuah pertempuran bayangan yang akan terus menuntut tumpahnya darah hingga detik-detik terakhir runtuhnya Kanto.