Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: CIUMAN PAKSA UNTUK WARISAN 2 TRILIUN
Pagi hari di mansion keluarga Wijaya tidak seperti pagi hari di rumahku.
Aku terbangun bukan karena suara ayam berkokok atau suara berisik tetangga, tapi karena aroma kopi mahal dan suara pelayan yang mengetuk pintu dengan sangat sopan.
"Nyonya, Tuan, sarapan sudah siap di bawah. Kakek menunggu."
Aku membuka mata dan langsung membeku.
Aku masih berada di atas ranjang king size itu, tapi posisiku sudah tidak lagi membelakangi Arga.
Entah sejak kapan, saat aku tertidur pulas semalam, aku sudah melewati garis bantal yang dibuat Arga. Bahkan lebih parah, aku sekarang tidur di atas dada bidang Arga, memeluk pinggangnya erat seperti guling, dan kepalaku berada di lehernya.
Dan Arga... dia sudah terbangun. Matanya yang abu-abu gelap itu menatapku tajam dari atas, tapi wajahnya tidak marah, hanya datar dan sulit dibaca.
Aku langsung terlonjak bangun seperti kesetrum listrik.
"MAAF! Maaf Pak! Saya tidak sengaja! Saya tidur ngigau! Saya tidak sengaja melewati garis!" Aku langsung mundur sampai hampir jatuh dari ranjang, menarik selimut untuk menutupi kimono tipisku yang sudah sedikit berantakan.
Arga bangkit perlahan. Dia tidak memakai baju, hanya celana tidur hitam. Rambutnya berantakan, tapi justru membuatnya terlihat lebih tampan dan liar.
"Baru satu malam, kamu sudah melanggar aturan pertama, Sinta," katanya dengan suara serak khas bangun tidur yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Saya... saya benar-benar tidak sengaja Pak... saya biasanya kalau dingin peluk guling..."
"Dingin? Di kamar ini ada pengatur suhu 24 derajat. Alasan murahan," Arga mencibir, tapi aku melihat telinganya sedikit memerah.
Dia berdiri dan masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan apa-apa lagi, meninggalkanku yang masih gemetar malu di atas ranjang.
Setelah mandi dan berganti pakaian, kami turun untuk sarapan. Meja makan panjang di mansion itu sudah dipenuhi keluarga besar Wijaya. Semua mata kembali tertuju pada kami, terutama padaku.
Kakek duduk di ujung meja, terlihat sangat bahagia.
"Sinta! Arga! Sini duduk dekat Kakek! Semalam tidur nyenyak?" tanya Kakek dengan senyum penuh arti.
Aku hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. Wajahku langsung merah padam seperti tomat.
Arga dengan santainya menarik kursi untukku dan duduk di sampingku. Tangannya langsung merangkul kursiku dengan mesra.
"Sangat nyenyak Kek, Sinta tidurnya... sangat lengket," jawab Arga sambil menatapku dengan senyum nakal.
Aku menginjak kaki Arga di bawah meja karena kesal. Arga hanya meringis sedikit tapi senyumnya makin lebar.
Tante Mira yang kemarin dihukum Arga, kini mencoba mencari muka.
"Sinta, kamu kuliah dimana Nak? Arga bilang kamu mahasiswi panti asuhan yang sangat pintar?"
Ini jebakan. Aku tahu ini jebakan. Mereka ingin tahu latar belakangku.
Aku menatap Arga panik. Arga memberi isyarat kecil agar aku tenang.
"Saya... saya kuliah di Universitas Negeri Jakarta Tante, semester 6 jurusan sastra," jawabku jujur.
"Oh, UNJ? Universitas negeri? Wah hebat ya bisa dapat beasiswa? Pasti IPK nya tinggi?" Tante Mira tersenyum sinis, seolah tidak percaya anak miskin sepertiku bisa kuliah.
Sebelum aku sempat menjawab, Arga memotong dengan suara dingin.
"IPK Sinta 3.9 Tante. Dia lulusan cumlaude tercepat di angkatannya. Dan dia dapat beasiswa penuh karena dia pintar, bukan karena koneksi seperti anak Tante yang masuk universitas swasta lewat jalur belakang."
Satu meja langsung hening. Tante Mira wajahnya merah padam menahan malu. Beberapa sepupu menahan tawa.
Aku menatap Arga dengan kaget. Bagaimana dia tahu IPK ku 3.9? Aku tidak pernah cerita. Apakah dia menyelidiki semua tentangku?
Arga berbisik di telingaku, "Saya sudah baca semua data pribadi kamu, Sinta Maharani. Dari akte lahir sampai nilai semester 1. Jadi jangan coba-coba bohong pada saya."
Dasar penguntit.
Sarapan berlanjut dengan canggung. Setelah sarapan, Kakek mengumumkan sesuatu yang membuat semua orang terkejut.
"Hari ini, karena Arga sudah membawa istrinya, Kakek mau foto keluarga besar! Semua harus ikut! Dan Arga, Sinta, kalian harus ciuman di depan foto itu! Kakek mau pajang di ruang tamu! Biar semua orang tahu cucu Kakek sudah bahagia dan tidak dingin lagi!"
Ciuman?! Di depan semua orang?!
Aku langsung menatap Arga dengan mata melot. Arga juga terlihat kaget, rahangnya mengeras.
"Kek, tidak usah ciuman, kami..."
"Tidak bisa! Harus! Ini perintah Kakek! Kalau tidak ciuman, berarti pernikahan kalian palsu! Kakek tidak mau warisan jatuh ke pasangan palsu!"
Semua keluarga besar langsung bersorak mendukung.
"Cium! Cium! Cium!"
Ini bencana. Ini adalah skenario terburuk.
Fotografer profesional sudah disiapkan di taman mansion yang indah. Latar belakangnya adalah air mancur dan bunga-bunga mawar. Semua keluarga besar berbaris rapi.
Aku dan Arga berdiri di tengah, sebagai pasangan pengantin baru.
Fotografer berteriak, "Oke Tuan Arga, Nyonya Sinta, sekarang peluk mesra! Lebih dekat! Sekarang... ciuman! Ciuman yang romantis untuk Kakek!"
Aku gemetar. Aku belum pernah ciuman seumur hidupku. Ciuman pertamaku akan direnggut di depan puluhan orang demi warisan 2 Triliun?
Arga menatapku. Wajahnya sangat dekat. Aku bisa melihat dengan jelas bulu matanya yang panjang, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang tipis.
"Sinta, tutup mata," bisik Arga pelan, hanya aku yang dengar.
"Kenapa..."
"Karena saya tidak mau kamu melihat wajah benci saya saat menciummu. Dan saya juga tidak mau melihat wajah takut kamu. Anggap saja ini akting."
Kata-katanya menyakitkan, tapi aku menutup mata. Air mataku hampir jatuh.
Detik berikutnya, aku merasakan tangan Arga yang besar memegang tengkukku dengan lembut, dan bibirnya yang hangat menempel di bibirku.
Lembut. Sangat lembut.
Bukan ciuman yang kasar atau menuntut seperti yang aku bayangkan. Ini ciuman yang pelan, hangat, dan... penuh perasaan.
Aroma Alpha dominannya menyerbu hidungku, membuat kepalaku pusing dan lututku lemas. Aku harus berpegangan pada jas Arga agar tidak jatuh.
Untuk sesaat, aku lupa bahwa ini adalah sandiwara. Aku lupa bahwa pria ini membenciku. Aku hanya merasakan bibirnya yang lembut di bibirku, dan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Suara tepuk tangan dan sorakan keluarga besar terdengar, tapi terasa jauh.
Arga melepaskan ciumannya setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Dia menatapku, matanya sedikit berkaca-kaca, napasnya sedikit terengah.
Aku membuka mata, dan kami saling bertatapan. Wajah kami berdua merah padam.
Kakek tertawa bahagia di kursi rodanya. "Hahaha! Bagus! Itu baru cucu Kakek! Akhirnya kamu bisa mencium wanita, Arga! Kakek kira kamu tidak normal!"
Semua orang tertawa. Foto itu berhasil diambil. Foto ciuman pertama kami.
Setelah sesi foto selesai, Arga langsung menarikku masuk ke dalam mansion, menjauh dari keramaian, ke sebuah balkon yang sepi.
Dia mendorongku ke dinding balkon dan menatapku dengan tatapan marah, tapi juga bingung.
"Kenapa kamu gemetar? Kenapa kamu... membalas ciuman saya?" tanya Arga dengan suara tertahan.
Aku terkejut. "Saya... saya tidak membalas..."
"Kamu membalas! Bibir kamu bergerak!"
Aku menunduk malu. Aku tidak sadar, tapi mungkin... mungkin aku memang sedikit membalas karena terbuai.
"Itu... itu refleks Pak... saya..."
"Jangan pernah lakukan itu lagi!" Arga membentak, tapi suaranya tidak sekejam biasanya. "Ingat Pasal 2 di kontrak! TIDAK BOLEH JATUH CINTA! Ciuman tadi hanya untuk warisan! Jangan pernah bawa perasaan!"
Dia kemudian pergi meninggalkanku sendirian di balkon, dengan bibir yang masih terasa panas bekas ciumannya.
Aku menyentuh bibirku pelan. Ciuman pertama ku. Direbut oleh CEO Rogue yang membenciku, demi warisan 2 Triliun.
Tapi kenapa... kenapa rasanya tidak seburuk yang aku kira? Kenapa jantungku masih berdegup kencang sampai sekarang?
Sinta, sadar! Dia musuhmu! Dia membeli mu! Jangan bodoh!
Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir perasaan aneh yang mulai tumbuh di hatiku.
Satu tahun. Aku harus bertahan satu tahun tanpa jatuh cinta pada Arga Wijaya.
Tapi dengan ciuman barusan... mampukah aku?
(Bersambung...)
""Jangan bosen yaa ^_^""