Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PENGKHIANATAN KEDUA
Lampu gantung kristal di ruang kerja pimpinan PT Anindita Gemilang Utama memantulkan cahaya hangat yang tenang. Namun, suasana di dalam ruangan itu mendadak membeku.
Ranti berdiri di balik meja kerjanya, menatap sebuah map manila bergaris kuning yang disodorkan oleh Pak Hendra. Di samping Pak Hendra, berdiri seorang wanita berblazer cream dengan rambut terikat rapi—Maya, sekretaris pribadinya yang telah mendampingi Ranti selama enam tahun terakhir. Wanita yang selalu menyiapkan teh hangat Ranti setiap pagi, yang mengetahui jadwal Bima, dan yang paling dipercaya Ranti untuk memegang dokumen-dokmentasi rahasia perusahaan.
"Bu Ranti," suara Pak Hendra memecah keheningan yang mencekam. "Tim penyidik forensik digital Polda Metro Jaya baru saja mengintersepsi lalu lintas email rahasia perusahaan cangkang milik Sony. Seluruh alur kebocoran data internal, laporan keuangan bulanan, hingga salinan surat-surat warisan Mendiang Ibu Kirana... semuanya dikirim dari satu alamat IP lokal."
Pak Hendra menunjuk ke arah Maya yang menunduk dalam-dalam dengan tubuh gemetar hebat.
"Alamat IP itu milik komputer pribadi Maya," lanjut Pak Hendra kaku.
Ranti mematung. Matanya menatap Maya dengan pendar tak percaya yang teramat dalam. Rasa sakit yang menghantam dadanya kali ini bukan lagi kepedihan kemarahan, melainkan rasa hampa yang membakar. Jika Sony mengkhianatinya sebagai suami, Maya adalah orang yang ia anggap sebagai tangan kanan sekaligus tempatnya berbagi beban di kantor selama bertahun-tahun.
"Maya..." panggil Ranti, suaranya teramat pelan, hampir bisikan.
Tangan Maya bergetar. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah. Wanita itu berlutut di atas lantai marmer, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Maaf, Bu Ranti... Maafkan saya..." tangis Maya pecah, suaranya tersengal-sengal diiringi lelehan air mata yang merusak riasan wajahnya.
Ranti menatapnya lama. Tidak ada amarah yang meluap, tidak ada bentakan kasar. Hanya ada tatapan dingin yang menusuk hingga ke dasar jiwa.
"Sejak kapan?" tanya Ranti datar.
Maya menyapu air matanya dengan jemari yang gemetar, mendongak menatap wajah Ranti yang begitu tenang namun mematikan.
"Sejak dua tahun lalu, Bu..." aku Maya akhirnya dengan suara bergetar.
Ranti terdiam.
Dua tahun.
Kalimat itu bergema di dalam kepala Ranti seperti dentang lonceng kematian. Dua tahun lalu... artinya ketika Ranti masih mati-matian menahan rasa sakit demi mempertahankan pernikahannya dengan Sony, ketika Ranti masih mempercayai Sony sebagai suami yang polos, dan ketika Ranti menyeduhkan kopi setiap pagi untuk pria itu... orang-orang di sekelilingnya sudah memainkan permainan lain di belakang punggungnya.
Maya, orang yang selalu Ranti beri bonus melimpah, orang yang selalu Ranti dengarkan keluh kesahnya... ternyata adalah mata-mata yang menyuapi Sony dengan seluruh informasi rahasia untuk merampas perusahaan ibunya.
"Kenapa, Maya?" tanya Ranti lirih, tatapannya menyipit. "Uang? Atau janji manis dari Sony?"
"Saya... saya terdesak utang keluarga, Bu Ranti..." rintih Maya seraya bersujud di lantai. "Pak Sony menjanjikan posisi direktur keuangan dan komisi satu persen dari pengalihan dana itu kalau rencana ini berhasil. Saya khilaf, Bu... Saya mohon jangan laporkan saya ke polisi..."
Ranti menghembuskan napas panjang melalui hidungnya. Ia berpaling menatap jendela luar, memandangi gemerlap Jakarta dari lantai teratas gedung.
"Pak Hendra," panggil Ranti tanpa menoleh kembali ke arah Maya.
"Saya, Bu Ranti?"
"Serahkan seluruh bukti keterlibatan Maya ke tim penyidik Polda. Biarkan hukum yang bekerja."
"Tidak, Bu Ranti! Mohon maafkan saya, Bu!" jerit Maya histeris saat dua orang petugas keamanan kantor masuk dan memegang kedua lengannya untuk membawanya keluar dari ruangan.
Pintu kayu tebal tertutup rapat kembali. Ruangan itu kembali hening.
Ranti melangkah perlahan menuju sofanya, lalu terduduk lemas. Rasa lelah yang teramat sangat menjalar ke seluruh persendiannya. Pengkhianatan Sony ternyata tidak berdiri sendiri; pria itu telah meracuni lingkaran terdekat Ranti hingga tak bersisa.
Malam Hari – Restoran Fine Dining, Kawasan Senopati
Udah malam Jakarta terasa sejuk. Di sebuah restoran berkonsep fine dining dengan pencahayaan temaram dan alunan musik jazz lembut di kawasan Senopati, Ranti duduk sendirian di sudut meja dekat jendela kaca besar.
Malam ini, Ranti sengaja memilih untuk berjarak sejenak dari seluruh urusan kantor dan masalah hukum. Ia ingin menikmati quality time untuk dirinya sendiri. Di atas meja, tersaji piring berisi wagyu ribeye steak serta sebuah gelas berkaki tinggi berisikan cairan red wine berkualitas tinggi.
Ranti mengagkat gelasnya, menyesap red wine itu perlahan. Cairan hangat beraroma oak dan buah bekatul itu membasahi tenggorokannya, memberikan sensasi rileks yang sedikit demi sedikit mengikis gumpalan stres di kepalanya.
Ia memandangi pantulan dirinya di kaca jendela. Rambut bob barunya tertata jatuh dengan anggun, memancarkan kecantikan wanita matang yang telah berhasil melewati berbagai tikaman pengkhianatan.
Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang hangat dan berwibawa menyapa lembut dari samping mejanya.
"Selamat malam, Bu Ranti."
Ranti terkejut pelan. Ia menoleh dan mendapati seorang pria berjas abu-abu gelap tanpa dasi berdiri di dekat mejanya. Pria bertubuh tegap dengan kacamata berbingkai tipis dan pendar mata yang sangat teduh.
Hakim Pratama Farhan Arisya.
Ranti refleks meletakkan gelas wine-nya, mengulas senyum sopan namun agak canggung. "Pak Hakim Farhan? Selamat malam..."
Farhan tersenyum tipis—sebuah senyuman hangat yang sangat berbeda dari raut wajah resminya saat berada di atas mimbar persidangan dua hari lalu.
"Maaf kalau saya mengganggu quality time Anda," tutur Farhan ramah. "Saya tidak menyangka akan bertemu dengan Anda di restoran ini."
"Ah, tidak apa-apa, Pak Farhan. Silakan," jawab Ranti sopan, mengisyaratkan tangan ke arah kursi kosong di depannya. "Anda sendirian juga?"
"Iya, baru saja selesai rapat koordinasi dengan Ikatan Hakim di daerah sini," sahut Farhan seraya menarik kursi dan duduk dengan gerakan yang teramat tenang dan santai.
Seorang pelayan mendekat dan Farhan memesan secangkir black coffee hangat.
Setelah pelayan berlalu, suasana di antara mereka sempat hening sejenak. Ranti menatap pria di hadapannya. Pendar mata Farhan terasa begitu familiar, membawa kembali potongan memori yang baru kemarin sore ia temukan di album foto tua milik ibunya.
Farhan memandangi Ranti yang sedang menggenggam kaki gelas wine-nya. Tatapan Farhan begitu lembut, penuh ketulusan yang tak pernah Ranti dapatkan dari pria mana pun selama lima tahun terakhir.
"Bagaimana kabar Anda, Ranti?" tanya Farhan pelan. Kali ini, ia tidak menggunakan imbuhan "Bu" seperti di ruang sidang.
Ranti tersenyum tipis, menghembuskan napas rileks. "Mulai membaik, Pak Farhan. Meski... ya, ternyata membersihkan sisa-sisa pengkhianatan itu butuh proses yang lumayan menguras energi."
Farhan mengangguk paham. Kopinya datang, dan ia menyesapnya sedikit sebelum menatap Ranti kembali dengan binar mata yang sarat akan kenangan masa lalu.
"Kamu masih suka termenung kalau lagi stres ya, Ran?" ujar Farhan tiba-tiba.
Ranti tertegun. Alisnya terangkat sedikit. "Maaf?"
Farhan tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat renyah dan menenangkan. Ia meletakkan cangkir kopinya, lalu memajukan sedikit tubuhnya ke arah meja.
"Kamu sepertinya benar-benar lupa ya?" tutur Farhan dengan nada berbisik gembira. "Aku ini Farhan... Farhan anaknya Ibu Rida, tetangga sebelah rumahmu di kompleks Menteng dulu."
DEG!
Meski Ranti sudah mengetahuinya dari foto tua kemarin, mendengar Farhan mengucapkannya secara langsung dengan nada suara yang begitu hangat membuat dada Ranti berdesir hebat.
"Kamu... Farhan kecil berkacamata tebal yang suka main kapal kayu di bawah pohon kamboja?" goda Ranti, matanya berbinar haru seraya menyandarkan tangannya di meja.
Farhan tertawa lepas, mengusap belakang lehernya dengan agak canggung. "Ternyata kamu ingat kapal kayu itu! Iya, Ran. Aku Farhan yang dulu sering kamu usili dan kamu suruh memegang tas sekolahmu saat kita pulang main."
Suasana kaku di antara mereka seketika meleleh total. Tembok formalitas antara Hakim dan Penggugat runtuh, digantikan oleh kehangatan dua sahabat masa kecil yang kembali dipertemukan oleh takdir.
"Aku benar-benar tidak menyangka," tutur Ranti dengan pendar mata yang hangat. "Waktu di ruang sidang kemarin... aku sempat merasa tatapanmu sangat familiar. Tapi aku tidak berani menyapa atau memastikan."
"Aku memang sengaja menjaga profesionalitas selama proses persidangan berlangsung, Ran," jelas Farhan jujur. "Sebagai hakim, aku harus berdiri netral di atas hukum. Tapi di dalam hatiku... aku sangat bersyukur bisa mengawal proses hukummu dan memastikan kamu mendapatkan kembali kebebasan serta hak-hakmu yang dirampas."
Ranti menatap Farhan dalam-dalam. Ada rasa haru yang membuncah di dalam dadanya. Di tengah maraknya pengkhianatan dari suami dan sekretaris pribadinya, Tuhan mendatangkan seorang teman masa kecil yang tetap memegang janji perlindungannya hingga dewasa.
"Terima kasih, Farhan..." bisik Ranti tulus. "Kalimat penutup yang kamu ucapkan di ruang sidang kemarin... tentang merawat diri dan mekar kembali... itu benar-benar menguatkan jiwaku."
Farhan menatap Ranti dengan pendar mata yang teramat dalam dan tulus.
"Aku cuma mengucapkan apa yang pantas kamu dapatkan, Ranti," sahut Farhan lembut. "Kamu sudah melewati badai yang sangat besar. Jangan biarkan pengkhianatan orang-orang itu merenggut kebahagiaan dan masa depanmu lagi."
Farhan merogoh saku jasnya, meraba sebuah benda kecil yang selalu ia bawa, namun ia memilih untuk menyimpannya terlebih dahulu.
"Mulai malam ini," lanjut Farhan dengan senyuman hangat yang menenangkan, "kamu tidak perlu berjuang sendirian lagi. Jika kamu butuh teman untuk berbagi cerita atau sekadar minum kopi tanpa ada drama persidangan... aku selalu ada di sini sebagai Farhan, teman masa kecilmu."
Ranti mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman paling tulus dan indah yang pernah memancar dari wajahnya. Malam itu, di tengah denting gelas wine dan aroma kopi hangat, luka pengkhianatan kedua di kantornya tak lagi terasa menyiksa. Ranti tahu, di balik puing-puing masa lalu yang hancur, sebuah awal baru yang jauh lebih indah dan aman tengah menantinya di depan mata.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.