🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Batin Dan Harapan Baru
Udara di taman belakang kediaman Xiao masih terasa sejuk, namun ada perubahan halus yang mulai terasa. Cahaya matahari sore menyelinap masuk melewati celah dinding tinggi, menimpa tanah yang kering dan reruntuhan bunga yang layu. Shen Yue berdiri diam di tengah taman, matanya meneliti setiap sudut dengan pandangan tajam dan teliti, seolah sedang memeriksa denyut nadi seorang pasien yang sakit parah.
Di sebelahnya, Xiao Lei berdiri tegak dengan wajah penuh semangat, tangannya yang besar menggenggam ujung jubahnya sendiri dengan cemas namun penuh harap. Di matanya, gadis kecil di sampingnya ini bukan sekadar penjual bunga biasa, melainkan satu-satunya orang yang mampu melakukan keajaiban di tempat yang telah lama mati ini.
"Yue... apa yang harus kita lakukan pertama kali?" tanya Xiao Lei berbisik, takut suaranya terlalu keras dan akan merusak konsentrasi Shen Yue. Ia menatap tanah kering di bawah kakinya dengan ragu. "Tanahnya keras sekali, kering dan berdebu. Sudah bertahun-tahun tidak ada hujan yang benar-benar membasahi tempat ini."
Shen Yue berlutut perlahan, tangannya yang kurus namun kokoh menyentuh permukaan tanah itu. Ia meremas sedikit gumpalan tanah yang berwarna cokelat kusam itu, merasakan teksturnya, suhunya, dan sisa kehidupan yang ada di dalamnya.
"Tanah ini bukan kering karena kurang air, Xiao Lei," jawab Shen Yue pelan, suaranya tenang namun yakin. Ia mengangkat wajahnya, menatap pemuda itu dengan pandangan tajam yang menembus jauh ke dalam. "Tanah ini kering karena 'beku'. Energi yang ada di sini, suasana hatimu... atau lebih tepatnya suasana hati Xiao Yi, begitu dingin dan berat hingga memadat ke dalam tanah, menyerap segala kelembapan dan kehidupan. Ini bukan masalah alam, tapi masalah jiwa."
Xiao Lei terdiam. Wajahnya yang ceria perlahan meredup, digantikan oleh sorot mata sedih yang dalam. Ia menundukkan kepalanya, jari-jarinya bermain-main dengan ujung jubahnya yang lebar.
"Aku tahu..." gumamnya lirih. "Xiao Yi selalu merasa dunia ini dingin, kejam, dan tidak ada gunanya. Dia selalu marah, selalu curiga, selalu merasa semua orang ingin mencelakainya. Dia memagari hatinya setebal tembok istana, tidak membiarkan siapa pun masuk. Dan karena aku ada di dalam sini bersamanya... aku pun ikut merasakan dinginnya itu. Aku berusaha sekeras mungkin untuk tetap ceria, untuk tetap tertawa, tapi kadang... dingin itu terlalu kuat, Yue. Aku takut... aku takut suatu saat nanti aku pun akan hilang tertutup oleh kegelapan itu."
Suara Xiao Lei bergetar pelan, dan untuk sesaat, bayangan wajah itu berubah sedikit. Tatapan matanya yang biasanya cerah kini terlihat kosong, dingin, dan penuh rasa sakit—sama persis seperti tatapan Xiao Yi. Tubuh tingginya sedikit menegang, aura yang tadinya hangat dan ramah perlahan berubah menjadi tekanan udara yang berat dan menyesakkan.
Shen Yue langsung bangkit berdiri, tangannya cepat menggenggam kedua tangan Xiao Lei, menatap lurus ke dalam mata yang mulai kabur itu.
"Hei, lihat aku, Xiao Lei! Lihat aku!" seru Shen Yue tegas namun lembut. "Kau tidak akan hilang. Selama aku ada di sini, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau itu penting. Kebahagiaanmu, keceriaanmu, cintamu pada keindahan... itu adalah penyeimbang terbesar untuk Xiao Yi. Tanpa kau, dia akan benar-benar menjadi iblis tanpa hati, dan dia akan hancur sendiri."
Shen Yue meremas tangan itu lebih erat, mengalirkan kehangatan dari telapak tangannya.
"Kau harus kuat. Kau harus bertahan. Karena aku butuh kau. Dunia ini butuh kau. Dan... Xiao Yi sendiri... jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia juga sangat butuh kau."
Keheningan melanda sejenak. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah kering dan bunga mawar merah yang masih bertahan hidup di sudut sana.
Perlahan-lahan, kabut dingin di mata Xiao Lei menghilang kembali. Cahaya cerah dan polos itu kembali bersinar, meski kini ada sedikit ketegasan dan kekuatan baru di dalamnya. Ia mengangguk pelan, lalu tersenyum—senyum yang lebih matang, lebih kuat dari sebelumnya.
"Kau benar, Yue. Aku harus kuat. Aku tidak boleh kalah sama dia. Kalau aku kalah, siapa yang akan membuat dia tertawa? Siapa yang akan mengingatkannya bahwa dunia ini indah?" jawab Xiao Lei dengan suara mantap. Ia menarik tangannya, lalu mengepalnya di udara seolah sedang bersumpah setia. "Aku janji! Aku akan jaga diriku sendiri, aku akan jaga dia, dan aku akan bantu kau mengubah taman ini menjadi paling indah di dunia!"
Shen Yue tersenyum lega. Ia mengusap pelan lengan Xiao Lei sebagai tanda dukungan, lalu berbalik menatap sekeliling taman kembali.
"Bagus. Nah, sekarang mari kita mulai pekerjaannya. Pertama-tama, kita harus mencairkan 'bekuan' ini. Kita butuh air, tapi bukan sekadar air biasa. Kita butuh air yang dibawa dengan niat tulus, dengan rasa sayang. Kau ambilkan dua ember air dari kolam utama di depan, ya? Yang airnya jernih dan mengalir. Dan ingat, saat kau membawanya, bayangkan kau sedang membawa kebahagiaan, membawa kehangatan. Jangan bawa dengan perasaan marah atau kesal. Paham?"
Xiao Lei mengangguk antusias, lalu berlari kecil keluar taman dengan langkah ringan, persis seperti anak kecil yang mendapat tugas penting.
Setelah sosoknya menghilang di balik pintu, suasana hening kembali menyelimuti tempat itu. Namun, belum sempat Shen Yue mengambil napas panjang, udara di sekitar berubah drastis. Suhu turun tajam, membuat uap napasnya terlihat samar-samar di udara. Aura yang sangat dikenalinya—dingin, angkuh, dan penuh bahaya—kembali hadir dan menguasai ruangan itu.
Langkah kaki berat terdengar mendekat. Bukan langkah lincah Xiao Lei, melainkan langkah tegap, berirama, dan penuh dominasi.
Shen Yue menoleh perlahan.
Xiao Yi berdiri di sana, tidak jauh darinya. Wajahnya kaku tanpa ekspresi, matanya hitam pekat menatap tajam ke arah Shen Yue. Ia tidak tersenyum, tidak juga terlihat marah. Ia hanya terlihat... dingin. Sangat dingin, seolah tidak ada satu pun perasaan manusia yang tersisa di dalam dada bidang itu.
"Kau membuang-buang waktumu," ucap Xiao Yi pelan, suaranya berat dan datar, tanpa nada emosi. Ia melangkah maju mendekat, berhenti tepat di depan Shen Yue. "Tempat ini terkutuk. Sejak aku kecil, tempat ini selalu mati apa pun yang ditanam. Tidak ada yang bisa hidup di dekatku. Tidak ada tanaman, tidak ada hewan, dan... tidak ada manusia. Kau tidak akan bisa mengubah apa pun, Yue. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri."
Kalimat itu terdengar seperti pernyataan fakta yang dingin, namun di baliknya tersembunyi rasa sakit yang mendalam dan rasa takut akan kehilangan. Xiao Yi tahu betul apa kutukan keberadaannya. Dia adalah kehancuran bagi segala sesuatu yang indah. Itulah sebabnya dia selalu menjauhkan diri, selalu membunuh perasaan, karena dia yakin bahwa semakin dekat seseorang dengannya, semakin cepat orang itu akan hancur.
Shen Yue menatapnya lama sekali. Ia tidak mundur, tidak juga takut menghadapi aura mematikan yang dipancarkan pria itu. Sebaliknya, ia justru melangkah maju satu langkah, mempersempit jarak di antara mereka hingga hanya tersisa beberapa inci saja.
"Kau bilang tidak ada yang bisa hidup di dekatmu?" tanya Shen Yue pelan, suaranya lembut namun tegas, matanya menembus lurus ke dalam jurang gelap di manik mata itu. "Lalu bagaimana dengan bunga mawar merah di sudut sana? Dia hidup. Dia mekar indah, meski dia sendirian. Dia punya duri tajam, sama sepertimu. Dia tumbuh di tanah yang keras dan dingin ini, sama sepertimu. Dan dia tetap bertahan, tetap indah, dan memberikan keharuman pada udara."
Shen Yue mengangkat tangan kanannya perlahan, jari-jarinya yang kurus menyentuh dada bidang Xiao Yi, tepat di atas jantung yang berdetak kencang di balik jubah hitam itu.
"Dan bagaimana denganku, Xiao Yi? Aku ada di sini. Aku berdiri tepat di depanmu. Aku bernapas, aku hidup, dan aku tidak hancur. Justru sebaliknya... aku merasa semakin kuat setiap kali berhadapan denganmu. Jadi jangan pernah bilang tidak ada yang bisa hidup di dekatmu. Kau sendiri yang membangun tembok tinggi itu, kau sendiri yang menolak kehidupan masuk. Kau takut menyakiti orang lain, jadi kau memilih untuk sendirian dan berpura-pura bahwa kau tidak peduli."
Xiao Yi terdiam. Tubuh tingginya yang kokoh itu sedikit bergetar. Tatapan tajamnya bergoyang, seolah kata-kata gadis itu adalah palu besar yang menghantam benteng pertahanan yang ia bangun selama puluhan tahun.
"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan..." bisik Xiao Yi parau, suaranya sedikit pecah. Ia memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan mata yang begitu jernih dan menembus itu. "Kau tidak tahu betapa mengerikannya diriku. Kau belum melihat sisi tergelapku. Sisi yang bisa menghancurkan segalanya tanpa ampun. Jika kau tahu... kau pasti akan lari sejauh mungkin, sama seperti orang-orang lain."
Shen Yue tersenyum sedih namun lembut. Ia menggerakkan tangannya naik ke atas, menyentuh pipi dingin itu, memutar wajah Xiao Yi agar kembali menatapnya.
"Mungkin aku belum melihat semuanya. Tapi aku sudah melihat cukup banyak untuk tahu satu hal," jawab Shen Yue pelan dan mantap. "Di balik kekejamanmu, di balik dinginmu, di balik rasa takutmu... ada jiwa yang terluka parah. Ada anak kecil yang dulu kesepian, yang tidak mendapatkan kasih sayang, yang dipaksa tumbuh menjadi monster agar tidak dimakan oleh dunia ini. Aku tidak takut padamu, Xiao Yi. Aku tidak akan lari. Karena aku tahu... kau pun sebenarnya sangat ingin diselamatkan, sama seperti Xiao Lei."
Air mata tidak mengalir, tapi kilatan di mata Xiao Yi berubah drastis. Kekerasan di matanya meleleh perlahan, digantikan oleh rasa lemah yang jarang sekali ditunjukkannya pada siapa pun. Ia menangkap tangan kecil yang menyentuh pipinya itu dengan kedua tangannya yang besar dan kasar, menekankannya lebih erat ke wajahnya, seolah itu adalah satu-satunya sumber kehangatan di dunia yang beku ini.
"Jangan pergi, Yue..." bisik Xiao Yi lirih, suaranya begitu rendah dan rapuh, sangat berbeda dengan suara menggeramannya yang biasa. "Apa pun yang terjadi... apa pun yang kau lihat nanti... jangan tinggalkan aku. Jangan berbalik dan lari. Karena jika kau pergi... maka benar-benar tidak ada lagi yang tersisa dari diriku."
Di sudut terjauh kesadarannya, bayangan samar sosok ketiga—Xiao Mo—bergerak gelisah dalam tidur panjangnya, merasakan getaran emosi yang kuat itu. Namun untuk saat ini, ia masih terkurung rapat, diam di dalam kegelapan.
Shen Yue mengusap pipi dingin itu dengan ibu jarinya, memberikan kenyamanan yang tulus.
"Aku janji. Selama aku bernapas, aku akan tetap di sini. Aku akan menjadi bunga yang mekar di tengah salju terdingin sekalipun. Dan aku akan menjadi duri yang paling tajam untuk melindungi apa yang aku miliki," jawab Shen Yue tegas.
Belum sempat Xiao Yi menjawab, langkah kaki riang terdengar mendekat kembali.
"Yue! Aku sudah bawa airnya! Banyak sekali, dan airnya jernih banget!" seru Xiao Lei dari kejauhan, suaranya ceria dan penuh semangat.
Sekejap saja, ekspresi wajah Xiao Yi berubah kembali. Kerapuhan itu hilang ditelan bayangan, digantikan oleh ketegasan dingin yang biasa. Ia melepaskan tangan Shen Yue perlahan, melangkah mundur selangkah, dan dalam sekejap mata, aura ceria kembali menguasai tubuh itu.
Xiao Lei muncul kembali dengan senyum lebar, menggendong dua ember besar berisi air jernih dengan mudahnya, seolah itu hanya berisi kapas. Ia menatap Shen Yue dengan mata berbinar, sama sekali tidak ingat apa yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu.
"Aku datang tepat waktu ya? Hehehe! Ayo, ayo! Kita siram tanah ini sampai basah kuyup! Biar dia tahu rasanya disayang!" seru Xiao Lei riang.
Shen Yue menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan senyum tipis. Ia menatap pemuda di depannya ini dengan pandangan yang semakin dalam dan penuh pengertian.
"Ya, ayo kita mulai," jawab Shen Yue lembut.
Matahari sore mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang hangat menyelimuti taman yang dulu mati itu. Di antara tanah kering dan reruntuhan bunga, dua jiwa yang bertolak belakang namun saling terikat itu bekerja sama, menabur benih harapan baru.
Shen Yue tahu, perjalanan ini masih sangat panjang, penuh duri dan bahaya. Di luar sana, musuh-musuh sedang mengintai, dan di dalam sana, kegelapan terdalam masih menunggu waktunya. Tapi untuk saat ini, di detik yang damai ini, ia merasa yakin.
Selama ada keinginan untuk hidup, dan selama ada kasih sayang yang tulus... kelopak bunga itu pasti akan mekar kembali, lebih indah dan lebih kuat dari sebelumnya.