NovelToon NovelToon
Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:57.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.

Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.

Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Natalia

Di kediaman Natalia, suasana terasa lebih tenang setelah Zhang Tian dan A-Lin membersihkan diri.

Mereka kini duduk berhadapan di ruang tamu mewah dan rapi itu, sementara Natalia memperhatikan keduanya dengan tatapan tenang.

Wulan berdiri di sampingnya, sesekali melirik tamu mereka dengan rasa penasaran.

Zhang Tian menarik napas pelan sebelum akhirnya membuka pembicaraan. “Nona Natalia, dalam perjalanan kami ke sini, kami mendengar kabar penting,” ujarnya dengan nada serius. Ia menatap langsung ke arah Natalia, memastikan perhatiannya tertuju padanya.

Natalia sedikit mengangkat alis, memberi isyarat agar ia melanjutkan. “Kabar apa?” tanyanya singkat. Suaranya terdengar datar, tetapi matanya menunjukkan ketertarikan.

Zhang Tian merapatkan kedua tangannya di atas meja. “Saat ini sedang terjadi wabah yang sangat berbahaya di beberapa wilayah Kekaisaran Pedang Langit,” katanya perlahan. “Sudah banyak korban berjatuhan, dan bahkan tabib istana pun belum mampu mengatasinya.”

Wulan langsung menutup mulutnya dengan kaget. “Wabah?” gumamnya pelan. “Kenapa kita tidak mendengar apa pun sebelumnya?”

Natalia juga terlihat terkejut, meski ia cepat mengendalikan ekspresinya. Ia menatap Zhang Tian lebih tajam. “Dari mana Tuan Zhang mendapatkan informasi itu?” tanyanya.

Zhang Tian menjawab tanpa ragu. “Kaisar telah membuka sayembara,” ujarnya. “Siapa pun yang mampu menghentikan wabah itu akan diberi hadiah besar.”

Suasana mendadak hening. Natalia menundukkan pandangannya sejenak, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya.

“Begitu?” gumamnya lirih.

Dalam hatinya, sebuah rencana mulai terbentuk dengan jelas. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh ia lewatkan. Kesempatan untuk masuk ke istana kekaisaran dan mendapatkan sesuatu yang selama ini ia inginkan.

“Dekrit perceraian,” batinnya dingin.

Natalia mengangkat wajahnya kembali, kali ini dengan tatapan yang lebih tegas. Ia mengangguk pelan, seolah sudah mengambil keputusan. “Baik,” katanya singkat. “Ayo kita ke desa yang terkena wabah itu.”

Zhang Tian terlihat sedikit terkejut dengan keputusan cepat itu, tetapi ia segera mengangguk. Namun sebelum Natalia melangkah, ia kembali angkat bicara. “Nona Natalia tidak akan pergi sendiri,” ujarnya.

Natalia berhenti, lalu menoleh. “Maksudmu?” tanyanya.

Zhang Tian melirik sekilas ke arah A-Lin sebelum menjawab. “Nona akan pergi bersama Pangeran Kedua,” katanya. “Beliau yang bertanggung jawab atas penanganan wabah tersebut dan akan mengawal Anda.”

Natalia terdiam sejenak, alisnya sedikit berkerut. Ia tampak berpikir, tetapi tidak menunjukkan penolakan. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk pelan. “Baik,” ujarnya. “Kalau begitu, di mana Pangeran Kedua sekarang?”

Zhang Tian dan A-Lin saling pandang sekilas. Ada jeda singkat yang terasa aneh sebelum Zhang Tian kembali berbicara. “Nanti Pangeran Kedua yang akan menjemput Nona,” katanya dengan nada tenang.

Natalia semakin mengerutkan keningnya, jelas bingung. “Menjemputku?” ulangnya. “Memangnya beliau tahu siapa aku?”

Zhang Tian tersenyum tipis, mencoba terlihat santai. “Aku ang akan memberitahu beliau,” jawabnya. “Kebetulan kami pernah bertemu sebelumnya.”

A-Lin menunduk, menahan ekspresi yang hampir berubah. Sementara Natalia masih menatap mereka dengan penuh tanda tanya.

Namun pada akhirnya, ia hanya menghela napas pelan. “Kalau begitu, aku akan menunggu,” katanya singkat.

“Baiklah, kalau begitu kami pamit—” Zhang Tian baru saja hendak berdiri ketika langkahnya terhenti. Hidungnya sedikit bergerak, menangkap aroma masakan yang hangat dan menggugah selera dari arah dalam. Ia langsung terdiam sejenak tanpa sadar.

Natalia yang memperhatikan perubahan itu mengerutkan kening. “Ada apa?” tanyanya singkat. Wulan juga ikut menoleh, penasaran dengan sikap tamu mereka.

Zhang Tian tersadar, lalu segera menggeleng pelan. “Tidak… tidak ada apa-apa,” jawabnya cepat. Namun tepat setelah itu, perutnya berbunyi pelan, cukup jelas terdengar di ruangan yang hening.

Kruyuk!

Suasana mendadak canggung. A-Lin menunduk, berusaha menahan ekspresi, sementara Natalia menatap Zhang Tian yang wajahnya memerah, beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Sepertinya Anda lapar. Kalau begitu, ayo makan dulu,” ujarnya ringan.

Ia berdiri dengan tenang dan berbalik. “Kebetulan kami memasak cukup banyak hari ini,” tambahnya. “Sayang jika tidak dimakan.”

Zhang Tian melirik ke arah A-Lin, seolah meminta pendapat. A-Lin hanya mengangkat bahu pelan, tetapi sorot matanya jelas setuju. Pada akhirnya, mereka berdua pun mengikuti Natalia menuju paviliun makan.

Begitu sampai, langkah Zhang Tian sedikit melambat. Di atas meja tersaji berbagai hidangan dengan bentuk dan warna yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Aromanya begitu khas dan menggoda, berbeda dari masakan istana yang biasa ia santap.

Tentu makanan itu berbeda, karena resep yang digunakan Natalia adalah resep sang ibu, resep modern.

A-Lin juga tak kalah terkejut, matanya membesar melihat hidangan di hadapannya. “Ini … makanan apa?” gumamnya pelan. Ia menatap Natalia dengan rasa penasaran yang tak disembunyikan.

Natalia hanya tersenyum tipis tanpa banyak penjelasan. “Cobalah saja,” katanya santai. Ia kemudian duduk dan memberi isyarat agar mereka ikut duduk.

Zhang Tian duduk perlahan, masih menatap hidangan itu dengan hati-hati. “Aku hanya akan makan sedikit,” katanya menjaga wibawa. “Sekadar menghargai jamuan.”

Natalia mengangguk tanpa komentar. “Silakan,” jawabnya singkat.

Wulan yang berdiri di samping hanya menunduk menahan senyum.

Namun baru sepuluh menit berlalu, suasana di meja makan berubah. Zhang Tian yang tadi berkata akan makan sedikit kini sudah menambah makanannya hingga tiga kali. Gerakannya cepat, tetapi tetap berusaha terlihat tenang. Mba

Natalia, Wulan, dan A-Lin tanpa sadar memperhatikannya. Tatapan mereka penuh arti, membuat Zhang Tian akhirnya menyadari. Ia langsung berdehem pelan, mencoba mengembalikan wibawanya.

Eheemm!

“Makanannya cukup banyak,” katanya dengan nada tenang. “Sayang jika dibiarkan terbuang begitu saja.”

Natalia mengangguk pelan, seolah menerima alasan itu. “Benar juga,” jawabnya ringan. Namun senyum tipis di wajahnya menunjukkan ia memahami situasinya.

A-Lin di samping hampir saja tertawa, bahunya sedikit bergetar. Namun sebelum suara itu keluar, tatapan tajam Zhang Tian langsung mengarah padanya. Seketika itu juga, A-Lin langsung menegakkan tubuh dan menutup mulutnya rapat.

“Bagus,” gumam Zhang Tian pelan tanpa menoleh lagi. Ia kembali fokus pada makanannya, seolah tidak terjadi apa-apa.

A-Lin menelan ludah, berusaha tetap tenang. Dalam hatinya, ia benar-benar terkejut. “Aku belum pernah melihat Yang Mulia makan sebanyak ini,” batinnya.

Beberapa saat kemudian, ia akhirnya ikut mencicipi hidangan di depannya. Begitu makanan itu masuk ke mulutnya, matanya langsung membesar. “Ini … enak sekali,” katanya tanpa sadar.

Natalia menatapnya sekilas. “Kau menyukainya?” tanyanya santai.

A-Lin langsung mengangguk cepat. “Sangat,” jawabnya jujur. “Ini berbeda dari makanan yang pernah aku makan sebelumnya.”

Zhang Tian tidak berkata apa-apa, tetapi gerakannya yang terus menambah makanan sudah cukup menjadi jawaban.

1
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll
saniscara patriawuha.
enak tuh tongkol di bikin bekasam....
saniscara patriawuha.
gassddd....
zylla
ayo, usir mereka semua. aku suka keributan. 🤣🤣🤣
zylla
kaget kaaan. 🤣🤣🤣
sahabat pena
pangeran kedua sok2 an misterius padahal bucin akut tuh. wkwkwk 🤣🤣🤣
j4v4n3s w0m3n
lapar apa kelaparan pangeran 🤭🤭🤭🤭bikin malu aja😄😄😄
gina altira
senangnyaa triple up
Lyvia
suwun thor crazy upnya, matrehat sehat sllu thor 😄
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Korona ini
Maria Lina
makasih thor ud treeple up. y n bsk gimi lgi ya thor
☠️⃝🖌️M⃤y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
sudah kere pun masih tak berpikir
itu siapa punya hak

hadeh dasar ya kko manusia serakah
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Dih ga sadar2 ni manusia
vj'z tri
gak yakin makan hanya sedikit /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
☠️⃝🖌️M⃤y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ya jelas beda dong kan yaaa
vj'z tri
/Chuckle//Chuckle//Chuckle/ gpp kok horang ganteng juga manusia bisa lapar juga /Facepalm/
vj'z tri
pepet teros kang jangan kasih kendor /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Tambah laper juga itu /Facepalm/
Osie
wu reno g usah kepo..org kepo cpt matii🤣🤣🤣
Osie
jiiiaahh sampah merasa tuan muda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!