Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat Hukum yang Dingin (2)
Mangkuk porselen kecil di tangan Kirana terlepas, menghantam lantai marmer ruang kerja dengan suara berdenting yang tajam, memecah keheningan yang mencekam. Adrian dengan sigap melangkah maju, mengabaikan pecahan keramik di lantai, lalu mendekap tubuh Kirana yang mulai bergetar hebat.
"Hei, lihat aku, Kirana. Tatap mataku," bisik Adrian lembut namun penuh penekanan, kedua telapak tangannya menangkup wajah Kirana yang mendadak sedingin es. "Rendy sudah mati. Aku sendiri yang melihat jasadnya. Dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Aku bersumpah."
Air mata Kirana meluncur deras, membasahi ibu jari Adrian. "Tapi tadi kamu menyebut nama Baskoro, Mas... Aku dengar dari pintu. Siapa... siapa yang datang?"
Adrian menghela napas panjang, menuntun Kirana untuk duduk di sofa panjang ruang kerja. Ia tahu, menyembunyikan kebenaran dari Kirana hanya akan memicu paranoia yang lebih buruk bagi psikologis wanitanya.
"Rendy punya seorang kakak laki-laki bernama Danuar," kata Adrian perlahan, menggenggam jemari Kirana yang bertautan erat. "Dia selama ini tinggal di London. Dia kembali bukan untuk mencarimu, Kirana. Dia datang karena urusan bisnis, mencoba mengungkit sengketa lama antara Dirgantara Group dan perusahaan mendiang ayahnya."
"Bisnis?" Kirana menatap Adrian dengan sisa-sisa kepanikan di matanya. "Tapi kenapa sekarang, Mas? Kenapa setelah satu tahun kita tenang di sini?"
"Karena dia seorang oportunis," sahut Adrian, mata elangnya berkilat tajam. "Dia mengira dengan menyerang Dirgantara Group lewat jalur hukum, dia bisa mengintimidasi kita. Tapi dia salah besar. Aku tidak akan membiarkan satu jengkal pun dari kehidupan yang kita bangun di Bali ini dirusak oleh mereka."
Adrian mengecup kening Kirana lama, mencoba menyalurkan seluruh kekuatan dan rasa aman yang ia miliki. Malam itu, makan malam yang sedianya berlangsung hangat berubah menjadi sunyi. Meski Kirana mencoba tersenyum dan meyakinkan Adrian bahwa ia baik-baik saja, Adrian tahu betul bahwa hantu masa lalu itu telah kembali mengetuk dinding pertahanan mental istrinya.
Keesokan paginya, suasana di lantai teratas gedung pencakar langit Dirgantara Group di kawasan Sudirman, Jakarta, tampak seperti pangkalan militer yang sedang bersiap menghadapi perang. Rendra bersama lima pengacara senior perusahaan sudah berkumpul di ruang rapat utama dengan tumpukan dokumen setinggi satu meter.
Pintu ganda ruang rapat terbuka lebar. Adrian melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap, aura kepemimpinannya yang dominan dan dingin seketika membungkam bisik-bisik panik di dalam ruangan.
"Langsung ke intinya, Rendra. Di mana dokumen asli obligasi lima ratus miliar yang diklaim oleh Danuar?" tanya Adrian langsung sambil menduduki kursi utamanya.
Rendra membagikan beberapa lembar salinan dokumen digital ke layar proyektor. "Itu masalahnya, Adrian. Struktur tanda tangan dalam dokumen obligasi lima belas tahun lalu itu menggunakan tinta khusus dan stempel korporasi lama ayahmu yang sudah dihancurkan pada tahun 2015. Tim ahli forensik dokumen kita baru saja memberikan hasil awal dua jam lalu... tanda tangan itu asli. Ayahmu memang pernah menandatangani perjanjian itu."
Adrian menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah layar. "Lima belas tahun lalu... itu adalah tahun di mana perusahaan ayah Kirana mengalami kebangkrutan massal sebelum akhirnya sahamnya dibeli murah oleh keluarga Baskoro. Apakah ada hubungannya?"
"Kami sedang melacak aliran dana dari obligasi itu," jawab salah satu pengacara senior. "Jika dana lima ratus miliar itu benar-benar mengalir ke rekening Dirgantara Group, secara hukum kita wajib membayar beserta bunganya yang sekarang sudah membengkak menjadi hampir satu triliun rupiah, atau menyerahkan seluruh kepemilikan Baskoro Logistics kembali kepada mereka."
"Satu triliun?" Rendra mendengus kesal. "Itu bisa membekukan seluruh likuiditas operasional kita untuk proyek pelabuhan baru."
Sebelum Adrian sempat membalas, sekretaris pribadinya mengetuk pintu dengan wajah pucat. "Maaf mengganggu, Pak Adrian. Ada tamu di lobi depan yang bersikeras ingin menemui Anda. Dia... dia tidak memiliki jadwal pertemuan."
"Siapa?" tanya Adrian dingin.
Sekretaris itu menelan ludah. "Namanya Danuar Baskoro, Pak. Dia didampingi oleh kuasa hukumnya... dan Ibu Arissa."
Mendengar nama Arissa disebut, Rendra langsung menoleh ke arah Adrian dengan mata terbelalak. Arissa adalah putri dari mantan mitra bisnis Dirgantara Group yang hampir menjadi tunangan Adrian tiga tahun lalu, sebelum pernikahan politik dengan Kirana dipaksakan oleh keluarga mereka.
Adrian bangkit berdiri, merapikan kancing jasnya dengan satu gerakan tenang. "Biarkan mereka masuk ke ruangan ini. Aku ingin melihat seberapa tajam taring tikus London ini."
Dua menit kemudian, pintu ruang rapat kembali terbuka. Langkah kaki yang teratur terdengar mendekat.
Sosok Danuar Baskoro melangkah masuk dengan keanggunan yang dingin. Pria berusia 35 tahun itu mengenakan setelan jas Savile Row tiga potong berwarna biru navy, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan sebuah kacamata berbingkai emas bertengger di hidungnya yang mancung. Wajahnya memiliki kemiripan samar dengan Rendy, namun matanya sama sekali berbeda—tidak ada kilat kegilaan meledak-ledak seperti Rendy, melainkan tatapan kosong, tenang, dan analitis layaknya seorang pembedah mayat.
Di samping Danuar, berdiri Arissa. Wanita itu tampak memukau dengan gaun terusan merah marun yang elegan, rambut hitamnya dibiarkan tergerai, dan seulas senyuman misterius terukir di bibir merahnya saat matanya bertemu dengan mata Adrian.
"Lama tidak bertemu, Adrian," ucap Arissa, suaranya terdengar lembut namun menyimpan getaran yang sulit ditebak.
Adrian mengabaikan Arissa sepenuhnya, mengunci pandangannya langsung pada Danuar Baskoro. "Tuan Danuar Baskoro. Saya rasa ruang pengadilan adalah tempat yang lebih cocok untuk Anda, bukan ruang rapat saya."
Danuar terkekeh pelan, sebuah suara yang sangat teratur dan tidak memiliki emosi. Ia menarik kursi di seberang Adrian tanpa diminta, lalu duduk dengan menyilangkan kakinya yang panjang.
"Adikku, Rendy, memang seorang amatir yang bodoh," ujar Danuar dalam bahasa Indonesia dengan aksen Inggris yang halus. "Dia menggunakan otot, penculikan, dan ancaman murahan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, hanya untuk berakhir dengan sebutir peluru di dadanya di sebuah gudang kotor. Sungguh akhir yang tidak estetis untuk seorang Baskoro."
Danuar menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan. "Aku tidak seperti Rendy, Pak Adrian. Aku menghormati hukum. Dan hukum mengatakan... Dirgantara Group berdiri di atas uang haram yang dicuri dari keluarga saya lima belas tahun lalu."
"Itu baru klaim sepihak di atas kertas tua, Danuar," sela Rendra dengan nada tinggi.
Danuar tidak menoleh ke arah Rendra, matanya tetap mengunci Adrian. "Kertas tua yang sah secara hukum, Tuan Rendra. Dan tahukah Anda apa yang lebih menarik? Uang lima ratus miliar lima belas tahun lalu itu, digunakan oleh mendiang ayah Adrian untuk menyuap kurator bank agar menyatakan perusahaan ayah Kirana bangkrut, sehingga keluarga Baskoro bisa membelinya dengan harga murah."
DEG.
Adrian tertegun sejenak. Jika apa yang dikatakan Danuar benar, artinya kehancuran keluarga Kirana di masa lalu adalah akibat dari konspirasi busuk antara ayah Adrian dan ayah Rendy.
Arissa melangkah maju, meletakkan sebuah map perak di atas meja di depan Adrian. "Aku di sini hanya sebagai penasihat investasi Tuan Danuar, Adrian. Kami menawarkan jalan damai. Kembalikan Baskoro Logistics, bayar ganti rugi, dan... ceraikan Kirana. Wanita pembawa sial itu tidak pantas berada di sisimu sejak awal. Dia menghancurkan keluargamu di masa lalu, dan sekarang dia menghancurkan perusahaanmu."
Danuar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat dingin. "Dua puluh empat jam, Adrian. Tandatangani kesepakatan damai ini, atau aku akan merilis dokumen konspirasi ayahmu ke publik besok pagi. Kita lihat, apakah istrimu yang rapuh di Bali itu akan tetap mencintaimu setelah tahu bahwa suaminya adalah anak dari pria yang membunuh masa depan keluarganya."
Danuar dan Arissa bangkit berdiri, berbalik meninggalkan ruangan dengan langkah kemenangan yang tenang, meninggalkan Adrian yang terpaku dengan rahang mengeras di tengah badai kebenaran masa lalu yang baru saja meledak.
---
Bersambung