NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 ALINA MENGALAMI HAL BURUK DI JALAN

...BAB 17...

...ALINA MENGALAMI HAL BURUK DI JALAN...

Alina sudah berusaha sekuat tenaga, sudah mengesampingkan harga dirinya, sudah datang dengan hati penuh kasih sayang, tapi yang ia dapatkan hanyalah kebencian, penghinaan, dan penolakan yang paling keras.

Perlahan, Kirana melangkah keluar dari gerbang sekolah itu, berjalan sendirian di bawah hujan deras tanpa payung yang sudah ia lupakan di tempat tadi. Ia tidak peduli dingin, tidak peduli basah kuyup, tidak peduli orang-orang melihatnya dengan pandangan kasihan. Ia hanya merasa hancur, merasa gagal, merasa tidak sanggup lagi menghadapi semua luka yang terus datang satu demi satu.

Di sepanjang jalan pulang, di tengah rintikan hujan yang menutupi suara tangisnya, Kirana hanya bisa berbisik lembut pada dirinya sendiri dan pada Tuhan.

“Maafkan Ibu, Alina… Maafkan Ibu kalau kehadiran Ibu memang menjadi kesalahan bagimu. Ibu hanya ingin menyayangimu, Ibu hanya ingin melindungimu… Tapi ternyata, cinta Ibu tidak pernah kamu butuhkan sama sekali.”

Sementara di dalam kamar mandi sekolah, Alina bersandar di pintu yang tertutup rapat, menangis tersedu-sedu sampai dadanya sakit. Ia tahu kata-katanya terlalu kasar, ia tahu Kirana tidak pantas diperlakukan seperti itu, tapi rasa sakit dan rasa malu yang ia rasakan jauh lebih besar dari rasa bersalah itu. Ia merasa, selama Kirana masih ada di dekat Papanya, ia tidak akan pernah bisa bahagia, tidak akan pernah bisa kembali menjadi Alina yang dulu.

Dan badai itu, baik di langit maupun di dalam hati masing-masing, belum juga mau berhenti turun.

*****

Hujan yang turun sejak siang tadi perlahan berhenti, hanya menyisakan genangan air di sepanjang jalan dan angin sore yang terasa agak dingin. Di gerbang sekolah, para siswa sudah pulang satu per satu, tinggal Alina yang berjalan sendirian dengan langkah lambat. Hatinya masih terasa perih dan kacau setelah pertengkaran dengan Kirana tadi siang, namun ia ingat harus pergi ke supermarket terdekat untuk membeli kebutuhannya di kosan.

Keadaan Alina sekarang sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Dulu, ke mana pun ia pergi, selalu ada dua orang pengawal yang mengikuti dan menjaga dengan sangat ketat. Papanya saat itu adalah pengusaha sukses yang memiliki banyak kekuasaan dan harta, sehingga keselamatan putri tunggalnya selalu menjadi prioritas utama. Namun semuanya berubah drastis ketika bisnis Papanya bangkrut total, seluruh harta habis untuk melunasi hutang, rumah mewah pun harus dijual. Sekarang terpaksa mereka harus hidup seadanya, bahkan kadang merasa kesulitan. Pengawal dan perlindungan khusus sudah tidak ada lagi, Alina harus berjalan kaki sendiri ke mana-mana sama seperti anak-anak lainnya.

Mobil kesayangannya pun terpaksa ia jual demi kebutuhan lainnya yang mendesak. Alina tidak mau mengemis atau minta bantuan Papanya lagi selama ada Kirana di dekatnya.

Meski nasibnya sekarang berubah, kecantikan Alina tetap sama. Wajahnya manis, kulitnya putih halus, rambut panjangnya tergerai rapi, tubuhnya juga berpostur indah. Ia masih menjadi gadis tercantik di sekolah, selalu menjadi perhatian banyak orang. Namun keindahan itulah yang justru menjadi bahaya baginya sekarang, karena tidak ada lagi anak buah Papanya yang melindunginya.

Alina berjalan dengan pikiran yang kacau, merasa lelah dengan semua masalah yang datang bertubi-tubi. Ia berpikir hanya berjalan sebentar di jalan umum pasti aman, apalagi orang yang ditemuinya masih satu sekolah. Namun dugaan itu salah sama sekali.

Saat jaraknya tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu supermarket, di trotoar yang agak sepi, tiba-tiba tiga orang siswa laki-laki dari kelas atas yang terkenal nakal dan tidak memiliki sopan santun, berdiri menghalangi jalannya. Mereka sudah lama ingin mendekati Alina, namun dulu selalu takut karena ada pengawal yang selalu mendampingi. Sekarang melihat gadis itu berjalan sendirian tanpa perlindungan sedikitpun, wajah mereka langsung berubah seraya menatap Alina dengan pandangan yang tidak pantas.

“Wah, si cantik Alina sendirian saja ya? Sudah lama sekali kami ingin mengobrol denganmu,” ucap salah satu dari mereka dengan nada bicara yang kurang sopan, lalu maju mendekat sampai jaraknya sangat dekat dengan Alina.

Alina segera mundur dengan perasaan takut, tubuhnya mulai terasa kaku. Ia memeluk tas yang dibawanya dengan erat, berusaha tetap tenang meski hatinya sudah berdebar kencang.

“Tolong minggir, aku sedang terburu-buru. Jangan menggangguku,” jawabnya dengan nada tegas namun sedikit gemetar.

“Minggir kenapa? Kami tidak bermaksud jahat kok, hanya ingin berkenalan lebih dekat saja,” sahut pemuda kedua, lalu dengan sembarangan menyentuh lengan Alina dengan kasar.

"Hei, kemana mobil mewah dan pengawalmu sekarang, kok tidak terlihat? Apa sekali-kali pengen jalan sendirian atau... Mau kami yang nemenin?!" ledeknya diiringi tawa menggelegak.

Perasaan jijik dan marah langsung meluap di dada Alina. Ia segera menepis tangan itu dengan keras, wajahnya memerah karena kesal dan takut.

“Jangan sentuh sembarangan! Kalau tidak pergi dariku, aku akan berteriak!” ancam Alina dengan suara yang mulai meninggi.

“Berteriak? Di tempat sepi begini, siapa yang akan mendengarmu? Lebih baik kamu ikut kami saja,” kata pemuda ketiga sambil tertawa jahat. Ketiganya mulai mengepung Alina dari segala arah, membuat gadis itu tidak memiliki jalan keluar sama sekali.

Keringat dingin mulai keluar di dahi Alina. Ia sangat menyesal sekarang, menyesal pernah merasa terganggu dengan perlindungan Papa dulu, menyesal sekarang tidak ada satu orang pun yang bisa diandalkan untuk melindunginya. Papa yang dulu sangat kuat dan berkuasa, sekarang sudah tidak memiliki kemampuan apapun untuk menjaga dirinya.

Saat rasa takutnya sudah mencapai puncak dan ia hampir menangis karena bingung, tiba-tiba terdengar suara teguran yang keras dari arah belakang.

“Hei, apa yang kalian lakukan? Minggir kalian!”

Ketiga pemuda itu dan Alina langsung menoleh. Di sana berdiri Raka dengan motor mogenya, mantan pacar Alina yang pernah menjalin hubungan selama satu tahun sebelum akhirnya berpisah karena kesalahpahaman. Dulu Raka juga berasal dari keluarga terpandang, tampan dan berpengaruh di sekolah.

Melihat kehadiran Raka, ketiga pemuda nakal itu sedikit mundur namun tetap tidak berniat pergi.

“Ini urusan kami dengan Alina, jangan ikut campur kalau tidak mau mendapat masalah,” ancam salah satu dari mereka.

“Alina, temanku. Kalau kalian tidak mau dilaporkan ke pihak sekolah, lebih baik segera pergi sekarang juga,” jawab Raka dengan nada tegas dan berwibawa.

Karena mereka tahu watak Raka yang tidak mudah diganggu, akhirnya ketiga pemuda itu hanya mendengus kesal lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Alina menghela napas lega yang panjang, kakinya terasa sangat lemas sampai hampir membuatnya jatuh. Ia menatap Raka dengan mata yang berkaca-kaca, merasa sangat bersyukur ada yang datang menolong tepat waktu.

“Terima kasih banyak, aku tidak tahu harus berbuat apa tadi,” ucap Alina dengan nada lembut dan penuh rasa terima kasih.

Namun apa yang terjadi selanjutnya sama sekali tidak diduga oleh Alina. Begitu para remaja nakal itu sudah pergi, sikap Raka berubah total. Wajah yang tadinya terlihat baik dan peduli, kini berubah menjadi licik dan penuh maksud buruk. Tanpa bicara banyak, tangan Raka dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan Alina dengan cukup kuat, membuat gadis itu meringis kesakitan.

“Aduh, sakit! Lepaskan, apa yang kamu lakukan?” seru Alina kaget sambil berusaha melepaskan tangannya, namun tenaga Raka jauh lebih besar darinya.

“Kamu pikir aku menolongmu semata-mata karena baik hati? Kamu itu terlalu polos, Alina,” bisik Raka tepat di telinga Alina dengan nada suara yang membuat bulu kuduk merinding. “Dulu aku selalu ingin mendekatimu, tapi selalu takut dengan pengawal dan kekuasaan Papamu. Sekarang kan keadaan sudah berbeda, Papamu sudah jatuh, kamu sudah tidak memiliki perlindungan apapun. Ini kesempatan yang sudah lama kutunggu.”

Hati Alina terasa hancur seketika. Ia tidak pernah menyangka, orang yang dulu pernah disayangi dan dikagumi, sekarang justru menjadi orang yang paling jahat yang pernah ditemuinya.

“Kamu tidak sopan! Kamu tidak tahu malu! Lepaskan aku, Raka!" teriak Alina dengan suara gemetar, air mata mulai mengalir di pipinya karena marah dan jijik.

Raka sama sekali tidak menghiraukan teriakan itu. Ia malah menarik tubuh Alina ke tempat lebih sepi, di sebuah bangunan kosong. Lalu Raka mendekat ke arahnya, sampai kedua tubuh mereka saling bersentuhan. Bau parfum yang dulu pernah disukai Alina, sekarang terasa sangat menjijikkan dan membuatnya mual. Tangan Raka bergerak sembarangan, menyentuh bagian tubuh yang sama sekali tidak pantas, dengan perlakuan yang kasar dan penuh pelecehan.

“Dulu kamu meninggalkanku sesuka hati karena merasa keluarga paling hebat. Sekarang giliranmu yang berada di posisi lemah, jadi nikmati saja semua ini,” gumam Raka dengan senyum jahat, lalu wajahnya semakin mendekat berniat mencium secara paksa.

Alina merasa sangat hina, sangat kotor, dan sangat ketakutan. Ia yang dulu selalu diperlakukan dengan hormat, dijaga bagaikan barang berharga, sekarang diperlakukan seolah benda mati yang bisa diambil dan disentuh sembarangan oleh orang lain. Ia merasa sangat lemah dan tidak berdaya sama sekali.

"Lepaskan aku, Rakaaa! Tolooongg...."

Bersambung ....

1
Kam1la
Alina, yang kuat yah...!
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
apakah hati alin perlahan menerima kehadiran Kirana dan Dimas
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak, ditunggu komennya. Krisan dari KK cantik 😍
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
lagian ngapain nikah lagi sih kalo ujung²nya kehidupan Dimas dan Kirana tetap sama bahkan menafkahi saja tampaknya jarang
Kayla Rane: lanjut terus k bacanya, nanti bakal ditemukan jawabannya..🤭 terimakasih komentar, dan likenya. 💞💞💞
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
sebenarnya si alin ini kayaknya peduli sama Kirana tapi dianya menyembunyikan rasa itu dan ditutup dengan rasa benci
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
jujur sebenarnya si alin emang agak nyebelin ya, tapi mungkin karna hati nya sudah beku jadi ya gitu 😕
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
pasti alin masih gak bisa terima kalo tiba² dia punya ibu baru yg cuma kerja jadi guru
falea sezi
😒 anak g tau diri bangke
Kayla Rane: sudah Bab 23 kk ditunggu komennya (Krisan dari KK cantik 😍)
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
hadiah nya sih keren, tapi nafkah setiap hari nya manaaaa? kata nya CEO, punya pulau pribadi 🤣🤣 sampai laptop rusak aja masih minta ganti, istri gak pegang uang samsek, hanya uang tabungan hasil usaha sendiri Pak Aditya gak punya gengsi kah? 🤣 atau Bu Kirana yg terlalu bodoh 🏃🏻‍♀️
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
lucu.. pelakuan Pak Aditya ke Bu Kirana dan Dimas, bukan seperti perlakuan seorang suami kepada istri, atau seorang ayah kepada anak, lebih seperti perlakuan kepada pembantu.
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak.. ditunggu komennya, (kritik sarannya KK)😍
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
looh tadi katanya jalan kaki, kok tiba2 ada mobil?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: wkwkwkwk.. sama2 kak thor
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak.. pak.. jangan jadi kepala keluarga pajangan donk, situ boleh bangga jadi ceo, tapi anak sambung dan istri diperlakukan begitu, sama aja harga diri kamu yg diinjak2 pak.. 🙏 kalau gak bisa melindungi mereka, mending gak usah dinikahi, toh kehidupan dimas dan kirana gak ada perubahan 😏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
papa nya aneh.. apa tujuannya menikah dengan Kirana? 🙄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
emang gak ada cctv apa? 😏 mustahal syekali 😌
Kayla Rane: Alina lebih pintar,sebelum buat fitnah dia matiin dulu cctv nya di ruang kerja papanya
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
kan udh punya suami kaya, kok suaminya masih membiarkan aja bu Kirana dan Dimas kesusahan, terlepas dari sikap Alina dan pernikahan yg disembunyikan, setidaknya beri kehidupan yg layak untuk istri dan anak sambungnya, nafkah yg layak untuk mereka..
Kayla Rane: iya kan dari awal bab, si Alina udah gak suka udah berpikiran buruk duluan sama ibu tirinya bahwa Kirana nikahin papanya pasti mau nguras harta papanya saja. jadi Kirana walau sudah nikah sama papanya Alina masih berpenampilan sederhana, agar bisa diterima Alina bahwa penilaiannya tentang kirana salah.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!