NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Evolusi Kiamat

Hujan badai masih mengguyur pelataran Istana Draken dengan intensitas yang sangat brutal. Tetesan air yang sedingin es itu secara perlahan menghapus sisa-sisa noda darah dari wajah pucat Valerius.

Di bawah kaki kereta emas raksasa, tubuh keropos Uskup Agung Leoric telah sepenuhnya hancur menjadi serpihan debu kotor. Angin kencang meniup abu sang tuhan palsu itu hingga tersebar tak bersisa ke segala penjuru halaman istana.

Puluhan ribu ksatria suci yang tersisa masih bersujud kaku di atas genangan lumpur yang bercampur dengan darah rekan mereka. Senjata-senjata emas dan perak mereka berserakan tanpa tuan, kehilangan seluruh pendaran sihir cahayanya akibat keputusasaan.

Isak tangis keputusasaan terdengar bersahutan, menciptakan paduan suara paling menyayat hati di sepanjang sejarah benua Aethelgard. Pria-pria tangguh yang dilatih sejak kecil untuk tidak takut mati itu kini menangis merana layaknya anak kecil yang tersesat di hutan gelap.

Keyakinan murni yang mereka bangun sejak tarikan napas pertama kini telah diruntuhkan hingga ke akar-akarnya yang terdalam. Langit tidak mengirimkan keajaiban sama sekali, dan para dewa terbukti hanya diam membisu saat perwakilan suci mereka dibantai tanpa ampun.

Valerius menatap lautan manusia yang hancur mentalnya itu dengan senyuman asimetris yang memancarkan eforia kegelapan absolut. Ia merasakan energi kehidupan dari puluhan ribu keputusasaan itu mengalir deras terserap masuk ke dalam Belati Penyedot Jiwa miliknya.

Layar merah sistem holografik kembali meledak menyilaukan mata batinnya, memicu fase evolusi yang sedari tadi tertunda. Rentetan teks berdarah itu muncul berurutan, membawa rasa sakit yang nikmat ke dalam setiap saraf di tubuh sang tiran.

[Proses Evolusi Menengah Sistem Penyulut Kiamat sedang berlangsung.]

[Rekonstruksi Wadah Fisik dimulai, menahan lonjakan energi dosa yang melampaui batas fana.]

Seketika itu juga, Valerius mengerang pelan saat urat-urat nadi di sekujur tubuhnya menonjol dan berubah warna menjadi hitam pekat. Tulang-tulangnya bergemeretak keras, memadat dan menyusun ulang strukturnya menjadi jauh lebih kuat daripada baja terkeras di dunia ini.

Rasa sakit dari evolusi sistem ini setara dengan siksaan kursi listrik di dunia lamanya, namun kali ini ia menyambutnya dengan tawa pelan. Mahkota Tiran Berdarah di kepalanya ikut bergetar hebat, menyerap sisa-sisa petir dari langit badai untuk menstabilkan jantung majikannya.

Nyonya Karat yang berdiri di kejauhan langsung jatuh berlutut, tak sanggup menahan tekanan gravitasi sihir yang memancar dari tubuh Valerius. Baron Kaelos bahkan muntah darah di atas pelataran pualam, organ dalamnya terguncang oleh aura kiamat yang bocor dari sang pangeran.

Selama hampir tiga menit yang terasa seperti keabadian, badai sihir hitam itu terus mengamuk menyelimuti kereta emas raksasa. Ketika pusaran energi itu akhirnya mereda, Valerius berdiri kembali dengan postur yang jauh lebih tegap dan memancarkan wibawa dewa maut.

Mata hitamnya kini memiliki lingkaran merah darah di bagian pupil, sebuah tanda mutlak dari evolusi sistem yang telah berhasil sempurna. Layar holografik kembali memberikan laporannya yang terakhir untuk menutup fase penderitaan manis tersebut.

[Evolusi Menengah Selesai. Seluruh Atribut Fisik dan Mana mencapai Tahap Transenden Tingkat Pertama.]

[Skill Domain Baru Terbuka: 'Hamparan Penyesalan Abadi'. Memungkinkan Host mengunci area dan menekan regenerasi Mana musuh hingga titik nol.]

Valerius mengepalkan tangan kanannya, merasakan kekuatan baru yang sanggup meremukkan sebuah gunung hanya dengan satu pukulan telak. Ia kini telah sepenuhnya meninggalkan batasan manusia biasa, bertransformasi menjadi anomali mematikan yang siap menelan para dewa.

Ia memutar tubuhnya, menatap kembali ke arah puluhan ribu ksatria suci yang masih meratap di bawah guyuran hujan badai. Valerius mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi, menghentikan seluruh suara tangisan dengan satu hentakan tekanan sihir yang membungkam mulut mereka.

"Angkat wajah kalian, para domba buangan yang telah ditinggalkan oleh gembala palsu kalian!" raung Valerius menembus deru angin badai. Suaranya bergema bagaikan guntur yang menggetarkan jiwa, memaksa puluhan ribu ksatria itu mendongak dengan wajah penuh air mata.

"Dewa Cahaya kalian telah terbukti buta, tuli, dan sangat pengecut saat berhadapan dengan kematian," ejek Valerius tanpa belas kasihan. "Namun aku berdiri di sini, bernapas dan berkuasa, menawarkan sebuah keselamatan nyata yang tidak pernah bisa diberikan oleh gereja kalian."

Mata para ksatria suci itu membelalak lebar, pikiran mereka yang hancur kini berusaha keras mencerna setiap kata dari sang tiran. Mereka membutuhkan sandaran baru untuk kewarasan mereka, sebuah tiang kokoh untuk menggantikan iman yang telah hancur menjadi debu.

"Ambil kembali pedang kotor kalian dari genangan lumpur itu!" perintah Valerius dengan otoritas mutlak yang tak terbantahkan. "Pilih untuk mati malam ini sebagai pecundang tanpa nama, atau bangkit dan mengabdi di bawah panji kegelapanku sebagai pembawa kiamat yang baru!"

Kata-kata manipulatif itu menyusup masuk melalui celah-celah keputusasaan di otak para ksatria yang sedang terguncang hebat. Insting hewani mereka untuk bertahan hidup akhirnya menang melawan sisa-sisa dogma agama yang telah memudar.

Satu per satu, tangan-tangan yang gemetar mulai memungut kembali pedang emas dan perak mereka dari kubangan darah. Ksatria suci yang dulunya sangat arogan itu kini berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepala mereka dalam penyerahan diri yang absolut kepada iblis.

"Kami mengabdi pada kegelapanmu, Sang Tiran Agung!" teriak salah seorang kapten ksatria dengan suara serak yang putus asa. Teriakan itu segera diikuti oleh puluhan ribu suara lainnya, menciptakan sumpah setia berdarah yang mengguncang pilar-pilar langit Aethelgard.

1
Ysya Jeje
roman
Lucy Sandy
seru caritaanya romantis bantaiii
Roy Kkk
bantaiiiiii
King Salman
seru banget
Sarndi Kurma
menarik
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!