NovelToon NovelToon
TIRAKAT 3

TIRAKAT 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.

Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 "NAMAKU... AYU KENCONOWATI"

"Nisaaa... Maaf yaaa... Cuma guyon loh aku..." ucapnya dengan logat jawa yang mulai terdengar agak lucu bagiku.

"Gak mau!" jawabku kesal. Sambil kini ku lepas bawahan mukenaku, lalu melipatnya dengan rapi.

"Yeeeh... Kan biar asik kenalannya gitu loh..." responnya. Ayu pun melepas seluruh mukena yang dipakai, lalu duduk di sebelahku.

"Asik-asik... Asik apanya? Emang bagus kenalan kayak gitu Yu?!" tanyaku sambil menatapnya dengan ekspresi kesalku.

"Ya kan biar gak kaku..." jawabnya.

"Kaku-kaku... Emangnya aku ini batang kayu?"

"Lagian kamu juga tadi di balkon bikin aku kaget." katanya.

"Loh, kok aku sih? Kamu tuh yang bikin aku takut. Lewat depan kamar gak ada suara langkah, sambil nyinden segala." responku yang tak ingin disalahkan.

"Iya-iyaaa... Maaf... Lagian aku juga gak tau kalo udah ada kamu di lantai atas."

"Nye nye nyeee..." responku sambil meledeknya.

"Iiihhh... Jelek bibirmu Nis. Hahaha..."

"Kamu tuh yang jelek Yu!"

Aku langsung berdiri, karena masih agak kesal padanya, segera berjalan ke luar masjid.

"Eh Nis, tunggu aku loooh..."

Aku tak meresponnya. Langsung saja ku pakai sandalku, dan berjalan hendak kembali ke kamar. Diikuti oleh Ayu di belakangku.

Ketika sampai di depan barisan lantai bawah, Ayu berkata, "Nis, bentar ya, aku ambil sesuatu dulu..." dan langsung ia membuka kamar paling ujung yang tepat di bawah balkon, ternyata kamarnya di sana.

"Iya, terserah kamu Yu."

Aku langsung menaiki tangga, lalu masuk ke dalam kamar. Tapi kali ini pintunya tak ku tutup lagi. Kubiarkan saja hawa sejuk dan dinginnya malam masuk ke dalam kamar.

Tak lama setelah kurapikan mukena ke dalam lemari, terdengar langkah Ayu menaiki tangga. Dan langsung berdiri di depan kamarku. Aku melihatnya memegang sebuah piring berlapis daun pisang. Dengan makanan di atasnya.

"Kamu bawa apa itu?" tanyaku sedikit penasaran, ditambah rasa lapar yang semakin terasa.

"Ini namanya getuk lindri. Ibuku yang bikin."

"Hah? Getuk lindri? Apaan tuh?"

"Udah, ayok makan bareng, kamu pasti belum makan kan?"

Aku melihatnya berjalan menuju balkon. Memang benar yang dikatakan Ayu. Aku belum makan semenjak kedatanganku tadi pagi. Tanpa pikir panjang, langsung saja ku susul dia ke balkon.

Dia duduk di salah satu kursi, dan aku duduk di kursi sebelahnya. Ketika aku lihat makanan bernama getuk lindri di piring yang sudah di letakkan di atas meja depan kami berdua, langsung tercium aroma gurihnya di hidungku.

Dan...

"Kruuuk... Kruuuk..." suara perutku terdengar.

"Naaah...bener kan aku? Kamu belum makan..."

Aku agak canggung saat ingin mencobanya. Tapi, sudah lapar perutku. Di tambah ada sedikit uap mengepul dari getuk lindri yang di bawanya. Tanda bahwa getuk lindri itu belum lama di masak oleh Ibunya. Semerbak aroma gurihnya membuat perutku kembali berbunyi.

"Jangan diliatin aja toooh... Cobain... Enak loh, gurih!" ucap Ayu sambil memakan sepotong.

"Ini dibikin dari apa Yu?" aku mencoba sedikit berbasa-basi, sambil mengambil sepotong juga. Dan masih terasa hangat di tanganku.

"Getuk itu dibikin dari singkong. Dikasih parutan kelapa campur gula putih di atasnya. Tapi kalo getuk lindri buatan Ibuku, di campur juga sama ubi, campur lagi sama sedikit air daun pandan. Jadi lebih halus pas di makan sama lebih wangi aromanya." jelasnya.

"Oooh... Gitu ya..." responku sambil tetap memperhatikan sepotong getuk lindri di tanganku.

"Cobain, mumpung masih anget."

"Iya... Bismillah..." aku segera menggigitnya.

Dan benar saja... Teksturnya sangat lembut di lidahku. Langsung berpadu rasa gurihnya kelapa parut, manisnya gula, dan aroma wangi daun pandan. Semua bersatu dalam mulutku.

"Gimana rasanya? Enak gak?" tanya Ayu sambil ia mengambil lagi satu potong.

"Emmhh... Iya... Enak banget rasanya..." jawabku sambil mengunyah.

"Kamu belum pernah makan ini ya?"

"Belum..." jawabku sambil sedikit menggeleng.

"Pantesan... Dasar orang kota..." sindirnya padaku.

Aku berhenti mengunyah sebentar, menatapnya, lalu menelan getuk dalam mulutku.

"Eh, aku bukan dari kota loh Yu." sanggahku.

"Lah? Moso sih? (Masa sih?)"

"Iya. Aku tinggal di desa juga."

"Oooh ngono toh... (Oooh gitu ya...) Aku kira kamu dari kota Nis."

"Enggak, bukan. Rumahku di Bogor, Jawa Barat Yu..."

"Owalah... Orang Bogor ternyata..."

Obrolan malam ini terasa lebih cair, dan rasa kesalku karena sudah dikerjai olehnya barusan pun menghilang. Dan kami berdua terus memakan getuk lindri yang amat menggugah selera ini.

Ketika sepiring getuk itu sudah habis, Ayu menawarkanku teh manis hangat. Dan aku iyakan saja. Lalu ia segera berjalan, turun tangga, dan ku lihat ia menuju ke area dapur tak jauh dari sini.

"Niiis..." teriaknya dari bawah sana.

"Apa Yuuu?"

"Gulanya berapa sendoook?"

"Satu sendok aja Yuuu. Jangan banyak-banyaaak... Aku udah manis soalnya Yuuu..." teriakku juga dari atas balkon.

"Halaaah... Lebih manis juga akuuu..." jawabnya.

Aku sedikit terkekeh pelan mendengarnya.

Sambil menunggu Ayu naik lagi membawakan teh manis hangat, ku tatap langit malam ini di atas sana.

Langit malam ini tampak di tutupi awan putih, namun sebagian tampak cerah. Tampak juga beberapa sinar bintang yang gemerlapan.

Ku tarik napas dalam-dalam, mencoba memasukkan aroma udara yang bersih ke dalam dadaku. Lalu ku hembuskan segera.

Terdengar suara jangkrik yang saling bersahutan di sekitar area pondok putri ini. Ditemani semilir angin yang mulai terasa lebih dingin.

Kemudian, Ayu kembali sambil menaruh dua gelas teh manis hangat. Tampak mengepul uapnya dari gelas itu.

"Eh iya, nama lengkapmu siapa Yu?" tanyaku.

"Ayu Kenconowati." jawabnya.

"Kalo kamu Nis?"

"Nisa Purnamasari." jawabku.

Lalu... Ayu tampak memperhatikan langit malam di atas sana. Sedangkan aku menatapnya dari samping.

"Manis juga wajahnya..." gumamku dalam hati.

.....

.....

.....

Ayu Kenconowati...

Wajahnya yang sedikit membulat, dengan kulitnya yang cokelat cerah tampak bersih, ke dua bola matanya yang indah, dan bibirnya yang agak lebih tipis dari bibirku. Mungkin juga tinggi badannya hampir sama denganku, hanya saja agak lebih tinggi sedikit dariku. Dan juga tubuhnya proporsional persis seperti tubuhku.

.....

.....

.....

Ayu berdiri dari kursi sambil mengambil gelas tehnya, lalu berjalan ke arah pagar balkon, masih menatap langit di atas sana.

Sedikit penasaran aku dengan dirinya...

Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, memejamkan mataku, lalu ku aktifkan penglihatan ghoibku...

Dan... Saat ku buka mataku, aku tak melihat aura atau energi ghoib apapun dari dirinya. Tampak normal saja. Mungkin Ayu tak memiliki kemampuan yang sama seperti diriku.

.....

.....

.....

"Oh ya Nis, umurmu berapa toh?" tanya Ayu ketika membalikkan badan, sambil bersandar di pagar balkon, ia seruput tehnya.

"Aku baru 25 Yu. Kalo kamu?" tanyaku juga sambil mulai menyeruput tehku.

"Loh? Beda setahun dong kita."

"Masa? Kamu berapa emangnya?" tanyaku lagi.

"Aku 26." jawabnya singkat.

"Loh... Lebih tua kamu Yu. Berarti aku harus manggil kamu Mbak dong."

"Halaaah... Gak usah... Panggil nama aja biar lebih akrab. Lagian gak beda jauh kan umur kita."

Ayu kembali duduk di sampingku.

"Eh iya, kamu kenal Ustadz Furqon dari mana?" tanya Ayu.

"Aku tetangga beda desa sama beliau Yu. Tapi aku udah kenal lama sama beliau. Aku ngajar ngaji anak-anak di pendoponya." jelasku.

"Oooh gituuu... Kalo aku kenal sama beliau juga udah lama. Cuma, orang tua nya beliau di sini udah meninggal dari puluhan tahun lalu." jelasnya.

"Hm... Gitu ya..."

"Iya Nis... Jadi pondok putrinya ini tuh dibangun di atas tanah warisan keluarga Ustadz Furqon itu."

"Terus kalo pondok putranya juga sama?" tanyaku sedikit penasaran.

"Iya, sama..." jawabnya.

Sejenak tak ada obrolan di antara aku dan Ayu. Kami berdua kembali menikmati suasana malam yang semakin dingin ini.

Lalu, aku jadi teringat dengan ucapan Ustadz Furqon yang bilang bahwa setelah isya tadi akan datang ke sini. Tapi karena ia belum juga datang, aku jadi berniat ingin menanyakannya.

"Yu, sebentar ya, aku mau ambil HP ku." kataku.

"Mau ngapain ambil HP?"

"Mau tanya Ustadz Furqon, katanya beliau mau ke sini habis isya tadi. Tapi sampe sekarang belum dateng."

"Oh itu, tadi pas kamu tadarusan, beliau juga nelpon aku Nis. Dia bilang katanya gak jadi ke sini malam ini."

"Loh? Kenapa gak jadi?" tanyaku.

"Katanya istrinya tiba-tiba kurang enak badan. Jadi istirahat aja di pondok putra." jawab Ayu.

"Ya Alloh... Bu Fatimah tiba-tiba sakit? Sakit apa Yu?"

"Katanya sih cuma demam aja. Kelelahan selama perjalanan kali Nis. Tapi gak apa-apa kok, cuma butuh istirahat aja kata Ustadz Furqon."

"Oh gitu... Ya syukurlah kalo cuma kelelahan."

"Iya... Tadi Ustadz Furqon juga udah telepon kamu berkali-kali, tapi gak kamu angkat. Ya mungkin pas kamu lagi tadarusan di masjid."

"Oooh... Bisa jadi Yu... Aku kan ke masjid emang gak bawa HP." jawabku.

Aku jadi tahu alasan kenapa Ustadz Furqon tak kunjung datang ke pondok putrinya ini. Setelah mendengar penjelasan dari Ayu barusan.

.....

.....

.....

Singkat cerita, akhirnya aku dan Ayu melanjutkan obrolan ringan saja. Saling menceritakan tentang diri masing-masing. Dan ternyata benar, semua obrolan ringan itu menguatkan pandangan ghoibku, bahwa memang Ayu tak memiliki kemampuan seperti diriku.

Dia hanya seorang gadis berusia 26 tahun yang hidup normal...

Tak seperti diriku...

Dan aku putuskan untuk menjaga rahasia itu darinya...

1
Yeni Yeni
penasaran aku mbak🤭
SecretS
Lanjut kak👍👍👍😊😊
SecretS
👍👍👍lanjut kak, berarti sekar mayang bisa liat masa depan kayak Dayang Putri ah, menurut ku sekar mayang terlalu jahil ngak seperti Dayang Putri 😁
SecretS
Lanjut kak, 👍👍👍😁😁😁 ternyata wanita dekat toilet itu sekar mayang toh aku kira kuntilanak penunggu 😅
SecretS
Ooh, jadi ya buat tiket Nisa hilang itu sekar mayang toh. Buat yang punya kebingungan nyari tiket nya untung tuanya mau mbalikin dan kejadian nya sebelum Dayang Putri datang kalau ngak.... 😅😅 buat tuanya malu aja sekar mayang, pasti karena sekar mayang Zaki bayarin makanan nisa😁sedikit merasa bersalah akibat perewangannya. Lanjut kak 👍👍👍👍
Yeni Yeni: kodam zaki usil
total 1 replies
SecretS
Cover nya kok buat yang baca merinding ya kak 😅😅, tapi lanjutanya bagus 👍👍👍semangat 😀
Deni Komarullah: Hehehe... Terima kasih Kak atas dukungan dan komentarnya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!