King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
"Olivier, aku... soal masa lalu—"
"Jangan berani-berani kau menyebut namaku dengan mulut kotormu itu, King Stone," potong Olivier dengan cepat, suaranya merendah namun penuh ancaman yang nyata. Ia menunjuk tepat ke wajah King dengan jari telunjuknya.
"Aku di sini sebagai dokter residen yang sialnya harus bertanggung jawab atas pasien IGD yang masuk ke areaku. Aku tidak datang ke sini untuk bernostalgia tentang masa lalu yang menjijikkan bersama seorang penjahat egois sepertimu."
King terdiam. Ia membiarkan Olivier menumpahkan kekesalannya. Ia tahu betul dia pantas mendapatkan semua makian ini.
"Lalu, kenapa kau mengambil giliran untuk menjahitku tadi? Jika kau sangat membenciku, kau bisa membiarkan dokter lain yang melakukannya. Kau bahkan bisa membiarkanku kehabisan darah."
Olivier mendengus remeh, senyum sinis kembali terukir di wajah cantiknya. "Dan membiarkan reputasiku sebagai dokter ternoda karena membiarkan seekor binatang mati di ranjangku? Jangan bermimpi tinggi, Stone. Aku menjahit perutmu semata-mata karena aku terikat sumpah, dan karena aku ingin memastikan kau tetap hidup agar kau bisa merasakan bagaimana rasanya hidup dalam neraka penyesalan."
Olivier melangkah mundur, kembali memasang masker medis hijaunya ke atas hidung, menyembunyikan kembali wajah cantiknya dari pandangan King. Sebelum ia berbalik untuk meninggalkan kamar itu, ia menatap King untuk terakhir kalinya malam itu.
"Ganti perbanmu akan dilakukan oleh perawat besok pagi. Dan kuharap, setelah kau sembuh, kau segera angkat kaki dari rumah sakit ini dan jangan pernah memunculkan wajahmu lagi di hadapanku. Karena jika sampai itu terjadi lagi..."
Olivier menggantung kalimatnya, matanya menyipit tajam. "...aku tidak akan ragu untuk memastikan jahitan di perutmu itu robek kembali secara sengaja."
Setelah mengatakan ancaman yang sangat tidak biasa bagi seorang dokter itu, Olivier Martinez berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan King Stone yang hanya bisa menatap pintu yang tertutup dengan perasaan yang campur aduk antara rasa sakit di perutnya, dan rasa sakit yang jauh lebih besar di dalam hatinya. Chicago malam itu terasa jauh lebih dingin bagi sang pangeran Stone.
Olivier Martinez melangkah keluar dari kamar rawat VIP nomor satu dengan punggung tegak, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruangan.
Namun, begitu pintu kayu ek setebal sepuluh sentimeter itu tertutup rapat di belakangnya, bahunya sedikit merosot. Tangannya yang masih berada di dalam saku jubah putih mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya memutih.
Brengsek, umpatnya dalam hati.
Jantungnya yang sejak tadi dipaksa berdetak dengan ritme konstan khas seorang dokter profesional, kini berpacu liar tak terkendali. Bertemu kembali dengan King Stone dalam kondisi pria itu sekarat adalah skenario terakhir yang pernah ia bayangkan dalam hidupnya.
Dari jutaan manusia di kota Chicago, dan dari ribuan rumah sakit di Amerika Serikat, kenapa takdir harus menyeret bajingan itu ke atas brankarnya, tepat di bawah pisau bedah dan benang jahitnya?
Tidak jauh dari pintu kamar, Kendrick Stone bersandar di dinding koridor yang sepi. Begitu melihat Olivier keluar, pria itu langsung menegakkan tubuhnya. Ekspresi angkuh yang beberapa jam lalu ia pamerkan di IGD kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh tatapan penuh selidik dan sedikit rasa ngeri.
"Kau benar-benar belum berubah, Martinez," ujar Kendrick, melangkah mendekat dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat. "Kau masih menjadi satu-satunya wanita yang berani mengumpat di depan wajah klan Stone. Bahkan setelah bertahun-tahun."
Olivier menghentikan langkahnya, namun ia tidak berbalik. "Jika kau di sini hanya untuk membahas masa lalu, Tuan Stone yang kedua, aku sarankan kau pulang dan tidur mengurusi anak istri mu. Kakakmu tidak akan mati malam ini. Aku sudah memastikan jahitannya cukup kuat untuk menahan egonya yang besar."
Kendrick terkekeh hambar, seolah mencoba mencairkan atmosfer yang terasa membeku di antara mereka.
"Kau tahu, saat dia berteriak memintaku memanggil 'dokter kasar' yang menanganinya, aku hampir tertawa. King mengira dia sedang menghadapi residen biasa yang bisa dia intimidasi atau dia pecat dengan satu jentikan jari. Dia tidak tahu kalau dia baru saja menyerahkan nyawanya pada wanita yang paling dia takuti di dunia ini."
"Aku tidak peduli," sahut Olivier dingin. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Kendrick dengan sepasang mata bulat yang kini tampak lelah namun tetap tajam.
"Bagiku, dia hanya pasien dengan luka robek. Tidak lebih, tidak kurang. Dan jika kalian berdua berniat membuat keributan di rumah sakit ini, aku tidak akan segan memanggil keamanan untuk menyeret kalian keluar—bahkan jika nama 'Stone' tertulis dengan huruf emas di gerbang depan."
"Kau tahu kami bisa memecatmu dalam satu detik, kan?" Kendrick mencoba memprovokasi, meski nadanya tidak lagi mengandung ancaman nyata.
"Silakan," tantang Olivier, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis di balik maskernya.
"Pecat aku, dan biarkan seluruh Chicago tahu bahwa klan Stone memecat satu-satunya dokter residen berprestasi yang baru saja menyelamatkan nyawa pewaris utama mereka hanya karena masalah ego remaja. Aku yakin dewan komisaris rumah sakit ini akan sangat menyukai publisitas seperti itu."
Tanpa menunggu jawaban dari Kendrick, Olivier membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat menuju lift khusus staf, meninggalkan pangeran kedua Stone itu sendirian di koridor yang sunyi.
Sementara itu, di dalam kamar rawat, King Stone masih menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Rasa sakit fisik di perutnya seolah mati rasa, terkalahkan oleh hantaman emosional yang baru saja ia terima.
Pikiran King melayang mundur ke sepuluh tahun yang lalu. Masa-masa di mana namanya belum dikenal sebagai pebisnis yang ditakuti di duni gelap Chicago. Masa di mana dia hanyalah seorang remaja laki-laki pemberontak yang mengira dunia berputar di sekitar jemarinya.
Di koridor high school yang bising, dia pertama kali melihat Olivier.
Gadis itu berbeda dari semua wanita yang selalu mengelilingi King. Olivier tidak peduli dengan mobil sport yang King kendarai, tidak peduli dengan pakaian desainer yang ia kenakan, dan yang paling membuat King penasaran: Olivier adalah satu-satunya orang yang berani menatap lurus ke matanya dan berkata "tidak" saat King mengajaknya berkencan untuk pertama kali.
Butuh waktu tiga bulan bagi King untuk meruntuhkan dinding pertahanan Olivier. Dan begitu dinding itu runtuh, King mendapatkan tiga tahun terbaik dalam hidupnya. Olivier adalah rumahnya, tempatnya pulang ketika tekanan dari klan Stone terasa mencekik lehernya.
Gadis itu yang mengobati luka-lukanya setelah balapan liar, gadis itu yang menemaninya belajar hingga larut malam, dan gadis itu pula yang mempercayainya sepenuhnya.
Namun, ego seorang remaja laki-laki berdarah Stone akhirnya merusak segalanya.
Di tahun terakhir mereka, saat King mulai dipersiapkan untuk masuk universitas bisnis dan kehidupan playboy-nya dimulai sebagai bagian dari kamuflase publik, King mengambil keputusan paling pengecut dalam hidupnya.
Dia meninggalkan Olivier Tepat Hari kelulusan mereka tanpa kata, memutus semua kontak, dan membiarkan gadis itu berpikir bahwa hubungan tiga tahun mereka hanyalah sebuah permainan musim panas yang tidak berarti.
King meyakinkan dirinya sendiri saat itu bahwa seorang pria Stone tidak boleh diikat oleh satu wanita jika ingin menguasai Chicago.
Dan sekarang, sepuluh tahun kemudian, wanita yang dia hancurkan hatinya adalah wanita yang memegang pisau bedah di atas tubuhnya yang tak berdaya.
"Sialan," umpat King lirih. Ia mencoba mengubah posisinya menjadi agak miring, namun rasa nyeri yang tajam langsung menusuk perutnya, memaksanya kembali telentang sambil mendesis kesakitan.
Pintu kamar terbuka pelan, dan Kendrick melangkah masuk dengan wajah yang kini tampak lebih serius. Ia berjalan menuju kursi di samping ranjang King, lalu mendudukkan diri sambil melipat kaki.
"Dia sudah pergi," kata Kendrick tanpa diminta. "Dan jika kau ingin tahu, dia sama sekali tidak takut padamu. Ataupun padaku."
King tidak menoleh. "Aku tahu."
"Kau terlihat mengenaskan, Kak," cibir Kendrick, meski ada nada khawatir yang terselubung di sana. "Pangeran pertama Stone, yang bisa membuat para gangster di dermaga Chicago berlutut memohon ampun, kini terlihat seperti anak anjing yang baru saja kehilangan induknya hanya karena ditatap oleh seorang dokter residen."
"Tutup mulutmu, Kendrick, atau aku akan memastikan helikopter pribadimu mengalami kecelakaan besok pagi," ancam King dengan suara serak yang berat.
Kendrick tertawa pelan. "Ancaman yang sama. Berarti kau memang sudah membaik. Tapi serius, King... apa yang akan kau lakukan? Dia bekerja di sini. Di rumah sakit kita. Berdasarkan data yang sempat kulihat di meja resepsionis tadi, dia adalah salah satu residen tahun kedua terbaik yang dimiliki oleh program bedah di sini. Dia bukan orang yang bisa kau singkirkan dengan mudah tanpa menarik perhatian media."
King terdiam cukup lama. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan, memancarkan kilat yang kembali muncul setelah syok yang mendera. "Siapa yang bilang aku ingin menyingkirkannya?"
Kendrick mengernyitkan dahi. "Lalu? Kau ingin membiarkannya berkeliaran di sini dan menatapmu seolah kau adalah seonggok sampah setiap kali dia melakukan visit dokter? Ingat harga dirimu, King."
"Harga diriku sudah hilang sejak aku meninggalkannya sepuluh tahun lalu, Kendrick," sahut King dingin, suaranya terdengar datar namun sarat akan penyesalan yang mendalam.
"Cari tahu semua hal tentangnya selama sepuluh tahun terakhir ini. Di mana dia kuliah, bagaimana dia bisa berakhir di Chicago lagi, dan... cari tahu apakah ada pria lain di hidupnya saat ini."
Kendrick menghela napas panjang, bangkit dari kursinya. "Aku sudah menduga kau akan mengatakan itu. Dasar keras kepala. Baiklah, aku akan menyuruh orang-orang kita bergerak malam ini juga. Tapi ingat satu hal, King... luka di perutmu itu membutuhkan waktu beberapa minggu untuk sembuh. Jangan membuat wanita itu kehilangan kesabaran dan memutuskan untuk menyuntikmu dengan sesuatu yang mematikan saat kau sedang tidur."
"Dia tidak akan melakukannya," gumam King, sebuah senyuman tipis yang sangat langka muncul di sudut bibirnya. "Dia adalah seorang Martinez. Dia terlalu bangga dengan sumpah medisnya untuk membunuh seorang bajingan sepertiku dengan cara yang pengecut."
Malam semakin larut di kota Chicago. Angin musim dingin yang bertiup dari Danau Michigan menghantam kaca-kaca besar Stone Hospital dengan suara mendesing yang konstan.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣