NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Hari Pertama di Tingkat Paling Bawah

Kamar itu lebih tepat disebut kotak penyimpanan yang kebetulan punya pintu dan jendela saking sempitnya.

Dindingnya dari kayu tua yang sudah lama tidak diperbarui. Lantainya terasa kasar di telapak kaki, penuh dengan lapisan kotoran yang sudah mengeras setelah berbulan-bulan tidak disentuh sapu. Jendela satu-satunya menghadap ke arah gudang penyimpanan, sehingga setiap pagi suara kayu bergesekan dan langkah berat orang berlalu-lalang sudah menjadi pengganti lonceng.

Zhao Fei mengambil kain yang diberikan penanggung jawab murid baru dan mulai bersih-bersih dari sudut paling jauh.

Hebatnya dia tidak mengeluh saat menyapu kotoran ke satu arah, membersihkan satu bidang sebelum pindah ke bidang berikutnya. Dia sendiri membandingkan kamar ini dengan ruang pribadinya di Alam Dewa yang luasnya cukup untuk menampung seratus orang, dihiasi batu giok dan kain sutra pilihan.

Masih lebih baik dari tanah Hutan Terlarang, simpulnya.

Perbandingan itu cukup untuk membuat dia merasa baik-baik saja.

Setelah kamar selesai, daftar tugas sudah menunggu di depan pintu.

Tertulis rapi dengan tinta hitam: aula utama harus dipel sebelum sekte berkegiatan pagi, kayu untuk dapur harus sudah terpotong sebelum waktu makan siang, dan dua ember air harus diantarkan ke pavilion timur sebelum sore.

Zhao Fei melirik daftar itu sekali, lalu melipat kertasnya dan menyimpannya di saku.

Aula utama berukuran besar. Membungkuk selama hampir dua jam sambil mendorong kain pel di atas lantai batu yang panjangnya dua kali lipat ruang perguruannya dulu ternyata memberikan sensasi tersendiri pada punggungnya. Punggung itu tidak terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Tapi Zhao Fei tidak meluruskan tubuhnya sampai seluruh lantai selesai.

Sedangkan halaman belakang berbau segar dari tumpukan kayu yang sudah dipotong sebagian. Kapak yang disediakan terasa berat di tangan, tapi cukup seimbang untuk dipakai.

Zhao Fei baru mengayunkan kapak beberapa kali ketika suara berisik datang dari samping, diikuti dengan kata seru dan bunyi benda jatuh.

Seorang pemuda dengan tubuh seperti kurang susu itu melompat mundur dengan wajah kaget, setelah serpihan kayu dari ayunannya sendiri hampir mengenai betisnya. Kapaknya terpental dan jatuh ke tanah dengan bunyi nyaring.

"Oh, Astaga!" serunya. Lalu dia melihat ke sekelilingnya dengan cepat, memastikan tidak ada yang menyaksikan kehebohan itu, dan langsung menemukan bahwa ada seseorang yang jelas-jelas sudah menyaksikannya.

Pemuda itu tersenyum lebar seperti tidak ada yang perlu dibuat malu.

"Zhao Fei?" tanyanya dengan nada yang terdengar seperti sudah mengenal Zhao Fei lama. "Kau yang baru masuk kemarin? Aku Zhang Xiaopang. Sudah setahun di sini." Dia mengulurkan tangan, lalu menariknya kembali setelah melihat tangannya penuh serpihan kayu. Dia lap di celana, baru diulurkan lagi sambil meringis. "Selamat datang di tingkat paling bawah."

Zhao Fei menerima uluran tangan itu. "Terima kasih."

"Kau aneh." Xiaopang mengangkat kapaknya dari tanah. "Biasanya orang baru masuk dengan muka yang lebih... sedih, atau marah. Tapi kau kelihatan santai sekali."

"Mengeluh tidak akan mengubah apa pun."

Xiaopang menatapnya sebentar dengan ekspresi tidak yakin, lalu memutuskan bahwa itu jawaban yang cukup masuk akal dan langsung berpindah topik. Dalam waktu yang sangat singkat, dia sudah menjelaskan di mana letak kantin, siapa penanggung jawab yang baik hati dan siapa yang tidak, tugas mana yang paling berat dan bagaimana cara menghindarinya, serta mengapa memotong kayu di sisi kiri halaman lebih mudah dari sisi kanan karena anginnya membantu.

Adapun Zhao Fei mendengarkan semua itu sambil terus memotong kayu. Xiaopang mengingatkannya pada murid-murid junior di Alam Dewa yang selalu bersemangat bercerita meski tidak selalu punya sesuatu yang penting untuk diceritakan. Ada ketulusan di dalam kata-kata yang meluncur cepat itu, sesuatu yang terasa berbeda dari semua interaksi yang dia alami di sekte ini sejak kemarin.

Sore harinya, dua ember air penuh di kedua tangan, Zhao Fei berjalan menuju pavilion timur.

Jarak yang cukup jauh. Talinya seolah memotong telapak tangannya yang sudah melepuh dari pagi. Namun dia tidak memperlambat langkahnya.

Hingga tiga orang muncul di persimpangan jalan sebelum dia sempai. Pakaian mereka lebih rapi dari pakaian murid rendahan, ada lencana perak kecil di dada mereka yang menunjukkan tingkatan. Cara mereka berdiri menghalangi jalan, dengan dada yang sengaja diangkat, sudah mengatakan lebih banyak dari kata-kata.

Xiaopang, yang mengikutinya dari jarak beberapa langkah, menarik lengannya pelan dan berbisik cepat di telinganya, "Itu murid senior dari pavilion barat. Yang paling kiri namanya... ah, aku lupa. Tapi yang tengah yang paling berbahaya. Mereka suka memeras murid baru. Sekedar berpura-pura tidak tahu apa-apa biasanya lebih aman."

Masalahnya Zhao Fei tidak menjawab saat menatap ketiga orang di depannya dengan ekspresi yang sama seperti saat dia menghadap ke lapangan seleksi kemarin. Datar. Tidak menghindar. Tidak juga memancing.

"Murid baru ya?" Yang di tengah melangkah satu langkah ke depan. "Aturan di sini berbeda dengan di luar. Kau harus belajar banyak kalau mau bertahan."

Zhao Fei malah tetap mengunci mulutnya.

"Tidak menjawab? Atau tidak mengerti bahasa manusia?"

Xiaopang di belakangnya menelan ludah.

Sementara Zhao Fei tidak berkedip, tidak menunjukkan rasa gentar, tapi juga tidak menantang.

Ketiga murid senior itu menunggu reaksi yang tidak kunjung datang. Senyuman yang tadinya sinis mulai terlihat kurang nyaman. Mengancam seseorang yang tidak menunjukkan reaksi apa pun terasa seperti berteriak ke dalam sumur.

"Jaga sikapmu, anak baru," kata yang di tengah, lalu berbalik pergi bersama kedua temannya.

Lantas Xiaopang menghela napas panjang. "Kau tidak takut?"

"Tidak terlalu."

"Bagaimana caranya?"

Zhao Fei mulai berjalan lagi ke arah pavilion timur. "Mungkin karena aku pernah menghadapi hal yang jauh lebih menakutkan dari itu."

Xiaopang berlari kecil menyejajarkan langkahnya, menatap Zhao Fei dengan ekspresi yang mencampurkan antara kagum dan penasaran. Tapi dia tidak bertanya lebih jauh. Ada sesuatu di cara Zhao Fei berbicara yang membuat pertanyaan tambahan terasa tidak pada tempatnya.

Malam menjangkau seluruh sekte ketika Zhao Fei akhirnya kembali ke kamarnya.

Punggungnya terasa kaku dari pinggang sampai bahu. Telapak tangannya melepuh di beberapa titik. Kaki-kaki ini tidak terbiasa dengan perjalanan sepanjang hari yang dipenuhi pekerjaan fisik. Tapi Zhao Fei duduk bersila di lantai kamarnya tanpa membaringkan tubuhnya terlebih dahulu karena masih ada satu hal yang harus dilakukan.

Dia menutup matanya. Napasnya diatur perlahan, mengalir masuk dan keluar dengan irama yang sudah menjadi kebiasaannya selama ribuan tahun. Kemudian dia mulai mengarahkan perhatiannya ke dalam, mencari jalur meridian yang seharusnya ada di setiap tubuh yang memiliki potensi kultivasi.

Meridian itu ada. Dia bisa merasakannya. Tapi tertutup rapat, seperti sungai yang tersumbat oleh lapisan tanah yang sudah mengeras selama bertahun-tahun. Setiap kali dia mencoba mendorong qi dari luar untuk membukanya, hasilnya seperti mendorong tembok.

Akhirnya dia mencoba teknik yang berbeda. Mengalirkan kesadaran lebih dalam, menekan dari titik yang berbeda, mengubah sudut pendekatannya.

Sialnya tidak berhasil.

Zhao Fei tidak membuka matanya, dan tetap mengatur ulang napasnya sebelum mencoba lagi dengan metode ketiga, metode yang dulu dia gunakan untuk membantu murid-muridnya di Alam Dewa yang meridiannya terlambat terbuka. Sementara perbedaannya adalah karena dulu dia mendorong dari luar dengan qi-nya sendiri, sekarang dia harus melakukannya dari dalam, tanpa qi yang cukup untuk mendorong apa pun.

Lama kelamaan, sesuatu yang sangat tipis akhirnya bergerak seperti getaran kecil di salah satu titik meridian, layaknya benang yang ditarik sangat pelan dan baru saja mulai memberikan tanggapan. Zhao Fei pun menahan napasnya agar tidak mendorong lebih keras, membiarkan getaran itu tetap ada, merasakannya, mencatat di mana tepatnya.

Di sana, pikirnya. Itu titik yang pertama harus dibuka.

Tubuhnya mulai terasa hangat dari dalam. Sangat lemah, hampir tidak terasa. Untuk tubuh yang meridiannya tertutup selama dua puluh tahun, itu sudah merupakan respons yang berarti.

Kemudian rasa lelah hari itu menagih semua yang tertunda. Zhao Fei membuka matanya dan membaringkan tubuhnya di lantai kamar yang sudah lebih bersih dari pagi tadi. Langit-langit kayu di atasnya gelap dan polos. Tiada bintang, tiada bulan, tiada apa pun yang indah untuk dipandang.

Ini akan memakan waktu, pikirnya. Tapi setidaknya aku sudah tahu di mana pintunya.

Matanya terpejam.

Besok akan kucoba lagi.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!