Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Malam Tanpa Bintang
Malam itu, langit di atas Markas Utama Garuda Security terasa berat dan gelap gulita, seolah-olah selembar kain hitam raksasa telah menutupi seluruh langit, menyembunyikan bulan dan bintang dari pandangan manusia. Tidak ada cahaya lain selain sorotan lampu-lampu listrik besar yang dipasang di menara-menara pengawas, memancarkan sinar kuning pucat yang suram dan tidak mampu menembus jauh ke dalam kegelapan hutan lebat yang mengelilingi kawasan itu. Udara malam terasa sangat dingin, lembap, dan basah, membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan sore tadi, bercampur dengan bau besi, minyak tanah, dan aroma tajam keringat puluhan manusia yang sedang berjuang mempertahankan nyawa dan harga diri mereka.
Di dalam bangunan barak panjang yang berbau apek dan penuh deretan ranjang besi itu, keheningan mutlak menyelimuti seisi ruangan. Hanya terdengar suara napas berat, teratur, dan kadang diselingi erangan kecil sisa rasa sakit dari tubuh-tubuh yang kelelahan luar biasa. Hari itu adalah hari pertama masa pelatihan, hari di mana mereka didorong hingga ke batas kemampuan fisik manusia, berlari sejauh puluhan kilometer dengan beban berat, merangkak di tanah berlumpur, dan melompat melewati rintangan berbahaya tanpa henti selama berjam-jam. Dari lima puluh orang yang berangkat pagi tadi, kini hanya tersisa dua puluh delapan sosok yang mampu kembali dan terbaring lelah di sini. Sisanya telah gugur, dibawa pergi oleh para instruktur, dan nasib mereka kini menjadi misteri yang mengerikan.
Di salah satu ujung barak, Raka terbaring diam di atas kasur tipis yang keras dan kasar. Matanya terpejam rapat, namun kesadarannya tetap terjaga sepenuhnya. Tubuhnya terasa berat, setiap otot dan sendi di kakinya, lengannya, hingga punggungnya terasa nyeri dan perih seolah-olah telah dipukuli berjam-jam. Keringat dingin masih membasahi pakaian dalamnya, membuat kulitnya terasa lengket dan tidak nyaman. Namun, meski tubuhnya berteriak minta istirahat dan tidur panjang, naluri prajurit yang sudah tertanam kuat di dalam dirinya menolak untuk benar-benar tertidur lelap. Di tempat seperti ini, di dunia yang kejam dan penuh bahaya seperti ini, tidur nyenyak adalah kemewahan yang berbahaya, bahkan bisa berarti maut. Di samping ranjangnya, Bara—sahabat barunya yang juga sebangsa dan setujuan—terlihat sudah terlelap, napasnya terdengar berat namun teratur. Meski dalam tidur, raut wajah Bara masih tampak tegang dan serius, seolah-olah alam bawah sadarnya pun masih merasakan ketegangan dan bahaya yang mengancam nyawa mereka setiap detik.
Jam dinding tua yang tergantung di dinding ujung barak berdentang pelan, menandakan pukul dua pagi. Waktu di mana keheningan berada di puncaknya, waktu di mana sebagian besar manusia berada dalam tidur paling nyenyak mereka. Namun, bagi para calon prajurit Garuda, waktu ini justru menjadi awal dari ujian sesungguhnya.
Tiba-tiba, keheningan itu dihancurkan seketika oleh suara sirine panjang, melengking, dan menggelegar hebat. Suara itu bergema dari ujung ke ujung markas, memekakkan telinga, seolah bunyi itu datang dari dalam tanah sendiri. Bersamaan dengan itu, lampu-lampu di seluruh barak berubah warna menjadi merah darah yang berkedip-kedip, menyinari ruangan dengan suasana yang mengerikan dan mencekam.
"TIIIIIIINGGG!!! TIIIIIIINGGG!!! TIIIIIIINGGG!!!"
Tak lama kemudian, pintu-pintu besi besar di kedua ujung barak didobrak paksa hingga terbuka lebar. Sosok-sosok tinggi besar berbadan kekar mengenakan seragam hitam masuk dengan langkah cepat dan berat. Di tangan mereka tergenggam tongkat besi tebal yang dipukul-pukulkan dengan keras ke kerangka ranjang besi, menimbulkan suara berisik berdentang yang menyakitkan telinga.
"BANGUN! BANGUN SEMUA SEKARANG! KELUAR DALAM DUA MENIT! SIAPA YANG LAMBAT, SIAP DIBUANG HIDUP-HIDUP!" teriak salah satu instruktur dengan suara menggeram, suaranya mengalahkan bunyi sirine yang masih terus berbunyi nyaring.
Kepanikan melanda seketika. Dua puluh delapan orang yang tadi terbaring diam kini melompat bangkit dengan gerakan kacau dan tergesa-gesa. Ada yang masih linglung dan belum sadar sepenuhnya, ada yang terjatuh karena kakinya masih terasa lemas dan gemetar, ada yang saling bertubrukan di lorong sempit, ada yang menggerutu pelan namun tertahan rasa takut, dan ada pula yang bergerak cepat dengan refleks yang sudah terlatih. Semuanya berebut meraih seragam, sepatu, dan perlengkapan mereka dalam cahaya merah yang remang-remang dan suasana yang penuh ketegangan. Ancaman Komandan Hendra yang diucapkan siang tadi masih terngiang jelas di telinga mereka: siapa pun yang gagal, siapa pun yang tidak mampu mengikuti irama kami, akan dibuang ke hutan belantara tanpa belas kasihan.
Raka bergerak dengan tenang, cepat, dan teratur. Di tengah kekacauan itu, ia tetap mampu mengendalikan dirinya sendiri. Dalam hitungan detik, ia sudah mengenakan seragam tempur lengkap, mengikat tali sepatu sekuat tenaga agar tidak lepas di tengah perjalanan, dan menyelipkan sebilah pisau tempur sederhana di pinggangnya. Di saku bagian dalam bajunya, terselip aman pisau kesayangannya, pisau pemberian komandannya dulu, satu-satunya benda berharga yang ia bawa dari kehidupan lamanya. Ia menepuk bahu Bara yang baru saja bangkit dengan wajah bingung dan linglung, memberi isyarat diam-diam agar tetap tenang dan mengikuti gerakannya. Tanpa banyak bicara, keduanya berlari keluar barak bersamaan dengan rekan-rekan lainnya, menembus pintu yang terbuka lebar menuju kegelapan malam.
Di luar, udara terasa jauh lebih dingin dan tajam menusuk hingga ke tulang. Tanah di bawah kaki mereka basah, berlumpur, dan licin sisa hujan sore, membuat mereka harus berhati-hati melangkah agar tidak tergelincir jatuh. Di lapangan utama yang luas, diterangi oleh sorotan lampu-lampu raksasa yang menyilaukan mata, Komandan Hendra sudah berdiri tegak dan diam menunggu kedatangan mereka. Sosok raksasa itu berdiri sendirian di tengah lapangan, seolah menjadi patung batu yang kokoh dan tidak tergoyahkan. Di belakangnya, berbaris rapi puluhan instruktur dengan wajah dingin, senjata lengkap tergantung di tubuh, dan pandangan mata yang tajam mengawasi setiap gerakan mereka yang keluar dari barak.
Satu per satu dari mereka berlarian masuk ke lapangan, lalu berhenti dan segera membentuk barisan panjang yang rapi di hadapan sang komandan. Napas mereka terdengar berat dan tidak teratur, uap panas keluar dari mulut dan hidung mereka bertemu udara dingin malam. Tubuh mereka masih bergetar, bukan hanya karena kedinginan, tapi juga karena ketakutan dan rasa lelah yang belum hilang sama sekali. Dari awalnya lima puluh orang, kini hanya dua puluh delapan jiwa yang berdiri di sini, dua puluh delapan jiwa yang dianggap masih cukup kuat untuk melanjutkan ujian selanjutnya.
Komandan Hendra memandangi mereka diam-diam selama beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam. Pandangannya yang tajam dan mengerikan menyapu satu per satu wajah mereka, seolah sedang menilai seberapa jauh batas ketahanan mental mereka. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan ramah, tidak ada rasa iba sedikit pun di wajah keras penuh bekas luka itu. Bagi pria raksasa ini, mereka bukanlah manusia, mereka bukan anak buah, mereka hanyalah alat, hanyalah sekumpulan daging dan tulang yang sedang diuji kekuatannya.
"Bagus..." ucap Komandan Hendra perlahan, suaranya rendah namun cukup berat dan lantang untuk terdengar jelas oleh setiap orang di sana. Ia mulai berjalan perlahan menyusuri barisan, langkah kakinya berat dan berirama, membuat tanah seolah bergetar setiap kali ia melangkah. "Kalian cukup cepat. Kalian mampu bangun dan berkumpul dalam waktu yang diberikan. Itu poin kecil yang bagus. Tapi jangan merasa bangga dulu, jangan merasa hebat dulu."
Ia berhenti sejenak tepat di depan Raka dan Bara, menatap mereka berdua lekat-lekat, meneliti setiap ekspresi wajah dan gerak-gerik tubuh mereka.
"Kalian pikir apa yang kalian lalui seharian tadi itu berat? Kalian pikir lari puluhan kilometer dan merangkak di lumpur itu sudah dianggap penderitaan? Kalian salah besar, anak-anak kecilku yang polos..." lanjutnya dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi lebih mengancam dan dingin. "Apa yang kalian alami kemarin itu hanyalah pemanasan. Hanyalah permainan anak-anak untuk melihat apakah kalian punya kaki yang cukup kuat untuk berjalan di tempat ini. Itu belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang akan kalian hadapi mulai detik ini."
Ia berbalik badan, kembali berjalan ke tengah lapangan, lalu mengangkat suaranya hingga menggelegar ke seluruh penjuru markas.
"Di dunia nyata, di medan perang sesungguhnya, musuh tidak akan pernah memberi kalian waktu tidur yang cukup. Musuh tidak akan pernah menunggu kalian makan kenyang atau istirahat pulih. Musuh akan datang menyerang kapan saja—siang, malam, hujan, panas, sakit, atau sehat. Di sini, kami akan membentuk mental kalian sesuai dengan kenyataan itu. Di sini, kami akan mematikan rasa nyeri, rasa takut, dan rasa lelah yang ada di dalam tubuh kalian sampai kalian berubah menjadi mesin tempur yang tidak mengenal kata berhenti."
Komandan Hendra menunjuk ke arah kegelapan pekat yang ada di balik bangunan markas, ke arah bukit-bukit tinggi yang menjulang, di mana hanya terlihat bayangan rapat pepohonan tua yang gelap dan menyeramkan.
"Mulai malam ini, kita masuk ke tahap kedua pelatihan: BERTEMPAH HIDUP DI ALAM LIAR."
Suasana menjadi hening total. Hanya suara angin malam yang berdesir di antara dedaunan. Banyak di antara mereka saling pandang dengan wajah bingung, cemas, dan penuh pertanyaan.
"Di belakang sana, terbentang kawasan hutan belantara yang sangat luas, lebat, dan belum tersentuh manusia sejauh ratusan kilometer persegi," jelas Komandan Hendra perlahan, menekankan setiap kata agar meresap ke dalam benak mereka. "Hutan itu penuh dengan bahaya. Di sana ada ular berbisa mematikan, ada harimau dan buas buas pemangsa, ada tanaman beracun, ada sungai deras yang bisa menghanyutkanmu dalam sekejap, ada jurang tersembunyi, ada tanah rawa yang bisa menelanmu hidup-hidup, dan ada cuaca yang berubah drastis kapan saja. Di dalam sana, hukum manusia tidak berlaku. Di dalam sana, hukum alamlah yang berkuasa mutlak: Yang kuat akan bertahan hidup, yang lemah akan mati dan menjadi makanan tanah."
Ia berhenti bicara sejenak, membiarkan imajinasi mengerikan itu berputar di kepala setiap orang.
"Dan malam ini juga, kalian semua akan masuk ke sana," ucapnya tegas.
Desahan kaget dan bisik-bisik pelan terdengar di antara barisan. Masuk ke hutan liar yang sangat luas dan berbahaya itu? Di malam yang gelap gulita seperti ini?
"Dalam waktu tiga hari ke depan, kalian akan berjuang bertahan hidup di dalam hutan itu tanpa membawa apa-apa," lanjut Komandan Hendra dingin. "Tidak ada bekal makanan, tidak ada air minum, tidak ada selimut, tidak ada peta, tidak ada kompas, dan tidak ada senjata api. Satu-satunya benda yang boleh kalian bawa keluar dari gerbang markas ini hanyalah sebilah pisau tempur standar dan satu botol kecil cairan obat penawar racun ular. Itu saja."
Kali ini benar-benar keheningan yang mencekam. Tanpa makanan? Tanpa air? Selama tiga hari? Itu sama saja dengan hukuman mati bagi manusia biasa. Bahkan bagi prajurit terlatih pun, itu adalah tantangan yang sangat ekstrem dan nyaris mustahil.
"Tugas kalian sangat sederhana, tapi sangat berat dan menentukan nasib kalian di sini," potong Komandan Hendra, membuang wajah mereka yang mulai tampak pucat dan ketakutan. "Kalian harus mencari jalan keluar sendiri, berjuang mencari makanan sendiri, bertahan dari serangan alam dan binatang buas sendiri, dan berjalan sejauh berapapun jaraknya untuk kembali ke gerbang utama markas ini. Batas waktunya adalah saat matahari terbit pagi lusa. Siapa yang berhasil sampai di sini tepat waktu... dia selamat, dia lulus tahap ini, dan dia boleh melanjutkan pelatihan ke tahap selanjutnya. Tapi siapa yang terlambat, siapa yang tidak mampu keluar, siapa yang mati di tengah jalan... dia tertinggal di sana selamanya. Tidak ada tim penyelamat yang akan datang mencarimu. Tidak ada helikopter yang akan turun membawamu pulang. Kalian sendirian."
Ia diam sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih kejam dan dingin:
"Dan ingatlah satu aturan penting yang berlaku selama kalian berada di dalam sana: Kalian boleh melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Kalian boleh bekerja sama, kalian boleh saling menolong, atau... kalian boleh saling merebut makanan dan air dari teman kalian sendiri. Di dunia nyata, di medan perang sesungguhnya, musuh tidak hanya datang dari depan. Kadang, bahaya terbesar datang dari sebelahmu, dari orang yang kau anggap kawan. Kami ingin melihat siapa yang benar-benar pantas hidup, dan siapa yang hanya sampah yang layak dibuang."
Kalimat terakhir itu membuat hati Raka tersentak kaget. Jadi, mereka tidak hanya diuji melawan alam, tapi juga diuji kepercayaan, kesetiaan, dan moralitas mereka sendiri. Di sana, di dalam kegelapan hutan itu, seseorang bisa saja membunuh rekannya hanya demi sepotong akar tanaman yang bisa dimakan.
Komandan Hendra mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberi isyarat. Sebuah truk militer besar berwarna hijau gelap bergerak maju perlahan dari kegelapan, mesinnya menderu berat, berhenti tepat di samping barisan mereka. Bak truknya terbuka lebar, kosong, dan tampak dingin.
"Naik ke atas! SEKARANG!" perintah Komandan Hendra lantang. "Waktu kalian mulai berhitung detik ini juga. Semakin lama kalian diam di sini, semakin sedikit waktu kalian untuk bertahan hidup. Bergerak!"
Dengan langkah berat, ragu, dan hati yang berdebar kencang, Raka, Bara, dan dua puluh enam orang lainnya melangkah maju satu per satu menuju truk itu. Tubuh mereka terasa berat seolah ada beban batu besar yang menindih bahu mereka. Mereka tahu betul, begitu kaki mereka melangkah naik ke atas truk itu, mereka sedang melangkah masuk ke dalam neraka yang sesungguhnya, neraka yang jauh lebih kejam daripada apa pun yang pernah mereka bayangkan dalam hidup mereka.
Saat Raka melewati di dekat Komandan Hendra, sang komandan itu menatapnya sekilas, lalu berbisik pelan namun cukup terdengar olehnya:
"Aku harap kau tidak mengecewakanku, 117. Aku punya firasat kau bisa bertahan lama di sana. Tapi ingat... rasa iba dan hati nurani hanya akan membuatmu mati lebih cepat."
Raka hanya diam, menahan amarah dan kekecewaan yang mulai timbul di hatinya. Ia menegakkan tubuhnya, lalu naik ke atas bak truk diikuti Bara yang berjalan tepat di belakangnya.
Di atas truk yang dingin dan keras itu, mereka duduk berdesak-desakan dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada satu pun yang berani membuka mulut untuk bicara. Semuanya tenggelam dalam pikiran dan kekhawatiran masing-masing. Angin malam yang kencang menerpa wajah dan tubuh mereka, membawa serta aroma tanah dan pepohonan liar yang semakin terasa pekat dan kental seiring truk itu melaju menjauh dari markas.
Bara duduk tepat di sebelah Raka, mendekatkan wajahnya agar bisa berbisik tanpa terdengar oleh pengawal yang duduk di ujung truk. Matanya menatap tajam ke arah Raka, penuh kesungguhan dan tekad.
"Raka, kau dengar kan semua perintah dan ancaman itu?" bisik Bara pelan namun tegas. "Mereka bilang kita boleh saling serang, boleh saling rebut apa saja demi hidup. Tapi bagiku, itu sampah. Kalau kita saling bunuh, kita sama saja dengan binatang buas. Kita manusia, Raka. Dan kita berdua sebangsa, satu nasib, dan sama-sama punya tujuan."
Ia berhenti sejenak, memastikan tidak ada yang mendengar, lalu melanjutkan:
"Di dalam hutan itu, sendirian berarti mati. Aku kenal sedikit tentang hutan, aku bisa cari air, aku bisa cari makanan, aku bisa baca arah matahari dan bintang... tapi aku butuh orang yang bisa menjaga punggungku. Kau kuat, kau pandai bertarung, kau tenang. Bagaimana kalau kita tetap bersama, kita patungan kemampuan kita? Kita berbagi apa pun yang kita dapat, kita saling lindungi sampai kita keluar dari sana. Kita berdua pulang hidup-hidup, bersama-sama. Apa kau setuju?"
Raka menatap mata sahabat barunya itu lekat-lekat. Di dunia yang penuh kebohongan, pengkhianatan, dan kejam ini, tawaran persahabatan dan kesetiaan seperti ini adalah hal yang paling langka dan berharga. Raka sadar, kemampuan tempurnya hebat, tapi pengetahuannya tentang alam liar tidak seluas milik Bara. Bara adalah kunci bertahan hidup, dan Bara pun butuh kekuatan tempur Raka.
Raka mengangguk perlahan, matanya menyorotkan tekad yang sama kuatnya.
"Setuju," jawabnya singkat dan berbisik. "Kita berdua. Kita satu tim. Apa pun yang terjadi, apa pun bahayanya, kita tidak akan saling tinggalkan. Kita keluar dari hutan itu bersama, atau kita mati bersama."
Truk itu terus melaju kencang membelah jalanan tanah yang bergelombang dan rusak, membawa mereka semakin jauh masuk ke dalam wilayah hutan belantara yang tak berujung. Pepohonan semakin rapat dan tinggi, menutupi sisa-sisa cahaya langit, membuat suasana semakin gelap dan menakutkan. Jalanan semakin sempit, semakin curam, hingga akhirnya truk itu mengerem mendadak dan berhenti berdebam di pinggir sebuah jurang dalam yang diapit tebing-tebing tinggi.
"Turun! DI SINI!" teriak pengemudi truk dari bawah. "Ini titik masuk kalian. Mulai dari sini, kalian cari jalan sendiri!"
Satu per satu mereka turun ke tanah yang basah, berlumpur, dan licin. Di depan mata mereka, hanya terlihat kegelapan pekat yang tak tertembus, suara gemerisik daun yang ditiup angin terdengar seperti bisikan makhluk tak terlihat, dan suara gemuruh air sungai yang terdengar samar namun mengerikan di kejauhan.
Seorang instruktur melemparkan seikat pisau dan kotak obat ke tanah, lalu menatap mereka dengan senyum sinis yang dingin dan kejam.
"Selamat berjuang... atau selamat diburu. Sampai jumpa tiga hari lagi di gerbang utama... jika kalian masih bernapas dan punya kaki untuk berjalan."
Suara mesin truk menderu keras kembali, memutar balik arah, dan dalam sekejap cahayanya hilang ditelan kegelapan malam, meninggalkan mereka dua puluh delapan orang manusia kecil yang berdiri terpaku di tepi jurang maut, sendirian, tanpa petunjuk, tanpa cahaya, dan tanpa harapan selain kemampuan diri sendiri dan keberuntungan.
Suara-suara binatang malam mulai terdengar semakin nyaring dan beragam, memenuhi udara seolah sedang bernyanyi menyambut kedatangan mangsa-mangsa baru yang lemah dan tak berdaya.
Raka menggenggam gagang pisaunya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menegakkan tubuhnya, mengatur napasnya agar tetap tenang dan teratur, lalu menoleh ke arah Bara yang sudah berdiri di sampingnya dengan pandangan tajam mengamati sekeliling, mengamati gerak-gerik rekan-rekan mereka yang lain.
"Kita mulai dari mana?" tanya Raka pelan, suaranya rendah namun tegas di tengah suara alam yang riuh.
Bara menunjuk ke arah kanan, ke tempat di mana suara gemuruh air terdengar semakin jelas dan nyata, tempat di mana pepohonan sedikit lebih renggang namun tetap gelap.
"Pertama, kita cari air," jawab Bara dengan yakin, meski wajahnya tetap serius dan waspada. "Di mana ada air mengalir, di situ ada kehidupan. Ada tanaman, ada hewan, ada jalan setapak, dan ada makanan. Tapi ingat, Raka... di situ juga tempat paling berbahaya, tempat berkumpulnya pemangsa dan bahaya. Kita bergerak pelan, diam-diam, jangan menarik perhatian makhluk apa pun yang ada di sini. Langkah demi langkah, mata ke kiri kanan atas bawah. Jangan ada yang lengah sedetik pun."
Mereka pun mulai melangkah masuk ke dalam kegelapan pekat itu, menyusuri semak belukar yang lebat, tajam, dan penuh duri. Di balik punggung mereka, gerbang dunia manusia tertutup rapat dan hilang dari pandangan. Di depan mata mereka, ujian nyata pertama demi menjadi prajurit elit Garuda Security baru saja benar-benar dimulai.
Di dalam hutan belantara itu, tidak ada aturan. Tidak ada hukum. Tidak ada belas kasihan. Hanya alam yang kejam dan insting bertahan hidup yang menentukan siapa yang akan pulang hidup-hidup, dan siapa yang akan selamanya tertinggal menjadi bagian dari tanah.
Dan di tengah kegelapan itu, Raka sadar sepenuhnya: perjalanan panjang dan berdarah menuju puncak kekuasaan dan kekuatan, baru saja dimulai dengan cara yang paling kejam dan tak terlupakan.