Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part II
Ayah Rudi sampai tersedak air minumnya. Matanya melotot sampai hampir copot, ia mengucek matanya sendiri tidak percaya. Sebagai mantan tentara yang terbiasa mengelola logistik dan uang negara dalam jumlah besar, ia tahu betul nilai angka itu. "Tujuh... tujuh miliar? Dika, kamu tidak bercanda kan? Itu uang siapa? Dari mana?"
"Uang saya, Pak. Milik saya sendiri, hasil kerja keras saya. Dan percayalah... ini baru permulaan. Setahun lagi, dua tahun lagi, nilainya bisa jadi ratusan miliar rupiah. Saya simpan ini aman-aman, saya punya kuncinya sendiri, tidak ada orang lain yang tahu. Jadi, Ayah, Ibu... saya tidak butuh uang dari klub sepak bola sekarang. Saya sudah punya uang sendiri, cukup buat hidup kita mewah selamanya, cukup buat biaya saya pergi ke Inggris nanti, cukup buat beli rumah baru, mobil baru, cukup buat jaminan masa depan Rina sampai dia tua nanti. Semuanya sudah ada."
Dika menatap wajah orang tuanya yang masih syok berat, lalu melanjutkan penjelasannya dengan lembut namun tegas.
"Makanya saya tolak Persebaya, Pak. Kalau saya terima, saya akan terikat kontrak, saya tidak bebas pergi ke mana pun saya mau. Saya akan jadi karyawan klub, terjebak di sini, nyaman, tapi berhenti berkembang. Tapi kalau saya menolak, saya bebas. Saya bisa selesaikan sekolah saya di sini sampai lulus SMA dengan nilai bagus. Saya bisa belajar bahasa Inggris, Spanyol, dan Italia sampai lancar betul. Saya bisa persiapkan fisik dan teknik saya sampai setara pemain Eropa. Dan tahun depan, pas saya lulus, saya akan terbang ke sana, ikut tes akademi, dan masuk lewat pintu depan sebagai orang bebas, bukan orang yang dibeli murah."
Dika menatap Ayah Rudi lekat-lekat.
"Ayah adalah pahlawan saya. Ayah mengabdi pada negara bertahun-tahun, berjuang dengan disiplin tinggi. Saya ingin mengikuti jejak kebesaran Ayah, tapi di jalan saya sendiri. Saya ingin membawa nama Indonesia, nama Sidoarjo, nama keluarga Pratama ini, harum sampai ke kancah dunia. Saya tidak mau cuma jadi bintang lokal, Pak. Saya mau jadi kebanggaan bangsa. Dan untuk itu, saya harus ditempa di tempat terbaik, yaitu Eropa."
Ayah Rudi terdiam panjang. Ia menatap anak sulungnya dengan pandangan yang sama sekali berbeda. Ia melihat bukan lagi anak kecil yang dulu digendongnya ke lapangan, melainkan seorang pemuda dewasa yang jauh lebih cerdas, jauh lebih visioner, dan jauh lebih mampu daripadanya. Ia melihat disiplin, ketekunan, dan keberanian yang sama seperti yang dulu ia miliki saat masih muda. Air mata bangga mulai menggenang di mata lelaki tegar itu.
"Dika... kamu... kamu menyimpan segalanya ini sendirian? Memikul beban pikiran seberat ini sendirian? Kenapa tidak bilang dari dulu, Nak? Ayah... Ayah merasa tidak berguna," kata Ayah lirih, suaranya bergetar dan pecah. Rasa bersalah menyelimuti hati Ayah, merasa pensiunnya belum bisa memberikan kemewahan bagi anak-anaknya sampai Dika harus berjuang diam-diam begini.
Dika langsung berlutut di samping kursi Ayah, memeluk lutut ayahnya dengan hormat, mencium tangan kasar yang penuh sejarah dinas itu.
"Jangan bicara begitu, Ayah! Justru karena Ayah mengajarkan saya disiplin, kejujuran, dan keberanian... itulah modal utama saya punya hari ini. Justru karena Ayah dan Ibu sangat menyayangi saya dan Rina... itulah yang bikin saya bertekad keras. Saya mau mengangkat Ayah dan Ibu. Saya mau ganti semua pengorbanan Ayah selama bertahun-tahun. Saya mau Ayah menikmati masa tua dengan bahagia, tidak perlu lagi memikirkan uang. Saya mau jamin Rina sekolah setinggi apa pun yang dia mau, beli apa pun yang dia butuh. Saya mau kalian nikmati hasil jerih payah saya."
Rina yang sejak tadi diam mendengarkan dengan mata berkaca-kaca, langsung memeluk leher kakaknya erat sekali. "Kakak hebat banget... Rina bangga banget punya kakak kayak Kak Dika. Nanti kalau Kakak ke Inggris, Rina akan belajar pintar-pintar biar bisa nyusul ke sana juga ya..."
Dika tersenyum haru, mengusap rambut adiknya. "Pasti, Nak. Pasti. Kakak akan buka jalan buat kamu."
Dika kembali menatap Ayah dan Ibu.
"Saya simpan diam-diam karena saya mau kejutan ini. Saya mau buktikan kalau saya bisa. Dan saya mau minta izin Ayah, Ibu... izinkan saya mengambil jalan berat ini. Izinkan saya menolak tawaran yang enak di depan mata demi mimpi yang jauh. Izinkan saya pergi ke Inggris setahun lagi. Saya janji... saya akan pulang membawa kejayaan. Nama Sidoarjo, nama keluarga Pratama, nama Ayah Rudi... akan saya harumkan ke seluruh dunia."
Ibu langsung memeluk Dika dan Rina bersamaan, menangis terisak bahagia.
"Ya Allah... anakku... Nak... kami tidak minta harta yang banyak. Kami cuma minta kamu selamat, kamu sehat, kamu bahagia. Kalau itu memang jalan yang kamu yakini benar, kalau itu memang yang membuatmu bahagia... kami izinkan. Kami dukung sepenuh hati. Apa pun yang kamu mau, Dika. Ayah dan Ibu akan selalu di sini, di rumah ini, mendoakanmu setiap detik, siang dan malam. Kami bangga sekali punya anak sepertimu."
Ayah Rudi mengangguk kuat, menghapus air matanya dan menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Wajahnya kembali tegas, namun kali ini penuh dengan rasa hormat kepada anaknya sendiri. Sebagai seorang prajurit, ia tahu betul kualitas seorang pemimpin dan pejuang, dan ia melihat kualitas itu bersinar terang di mata anak sulungnya.
"Benar kata Ibu. Harta itu urusan belakangan. Tapi kalau kamu sudah punya kemampuan sebesar ini, kalau kamu sudah berpikir sejauh ini... Ayah malu rasanya kalau masih melarang kamu. Kamu sudah lebih pintar, lebih hebat dari Ayah. Kamu punya rencana yang matang, disiplin yang baik, dan niat yang mulia. Ayah serahkan semuanya ke kamu. Kamu pemimpin dirimu sendiri sekarang."
Ayah lalu menunjuk tumpukan uang di meja.
"Tapi uang ini... Ayah terima buat kebutuhan rumah dan pendidikan Rina. Ayah bangga sekali kamu jujur membuka semuanya. Tapi ingat satu hal paling penting, Dika... jangan sampai uang sebanyak itu mengubah dirimu. Tetaplah jadi anak kami yang sederhana, yang rendah hati, yang sopan santun, yang berani. Ingat dari mana asalmu. Ingat kamu anak siapa. Ingat kamu anak Rudi Pratama, anak keluarga sederhana di Sidoarjo."
"Siap, Ayah! Tidak akan pernah berubah. Apa pun yang terjadi, saya tetap Dika yang dulu, anak Ayah dan Ibu, kakaknya Rina," jawab Dika mantap dengan nada hormat, persis seperti saat melapor pada komandan.
Malam itu berlanjut dengan obrolan panjang hingga larut malam. Mereka membicarakan rencana keuangan keluarga: memperbaiki fasad rumah, membeli kendaraan baru agar Ayah nyaman, menyisihkan uang khusus tabungan pendidikan Rina sampai kuliah, dan menambah perabotan rumah yang sudah rusak. Dika menjelaskan cara kerja uang digital itu dengan bahasa sederhana, meyakinkan mereka bahwa aset itu aman dan akan terus bertambah nilainya seiring waktu.
Momen paling menyentuh terjadi saat hendak tidur. Dika berjalan ke beranda belakang rumah, tempat ia biasa berdiri menatap pemandangan lampu-lampu kota Sidoarjo yang berkilauan di kejauhan. Ayah Rudi menyusulnya dari belakang, berdiri diam di sampingnya, sama seperti dulu saat Dika masih kecil, namun kali ini posisinya terasa berbeda: kini Dika sudah setinggi bahkan lebih tinggi dari Ayah, dan jauh lebih hebat dalam cara berpikirnya.
"Dik..." panggil Ayah pelan.
"Ya, Yah?"
"Terima kasih," kata Ayah singkat, namun maknanya begitu dalam. "Terima kasih sudah berjuang keras buat kami. Ayah tahu, berat sekali jalan yang kamu pilih. Ke Inggris itu jauh, beda budaya, beda bahasa, sendirian di sana. Tapi Ayah yakin... kamu bisa. Kamu punya mental baja sama seperti Ayah dulu, ditambah otak yang cerdas dan hati yang baik. Nanti kalau di sana kamu kesusahan, kamu rindu rumah, kamu gagal... ingat satu hal: pintu rumah kecil ini selalu terbuka buatmu. Kami akan tetap bangga sama kamu, apa pun hasilnya nanti. Kamu harta kami yang paling berharga, jauh lebih mahal dari semua uang di duniamu itu."
Dika menatap Ayah, lalu tersenyum hangat. Ia merangkul bahu Ayah—yang dulu terasa begitu besar dan kokoh, kini mulai terlihat menua namun tetap gagah—dengan penuh kasih sayang dan rasa hormat yang tak terhingga.
"Saya tahu, Ayah. Rumah ini tempat paling aman di dunia. Tapi percayalah... saya tidak akan pulang sebelum saya jadi juara. Saya akan bawa nama Sidoarjo, nama keluarga Pratama, terbang sampai ke langit-langit Eropa. Saya janji."
Malam itu, Dika tidur dengan hati yang paling damai dan paling bahagia. Beban rahasia yang selama ini dipikul sendirian kini sudah terbagi, didukung penuh oleh orang-orang yang paling dicintainya: Ayah Rudi, Ibu, dan adik kecilnya Rina. Kekayaannya bukan lagi angka di layar komputer, tapi sudah menjadi kenyataan yang membawa senyum dan kelegaan bagi keluarganya.
Di samping tempat tidurnya, terhampar peta jalan raya kota Sidoarjo, dan di atasnya tertempel gambar bendera Inggris. Langkah selanjutnya semakin jelas. Satu tahun tersisa. Satu tahun lagi untuk mempersiapkan fisik, mental, bahasa, dan segalanya.
Dika Pratama kini bukan hanya didorong oleh ambisi pribadi atau ingatan masa depan. Ia didorong oleh cinta. Cinta pada sepak bola, cinta pada persahabatan, dan cinta mendalam pada ayahnya sang mantan prajurit, ibunya yang lembut, dan adik kecilnya yang ia cintai lebih dari apa pun. Semangatnya kini berlipat ganda, tekadnya menjadi baja. Ia akan pergi ke Inggris bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk membuktikan bahwa dari rumah kecil di Sidoarjo, anak seorang pensiunan tentara, bisa lahir anak yang mampu menaklukkan dunia.
Persiapan akhir dimulai. Semakin keras, semakin tajam, semakin tak terhentikan.