Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Suasana ruang tamu masih dipenuhi ketegangan setelah pengakuan Arkana. Tidak ada seorang pun yang segera berbicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Arkana mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tampak merah. Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, ia tidak lagi berusaha mencari pembelaan untuk dirinya sendiri.
"Aku tahu apa yang sudah kulakukan tidak bisa dibenarkan," ucapnya pelan. "Tapi ada satu hal yang harus kalian tahu."
Semua mata kembali tertuju kepadanya.
"Aku dan Kanaya belum pernah bercerai."
Kanaya yang semula menunduk langsung mengangkat kepala. Dia pun menoleh kepada Arkana.
"Maksudmu?" tanya Bu Winda.
Arkana menelan ludah sebelum melanjutkan. "Aku tidak pernah menjatuhkan talak kepada Kanaya."
Ruangan kembali sunyi. Kanaya merasakan dadanya berdebar tidak nyaman. Perkataan itu mengingatkannya pada hari paling menyakitkan dalam hidupnya.
Hari ketika ia meninggalkan Arkana karena terlalu sakit hati dan marah. Hari ketika ia memutuskan menghilang tanpa kabar.
"Aya ...." Arkana menatap Kanaya. "Karena itu aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin meresmikan pernikahan kita. Aku ingin menjalani semuanya dengan benar tanpa ada rahasia."
Kanaya langsung menggeleng. "Tidak!" Jawabannya begitu cepat dan tegas.
Arkana terdiam sejenak. "Aya ...."
"Aku tidak mau." Kanaya menatap pria itu tanpa keraguan sedikit pun. "Aku tidak mau mengulang semuanya lagi."
"Tapi kita masih—"
"Aku tahu." Kanaya memotong ucapan Arkana. "Aku tahu apa yang kamu maksud. Tapi status itu tidak mengubah apa pun."
Suara Kanaya tetap tenang. Namun, justru ketenangan itulah yang membuat suasana semakin terasa berat.
Arkana memandangnya dengan mata penuh harapan.
Sedangkan Kanaya terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk berharap. "Aku sudah terbiasa hidup sendiri selama lima tahun, Arkana."
Kalimat itu membuat dada Arkana terasa sesak.
Kanaya menatap kedua anaknya yang sedang duduk tidak jauh dari sana. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku melahirkan sendiri. Aku membesarkan mereka sendiri. Aku menghadapi semua kesulitan sendiri."
Arkana menunduk. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Kanaya terasa seperti pukulan yang tidak mampu ia hindari.
"Aku tidak ingin punya hubungan apa pun lagi denganmu. Kecuali urusan anak-anak." Suara Kanaya mulai bergetar.
Bu Winda menutup matanya sesaat. Ia bisa merasakan betapa dalam luka yang selama ini dipendam Kanaya.
Wajah Arkana semakin terlihat pucat. Namun sebelum ia sempat berbicara, Bu Winda lebih dulu angkat suara.
"Kanaya."
Wanita itu menoleh. Kanaya diam mendengarkan.
Bu Winda menggenggam kedua tangan Kanaya dengan erat. "Mama tidak akan memaksa kamu memaafkan Arkana. Mama juga tidak akan menyuruh kamu melupakan semua luka yang pernah dia berikan."
Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Bu Winda.
"Tapi Mama mohon ... berikan Arka kesempatan untuk menebus kesalahannya." Suara wanita paruh baya itu bergetar.
Kanaya menatap wajah Bu Winda. Untuk pertama kalinya ia melihat seorang ibu yang benar-benar terluka karena perbuatan anaknya sendiri.
"Mama gagal mendidik Arkana dalam satu hal. Mama gagal mengajarinya betapa berharganya hati seorang perempuan." Air mata Bu Winda jatuh.
"Mama..." Arkana memanggil lirih.
Bu Winda langsung menoleh ke arahnya. Tatapannya berubah tajam. "Kamu diam!"
Arkana langsung terdiam.
Bu Winda berdiri dari tempat duduknya. Kemarahannya yang sejak tadi ditahan akhirnya meledak.
"Kamu punya ibu! Kamu punya adik perempuan!" Suara Bu Winda menggema di ruang tamu.
Arkana menunduk. Dia tahu ibunya sedang marah besar karena kesalahannya.
"Lalu, bagaimana bisa kamu mempermainkan perasaan seorang wanita seperti itu?"
"Mama ...." Arkana memelas.
"Jangan panggil Mama!" Suara Bu Winda pecah. "Kalau ada laki-laki yang melakukan hal seperti itu kepada adikmu, apa kamu akan diam?"
Arkana memejamkan mata. Dia merutuki dirinya sendiri karena dahulu tidak berpikir sampai ke sana.
Jika hal itu terjadi kepada Aruna, tentu saja dia tidak akan diam. Bahkan mungkin ia akan menghajar laki-laki itu tanpa ampun.
"Kamu menganggap pernikahan itu seperti permainan!" Air mata Bu Winda terus mengalir. "Padahal itu ikatan suci."
Semua orang terdiam, tidak ada yang berani menyela. Bahkan Shaka yang sejak tadi kesal kepada Arkana ikut menundukkan kepala.
"Kamu menyakiti perempuan yang tidak pernah berbuat buruk kepadamu. Dan kamu membuat cucu-cucu Mama tumbuh tanpa ayah." Suara Bu Winda kini jauh lebih pelan.
Kalimat itu membuat Arkana akhirnya menunduk tak bisa berkutik. Tidak ada lagi yang bisa ia katakan. Karena semua itu memang benar.
Pak Adjie lalu menghela napas panjang. "Arkana."
Arkana mengangkat kepala. "Iya, Pak."
"Kami tidak akan melarang kamu memperbaiki hubunganmu dengan Kanaya. Tapi jangan salah paham." Nada suara Pak Adjie terdengar tegas.
Mata Arkana langsung membesar.
"Itu bukan berarti kami percaya begitu saja. Kamu boleh datang ke sini bertemu Abi dan Aya. Kamu coba perbaiki kesalahanmu."
Pak Adjie menatap Arkana lekat-lekat. Bu Cantika ikut mengangguk.
"Tapi kalau sampai kamu menyakiti Kanaya lagi, maka kamu akan berhadapan dengan kami." Rahang pria paruh baya itu mengeras.
Arkana mengangguk tanpa ragu. "Saya mengerti, Pak."
"Benar-benar mengerti, kan?" Pak Adjie bertanya dengan nada tegas untuk memastikan.
"Saya mengerti, Pak," balas Arkana dengan sungguh-sungguh. Karena ia sadar dirinya memang harus menerima semua konsekuensinya.
Di tengah suasana yang masih berat, tiba-tiba terdengar suara kecil. "Bunda ...."
Semua orang menoleh. Anaya berdiri di samping Kanaya. Mata anak perempuan itu sudah berkaca-kaca. Sejak tadi ia mendengarkan pembicaraan orang-orang dewasa dengan pemahamannya sendiri.
Anaya memeluk lengan Kanaya. "Bunda enggak suka Ayah?"
Pertanyaan polos itu membuat semua orang terdiam.
Kanaya menatap putrinya. "Bukan begitu, Sayang."
"Terus kenapa Ayah mau pergi lagi?" tanya Anaya dengan suara lirih.
Kanaya membeku.
Anaya langsung memeluk ibunya lebih erat. Bibir mungilnya mulai bergetar.
"Aya baru ketemu Ayah hari ini. Aya enggak mau kehilangan Ayah lagi. Boleh enggak Ayah tetap di sini sama kita?" Air mata mulai jatuh satu per satu di pipinya.
Suasana ruang tamu berubah hening.
Arkana yang mendengar itu hatinya langsung bergetar hebat. Bahkan dia bisa merasakan aliran darahnya mengalir deras di setiap otot-ototnya. Namun, melihat air mata Anaya, dadanya terasa sesak.
Sedangkan Kanaya memejamkan mata perlahan. Selama lima tahun, ia berhasil menguatkan dirinya sendiri. Ia berhasil menyingkirkan Arkana di tahta hatinya. Ia berhasil mempertahankan dinding yang dibangunnya dengan susah payah.
Namun hari ini, yang menggoyahkan hatinya bukanlah Arkana. Melainkan suara putrinya sendiri. Anaya memeluk Kanaya sambil menangis.
"Bunda ... Aya pengen punya Ayah juga." Suara tangis Anaya terdengar lirih.
Kanaya menutup mata rapat-rapat. Sejak Arkana datang ke rumah itu, hati yang selama ini keras mulai retak sedikit demi sedikit. Bukan karena luka lamanya sembuh atau ia sudah memaafkan perbuatannya, tetapi karena ia melihat kerinduan yang begitu besar di mata putrinya.
Sebagai seorang ibu, tidak ada yang lebih sulit daripada melihat anaknya memohon sebuah kebahagiaan yang tidak mampu ia berikan seorang diri.
***
Terima kasih untuk doa kalian semuanya. Insya Allah hari ini crazy up banyak, ya. Karena cuma 1 yang ongoing, sambil menyiapkan karya baru.
siapa ya yg Dateng 🤔
bunda masih sulit
anak umur 4 thn udah ngerti kata2 orang dewasa
Kemarin cemburu, sekarang romantis
hayooo siapa mentornya Ay???😃
kayanya akan ada konspirasi si kembar iniiii 😃😆😆😆😆
skin to skin Ar,itu bisa Kamu lakukan
serasa mau nangis, menjerit 😬😬😬
anak kicik cantik tepat nembaknyaa
tau bahasa cemburu 😃