NovelToon NovelToon
Dibeli Seharga 1 Miliar

Dibeli Seharga 1 Miliar

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Tengah Kekacauan

Kegelapan menyelimuti seluruh ruang gudang tua itu hanya dalam hitungan detik. Cahaya sorot yang datang dari luar menyilaukan pandangan pasukan Ramon, membuat mereka tidak bisa membedakan mana kawan mana lawan. Suara tembakan meledak tanpa arah, disusul teriakan kesakitan dan bentakan perintah yang kacau balau. Debu dan serpihan kayu beterbangan memenuhi udara, bercampur dengan bau mesiu dan asap yang menyengat hidung.

Di tengah kekacauan itu, Alex bergerak lincah dan senyap, persis seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan. Ia sudah terlatih bertarung sejak usia muda, mengenal seluk-beluk pertarungan jarak dekat dan cara membaca gerakan lawan tanpa perlu melihat dengan jelas. Satu per satu orang yang mencoba menghalangi jalannya tumbang dalam waktu singkat tidak ada suara berlebih, hanya ketepatan dan kekuatan yang mematikan.

Ramon Salazar yang awalnya merasa paling berkuasa kini mulai panik. Ia meraba-raba sekelilingnya, berusaha menemukan tempat berlindung sambil berteriak memerintahkan anak buahnya. “Cari dia! Jangan biarkan dia kabur! Tembak saja ke mana pun ada gerakan!”

Namun perintah itu justru membuat situasi semakin kacau. Banyak pasukannya yang malah saling menembak karena tidak bisa melihat jelas, sedangkan orang-orang kepercayaan Alex yang dipimpin Rio sudah masuk sepenuhnya dari jalur belakang, menguasai posisi strategis dan memutus semua jalan keluar.

“Kau pikir bisa lari, Ramon?” Suara Alex terdengar lagi, kali ini dari arah yang berbeda, membuat Ramon semakin bingung dan ketakutan. “Tempat ini sudah dikepung rapat. Tidak ada satu pun lubang yang bisa kau gunakan untuk keluar. Kau menjadikan tempat ini sebagai jebakan untukku, tapi justru kau yang terperangkap di dalam sarangmu sendiri.”

Ramon mencoba menenangkan diri, lalu mengangkat senjata yang ia pegang dan menembak secara membabi buta ke arah sumber suara. “Kau tidak akan menang, Alex! Bahkan jika kau membunuhku malam ini, semuanya belum selesai! Masih ada orang lain yang ingin melihatmu jatuh, dan gadis kecilmu itu… dia tidak akan pernah aman selama kau masih hidup!”

Mendengar ancaman yang ditujukan pada Aulia, amarah Alex meledak sepenuhnya. Dalam sekejap, ia sudah melompat mendekat dan menendang keras lengan Ramon, membuat senjata itu terlempar jauh ke sudut ruangan. Dengan satu gerakan cepat, Alex mencengkeram kerah baju Ramon dan membanting tubuhnya ke lantai berdebu dengan kekuatan yang membuat tulang-tulang Ramon terasa nyeri luar biasa.

Di bawah cahaya samar yang masuk dari celah dinding, wajah Alex terlihat sangat mengerikan matanya menyala merah karena amarah, rahangnya mengeras, dan setiap otot di tubuhnya menegang siap melumpuhkan musuhnya.

“Kau berani menyebut namanya lagi?” desis Alex, suaranya terdengar seperti guntur yang siap menyambar. “Aku sudah memperingatkanmu sejak awal. Jangan pernah melibatkan wanita itu dalam urusan kita. Tapi kau memilih jalan yang paling kejam, dan sekarang kau harus menerima konsekuensinya.”

Ramon mencoba meronta, namun cengkeraman Alex terasa seperti besi yang membeku. Napasnya terengah-engah, dan rasa takut mulai menguasai seluruh pikirannya saat ia sadar bahwa ia tidak lagi menghadapi pebisnis biasa, melainkan seorang pemimpin mafia yang sudah lama menumpuk pengalaman dalam dunia kekerasan.

“Bunuhlah aku jika kau berani!” teriak Ramon dengan suara parau. “Tapi ingat, kejahatanmu juga tidak sedikit! Dunia bawah tanah tahu siapa dirimu, dan suatu hari kau juga akan terjatuh seperti aku!”

Alex tersenyum miring, senyum dingin yang tidak menyentuh hatinya. “Aku tidak menyangkal siapa diriku. Aku tahu apa yang kulakukan, dan aku siap bertanggung jawab atas setiap langkahku. Tapi bedanya denganmu aku tidak pernah menyakiti orang tak bersalah, dan aku tidak pernah mengkhianati kepercayaan yang diberikan padaku. Kau justru membangun kekuasaanmu di atas kebohongan, pencurian, dan darah orang lain. Itulah sebabnya kau akan hancur.”

Saat pertarungan itu terasa akan segera berakhir, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar, disusul tembakan yang lebih keras dan intens. Rio yang baru saja mendekat dengan wajah lega seketika berubah menjadi tegang. Ia segera berlari mendekat sambil berteriak, “Bos! Ada orang lain yang masuk! Bukan pasukan kita, bukan juga sisa anak buah Ramon! Mereka menyerang dari luar dan sudah mulai mendesak posisi kita!”

Alex mengerutkan kening, rasa curiga muncul seketika. “Siapa lagi yang berani ikut campur di sini?”

“Belum jelas identitasnya, tapi cara mereka bertempur teratur dan terlatih. Seolah-olah mereka sudah menunggu saat yang tepat untuk menyerang kedua belah pihak sekaligus!” jawab Rio dengan napas terengah-engah.

Saat itu, sebuah ponsel yang tergeletak di samping tubuh Ramon berdering keras. Alex mengambilnya dengan satu tangan, masih menahan tubuh Ramon dengan tangan lainnya. Layar ponsel itu menampilkan nama pemanggil, dan saat Alex membacanya, matanya melebar kaget sekaligus marah. Nama yang tertera adalah Isabella Voss.

Ramon melihat ekspresi Alex dan tertawa terbahak-bahak meski dalam keadaan terjepit. “Kau kira hanya aku yang menginginkan kejatuhanmu, Alex? Kau terlalu sombong! Isabella sudah lama tidak puas hanya menjadi mitra bisnis biasa. Dia ingin mengambil alih seluruh kekuasaanmu, dan dia tahu satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan membuangmu dari peta dan menyingkirkan penghalang terbesarnya yaitu Aulia!”

Kata-kata itu seperti petir yang menyambar di siang bolong. Pengkhianatan itu datang bukan hanya dari musuh yang sudah terang-terangan, tapi juga dari orang yang selama ini terlihat sopan dan berusaha mendekat dengan alasan bisnis. Rasa marah bercampur rasa kecewa, namun yang paling membuat Alex gelisah adalah keselamatan Aulia. Jika Isabella sudah bekerja sama dengan Ramon, maka kemungkinan besar vila tempat Aulia tinggal tidak lagi aman seperti yang ia kira.

Alex segera melepaskan cengkeramannya sebentar, lalu menoleh ke arah Rio dengan tatapan tegas. “Bawa orang-orangmu amankan seluruh area dan tahan Ramon hidup-hidup. Jangan biarkan dia melarikan diri atau terluka parah sebelum aku mendengar semuanya dengan jelas. Aku harus segera kembali ke vila!”

“Tapi Bos, situasi di luar masih berbahaya”

“Tidak ada waktu lagi!” potong Alex cepat. “Jika Isabella sudah berani mengkhianati, maka dia pasti punya rencana ganda. Aulia sendirian di sana, dan aku tidak akan membiarkan dia menjadi korban dari permainan kotor ini!”

Tanpa menunggu jawaban lagi, Alex berlari keluar dari gudang, melompati puing-puing dan menghindari tembakan yang masih melesat di udara. Hatinya berdegup kencang, bukan karena takut pada bahaya yang mengancam dirinya, tapi karena ketakutan terburuknya kehilangan wanita yang menjadi alasan hidupnya.

Sementara itu, di dalam vila yang terlihat tenang dari luar, suasana justru mulai berubah menjadi tidak nyaman. Aulia duduk di ruang tengah, tangannya memegang buku sketsa yang sudah ia buka, namun matanya tidak bisa fokus pada gambar yang ia buat. Pikirannya terus melayang pada Alex, berharap semuanya berjalan lancar dan ia bisa segera kembali dengan selamat.

Beberapa pengawal yang bertugas berjaga terlihat tenang, namun Aulia mulai merasakan ada yang aneh. Sejak beberapa menit yang lalu, ia tidak lagi mendengar suara percakapan atau langkah kaki di luar, dan suasana menjadi terlalu sunyi terlalu sunyi hingga terasa menyesakkan dada.

Tiba-tiba, lampu di seluruh ruangan vila padam seketika, meninggalkan kegelapan yang hanya diterangi cahaya remang dari bulan yang tersembunyi di balik awan. Aulia berdiri kaget, tangannya mencengkeram pinggiran meja. “Ada siapa di luar?” serunya dengan suara bergetar namun berusaha tetap tegas.

Tidak ada jawaban, hanya suara angin yang berdesir di sela-sela jendela. Namun tak lama kemudian, suara langkah kaki halus terdengar mendekat, diikuti oleh suara yang sangat ia kenal suara Isabella Voss.

“Kau terlihat sangat gelisah, Nona Aulia,” ucap Isabella dengan nada lembut namun dingin, seolah sedang berbicara dengan mainan yang sudah berada di tangannya. “Wajar saja, menunggu orang yang kau cintai pergi ke tempat yang bisa menjadi kuburannya. Tapi sayang sekali, kau tidak akan menunggunya pulang malam ini.”

Aulia menoleh ke arah sumber suara, matanya berusaha menembus kegelapan. Ia melihat siluet Isabella berdiri di ambang pintu, diikuti oleh beberapa orang berbadan besar yang mengenakan pakaian serba gelap, wajah mereka tertutup sebagian. Jantung Aulia berdegup kencang, namun ia berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan rasa takutnya.

“Jadi kau yang bekerja sama dengan Ramon,” ucap Aulia dengan suara tegas, meski dadanya terasa sesak. “Selama ini kau pura-pura baik hanya untuk mendapatkan kepercayaan Alex, bukan?”

Isabella melangkah masuk, senyumnya terlihat samar namun penuh kebencian. “Kau mengerti dengan cepat. Alex seharusnya menjadi milikku. Kami sudah membangun jaringan bisnis ini bersama-sama sejak lama. Lalu datanglah kau gadis miskin yang hanya dibeli seharga 1 miliar dan dalam waktu singkat kau berhasil mengambil hatinya serta menguasai seluruh perhatiannya. Itu tidak adil, bukan? Kau tidak pantas berdiri di sampingnya, tidak mengerti dunia tempat dia hidup, dan hanya akan menjadi beban baginya.”

Rasa cemburu yang selama ini samar-samar terasa di hati Aulia kini terjawab sudah. Ia menghela napas panjang, lalu menjawab dengan kepala terangkat tinggi, tidak lagi terlihat lemah seperti yang diduga Isabella.

“Mungkin aku memang tidak seberpengalaman kau dalam urusan bisnis atau kekuasaan,” ucap Aulia tenang. “Tapi satu hal yang aku miliki dan tidak akan pernah bisa kau dapatkan cinta yang tulus dan kepercayaan yang utuh dari Alex. Kau bisa memiliki kekayaan, koneksi, dan pengetahuan sebanyak apa pun, tapi selama hatimu dipenuhi rasa iri dan keinginan untuk menguasai, kau tidak akan pernah bisa memilikinya. Bahkan jika kau membunuhku malam ini, Alex tidak akan pernah mencintaimu.”

Kata-kata itu berhasil membakar amarah Isabella. Wajahnya memerah, dan ia melangkah lebih dekat dengan tatapan tajam. “Kau terlalu banyak bicara! Setelah ini, aku akan memberitahu Alex bahwa kau terbunuh dalam serangan musuh, dan dia akan kembali padaku karena hanya aku yang bisa menemaninya menghadapi sisa perjuangannya. Dia akan melupakannya seiring berjalannya waktu!”

Isabella memberi isyarat pada orang-orang di belakangnya untuk mendekat dan menangkap Aulia. Namun saat mereka baru saja melangkah, suara deru mobil yang melaju kencang terdengar dari luar halaman, disusul suara pintu utama yang terbanting terbuka dengan keras. Sebuah suara yang membuat hati Aulia terasa lega sekaligus berdebar kencang menggema di seluruh ruangan:

“Berani kau menyentuh sehelai rambut pun dari tubuhnya, Isabella… aku akan membuatmu menyesal telah lahir ke dunia ini.”

Alex berdiri di ambang pintu, napasnya terengah-engah karena berlari dan mengemudi dengan kecepatan tinggi, tubuhnya masih terlihat berdebu dan ada bekas luka kecil di pipinya, namun tatapannya memancarkan amarah yang paling mematikan yang pernah ia tunjukkan. Matanya langsung terkunci pada Aulia, memastikan wanita itu aman, lalu beralih menatap Isabella dengan pandangan yang seolah ingin membakarnya hidup-hidup.

Isabella terkejut, wajahnya pucat pasi karena tidak menyangka Alex bisa kembali secepat ini dan selamat dari jebakan Ramon. Ia mundur selangkah, namun berusaha tetap mempertahankan keberaniannya. “Alex… kau masih hidup? Ini tidak mungkin…”

“Kau pikir perangkap murahan itu bisa membunuhku?” tanya Alex dingin sambil melangkah masuk perlahan, setiap langkahnya terasa berat dan mengancam. “Pengkhianatanmu sudah terungkap, Isabella. Semua bukti kerjasamamu dengan Ramon sudah ada di tanganku. Sekarang, kau akan membayar mahal atas semua rencana kotormu ini.”

Namun sebelum Alex sempat melangkah lebih dekat, Isabella tiba-tiba menarik Aulia dengan kasar dan menodongkan pisau kecil di leher wanita itu, menjadikannya perisai hidup. Aulia terkejut, namun ia tetap berusaha tenang dan menatap Alex dengan pandangan yang menyuruhnya untuk tidak bertindak sembarangan.

“Jangan mendekat!” teriak Isabella dengan suara melengking, matanya menyala karena panik dan marah. “Jika kau bergerak selangkah lagi, aku akan mengiris lehernya sekarang juga! Kau pilih, Alex kekuasaan dan hidupmu, atau nyawa gadis ini yang kau cintai lebih dari apa pun?”

Suasana seketika membeku. Alex berhenti melangkah, tangannya mengepal erat hingga kuku menancap ke telapak tangan. Di hadapannya berdiri dua pilihan yang sama beratnya, dan waktu terasa berjalan sangat lambat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!