Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Udara di dalam ruang kerja itu terasa berat oleh aroma kopi yang sudah mendingin dan tumpukan berkas yang belum selesai.
Jati masih terpaku di depan layar monitornya, mencoba menulikan pendengaran dari suara tawa yang lamat-lamat terdengar dari ruang tengah.
Pintu kayu itu terbuka dengan kasar, menghantam dinding pelan.
Jati tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang, namun pemandangan di depannya tetap saja membuat dadanya terasa seperti dihantam palu godam.
Mila berdiri di sana, tampil anggun dengan gaun musim panasnya. Namun, jemarinya terkunci rapat, menggandeng tangan Andre yang berdiri di sisinya dengan senyum tipis yang merendahkan.
"Mas, berikan aku uang. Aku mau shopping sama Andre," ucap Mila tanpa basa-basi.
Suaranya datar, seolah meminta uang belanja sayur biasa, padahal ia sedang memamerkan pengkhianatannya tepat di depan mata suaminya.
Jati perlahan bangkit dari duduknya. Kursi kerjanya berderit kecil, memecah kesunyian yang tegang.
Ia menatap tangan mereka yang bertautan, lalu beralih ke mata istrinya yang kini tampak asing.
"Kenapa minta uang ke aku?" suara Jati rendah, bergetar oleh emosi yang berusaha ia tekan sekuat tenaga.
"Bukankah kamu sudah ada Andre? Biarkan dia yang membiayaimu."
Mila justru mendengus, melangkah maju tanpa melepaskan pegangan tangannya dari Andre. Ia menatap Jati dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.
"Mas ingat ya! Aku sama Andre seperti ini juga gara-gara kamu! Kamu yang mandul dan tidak bisa memberikan aku keturunan! Kamu gagal jadi laki-laki, Mas!"
Jati terdiam sejenak, seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang.
Perkataan istrinya lebih tajam dari sembilu, menusuk tepat di titik paling rapuh dalam harga dirinya.
"Jadi sekarang, jangan banyak bicara," lanjut Mila dingin, menjulurkan telapak tangannya.
"Berikan uang untuk aku belanja. Anggap saja ini kompensasi atas tahun-tahun sia-sia yang aku habiskan bersamamu tanpa hasil."
Andre menyunggingkan senyum simpul, sebuah lengkungan di bibir yang penuh dengan penghinaan.
Ia sengaja mempererat genggaman tangannya pada jemari Mila, seolah ingin memamerkan kemenangannya di depan wajah Jati.
"Makanya Jati," Andre membuka suara, nada bicaranya santai namun beracun.
"Jadi lelaki itu harus perkasa. Kalau cuma bisa diam dan mematung begini, jangan-jangan kamu sebenarnya homo ya? Pantas saja Mila kering kerontang bersamamu."
Darah Jati mendidih saat mendengar perkataan dari Andre
Kalimat itu bukan lagi sekadar hinaan atas kekurangannya, tapi serangan telak pada harga dirinya sebagai seorang pria.
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat telak di rahang Andre.
Suara hantaman itu bergema di ruang kerja yang sempit tersebut.
Andre terhuyung ke belakang, melepaskan pegangan tangannya dari Mila dan menabrak rak buku hingga beberapa berkas jatuh berserakan.
"Mas Jati! Kamu gila?!" teriak Mila histeris, matanya melotot lebar melihat Andre meringis kesakitan sambil memegang wajahnya yang mulai memerah.
Jati tidak menyahut. Napasnya memburu, namun matanya menatap dingin ke arah dua orang yang telah menghancurkan hidupnya itu.
Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar kunci mobil di atas meja dan melangkah lebar keluar dari ruang kerja.
"Jati! Balik kamu! Berikan uangnya dulu! Jati!" teriakan Mila melengking memenuhi koridor rumah, namun Jati terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun.
Baginya, tembok kesetiaan yang ia bangun bertahun-tahun telah runtuh total hari ini. Dan ia tidak sudi lagi berada di bawah atap yang sama dengan mereka.
Jati mengendarai mobilnya tanpa tujuan, hingga bannya berhenti di sebuah taman kota yang sepi.
Ia duduk di salah satu bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, menunduk dalam dengan tangan mencengkeram rambutnya sendiri.
Pikiran Jati melayang ke masa dua tahun lalu. Kilatan lampu truk, suara decit rem yang memekakkan telinga, dan hantaman keras yang mengubah hidupnya selamanya.
Dokter bilang itu mukjizat ia bisa selamat, namun bagi Jati, itu adalah kutukan.
Kecelakaan hebat itu merusak saraf vitalnya, membuat "kejantanannya" mati rasa.
Ia bukan hanya kehilangan kemampuan memberikan keturunan, tapi juga kehilangan harga dirinya sebagai lelaki normal di depan Mila.
"Brengsek!!" geram Jati. Suaranya pecah, sarat dengan kepedihan yang memuncak.
Rasa sesak di dadanya tak tertahankan lagi. Ia menyambar sebuah batu sekepalan tangan dari bawah kakinya, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah semak-semak rimbun untuk meluapkan amarah yang membakar.
"Aduh!!"
Sebuah jeritan melengking memecah kesunyian taman. Jati tersentak, amarahnya seketika digantikan oleh rasa terkejut yang hebat.
Dari balik rimbunnya tanaman hias, seorang wanita muncul sambil memegangi sisi kepalanya. Ia meringis kesakitan, matanya sedikit berair.
"Siapa yang lempar batu sembarangan?!" seru wanita itu, suaranya gemetar antara kaget dan sakit.
Jati sedikit terkejut ketika melihat wanita itu yang memiliki wajah yang teduh namun kini tampak pucat.
Ia sedang duduk di balik semak tersebut, mungkin mencari ketenangan yang sama dengan Jati, sebelum sebuah batu nyasar mendarat di pelipisnya.
"Maaf, saya tidak tahu ada orang di sana," ucap Jati terbata-bata, segera bangkit dari duduknya dengan perasaan bersalah yang amat sangat.
Lintang menatap Jati. Ia melihat guratan luka yang sangat dalam di wajah pria itu—bukan luka fisik seperti yang ia alami di kepala, melainkan luka jiwa yang jauh lebih parah. Amarah Lintang yang tadinya hendak meluap, perlahan mereda saat melihat mata Jati yang merah dan basah.
"Sakit, Mas," ucap Lintang pelan, tangannya masih menekan luka di kepalanya.
"Lain kali kalau mau buang kemarahan, jangan pakai batu. Bisa mencelakai orang, Mas."
Jati tersentak saat melihat cairan merah kental mulai merembes dari sela-sela jari wanita itu.
Rasa bersalah seketika menghantamnya, memadamkan api amarah yang tadi membakar dadanya.
"Darahnya cukup banyak, Mbak. Ayo, kita ke rumah sakit sekarang," ajak Jati dengan nada mendesak.
Ia melangkah mendekat, hendak membantu wanita itu berdiri.
Wanita itu meringis, mencoba menahan perih di pelipisnya.
Ia menggeleng pelan sambil tetap menekan lukanya dengan sapu tangan lusuh yang ia ambil dari tasnya.
"Tidak usah, Mas. Ini hanya luka kecil. Nanti juga kering sendiri kalau sudah dibasuh air bersih."
Jati terdiam, matanya tak sengaja memperhatikan penampilan wanita di depannya.
Ia mengenakan seragam polo berwarna biru pudar dengan bordiran nama sebuah panti pijat refleksi di bagian dadanya.
Di tas selempangnya yang sudah mengelupas, terlihat botol minyak urut dan handuk kecil yang menyembul keluar.
"Kamu, tukang pijat?" tanya Jati.
Wanita itu mendongak, menatap Jati dengan sepasang mata yang tampak lelah namun sangat jernih.
Ia menganggukkan kepalanya dengan perlahan, tanpa ada rasa malu sedikit pun di wajahnya.
"Iya, Mas," jawabnya tenang. Ia merogoh kantong tasnya, mengeluarkan selembar kartu nama yang sudutnya sudah agak tertekuk dan menyerahkannya kepada Jati.
"Nama saya Lintang. Ini kartu nama saya, Mas. Saya seorang janda dan hanya ini yang bisa saya lakukan untuk menghidupi diri saya sendiri. Kalau Mas atau keluarga ada yang butuh pijat capek, bisa hubungi saya."
Jati menerima kartu itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Nama "Lintang – Jasa Pijat Tradisional & Refleksi" tertera di sana dengan nomor telepon yang ditulis tangan di bawahnya.
Ada sesuatu yang berdesir di hati Jati. Di saat ia merasa hidupnya hancur karena pengkhianatan Mila dan cacat fisiknya, ia justru bertemu dengan seorang wanita yang hidupnya jauh lebih sulit, namun tetap berdiri tegak demi menyambung nyawa.
Sejenak, Jati lupa pada Andre dan Milia yang sudah membuatnya kesal.
Matanya kini hanya tertuju pada sosok Lintang yang sedang berusaha tersenyum meski pelipisnya masih berdenyut nyeri akibat ulahnya.
Jati menunduk, menatap kartu nama di tangannya yang kini sedikit ternoda bercak darah kecil—darah Lintang yang tertumpah karena amarahnya. Rasa bersalah itu masih tersisa, menghimpit di antara rasa sesak akibat hinaan Mila dan Andre tadi.
"Saya antar pulang ya, Mbak? Sebagai permintaan maaf karena sudah melukai Anda," tawar Jati tulus. Ia berharap bisa melakukan sesuatu untuk menebus kekacauannya.
Lintang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa hangat namun penuh kemandirian.
Ia merapikan sapu tangannya dan berdiri dengan perlahan, meskipun wajahnya masih sedikit pucat.
"Tidak usah, Mas. Terima kasih tawarannya, tapi saya masih harus lanjut kerja lagi. Ada pelanggan di dekat sini yang sudah menunggu," jawab Lintang lembut.
Ia mengangguk sopan pada Jati, lalu berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah yang tenang, meninggalkan Jati sendirian di bangku taman itu.
Jati hanya bisa terpaku, melihat punggung wanita itu hilang di balik rimbunnya pepohonan.
Jati kembali menatap kartu nama di jemarinya. Nama "Lintang" seolah menjadi satu-satunya benda yang nyata di tengah dunianya yang baru saja hancur berkeping-keping.
Dengan perlahan, ia memasukkan kartu itu ke dalam dompetnya dimana sebuah tindakan yang tanpa ia sadari akan menjadi awal dari babak baru dalam hidupnya yang penuh luka.