NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:95.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Malam yang Tidak Akan Terulang

Malam itu… berbeda. Bukan karena suasana rumah. Bukan juga karena sesuatu yang terlihat jelas. Tapi karena, Kaisyaf pulang… seperti dulu.

Langkahnya tidak tergesa. Wajahnya tidak setegang biasanya.

Saat pintu terbuka, Alvian yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh.

“Abi!”

Bocah itu berlari kecil. Kaisyaf menyambutnya. Mengangkatnya sebentar… seperti kebiasaan yang entah sejak kapan jarang ia lakukan. Atau mungkin sudah lama tak ia lakukan.

“Udah makan?” tanyanya.

Alvian menggeleng cepat. “Belum.”

“Bagus.” Kaisyaf tersenyum tipis. “Kita makan bareng.”

Ayza yang berdiri di dekat dapur terdiam sejenak. Menatap pemandangan itu.

Ada sesuatu yang… terasa hangat. Dan anehnya, justru itu yang membuat dadanya sedikit sesak.

 

Meja makan terisi. Tidak mewah. Namun malam itu… terasa istimewa.

Kaisyaf duduk di sebelah Alvian. Ayza di seberang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kini terasa tak ada jarak.

Kaisyaf mengambilkan nasi untuk Alvian. Lalu lauk. Memisahkan bagian yang terlalu panas.

“Pelan makannya,” ucapnya lembut.

Tangannya sesekali mengusap kepala bocah itu. Gerakan kecil… yang dulu terasa biasa. Namun malam ini… berbeda.

Alvian tersenyum lebar. Lebih banyak bicara dari biasanya. Menceritakan hal-hal kecil yang mungkin sering terlewat.

Dan Kaisyaf mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Tanpa memotong. Tanpa mengalihkan perhatian. Seolah… tidak ingin melewatkan satu kata pun.

Di seberang meja, Ayza diam. Matanya beberapa kali tertuju pada Kaisyaf.

Cara pria itu tersenyum. Cara ia menatap Al. Cara ia kembali… menjadi seseorang yang dulu ia kenal.

Hangat. Tenang. Seolah semua yang terjadi sebelumnya… tidak pernah ada. Namun justru itu, yang membuat dadanya semakin tidak nyaman.

“Al.”

Suara Kaisyaf membuat bocah itu langsung menoleh.

“Iya, Bi?”

Kaisyaf menatapnya. Dalam. Lebih lama dari biasanya.

“Al laki-laki, 'kan?”

Alvian mengangguk cepat. “Iya!”

Senyum kecil muncul di wajah Kaisyaf.

“Berarti harus kuat.”

Alvian mengangguk lagi. Lebih semangat.

“Harus bisa jaga Umi.”

Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa… nada suaranya lebih dalam. Lebih berat.

“Dan jaga diri sendiri,” lanjut Kaisyaf pelan. “Apa pun yang terjadi nanti.”

Alvian tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia tetap mengangguk.

“Al janji, Bi.”

Jawaban itu polos. Yakin.

Dan justru itu… yang membuat sesuatu di mata Kaisyaf sempat goyah.

Namun hanya sesaat. Tangannya kembali mengusap kepala Alvian.

“Anak Abi.”

Beberapa saat kemudian, Kaisyaf bersandar sedikit di kursinya.

“Ke depan… Abi mungkin bakal lebih sibuk.”

Nada suaranya tetap tenang. Namun cukup untuk membuat Ayza mengangkat wajah.

“Sibuk?” ulangnya pelan.

Kaisyaf mengangguk.

“Mungkin jarang pulang.”

Kalimat itu jatuh ringan. Namun tidak terasa ringan bagi yang mendengar.

“Maaf," katanya singkat.

Namun kali ini… ia tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya bergantian antara Alvian dan Ayza.

“Tapi percayalah…” suaranya lebih pelan sekarang, “Abi sayang Al… dan Umi.”

Alvian langsung mengangguk. “Al tahu, Bi.”

Ia bahkan tersenyum. Tidak ragu sedikit pun.

Namun Ayza, tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kaisyaf. Lama. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik kalimat itu.

Namun yang ia temukan… justru sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Hangat. Tapi terasa seperti… jauh.

Malam itu ditutup dengan sederhana. Namun tanpa mereka sadari, itulah terakhir kalinya mereka duduk bersama seperti itu.

Tanpa jarak. Tanpa rahasia yang terungkap. Dan tanpa tahu… bahwa salah satu dari mereka… sedang mengucapkan selamat tinggal.

 

Malam semakin larut.

Alvian sudah terlelap di kamarnya.

Lampu kamar Kaisyaf hanya menyisakan cahaya temaram.

Ayza berdiri di dekat lemari saat Kaisyaf masuk. Ia sempat menoleh. Tatapannya bertemu.

Ada jeda kecil. Namun terasa. Berbeda dari biasanya.

Kaisyaf mendekat. Tidak terburu. Tidak juga ragu. Tangannya terangkat… menyentuh lengan Ayza. Lembut. Seolah memastikan sesuatu yang masih ada di tempatnya.

“Ayza…” Suaranya rendah.

Ayza menatapnya. Dalam. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tentang perubahan. Tentang sikap dingin. Tentang kata “cerai” yang masih terasa menggantung.

Namun sebelum semua itu keluar, Kaisyaf sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan. Pelan. Namun erat.

Ayza terdiam. Tubuhnya sempat kaku… sebelum akhirnya perlahan luluh.

Pelukan itu… terasa berbeda. Bukan sekadar dekat. Tapi seperti… menahan. Menahan sesuatu agar tidak benar-benar lepas.

“Maaf…”

Bisikan itu jatuh di dekat telinganya.

Ayza mengernyit sedikit. “Abi—”

“Maaf…" potong Kaisyaf. "...kalau akhir-akhir ini aku menyakitimu.” Suaranya tetap tenang. Namun lebih dalam dari biasanya.

Ayza menahan napas. Tangannya perlahan terangkat… membalas pelukan itu.

“Abi kenapa…?” tanyanya pelan. Hati-hati. Seolah takut jawabannya akan menghancurkan sesuatu.

Kaisyaf tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik napas… lalu sedikit menjauh. Menatap wajah Ayza. Lama. Seolah mencoba menghafal lagi.

“Boleh…” suaranya lebih pelan sekarang, “…malam ini saja… kita gak bahas apa-apa?”

Ayza terdiam. Tatapan itu. Nada itu. Semuanya terasa… seperti permintaan yang tidak biasa.

“Aku…” lanjut Kaisyaf lirih, “aku ingin… nikmatin kebersamaan kita malam ini.”

Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa… membuat dada Ayza terasa sesak.

Seperti ada sesuatu yang akan hilang. Namun belum ia mengerti apa.

Ia tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil. Dan itu… sudah cukup.

Kaisyaf mengusap pipi Ayza perlahan. Gerakan yang dulu sering ia lakukan. Yang sempat hilang. Kini kembali. Dan justru karena itu… terasa lebih dalam.

Ia menunduk sedikit. Mendekat. Kening mereka bersentuhan. Diam. Hanya napas yang saling berbaur.

Tidak tergesa. Tidak liar. Hanya… dekat. Sangat dekat.

Ayza memejamkan mata. Dan untuk beberapa saat… ia memilih tidak bertanya. Tidak mencari jawaban. Hanya merasakan.

Bahwa pria ini, masih di sini. Masih miliknya.

Perlahan, bibir Kaisyaf menyentuh bibir Ayza. Lembut. Seperti menghapus jarak yang sempat ada di antara mereka.

Ayza tidak menolak. Tangannya justru terangkat, mencengkeram pelan kemeja pria itu.

Dan tanpa banyak kata, mereka saling mendekat. Lebih dekat. Hingga akhirnya, tubuh itu berbaring dalam satu ranjang yang sama. Saling menemukan kembali.

Bukan dengan tergesa… tapi dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keinginan.

Seperti… mengingat. Seperti… menegaskan bahwa mereka masih satu.

Malam itu berlalu tanpa banyak kata. Namun dalam diam, ada genggaman yang tidak dilepas. Ada pelukan yang bertahan lebih lama.

Seolah keduanya, tanpa benar-benar sadar, sedang menahan waktu.

Agar tidak cepat pergi.

Dan ketika jarak itu akhirnya benar-benar hilang… Ayza tidak lagi mencoba bertanya.

Ia hanya memejamkan mata. Membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang sudah lama ia rindukan.

Dalam kedekatan yang terasa utuh… seolah semua yang retak sebelumnya perlahan menyatu kembali.

Jantung mereka berdetak tidak beraturan. Napas saling berkejaran. Hangat tubuh itu kembali terasa… familiar, namun entah kenapa juga terasa berbeda.

Tatapan mereka saling mengunci. Bukan sekadar keinginan, tapi seperti memastikan. Bahwa mereka masih saling memiliki.

Malam itu… mereka kembali menjadi sepasang suami istri.

Tanpa jarak. Tanpa dinding. Tanpa rahasia -- setidaknya… untuk malam ini.

 

Beberapa waktu kemudian, di bawah selimut yang hangat, mereka terbaring saling mendekap.

Napas perlahan kembali tenang. Namun pelukan itu… tidak langsung terlepas. Justru semakin erat.

Seolah salah satu dari mereka… takut jika dilepas, semuanya akan benar-benar berakhir.

Ayza memejamkan mata. Tanpa tahu… bahwa pria yang ia peluk malam itu, sedang mengingatnya.

Dengan cara yang berbeda.

Dan di saat Ayza terlelap dalam hangat yang ia percayai akan tetap ada…

Kaisyaf justru terjaga. Menatapnya lama. Dalam diam yang… terlalu penuh. Karena ia tahu, ini bukan sekadar kembali.

Ini perpisahan.

Dan besok...ia akan pergi tanpa membangunkannya.

Karena jika Ayza terbangun… ia tahu, ia tidak akan sanggup benar-benar pergi.

 

...🔸🔸🔸...

..."Kadang perpisahan paling menyakitkan bukan yang diucapkan,...

...tapi yang disembunyikan dalam kehangatan terakhir."...

..."Tidak semua selamat tinggal diucapkan....

...Sebagian... hanya dirasakan setelah semuanya terlambat."...

..."Ia memilih mencintai sepenuhnya malam itu,...

...karena besok… ia harus belajar melepaskan."...

..."Yang paling kejam bukan kehilangan,...

...tapi diberi satu malam sempurna sebelum semuanya diambil."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Puji Hastuti
kok AQ semakin sedih ya/Sweat/
mama
ayza mokong juga ya ternyata,gk kasihan sm al..ego ny tellu gede..ujung2 ny ank mu yg kena imbas ny..klu terjadi apa2 baru nyesel km ay.. greget sm sifat ayza makany tak skip trs🤣
Wardi's
lama2 agak nyebelin juga sih sm divya..., cari perhatian yg berlebihan.. inget ri, fokus utama lo apa.. janji sm alm..
Wardi's
kakek neneknya knp gk tinggal bareng aja ya.. dah pensiun enaknya tinggal brg cucu..
Wardi's
ayza mulai goyah...
Yunita Sophi
ya Ayza demi anak menyerahlah...
LibraGirls
kalau km ngikutin ego mu ank mu jd korban nya ay ag entah lah serba salah 😫🙊
Oma Gavin
ternyata ayza nunggu anak nya hampir mati baru sadar dari ego nya, sekarang kamu mau telpon fahri terlambat dia lagi ada misi karena ngga ingin mengecewakan ibunya silahkan nyesel dan urus sendiri urusan mu ayza sesuai keinginan mu jgn lagi libatkan fahri dlm hidup mu
Anonim
Divya ini seenaknya sendiri - memanfaatkan Bundanya Fahri untuk memaksa Fahri menemani dirinya ke acara reuni sekolah. Pemaksaan kan namanya.

Reza ketawa bahagia mendengar pembicaraan Bundanya pada Fahri.

Mau tidak mau Fahri menemani Divya berangkat reuni.

Reza jangan senang dulu - jalanmu bukan makin lapang. Tidak semudah yang kau bayangkan. Percaya diri boleh. Tapi harus tahu diri - Ayza sudah sangat terluka dengan ulahmu. Tak mungkin niatmu sampai.

Alvian demam tinggi.
Tubuhnya semakin memanas. Ayza Al ke rumah sakit.

Ayza - masih mau mempertahankan ego-mu ?
Anonim
Alvian demam akibat kehujanan. Hujan hanya pemicunya. Tapi kesedihan yang melanda karena tidak dijemput maupun tidak bersama Om Fahri lagi.

Alvian tidak mau minum obat - penginnya tidur.

Ayza, Alvian cepat sembuh kalau Om Fahrinya ada.

Alvian memanggil Om - bukti tidak bisa dipisahkan dari Om Fahri.

Keputusan yang Ayza ambil - bukan hal yang benar. Sekarang jadi bimbang kan.

Kasihan Al.
Anonim
Fahri kepikiran Alvian yang tidak suka hujan. Coba Fahri tahu - Alvian yang tidak merasakan hujan ketika pulang sekolah, keluar menuju gerbang sekolah.

Fahri dihadapannya Divya - pikirannya Alvian. Cuaca sedang hujan, jadi kepikiran.

Dean tahu Fahri sedang tidak baik-baik saja.

Dean tanya pada Fahri ketika melihat muka Fahri kayak orang yang menahan sesuatu.

Fahri menceritakan apa yang menjadikan dirinya gundah.

Semua Fahri ceritakan pada Dean.

Dean yang mendengarnya memberi komentar - rumit.

Fahri bilang lebih dari itu.

Alvian yang menjadi kurban.

Setelah apa yang dikatakan Fahri selanjutnya - Dean memberi masukan. Dan memberikan pilihan.
Anitha Ramto
Telp Fahri Ayza...kalo Alvian itu butuh Fahri,,turunkanlah egomu jangan sampai kamu menyesal jika terjadi sesuatu pada Alvian
Anitha Ramto
nahkaan Alvian sakit untuk minum obat saja Al geser menjauh tidak mau nurut minum obat,,,
karena obatnya Al hanya butuh Om Fahri...ķamu akan tetap bertahan seperti itu Ayza...untuk tidak menghubungi Fahri untuk Al...

sabar Al...
nanti Om Fahrimu datang😭
LibraGirls
ayooooo laaahh ay kesian al 😫😫😫😫
Eka Burjo
Fahri, ga usah nuruti kemauan Ayza, temui Alvian kasian tauuuuuk😡😡
Eka Burjo
maaf thor izin mau memakai Fahri ya,
Fahri jahat 😡
Fitra Sari
lanjuttt kkk please...
Fahri sama ayzaaa
asih
bu siti terlalu memaksa, dengan cara begini dia menyakiti fahri Dan juga Al, ayza menghargai keputusan bu siti makanya dia menyuruh fahri utk menjauh ..jadi Karna perjodohan 3 orang tersakiti yg paling menjadi korban adlah Al kasihan bocah kecil yg tak tau apa²,..
turunkan egomu ay tlfn fahri sebelum dia pergi ke luar kota ..

lagian itu Divya cwek apaan ngajak fahri ke reuni luar kota waktu malam lagi, kayaknya bener deh si Divya suka ma fahri Karna reputasi dia seorang pembalap terkenal,CEO perusahaan Dan kaya dia mau pamer ke temen² nya kalau dia punya calon suami yg wow, fahri ambil keputusan sekarang tolak Divya langsung lah g usah nunggu waktu setahun
Fitra Sari: lanjuttt lagiii thorrr
total 1 replies
Sugiharti Rusli
semoga saja kamu tidak terlambat menyelamatkan putra kamu itu sih, yang bisa jadi akan menjadi penyesalan seumur hidup,,,
Sugiharti Rusli
dan Ayza kamu merasa bisa melakukan sendiri apa yang terjadi pada Alvian di saat tubuhnya sudah sangat lemah karena yang sakit bukan fisiknya semata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!