NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20: Melampaui Batas Dingin

​Salju turun semakin lebat, butiran kristalnya menghantam wajahku seperti serpihan kaca yang tajam. Di depanku, tiga ekor Crawler elit itu merendahkan tubuh mereka, otot-otot merah mereka berkedut di bawah lapisan es yang tipis. Mereka tidak langsung menyerang. Mereka bergerak mengitariku, sinkron, seolah-olah mereka adalah satu pikiran yang terbagi dalam tiga tubuh. Di belakang mereka, si Pemimpin berdiri membeku, tongkat tengkoraknya terangkat sedikit, memancarkan aura otoritas yang tidak masuk akal bagi seekor mayat hidup.

​"Zidan! Tangkinya hampir penuh!" teriak Kurumi dari balik helikopter. Suaranya gemetar, berpacu dengan deru angin badai yang semakin gila.

​"Terus isi! Jangan berhenti sampai jerigen itu kosong!" balasku tanpa mengalihkan pandangan.

​Logikaku sedang bekerja di level maksimal. Tiga lawan satu di ruang terbuka dengan mobilitas mereka yang tinggi adalah skenario buruk. Peluangku untuk menang dalam kontak fisik langsung hanya 5%. Tapi, zombi tetaplah zombi; mereka bereaksi terhadap rangsangan. Jika aku bisa memanipulasi rangsangan itu, aku bisa mengubah persentase kemenangan.

​Crawler pertama menerjang dari sisi kiri. Dia tidak melompat tinggi, melainkan meluncur rendah di atas salju untuk mengincar kakiku.

​DOR!

​Aku melepaskan satu tembakan HK416 ke arah depannya, bukan tepat ke arahnya. Peluru itu menghantam lantai beton landasan, menciptakan percikan api dan suara dentuman yang bergema. Makhluk itu tersentak kaget, instingnya membuatnya melompat mundur sesaat.

​Celah itu sudah cukup. Aku segera berputar, menggunakan momentum putaranku untuk mengarahkan laras senapan ke Crawler kedua yang mencoba menyergap dari belakang.

​RATATAT!

​Tiga peluru kaliber 5.56mm menembus dadanya. Dia terjerembap, darah hitamnya mengotori salju putih, tapi dia masih mencoba merangkak. Mereka jauh lebih tangguh daripada varian yang kutemui di Markas Omega.

​"Zidan, awas!"

​Kurumi berteriak tepat saat Crawler ketiga melompat dari atap hanggar di atasku. Aku tidak sempat mengarahkan senapan. Dengan refleks yang dipicu adrenalin murni, aku melepaskan HK416 yang tergantung di tali sandang dan mencabut pisau tempur di pinggangku.

​Aku menjatuhkan diriku ke samping, berguling di atas salju yang dingin. Cakar makhluk itu merobek jaket tebal di bahuku, menyisakan perih yang membakar. Saat aku berguling kembali ke posisi berdiri, aku menghantamkan gagang pisau ke arah wajahnya yang menjijikkan, lalu menusukkan bilahnya dalam-dalam ke celah tulang lehernya.

​Makhluk itu memekik parau sebelum akhirnya tumbang. Dua tumbang, satu tersisa.

​Namun, si Pemimpin tampak bosan dengan pertunjukan ini. Dia menghentakkan tongkatnya ke lantai beton. BRAK! Suara itu bukan sekadar bunyi kayu menghantam semen; itu adalah gelombang sonik yang membuat kepalaku berdenyut hebat. Pandanganku sempat kabur sejenak.

​Crawler terakhir memanfaatkan momen itu. Dia menerjang, cakarnya mengincar tenggorokanku.

​"TIDAK!"

​Kurumi tiba-tiba muncul dari samping helikopter, dia mengayunkan sekopnya sekuat tenaga. CLANG! Ujung tajam sekop itu menghantam rahang si Crawler, membelokkan arah serangannya. Makhluk itu hanya berhasil menggores lengan Kurumi sebelum terjatuh di sampingnya.

​"Kurumi, mundur!" aku berteriak sambil memungut kembali senapanku.

​Aku menarik pelatuk secara membabi buta ke arah makhluk yang masih mencoba menerkam Kurumi. Peluru terakhir di magazenku menghancurkan kepalanya.

​Hening sejenak. Hanya ada suara mesin helikopter yang mulai batuk-batuk mencoba menyala, beradu dengan deru badai. Si Pemimpin kini berdiri sendirian. Dia menatapku, lalu menatap Kurumi. Ada kilatan aneh di matanya—sesuatu yang menyerupai rasa ingin tahu yang dingin.

​Dia mulai berjalan mendekat. Setiap langkahnya lambat, namun setiap pijakannya meninggalkan retakan kecil di beton yang membeku.

​"Zidan, helikopternya sudah siap! Masuk sekarang!" Kurumi menarik lengan jaketku, wajahnya pucat pasi, lengannya berdarah.

​Aku menatap si Pemimpin. Logikaku berbisik bahwa jika aku membiarkannya hidup, dia akan terus mengejar kami. Dia bukan sekadar zombi; dia adalah titik pusat dari wabah baru ini. Tapi logikaku yang lain berkata: amunisiku menipis, badai semakin parah, dan helikopter ini adalah satu-satunya tiket keluar.

​"Naik, Kurumi! Hidupkan mesinnya!" perintahku.

​Aku mengambil satu granat terakhir dari saku rompiku—granat fragmen M67 yang kupersiapkan untuk saat-saat terakhir. Aku menarik pinnya, tapi aku tidak melemparnya. Aku memegangnya erat.

​Si Pemimpin berhenti sekitar lima meter dariku. Dia mengangkat tangannya yang kurus dan panjang, menunjuk tepat ke arah jantungku. Kemudian, dia mengeluarkan suara. Bukan geraman, tapi kata-kata yang rusak dan parau.

​"Ma... nu... sia... la... par..."

​Duniaku seolah berhenti berputar. Dia bicara? Logikaku hancur seketika. Jika mereka bisa bicara, artinya mereka bukan lagi mayat hidup tanpa otak. Mereka adalah spesies baru.

​"Zidan! Ayo!" Kurumi sudah berada di dalam helikopter yang mulai terangkat dari landasan.

​Aku mundur perlahan, mataku tetap terkunci pada makhluk itu. "Aku bukan manusia yang lapar, monster. Aku adalah manusia yang akan memastikan spesiesmu tidak punya masa depan."

​Aku melempar granat itu tepat ke bawah kaki si Pemimpin. Di saat yang sama, aku melompat dan meraih tangga tali helikopter yang menjuntai.

​BOOOOOMMMM!

​Ledakan itu mengguncang seluruh landasan. Api merah menyala sesaat di tengah badai putih. Aku melihat si Pemimpin terlempar oleh gelombang kejut, namun sebelum asap menutupinya, aku melihatnya bangkit kembali. Dia tidak mati. Dia hanya terluka.

​Helikopter Little Bird menanjak tajam menembus kabut salju. Aku merangkak masuk ke dalam kabin, napasku terengah-engah, tubuhku gemetar bukan karena dingin, tapi karena sisa adrenalin dan keterkejutan luar biasa.

​"Zidan! Kamu tidak apa-apa?" Kurumi segera memelukku, dia menangis tersedu-sedu sambil memegang lengannya yang terluka.

​Aku menjauhkan diri sedikit, mencoba mengatur napas dan logikaku kembali. "Aku baik-baik saja. Fokus pada penerbangan. Kita harus keluar dari zona badai ini sebelum sistem elektroniknya membeku."

​Kami terbang menjauh dari Puncak Frost yang kini tampak seperti tumpukan api di tengah lautan salju. Aku melihat ke arah lengannya yang tergores. Darah merahnya kontras dengan warna kursi helikopter.

​"Sini," kataku singkat. Aku mengambil kotak P3K dari bawah kursi. "Luka itu harus segera dibersihkan. Cakar mereka mengandung bakteri pembusuk yang cepat merusak jaringan."

​Aku membersihkan lukanya dengan alkohol. Kurumi merintih kesakitan, tapi dia tidak menarik tangannya. Aku membalutnya dengan rapi, seefisien mungkin.

​"Zidan... apa yang makhluk itu katakan tadi? Aku mendengarnya. Dia bicara kan?" suara Kurumi bergetar.

​Aku terdiam sejenak, menatap ke luar jendela kabin yang tertutup es. "Dia bicara. Dan itu artinya semua yang kita ketahui tentang zombi selama ini sudah tidak berlaku lagi. Mereka bukan lagi wabah medis. Mereka adalah ancaman peradaban."

​"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Sektor 4 hancur, Markas Omega runtuh, Puncak Frost terbakar... Ke mana lagi kita harus pergi?"

​Aku melihat kompas. Jarumnya masih menunjuk ke arah utara, melampaui pegunungan salju menuju wilayah pesisir yang belum terjamah.

​"Kita akan terus bergerak, Kurumi. Selama kita punya bahan bakar dan peluru, kita punya peluang. Dan jika tempat aman itu tidak ada, maka kita akan membangunnya sendiri. Tapi dengan aturanku. Bukan aturan militer yang naif, bukan aturan komunitas yang lemah," kataku dengan nada dingin yang kembali stabil.

​Logikaku telah menemukan tujuan baru. Bertahan hidup saja tidak lagi cukup. Jika predator itu bisa berevolusi, maka aku harus menjadi pemangsa yang lebih efisien dari mereka semua.

​"Tidurlah, Kurumi. Aku yang akan memegang kendali," kataku.

​Kurumi menyandarkan kepalanya di pundakku, kelelahan akhirnya mengalahkan rasa takutnya. Dia tertidur di tengah deru mesin helikopter yang membelah kegelapan malam utara.

​Aku menatap cakrawala di depan. Matahari mulai muncul perlahan di ufuk timur, memberikan warna jingga yang tipis pada puncak-puncak gunung salju. Ini adalah fajar di dunia yang baru. Dunia di mana manusia bukan lagi puncak rantai makanan.

​Tapi selama aku masih bernapas, selama logikaku masih berfungsi, aku tidak akan membiarkan dunia ini menang. Aku adalah Zidan. Dan di dunia yang sudah gila ini, akulah satu-satunya yang masih memiliki kewarasan untuk tetap menjadi predator yang paling berbahaya.

Catatan Penulis:

Chapter 20 menutup Arc Pegunungan Salju dengan kejutan besar: Zombi yang bisa berbicara. Zidan dan Kurumi kini terbang menuju wilayah baru dengan pengetahuan yang akan mengubah cara mereka bertahan hidup selamanya. Terima kasih sudah mengikuti perjalanan Zidan hingga bab ke-20 ini! Dukungan kalian sangat berarti untuk kelanjutan kisah ini

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!