NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."

Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.

Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.

Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.

Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Sedetik.

Dua detik.

Tak ada yang bergerak diantara mereka, tiba-tiba perasan canggung langsung menyerebak di sekitar, hingga akhirnya laki-laki itu duluan yang tertawa sumbang.

"Hehehe, maaf kalau atau freak. "

Dalam hati Violet ingin mengatakan "emang iya" namun akhirnya ia tahan saja dan memilih diam.

"Aku bukan ingin menahanmu, " kata pria itu, lebih santai. "Kita belum berkenalan. Namaku Rayhan. "

Ia mengulurkan tangan.

Violet menatap tangan itu sebentar. Lalu menjabatnya singkat. "Violet."

"Hanya Violet?"

"Ya,cukup itu saja."

Reyhan mengangguk pelan, senyumnya sedikit berubah, lebih bersahabat dari yang tadi tapi tetap ada sesuatu di matanya yang membuat Violet langsung mengkategorikannya ke dalam kategori yang sudah sangat ia kenal. Laki-laki yang terbiasa mendapatkan perhatian perempuan dan sudah sangat menikmatinya.

Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kartu nama, menyodorkannya ke Violet dengan cara orang yang sudah sangat hafal dengan gerakan ini.

Reyhan Adriansyah. Aktor dah musisi. Pekerjaan yang ditulis di kartu nama itu.

Pantas. pikir Violet.

"Kalau butuh bantuan lagi," Rayhan menunjuk kartu itu, "nomorku ada di sana."

Lantas Violet memasukkan kartu itu ke dalam tas tanpa ekspresi yang berarti. "Semoga tidak perlu. "

Reyhan sontak tertawa kecil mendengar nya. "Jujur sekali."

Dari kejauhan Pak Rudy sudah terlihat berjalan cepat ke arah mereka sambil mengelap keringatnya dengan lengan baju, napasnya tersengal dari tadi. "Nyonya, maaf lama. Sudah beres ban nya."

"Tidak apa-apa, Pak." Violet berbalik. Satu anggukan singkat ke arah Reyhan. "Terima kasih."

Ia berjalan ke arah mobil tanpa menoleh lagi.

Dari belakang, laki-laki itu tiba-tiba berteriak. "Semoga kita bertemu lagi, Violet! " Sambil melambaikan tangannya.

Violet hanya berpura-pura mendengarkan nya saja lalu maasuk ke dalam mobil. Tapi dari kaca spion, sekilas ia masih bisa melihat laki-laki itu berdiri di tepi jalan itu, masih memandang ke arah mobilnya sampai hilang di tikungan.

Violet memalingkan matanya ke jendela.

Sementara kartu nama itu ia biarkan di dalam tas. Tidak dikeluarkan, tidak juga dibuang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Beberapa menit kemudian...

Kediaman Voss sudah kelihatan dari kejauhan ketika Pak Rudy membelokkan mobil masuk, dan Violet yang tadinya menatap jendela langsung duduk lebih tegak.

Ada keramaian di teras depan.

Bukan keramaian yang mengganggu. Justru sebaliknya. Bibi Matilda duduk di kursi rotan dengan kipas di tangan, tertawa mendengarkan sesuatu. Bu Nelis ada di sudut dengan tanaman yang sedang ia rapikan sambil sesekali nyeletuk. Kang Djarot dan Pak Rudy yang baru saja parkir langsung berteriak sahut-menyahutan dari jauh.

Dan di tengah semua itu, bersandar di tiang teras dengan tangan memegang segelas air, berdiri Adriel.

Violet sempat tidak yakin itu Adriel.

Bukan karena wajahnya berubah. Tapi karena penampilannya hari ini tidak seperti yang pernah ia lihat sebelumnya. Tidak ada seragam dinas. Tidak ada kemeja formal. Hanya kaus abu-abu polos lengan pendek dan celana training hitam, rambut yang tidak disisir rapi seperti biasanya.

Dan entah kenapa justru itu yang membuat Violet menyadari sesuatu yang selama ini selalu tertutupi oleh seragam dan ekspresi dingin yang selalu menjadi tameng harian pria itu.

Adriel Voss ternyata ketampanannya tidak butuh bantuan seragam sama sekali. Dan jauh lebih menawan ketika ia sedang mode bersantai seperti ini.

Violet kemudian turun dari mobil dan masih sempat memperhatikan laki-laki itu berbicara sesuatu ke Bibi Matilda yang langsung tertawa keras sampai kipasnya jatuh, dan Adriel memungutnya dengan ekspresi yang tidak berubah tapi ada sesuatu di ujung bibirnya yang berbeda dari ekspresi hariannya.

Tidak bisa disebut senyum. Tapi mendekati itu.

"Nyonya pulang!" seru Kang Djarot dari teras. "Pak Rudy, tadi itu ban bocor di mana?"

"Di jalan Enambelas, kenapa?"

"Itu memang sering bocor di sana! Kemarin juga ada yang kena. Jalannya penuh paku, bos."

"Lah kamu tahu kenapa tidak bilang dari tadi?"

"Saya pikir bapak sudah tahu!"

"Kalau saya sudah tahu emangnya saya lewat situ?"

Bibi Matilda menggeleng. "Kalian berdua ini, satu otak dipakai berdua."

Kang Djarot mendelik ke Bibi Matilda. "Bibi ini! saya dan Pak Rudy beda otak, beda kepala, beda--"

"Beda tapi sama-sama nyebelin," sela Mbak Nila dari balik pintu yang baru saja keluar membawa nampan minuman. Dia keponakannya bibi Matilda yang bekerja hanya pagi sampai sore saja, karena mempunyai anak yang masih balita. Violet pun mengenalnya baru- baru ini sebab sebelumnya mbak Nila ijin cuti karena anaknya sakit.

"Eh, Mbak Nila! Saya ini yang paling rajin di sini, tanya Bibi!"

"Yang paling rajin ngeles iya," kata Mbak Nila tanpa menoleh.

"Mbak Nila!" Kang Djarot berdiri dari kursinya dengan wajah yang terluka dramatis. "Saya setiap hari bawa kue buat Mbak, masa saya dibilang rajin ngeles?"

"Kuenya beli di warung sebelah, Djarot."

"Tapi saya yang jalan ke sana!"

Gelak tawa meledak dari semua arah.

Violet tanpa sadar tertawa juga, satu tawa kecil yang ia sendiri tidak persiapkan, dan ia langsung menutup mulutnya refleks. Lalu sadar itu tidak perlu karena tidak ada yang mempermasalahkan, semua orang di teras itu terlalu sibuk dengan drama Kang Djarot dan Mbak Nila yang sudah berkembang menjadi adu argumen soal siapa yang terakhir mengisi sabun cuci piring.

Violet naik ke teras dan berdiri tidak jauh dari Adriel yang masih di posisi yang sama.

"Ramai sekali," kata Violet pelan.

Adriel menatapnya sebentar. "Biasanya memang begini kalau hari libur." Ia menyeruput airnya. "Kamu tidak apa-apa?"

Violet menoleh. "Maksudnya?"

"Pak Rudy bilang ban bocor."

"Oh." Violet mengangkat bahunya. "Baik-baik saja. Ada yang bantu."

Adriel mengangguk satu kali. Matanya kembali ke teras di depannya yang masih ribut. Tapi Violet menangkap bahwa ada sesuatu di cara ia tadi bertanya yang berbeda dari pertanyaan rutin.

Di bawah teras, pertengkaran Kang Djarot dan Mbak Nila sudah mencapai fase baru di mana Kang Djarot mengeluarkan bukti foto di ponselnya bahwa ia yang terakhir isi sabun, dan Mbak Nila dengan tenang membalikkan fakta bahwa foto itu dari dua minggu lalu.

"Kamu simpan foto cuci piring?!" Mbak Nila menatap Kang Djarot tidak percaya.

"Buat bukti! Di sini sering difitnah!"

"Ya ampun Djarot." Bu Nelis menggeleng dari pojokan.

"Bu Nelis jangan ikut-ikutan!"

Bibi Matilda sampai memegang perutnya karena tertawa.

Violet melirik ke arah Adriel, dan untuk sepersekian detik ia melihatnya. Sudut bibir laki-laki itu bergerak. Naik. Pelan. Sangat kecil. Tapi nyata.

Violet memalingkan wajahnya sebelum Adriel menyadari ia melihat.

Dan dadanya terasa aneh lagi dengan cara yang sudah tidak lagi benar-benar ia bisa pura-pura tidak rasakan.

Suasana teras itu masih hangat dan ramai sampai ketika sebuah suara memotong semua keributan dari arah gerbang.

"Adriel!!"

Satu kata. Tapi cara mengucapkannya sudah cukup untuk membuat seluruh teras itu mendadak sunyi.

Suaranya perempuan, terdengar manja dengan cara yang terasa disengaja.

Semua kepala berbalik ke arah gerbang depan.

Di sana berdiri seorang perempuan dengan rambut blonde yang jatuh bergelombang di bahunya, pakaiannya minim tapi mahal dengan belahan dada yang memang sengaja diperlihatkan dan di tangannya ada koper besar yang rupanya baru saja diturunkan dari taksi yang langsung pergi begitu ia turun.

Matanya langsung mencari Adriel di antara semua orang yang ada di teras.

Ketemu!

Dan senyumnya langsung melebar.

Ia melangkah masuk tanpa dipersilakan, melewati Kang Djarot yang masih memegang ponselnya dengan ekspresi bingung, melewati Bibi Matilda yang langsung berdiri dari kursinya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca, langsung ke arah Adriel.

Lalu memeluknya.

Bukan pelukan singkat. Bukan juga pelukan perkenalan. Tapi pelukan panjang dengan wajah yang dibenamkan ke dada Adriel dan tangan yang melingkar dengan cara orang yang sudah sangat hafal dengan posisi itu.

"Aku kangen banget sama kamu," katanya pelan, tapi cukup untuk didengar semua orang yang ada di teras.

Violet berdiri dua langkah di sebelah kiri Adriel.

Tidak ada yang melihat ke arahnya.

Tapi dari sudut matanya, Violet melihat Bibi Matilda yang berdiri tidak jauh darinya, dan perempuan tua itu melirik ke arahnya dengan ekspresi yang tidak bisa Violet baca dengan tepat.

Antara iba dan khawatir.

Violet memindahkan pandangannya ke depan.

Ke perempuan blonde yang masih memeluk suaminya itu.

Tangannya yang tadi di sisi tubuhnya pelan-pelan menggenggam tali tas di bahunya lebih erat.

Dan ia tidak mengatakan apa-apa.

*****

BERSAMBUNG

1
Arai Cadella
Aku tinggalkan jejak. Aku suka pemilihan kata-katanya, sederhana namun sampai.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!