NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

BAB 30: Kelahiran di Atas Pusara

Malam di Berlin menyelimuti Kastil Hohenzollern dengan keheningan yang mencekam. Angin musim dingin yang terakhir melolong di sela-sela menara batu, seolah membawa firasat buruk yang telah lama tertanam di akar fondasi bangunan tua itu. Di dalam kamar utama yang diterangi cahaya lampu remang, Sophia terbangun dengan jeritan yang membelah sunyi.

Kandungannya telah menginjak usia sembilan bulan. Malam ini, bulan purnama menggantung pucat di langit, menjadi saksi bisu saat takdir mulai memutar rodanya dengan kejam.

"Aurelius... Sakit... Ahhh!" Sophia mencengkeram sprei sutra hitam hingga buku jarinya memutih. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya, membasahi bantal yang selama ini menjadi saksi kemanjaannya.

Aurelius yang tertidur di kursi samping ranjang—posisi yang selalu ia ambil selama sebulan terakhir untuk menjaga Sophia—terlonjak bangun. Matanya yang merah karena kurang tidur langsung membelalak melihat wajah Sophia yang membiru menahan nyeri.

"Sophia! Bertahanlah!" Aurelius menyambar interkom di samping tempat tidur. Suaranya bergetar hebat, kehilangan seluruh wibawa aristokratnya. "YOTO! SIAPKAN MOBIL! SEKARANG! HUBUNGI RUMAH SAKIT PUSAT!"

Dalam hitungan menit, koridor kastil yang dingin itu dipenuhi derap langkah kaki yang terburu-buru. Yoto muncul dengan wajah kaku namun matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam. Ia segera membantu Aurelius mengangkat Sophia yang terus mengerang kesakitan. Perutnya yang besar terasa sangat keras, dan detak jantung Sophia yang melemah mulai terdeteksi oleh intuisi Aurelius yang tajam.

"Tuan Muda, helikopter sudah siap di landasan barat. Jalanan Berlin tertutup salju, kita tidak bisa mengambil risiko dengan mobil," lapor Yoto dengan tegas.

Aurelius mengangguk kalap. Ia menggendong Sophia dengan kekuatannya sendiri, mengabaikan rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya. Di dalam helikopter yang menderu menuju Rumah Sakit Universitas Hohenzollern—fasilitas medis paling canggih yang dimiliki keluarganya—Aurelius tidak pernah melepaskan tangan Sophia.

"Jangan tinggalkan aku, Sophia. Kau berjanji akan membesarkan anak ini bersamaku. Jangan berani-berani menyerah!" bisik Aurelius di telinga Sophia, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Rumah sakit itu tampak seperti benteng sterilitas yang dingin. Tim dokter terbaik sudah menunggu di lobi darurat. Sophia segera dilarikan ke ruang operasi karena komplikasi preeklamsia berat yang tiba-tiba menyerang sistem tubuhnya.

Aurelius dipaksa mengenakan pakaian steril. Ia menolak untuk menunggu di luar. Ia ingin ada di sana, ingin menjadi saksi dari perjuangan hidup dan mati wanita yang—meskipun tidak ia cintai seperti ia mencintai Hana—telah memberikan seluruh hidupnya untuk membawa darah dagingnya ke dunia.

Di dalam ruang operasi, bau desinfektan dan suara monitor jantung yang berbunyi bip-bip kencang menjadi musik latar yang mengerikan. Sophia berjuang di ambang kesadaran. Matanya yang sayu menatap Aurelius, mencari pegangan terakhir.

"Aurelius... Maafkan aku... Jika aku tidak bisa... menjaga kalian," bisik Sophia dengan suara yang nyaris hilang di balik masker oksigen.

"Diamlah! Jangan bicara seperti itu!" Aurelius berlutut di samping kepala Sophia, menggenggam tangannya erat-erat. Air mata Aurelius jatuh, membasahi tangan Sophia. "Kau akan selamat. Kita akan melihat matahari terbit bersama anak kita. Sophia, dengarkan suaraku!"

Dokter bedah bekerja dengan cepat. Suasana menjadi sangat tegang ketika monitor jantung Sophia menunjukkan grafik yang tidak stabil. Tekanan darahnya merosot tajam.

"Tuan Hohenzollern, kami harus melakukan tindakan segera. Kondisi Ibu sangat kritis!" teriak kepala dokter.

"Lakukan apa saja! Selamatkan dia!" raung Aurelius.

Detik-detik berlalu seperti keabadian. Aurelius menyaksikan perjuangan luar biasa itu. Sophia mengerahkan sisa tenaga terakhirnya. Ia tidak lagi berteriak; ia hanya mengejang, memberikan seluruh jiwanya untuk mendorong kehidupan baru keluar dari rahimnya.

Dan kemudian, sebuah suara memecah ketegangan.

Oeeeekk... Oeeeekk...

Suara tangis bayi yang nyaring dan kuat bergema di ruang operasi. Seorang bayi laki-laki, dengan kulit kemerahan dan rambut hitam yang lebat, telah lahir. Pelayan medis segera membawa bayi itu untuk dibersihkan.

Aurelius tersenyum di tengah air matanya. "Sophia... lihat. Dia laki-laki. Dia sangat kuat. Kau berhasil, Sayang. Kau berhasil—"

Aurelius menoleh kembali ke arah Sophia, namun senyumnya seketika membeku.

Genggaman tangan Sophia melemas. Mata birunya yang indah perlahan meredup, kehilangan cahayanya. Garis pada monitor jantung di sampingnya mendatar dengan suara tiiiiiiiiiiiiiit yang panjang dan memekakkan telinga.

"Sophia?" bisik Aurelius. "Sophia! Bangun! Lihat anakmu!"

Dokter segera melakukan resusitasi jantung. Mereka memompa dada Sophia dengan paksa, memberikan kejutan listrik berkali-kali. Tubuh Sophia terhentak ke atas, namun ia tidak kunjung kembali.

"HENTIKAN! JANGAN SAKITI DIA LAGI!" Aurelius menerjang maju, memeluk tubuh Sophia yang sudah mulai mendingin. Ia meraung, sebuah raungan yang lebih mirip serigala yang kehilangan pasangannya daripada seorang manusia. "SOPHIA! JANGAN TINGGALKAN AKU! JANGAN SEPERTI INI!"

Aurelius menangis histeris. Ia membenamkan wajahnya di leher Sophia, membasahi kulit istrinya dengan air mata penyesalan yang terlambat. Ia menyadari bahwa di balik segala kemanjaan dan ambisinya, Sophia adalah wanita yang tulus mencintainya dengan caranya sendiri yang egois. Wanita ini telah memberikan nyawanya sebagai ganti untuk nyawa putranya.

Yoto, yang menyaksikan kejadian itu dari balik kaca ruang operasi, masuk dengan langkah perlahan. Ia melihat tuannya yang perkasa kini hancur berkeping-keping di atas lantai marmer rumah sakit.

"Tuan Muda..." Yoto meletakkan tangannya di bahu Aurelius. Suaranya serak. "Nona Sophia sudah pergi. Dia pergi dengan damai setelah memberikan Anda seorang pewaris. Anda harus kuat untuk putra Anda."

Aurelius tidak mendengar. Ia terus memanggil nama Sophia, mengguncang tubuh wanita itu seolah-olah ia bisa membangunkan kematian dengan kekuatannya sendiri. Kesadaran bahwa ia kini benar-benar sendirian di tengah kemegahan takhtanya menghantamnya dengan telak.

Tiga Hari Kemudian: Pemakaman di Bukit Hohenzollern.

Langit Berlin seolah ikut berkabung. Hujan abu-abu turun rintik-rintik, membasahi ribuan pelayat yang mengenakan pakaian hitam pekat. Pemakaman Sophia digelar dengan kemegahan yang menandingi pernikahannya, namun suasana kali ini terasa jauh lebih berat oleh duka yang murni.

Peti mati Sophia yang terbuat dari kayu mahoni terbaik dengan ukiran emas murni berdiri di depan liang lahat keluarga besar Hohenzollern. Di atas peti itu, tergeletak karangan bunga mawar putih—bunga kesukaan Sophia yang terakhir diminta saat ngidamnya.

Aurelius berdiri di depan peti, wajahnya pucat dan tirus. Ia mengenakan mantel panjang hitam, berdiri tegak namun matanya kosong. Di lengannya, ia menggendong bayi mungil yang dibalut kain sutra hitam—putranya, yang ia beri nama Maximilian Renzo von Hohenzollern.

Viktoria dan Elara berdiri di belakangnya, meneteskan air mata. Maximilian tua tampak terpukul, namun ia tetap menjaga wibawanya sebagai kepala klan.

Saat peti mulai diturunkan ke dalam tanah, Aurelius melangkah maju. Ia mengambil segenggam tanah dingin.

"Kau menang, Sophia," bisik Aurelius sangat pelan, hanya untuk didengar oleh angin. "Kau mengikatku selamanya dengan anak ini. Kau pergi saat aku mulai belajar untuk menerimamu. Maafkan aku karena tidak pernah memberikan hatiku sepenuhnya padamu."

Aurelius melepaskan tanah itu ke atas peti. Suara tanah yang menghantam kayu mahoni terdengar seperti dentum lonceng kematian bagi masa mudanya.

Di kejauhan, di bawah pohon ek besar yang jauh dari kerumunan, sebuah mobil hitam terparkir. Di dalamnya, Hana Asuka menatap pemandangan itu dari balik kaca gelap. Ia mengenakan cadar hitam, menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Ia tidak berani mendekat. Ia tahu kehadirannya hanya akan menambah luka di hati Aurelius.

Hana melihat Aurelius yang menggendong bayi itu. Ia melihat kedinginan dan kehampaan yang terpancar dari punggung pria itu.

"Selamat tinggal, Sophia," bisik Hana di dalam mobil. "Terima kasih telah menjaganya saat aku tidak bisa. Aku akan menjaga janjiku pada Ren, tapi mulai hari ini, Ren benar-benar telah mati bersama kepergianmu. Yang tersisa hanyalah Kaisar yang kesepian."

Hana memberikan isyarat pada supirnya untuk pergi. Ia kembali ke Jepang, membawa rahasia cintanya yang kini semakin terkubur dalam.

Aurelius berdiri di sana sampai pelayat terakhir pergi. Hanya tersisa Yoto di belakangnya. Salju mulai turun lagi, menutupi gundukan tanah baru itu.

"Yoto," panggil Aurelius, suaranya sedingin es yang paling dalam.

"Saya di sini, Tuan Muda."

"Siapkan pelantikan resmiku sebagai Kepala Klan minggu depan. Dan pastikan putraku mendapatkan pengamanan terbaik. Mulai hari ini, tidak ada lagi ruang untuk kelemahan. Sophia telah membayar takhta ini dengan nyawanya, dan aku akan memastikannya tidak sia-sia."

Aurelius berbalik, berjalan menjauhi makam tanpa menoleh lagi. Ia mendekap putranya erat-erat di balik mantelnya. Kaisar Berlin telah lahir kembali dari abu kematian istrinya, siap untuk menguasai dunia dengan hati yang telah membatu sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!