NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Undangan Mengejutkan.

Di sisi lain kota, Nala sebenarnya sudah bersiap untuk kembali ke Indonesia. Seluruh acara penghargaan telah selesai; koper besar sudah rapi di sudut kamar hotel, tiket pesawat pun telah ia konfirmasi ulang.

“Rasanya aku masih ingin di sini,” ujar Davin, menatap Nala yang sedang sibuk berkemas.

Malam nanti, ia dan Davin akan segera kembali ke Indonesia karena pekerjaan mereka sudah menunggu. Urusan di Seoul pun telah benar-benar selesai.

“Tapi aku lebih suka Jakarta. Di sini… walaupun menyenangkan, aku sedikit tidak nyaman,” ujar Nala.

Beberapa hari terakhir ia memang kesulitan mencari makanan yang benar-benar bisa dipastikan halal. Sebagai seorang muslim, ia begitu menjaga apa yang masuk ke tubuhnya. Ia tak pernah sembarangan menyentuh makanan nonhalal—berbeda dengan Davin yang tidak memiliki batasan serupa.

“Pasti karena kau tidak bisa memilih makanan, kan? Di sini tidak banyak yang menjual makanan halal,” ujar Davin, kini benar-benar menoleh ke arahnya.

“Eum… betul. Di sini aku bahkan harus membaca label satu per satu hanya untuk memastikan tak ada bahan yang dilarang. Di sini… halal terasa seperti kemewahan,” ujar Nala pelan. Ada nada lelah yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

“Agamamu seketat itu, Nala?” tanya Davin yang membuat Nala menggeleng pelan.

“Tidak juga. Menurutku mazhabku termasuk yang ringan aturannya. Sedangkan ada mazhab lain yang melarang makan seafood tertentu dan menganggapnya makruh,” ucap nya, Davin yang tadinya rebahan langsung bangun dan bersandar pada headboard.

“Mazhab dan makruh itu apa?” tanyanya, wajahnya menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus.

“Mazhab itu jalan. Atau lebih tepatnya… cara pandang dalam memahami hukum agama,” jelas Nala perlahan, sambil melipat kemeja putihnya dengan rapi ke dalam koper. “Setiap mazhab punya tafsir dan pendekatan sendiri terhadap ajaran. Tidak bertentangan, hanya berbeda cara memaknainya.”

Davin bersandar lebih nyaman, menatap ke luar jendela. Lampu-lampu kota Seoul berpendar lembut di bawah langit yang mulai kabur oleh kabut malam.

“Jadi… kau bilang sebagian orang dilarang makan seafood?” tanyanya lagi.

“Bukan dilarang sepenuhnya,” jawab Nala sambil tersenyum kecil. “Lebih ke dianggap makruh. Artinya, tidak disukai, tapi tidak berdosa bila dilakukan. Hanya… lebih baik dihindari.”

Davin mengangguk pelan, masih memandangi siluet kota.

“Kedengarannya rumit. Tapi menarik. Aku selalu berpikir aturan agama itu hitam-putih—boleh atau tidak. Ternyata ada banyak lapisan di antaranya,” ujarnya, lalu kembali merebahkan tubuhnya.

Nala menutup koper perlahan, lalu duduk di tepi ranjang.

“Aku rindu seblak dan martabak,” ujarnya tiba-tiba, Davin tertawa kecil.

“Sebenarnya di Korea juga ada martabak, meski mereka menyebutnya jeon. Tapi percayalah, rasanya jauh berbeda. Lebih mirip telur dadar yang kehilangan arah,” kata nya bercanda, Nala menoleh cepat pada Davin yang masih santai rebahan di ranjangnya.

“Telur dadar yang kehilangan arah? Kau memang pandai merusak citra kuliner negara orang.” Nala nyaris tersedak tawa.

“Bukan salahku kalau rasanya seperti itu. Aku sempat coba yang isi kimchi. Sumpah, Na, rasanya seperti… telur dadar yang tersesat di bumbu fermentasi. Teksturnya lembek, asin, lalu asam. Aku tidak tahu harus sedih atau kagum. Di lidahku jelas tidak cocok,” jawabnya ringan.

Keduanya larut dalam tawa kecil yang memecah kesunyian kamar.

Dari balik jendela, cahaya lampu kota Seoul berpendar lembut, memberi warna keemasan pada tirai putih yang bergoyang pelan oleh embusan pendingin ruangan. Kota itu tetap hidup—gemerlap, asing, dan megah—sementara di dalam kamar hotel sederhana itu, dua anak Jakarta sedang merindukan rumah.

Dan tanpa Nala sadari, ada seseorang di bagian kota yang lain yang justru berharap ia belum pulang.

“Kalau boleh jujur orang-orang Korea terlalu menjaga jarak. Ramah, tapi penuh batas. Mereka tersenyum, tapi jarang benar-benar membuka diri,” ujar Nala, suaranya menurun lembut, Davin mengangguk menyetujui apa yang di ucapkan oleh Nala.

“Itu benar. Tapi di sisi lain, mereka juga disiplin dan menghargai privasi. Hanya saja, untuk orang seperti kita—yang terbiasa hangat dan spontan—itu bisa terasa dingin,” ujar nya yang membuat Nala terkekeh pelan.

“Di Indonesia, bahkan orang yang baru kau kenal se-jam bisa memelukmu sambil cerita soal hidupnya,” sahut Nala ringan.

“Dan itu justru indah, ada sesuatu yang tulus di balik ketidakteraturan kita,” jawab Davin yang membuat keheningan melingkupi ruangan, hingga akhirnya Davin memandang Nala dengan sorot mata jahil.

“Ngomong-ngomong, aku masih penasaran dengan pria di panggung penghargaan itu,” ujarnya santai, hal itu membuat Nala menatap heran.

“Siapa?” tanya nya berusaha mengikuti arah pembicaraan nya.

“Leader grup itu... Kim Namjunho, bukan? Tatapannya padamu—aku rasa ada sesuatu di sana,” ujar nya dengan bibir sedikit manyun meledekinya, Nala langsung melempar bantal kecil ke arahnya.

“Mas, kau ini... Tidak ada habisnya membahas dia,” ujar nya yang membuat Davin tertawa puas tubuh nya berguling ke sana kemari di atas ranjang Nala seperti anak kecil.

“Aku hanya berkata jujur, tapi serius, kalau suatu hari dia benar-benar menghubungimu, jangan kaget. Dunia ini kecil, Na. Terlalu kecil untuk kebetulan yang berulang,” jawab Davin ringan, menahan tawa.

Belum sempat Nala menanggapi, sebuah notifikasi singkat muncul di layar ponselnya. Cahaya putih dari layar memantul di wajahnya yang tiba-tiba memucat.

Logo LYNX Entertainment terpampang jelas di bagian atas surel—sebuah nama yang baginya tidak asing, tapi terlalu besar untuk dihadapi dengan tenang.

“Mas... aku... aku dapat email,” ucap Nala pelan, nyaris terbata, langkahnya menuju Davin terdengar tergesa namun ragu di setiap hentakannya.

Davin yang semula tiduran kembali bersandar santai di headboard, menoleh sekilas tanpa banyak curiga.

“Lalu kenapa? Hanya email, kan? Kau seperti belum pernah mendapat email sebelumnya,” Nada suaranya ringan, tapi ekspresi Nala yang menegang membuat kalimat itu menggantung kaku di udara.

Tangannya bergetar ketika ia membuka pesan itu, bibirnya sempat bergetar tanpa suara. Baris demi baris kalimat terbaca jelas, namun seperti bergaung kosong di kepala Nala.

Kepada Ibu Nala Aleyra Lareina,

Kami, pihak LYNX Entertainment, dengan hormat mengundang Anda untuk hadir dalam pertemuan internal terkait kemungkinan kolaborasi penulisan lirik bersama tim kreatif SOLIX.

Pertemuan dijadwalkan pada hari Jumat esok, pukul 10.00 KST, di kantor pusat LYNX Entertainment, Gangnam, Seoul.

Harap konfirmasi kehadiran Anda sesegera mungkin.

“Mas… Mereka… mengundangku ke kantor agensi,” suara Nala lirih, hampir seperti hembusan napas.

Davin sempat tak bereaksi. Matanya hanya mengikuti gerak tubuh Nala yang menatap layar ponselnya seolah tak percaya. Ia lalu bangkit, nada suaranya mulai berubah.

“Agensi apa?” tanyanya, kali ini dengan alis yang berkerut Nala menatapnya, pupil matanya bergetar.

“Namjunho... Mas... ini... SOLIX...” ucapnya pelan sembari menyodorkan ponsel itu ke tangan Davin.

Davin menerima ponsel itu dan membaca email tersebut dengan seksama. Tatapannya perlahan berpindah dari layar ke wajah Nala—yang kini tampak campuran antara panik, bahagia, dan bingung.

“LYNX Entertainment... Seoul... SOLIX,” gumamnya pelan, menyebutkan satu per satu seperti sedang memastikan semuanya nyata.

“Kau... bercanda?” tanyanya akhirnya, setengah tak percaya.

Tapi Nala hanya  menggeleng cepat dia pun tidak tahu dan tidak menyangka jika dia akan mendapatkan email dari perusahaan besar itu.

“Aku bahkan belum tahu bagaimana bisa mereka tahu namaku, atau pekerjaanku... Tapi—mereka menyebutku dengan nama lengkapku. Itu berarti bukan salah kirim, Mas,” ucap nya yang membuat suasana hening beberapa detik yang panjang terasa seperti menit.

Davin menatap Nala lama—dalam diam yang menegangkan tapi sarat makna. Ada sesuatu di sana, entah itu rasa bangga, khawatir, atau mungkin... sesuatu yang lain, yang bahkan Nala tak sanggup artikan.

“Mereka jelas tahu karena kau jadi pemenang di acara penghargaan itu Nala. Tapi aku rasa...” ucap Davin perlahan, meletakkan ponsel di meja, “hidupmu baru saja akan berubah, Nala.” suaranya melemah di akhir kalimat.

Nala duduk di tepi ranjang, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Email itu masih terbuka di layar ponselnya, seolah menatap balik, menuntut jawaban.

“Mas... kalau aku datang, berarti aku harus menunda kepulangan. Sedangkan produksi film Sehelai Luka, Seribu Doa mulai minggu depan. Mereka bahkan sudah menyiapkan reading pertama, dan aku—aku masih punya tanggung jawab dengan tim produksi,” ujar nya bingung.

Davin menghela napas pelan, lalu turun dari ranjang dan duduk di kursi seberang Nala. Pandangannya tajam, tapi tenang.

“Nala, kau sadar tidak, tawaran seperti ini tidak datang dua kali? Ini bukan sekadar undangan untuk wawancara biasa. Ini LYNX Entertainment, dan mereka meminta kerjasama langsung dengan tim kreatif SOLIX,”  ujar nya yang membuat Nala mengangguk bingung.

“Aku tahu, Mas…” Nala menunduk. Jemarinya menekan pelipis, menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul. “Tapi bagaimana jika semua ini hanya kesalahpahaman? Aku... aku bahkan belum pernah berinteraksi dengan mereka. Bagaimana bisa mereka tiba-tiba mengundangku?” lanjut nya yang membuat Davin tersenyum tipis

“Kadang dunia profesional tidak butuh interaksi personal untuk menemukan seseorang yang pantas. Bisa jadi mereka membaca karyamu, atau mungkin seseorang dari pihak mereka merekomendasikanmu,” ujar nya yang membuat Nala menatap nya sejenak.

“Tapi ini terlalu tiba-tiba,” ujar nya yang membuat Davin menggeleng.

“Kesempatan besar sering datang tanpa aba-aba Nala,” ujar nya yang membuat Nala terdiam.

Ia menatap koper yang sudah tertutup rapi di sudut ruangan. Entah mengapa, kini koper itu tampak seperti simbol antara dua jalan — pulang ke tanah air dan melanjutkan rutinitas yang aman, atau menetap sebentar di negeri asing dan menghadapi sesuatu yang sama sekali baru.

“Mas... aku takut, aku tidak tahu bagaimana rasanya bekerja di lingkungan asing, dengan bahasa yang belum sepenuhnya kupahami, dan orang-orang yang mungkin berpikir berbeda. Aku takut membuat kesalahan,” ujar nya lirih, hal itu membuat Davin menatapnya lama, kemudian bersandar ke depan dengan nada suara yang lebih lembut.

“Nala, selama aku mengenalmu, kau selalu takut pada sesuatu sebelum melangkah. Tapi justru karena itu, setiap langkahmu selalu matang dan beralasan. Kau penulis yang sangat berhati-hati, tapi kali ini… mungkin kau harus sedikit berani,” ujar nya.

Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang tak diucapkan di antara keduanya — keyakinan dan keraguan yang saling bertarung dalam diam.

“Lagi pula, tidak ada yang tahu ke mana arah langkahmu berikutnya, tapi jika kau menolak sebelum mencoba... kau tidak akan pernah tahu sejauh apa kemampuanmu sebenarnya. Dunia menulismu di Indonesia sudah mapan, Nala. Tapi mungkin ini waktunya kau membuka jendela baru,” lanjut nya.

“Mas yakin?” tanya Nala bimbang.

“Yakin sekali,” jawabnya tanpa ragu. “Aku tidak bicara sebagai rekan kerja sekarang, tapi sebagai seseorang yang tahu betapa kerasnya kau berjuang untuk sampai di titik ini. Jika aku di posisimu, aku akan datang. Setidaknya untuk mendengar penawaran mereka,” lanjut nya yang membuat Nala menghela napas panjang, menatap layar ponselnya sekali lagi.

Email itu masih sama, tapi kali ini terasa berbeda. Seolah huruf-hurufnya menatap balik dengan tenang—menunggu jawaban, seperti tak akan pergi sebelum ia memutuskan sesuatu.

“Kalau begitu… aku akan datang, tapi aku tidak mau datang sendirian. Temani aku, aku mohon,” suaranya nyaris seperti bisikan, melihat itu Davin tersenyum, kali ini dengan lega.

“Begitu dong. Itu keputusan yang kupikir akan kau ambil. Kadang, jalan paling menakutkan justru membawa kita ke tempat yang paling berarti,” ujar nya yang membuat Nala hanya mengangguk pelan.

Ia menatap jendela kamar hotel — langit Seoul tampak pucat di luar sana, dan untuk sesaat, ia merasa angin yang berhembus membawa sesuatu yang asing tapi menenangkan.

Entah takdir seperti apa yang menantinya esok di Gangnam, tapi satu hal pasti—langkah kecil hari ini mungkin akan mengubah seluruh hidupnya. Dan hari itu keberangkatan Nala pun tertunda. Tiket pulang ditunda, koper kembali di buka, dan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

════ ⋆★⋆ ════

Sedangkan dari balik kaca gedung tinggi LYNX, seorang pria menunggu—dengan keyakinan bahwa keputusan ini akan mengubah bukan hanya perjalanan karier nya, tapi juga takdir hidup yang tak pernah dia  bayangkan sebelumnya.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!