Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Dia Jahat Sekali
"Bolehkah aku meminjam sepeda motormu? Kaki temanku terkena pecahan kaca dan sekarang terluka. Aku harus segera membawanya ke puskesmas," kata Alvaro tanpa memperhatikan ekspresi Zivanna.
Pengendara sepeda motor membuka helmnya lalu memiringkan kepalanya untuk melihat siapa teman dokter itu, barangkali dia mengenalnya. "Zivanna?"
Dengan tubuh sedikit gemetar Zivanna mendongak. "Ca... Cahyo?"
"Kalian saling mengenal? Kalau begitu tolong antar dia ke puskesmas biar lukanya segera mendapat pertolongan," kata Alvaro tanpa pikir panjang.
Dia tidak menyadari wajah Zivanna pucat pasi sampai gadis itu menarik-narik ujung kaosnya dan membuatnya menoleh. "Kamu kenapa, Zi? Apa kamu merasa pusing? Kakinya masih bisa digerakkan, kan?"
Alvaro segera berjongkok mensejajarkan posisinya dengan Zivanna. Dokter itu mengecek luka Zivanna sekali lagi. Tidak ada yang aneh dan mengkhawatirkan. Bahkan bisa dibilang itu hanya luka biasa yang mungkin hanya akan mendapat dua atau tiga jahitan, tetapi kenapa Zivanna sampai seperti ini?
Alvaro merasa khawatir. "Tolong antar dia ke puskesmas sekarang," kata Alvaro kepada Cahyo.
"A... Aku sama kamu saja, Al," tolak Zivanna dengan suara yang hampir tidak bisa keluar.
"Kenapa? Sama dia saja. Aku nggak tahu jalan, nanti kita malah tersesat. Setelah dia mengantarmu dia bisa menjemputku." Alvaro menoleh pada Cahyo. "Benar, kan?"
"Benar, ayo aku antar biar lukamu segera mendapat perawatan," Cahyo ikut meyakinkan.
Zivanna meremas tangan Alvaro yang masih memegangi kakinya. Dia ingin mengatakan jika tidak ingin diantar Cahyo ke puskesmas tapi bagaimana caranya? Jaket hitam bergambar tengkorak yang dipakai laki-laki itu sangat menakutkan baginya.
Bagaimana jika nanti Cahyo tidak mengantarnya ke puskesmas tetapi justru membawanya ke perkebunan tebu? Bagaimana jika yang terjadi di perkebunan tebu itu tidak terjadi pada Ayu melainkan pada dirinya?
Karena terlalu ketakutan Zivanna sampai tidak bisa berpikir jernih. Mimpi-mimpi itu terlalu sering menghantuinya sehingga kini dia kesulitan membedakan antara mimpi dan nyata, atau antara hidupnya dan hidup gadis di dalam mimpinya. Dia tidak bisa meyakinkan dirinya lagi jika jaket itu mungkin saja hanya kebetulan sama.
"Aku sama kamu saja, Al. Aku tahu jalannya nanti aku yang tunjukkan. Lagi pula Cahyo bukan dokter. Nanti kalau aku pingsan di tengah jalan bagaimana?" Zivanna meremas tangan Alvaro semakin kuat yang membuat dokter itu sadar jika ini bukan hanya soal luka di kakinya.
"Benar juga. Apakah kamu keberatan jika kami pinjam sepeda motormu? Nanti akan aku kembalikan setelah aku mengantar dia ke puskesmas. Kami tidak akan membawa lari sepeda motormu."
"Tenang saja, Dok. Saya percaya, kok. Ini kuncinya." Cahyo memberikan kunci sepeda motornya dengan suka rela. "Nanti motornya dibawa ke rumah Bu Minah saja soalnya di rumah tidak ada orang. Biar nanti sore aku ambil kalau aku sudah selesai kerja."
"Kalau begitu nanti motormu aku tinggal di rumah Nenek Minah sekalian ngantar Zivanna."
Alvaro membantu Zivanna berdiri setelah itu mendudukkan gadis itu di atas motor. "Kami pergi dulu," pamit Alvaro kepada Cahyo. Laki-laki itu mengangguk.
* * *
Di ruangan khusus perawat,
Suci baru saja datang. Dia mendengar dua rekannya, satu mau pulang dan yang satu lagi baru saja datang sama seperti dirinya, sedang berbisik-bisik. Jika sudah mode begini biasanya yang dibicarakan tidak jauh-jauh dari area puskesmas, atau orang-orang di dalamnya.
Rasa penasaran membuat Suci bertanya pada mereka. "Ada berita apa?"
Padahal Suci tidak begitu dekat dengan mereka tetapi demi menjawab keingintahuannya dia memaksakan diri bertanya.
"Dokter Alvaro datang bersama seorang gadis, sepertinya sih, kekasihnya."
Raut wajah Suci langsung menunjukkan ketidaksukaan. Berita itu langsung membuat moodnya menjadi buruk. "Jangan bicara gosip! Dari mana kalian tahu dia kekasih dokter Alvaro? Bisa saja gadis itu hanya teman atau pasiennya," ketusnya.
Kedua orang itu mengabaikan Suci dan lanjut menggosip. "Gadis itu sangat cantik, dokter Alvaro juga sangat tampan. Mereka sangat serasi. Aku dukung kalau mereka benar-benar jadian. Kalau kamu melihatnya kamu juga pasti akan setuju denganku," lanjut perawat yang hendak pulang.
"Seperti apa sih mukanya? Jadi penasaran."
"Kamu lihat saja sendiri. Mungkin mereka masih berada di ruangan poli umum. Tadi waktu aku kemari, dokter Alvaro baru selesai membalut lukanya," kata perawat yang hendak pulang.
"Malu ah, masa mengintip orang pacaran," jawab perawat satunya sambil cekikikan.
Tanpa mereka sadari, Suci melempar tasnya lalu berjalan dengan tergesa menuju ruangan poli umum. Suci langsung masuk dan menemukan Alvaro sedang bersama seorang perempuan. Suci berdiri mematung dan tidak percaya. "Dia lagi!!!" gerutunya dalam hati.
Alvaro dan Zivanna menoleh mendengar suara pintu terbuka. Alvaro melemparkan lirikan dingin. Sangat dingin hingga Suci tidak tahu harus bagaimana.
"Maaf... " ucap perawat itu kemudian menutup pintu lalu pergi.
Alvaro menoleh, kembali menatap Zivanna. Lirikan dingin yang tadi dia perlihatkan kepada Suci berubah menjadi tatapan lembut dan teduh.
Kaki Zivanna sudah diobati. Dari mulai membersihkan, menjahit dan menutup lukanya dengan kain kasa, semuanya Alvaro lakukan sendiri tanpa bantuan perawat.
"Aku antar kamu pulang, ya? Nanti nenek khawatir." Zivanna mengangguk setuju.
"Tunggu di sini." Dokter itu segera pergi. Setelah beberapa saat dia kembali sambil mendorong kursi roda. "Duduk di sini!" perintahnya lagi. "Sebenarnya aku lebih suka menggendongmu seperti tadi. Tetapi di depan sudah banyak orang. Kamu pasti malu kalau aku gendong karena akan menjadi pusat perhatian," terangnya.
Zivanna terdiam mengingat kejadian tadi di parkiran puskesmas ketika Alvaro tiba-tiba memasang punggungnya di depannya lalu menggendongnya. Untung tadi masih sepi, jadi hanya ada beberapa orang yang melihatnya.
Pipi Zivanna merona mengingatnya.
* * *
Alvaro dan Zivanna sudah sampai di rumah. Tadinya Alvaro hendak langsung pulang. Tetapi melihat kondisi rumah dalam keadaan sepi, Alvaro mengurungkan niatnya. Dia khawatir Zivanna membutuhkan sesuatu dan tidak ada yang membantunya.
"Al... " panggil Zivanna.
Tadi Zivanna berjalan pincang, satu kaki menapak dan kakinya yang terluka berjinjit. Alvaro gemas lalu membopongnya biar cepat sampai di dalam rumah lalu mendudukkannya di kursi. Laki-laki itu kemudian pergi ke belakang untuk mengambilkan Zivanna minuman.
"Hmmm... " sahut Alvaro. Beberapa detik kemudian laki-laki tampan itu muncul membawa segelas air untuk Zivanna lalu duduk di samping Zivanna. "Ada apa?" tanyanya.
"Perawatmu itu tadi... " Zivanna ragu mengatakannya.
"Kenapa dia? Katakan saja."
"Dia juga sering muncul di mimpiku. Dan dia jahat sekali. Tapi itu hanya di dalam mimpi. Dia memang tidak terlihat ramah. Kamu lebih mengenalnya. Di kehidupan nyata, dia tidak jahat, kan?"
Alvaro sedikit terkejut tetapi berhasil menyembunyikan.
"Setahuku dia tidak jahat," jawab Alvaro. "Kalau soal pekerjaan aku tidak mempunyai keluhan. Selama ini dia cukup cekatan meski katanya banyak yang tidak menyukainya. Tapi kalau soal kehidupan pribadinya aku tidak tahu," lanjutnya. "Memangnya, sejahat apa dia di dalam mimpimu?"