Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Predator
Alex melepaskan borgol di tangan Tiana dengan gerakan perlahan, seolah memberikan kebebasan yang paling manis sekaligus paling beracun. Ia menatap ke arah hamparan pepohonan yang rapat dan gelap di depan mereka, lalu kembali menatap Tiana dengan seringai predatornya yang khas.
"Lihat di luar, itu hutan sangat luas, baby... aku punya kesempatan untukmu. Pergilah menjauh dariku," bisik Alex sembari membukakan pintu mobil untuknya. "Aku beri waktu selama 15 menit untukmu bersembunyi. Jika aku tidak menemukanmu selama tiga jam... kau boleh pergi dari duniaku, baby."
Tiana tertegun, matanya membelalak menatap hutan belantara yang tampak tak berujung itu. Harapan untuk bebas seketika membuncah di dadanya, mengalahkan rasa takutnya pada kegelapan hutan.
"Tuan serius? Tuan tidak akan menembak saya dari belakang?" tanya Tiana memastikan, suaranya bergetar antara ragu dan semangat.
Alex terkekeh, suara tawa yang membuat bulu kuduk meremajang. Ia mengetuk jam tangan mewahnya. "Waktumu dimulai dari... sekarang. Lari, Tiana! Lari sebelum aku berubah pikiran!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Tiana segera melompat keluar dari mobil. Ia berlari sekencang mungkin menembus semak belukar, mengabaikan ranting-ranting yang menggores kulit kakinya. Di kepalanya hanya ada satu pikiran: Kebebasan.
Sementara itu, Alex hanya bersandar di kap mobilnya, menyalakan sebatang cerutu dan menatap jam tangannya dengan tenang. Ia tahu betul setiap inci hutan ini karena ini adalah taman bermainnya.
"Lari sejauh yang kau bisa, Mawar kecil," gumam Alex pelan. "Semakin jauh kau lari, semakin menyenangkan saat aku menyeretmu kembali ke kandangmu."
------------------------------
Tiana terus berlari hingga napasnya terasa seperti terbakar. Ia menoleh ke belakang, mobil Alex sudah tidak terlihat. Namun, tiba-tiba suara Alex menggema melalui pengeras suara mobil yang dipasang di penjuru hutan tersebut.
"Satu menit berlalu, Tiana... Jantungmu berdetak sangat keras, aku bahkan bisa mendengarnya dari sini."
Tiana mematung di balik rimbunnya semak belukar, berusaha mengecilkan tubuhnya sekecil mungkin. "Astaga, aku harus sembunyi di mana... aku tidak boleh ketahuan, pokoknya aku harus pergi dari iblis itu!" bisiknya dalam hati dengan napas yang memburu.
Hening hutan yang semula hanya diisi suara gesekan daun, tiba-tiba pecah oleh suara yang sangat ia takuti.
Gug! Gug! Gug!
Suara gonggongan itu berat, dalam, dan terdengar sangat dekat. Tiana memberanikan diri mengintip sedikit dari celah semak-semak. Seketika, jantungnya seolah berhenti berdetak dan hampir copot dari tempatnya. Hanya beberapa meter di dekat sebuah pohon besar, berdiri seekor anjing Doberman hitam raksasa dengan otot-otot yang menonjol dan mata yang berkilat tajam mencari mangsa.
Tiana segera membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Ia takut bahkan suara napasnya saja bisa membuat anjing itu menerkamnya.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara langkah sepatu bot yang menginjak ranting kering dengan sangat tenang. Krak... krak...
"Cari dia, Shadow... cari mawar kecil yang sedang ketakutan itu," suara bariton Alex terdengar menggema, santai namun penuh otoritas.
Anjing itu mulai mengendus-endus tanah, moncongnya bergerak liar ke arah semak tempat Tiana berada. Jaraknya kini hanya tinggal satu meter. Tiana memejamkan mata rapat-rapat, air mata ketakutan mulai mengalir membasahi sela-sela jarinya yang membekap mulut.
Apakah Tiana akan ketauan atau tidak?, nantikan di bab selanjutnya jangan sampai ketinggalan ya🫣