Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Perjalanan menuju Bandung terasa lebih panjang dari biasanya.
Di dalam mobil, tak banyak kata yang terucap. Hanya suara mesin dan sesekali isak pelan yang berusaha ditahan. Arsyi duduk di kursi penumpang, menatap kosong ke arah luar jendela. Pemandangan berganti, namun pikirannya tetap tertinggal di rumah itu.
Tiba di rumah, tak lama Arsyi izin pamit keluar lagi.
“Kalau capek, istirahat saja dulu di rumah,” ucap Bu Hana pelan, memecah keheningan.
Arsyi menggeleng tanpa menoleh. “Aku mau keluar sebentar, Bu.”
“Ke mana?”
“Aku mau ketemu Bima.”
Nama itu membuat Bu Hana terdiam sejenak. Ia tahu siapa Bima dan pria yang selama ini menjadi sandaran Arsyi, pria yang bahkan sudah merencanakan masa depan bersama putrinya.
“Ya sudah … tapi jangan lama-lama,” jawab Bu Hana akhirnya. Arsyi hanya mengangguk pelan.
Kafe itu tidak terlalu ramai sore itu.
Suasananya tenang, dengan alunan musik lembut yang seharusnya menenangkan. Namun, tidak untuk Arsyi. Langkahnya terhenti sesaat di depan pintu. Ia menarik napas panjang.
Seolah sedang menenangkan sesuatu yang sejak tadi bergejolak di dalam dadanya. Lalu ia masuk, dan matanya langsung menyapu ruangan, mencari satu wajah yang ia kenal. Dan ia menemukannya di sudut kafe. Duduk di meja dekat jendela. Namun, pria itu tidak sendiri.
Seorang wanita duduk di depannya. Berbicara seolah dunia hanya milik mereka berdua. Langkah Arsyi terasa berat namun ia tetap berjalan mendekat.
Bima terdiam dan senyumnya perlahan hilang.
“Arsyi…” ucapnya, terdengar kaget namun tidak sepenuhnya. Wanita di depannya menoleh, menatap Arsyi dengan ekspresi bertanya.
Arsyi tidak langsung berbicara, matanya hanya menatap Bima.
“Aku datang,” ucapnya pelan. “Seperti yang kamu minta.”
Bima menarik napas panjang, lalu bersandar di kursinya.
“Duduk dulu,” katanya.
Namun, Arsyi tetap berdiri.
“Aku tidak butuh duduk,” jawabnya lirih. “Aku butuh penjelasan.”
Hening sejenak, wanita itu terlihat tidak nyaman, namun tetap diam.
“Aku yang akan jelaskan,” kata Bima akhirnya, suaranya berubah datar. “Aku sudah berpikir … dan sepertinya kita tidak bisa lanjut.”
Arsyi membeku.
“Apa maksud kamu?” tanyanya pelan.
“Aku ingin kita selesai.”
Arsyi tertawa kecil.
“Kamu bercanda, ya?” matanya mulai berkaca-kaca. “Setelah semua yang kita rencanakan … kamu bilang selesai?”
Bima menatapnya, namun tidak ada rasa bersalah di sana.
“Aku tidak bercanda.”
Arsyi menggeleng.
“Lalu ini apa?” tanyanya, menunjuk wanita di depan Bima. Wanita itu terlihat canggung, namun Bima justru menjawab dengan tenang.
“Dia Rania,” Nama itu terasa asing tetapi kehadirannya terlalu jelas.
“Kami sudah saling kenal beberapa waktu ini,” lanjut Bima.
Beberapa waktu ini, artinya saat Arsyi masih bersamanya. Saat mereka masih merencanakan pernikahan.
“Jadi … kamu selingkuh?” suara Arsyi bergetar.
Bima tidak langsung menjawab. Tetapi, diamnya sudah menjadi jawaban. Air mata Arsyi akhirnya jatuh.
“Kenapa?” bisiknya. “Apa kurangku?” Pertanyaan yang sederhana namun penuh luka.
Bima menghela napas. “Ini bukan soal kurang atau tidak, Ar. Aku cuma … berubah.” Jawaban yang klise.
“Kita sudah berjanji…” suara Arsyi semakin lemah. “Kita mau menikah … kamu yang bilang akan bawa aku ke masa depan yang lebih baik…”
Bima tersenyum tipis.
“Dan sekarang aku memilih masa depan yang lain."
Arsyi terdiam.
“Baik,” ucapnya lirih. Ia menatap Bima untuk terakhir kalinya.
“Semoga pilihan kamu … tidak kamu sesali.” Lalu ia berbalik dan melangkah pergi, tanpa menoleh lagi.
Di luar kafe.
Langit Bandung mulai gelap, angin dingin menyapu wajahnya. Dan di situlah Arsyi akhirnya berhenti.
“Kenapa semuanya harus sekaligus…” bisiknya di antara tangis.
Sementara di dalam kafe. Bima hanya menatap ke arah pintu. Diam seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara wanita di depannya akhirnya bertanya pelan, “Kamu yakin dengan keputusan ini?”
Bima tersenyum tipis.
“Seharusnya dari dulu aku tidak memulai sesuatu yang tidak pasti.” Kalimat itu terdengar ringan.
Malam di Bandung terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin dingin menyusup melalui celah jendela, namun tidak ada yang lebih dingin dari perasaan yang tengah memenuhi dada Arsyi.
Ia duduk di tepi ranjang dengan tubuh sedikit membungkuk, kedua tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi hanya ia tatap tanpa benar-benar digunakan. Matanya sembab, namun kini tak ada lagi air mata yang jatuh. Seolah semuanya sudah habis.
Bayangan wajah Bima terus berputar di kepalanya, senyumnya, janjinya, dan cara pria itu dengan mudah memutuskan segalanya di depan banyak orang. Arsyi mengembuskan napas panjang, lalu menutup matanya sejenak.
“Aku capek…” bisiknya pelan.
Capek berharap, capek memperjuangkan sesuatu yang ternyata tidak pernah benar-benar ia miliki. Perlahan, pikirannya beralih pada hal lain. Tentang Melodi dan tentang kakaknya, Nadin. Dan tentang keputusan yang sebelumnya ia tolak mentah-mentah.
Ia membuka mata, tatapannya berubah. Tidak lagi hanya berisi luka, tapi juga sesuatu yang lebih dingin. Tangannya mulai bergerak. Ia membuka kontak dan berhenti pada satu nama.
Pesan mulai diketik. Ia sempat menghapusnya beberapa kali, hingga akhirnya hanya tersisa satu kalimat sederhana.
[Aku setuju, Kak.]
Tak butuh waktu lama, ponselnya langsung bergetar, ada panggilan masuk.
Arsyi menatap layar itu beberapa detik, lalu mengangkatnya tanpa ragu.
[Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?] suara Harsa terdengar di seberang, datar seperti biasanya.
Arsyi menarik napas pelan sebelum menjawab, “Aku tidak ingin memperpanjang semuanya. Kalau ini memang untuk Melodi … aku akan jalani.”
Hening sejenak.
“Dengan satu syarat,” lanjutnya.
[Apa?] tanya Harsa singkat.
Arsyi menatap lurus ke depan, suaranya berubah lebih dingin. “Aku mau Kak Harsa datang menikahiku di rumah ini. Seperti dulu kamu datang untuk Kak Nadin.”
Di ujung sana, Harsa terdiam.
"Aku tidak akan datang ke kamu,” lanjut Arsyi tanpa ragu. “Aku tidak mau mengejar siapa pun lagi.” Kalimat itu terdengar tenang, namun penuh batas yang jelas.
Beberapa detik kemudian, Harsa menjawab, [Tidak!]
Arsyi tidak terkejut. Ia bahkan sudah menduga jawaban itu.
“Kalau Kak Harsa menolak, aku tidak akan memaksa,” ucapnya datar. “Anggap saja pembicaraan ini tidak pernah ada.”
Tangannya mulai menjauhkan ponsel dari telinga, bersiap mengakhiri percakapan. Namun, suara Harsa kembali terdengar, sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
[Tunggu!]
Arsyi diam, kembali mendekatkan ponselnya.
[Kalau kita menikah, kamu yang akan tinggal di rumahku. Di Jakarta,] ucap Harsa tegas.
Bukan tawaran tetapi itu keputusan. Arsyi terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Senyum yang tak sampai ke matanya.
“Baik,” jawabnya singkat. “Maharnya,” lanjutnya pelan.
Harsa mengernyit di seberang. [Apa?]
“Seratus gram emas London.”
Harsa mengepalkan tangannya. Permintaan itu jauh di luar dugaan. Bahkan, untuk ukuran dirinya, angka itu bukan sekadar besar tetapi terasa berlebihan untuk sesuatu yang ia anggap hanya sementara.
[Seratus gram?] ulangnya pelan.
“Iya,” jawab Arsyi singkat. “Tidak kurang.” Nada suaranya tetap tenang, tanpa ragu.
Harsa mengembuskan napas panjang, berusaha menahan sesuatu yang mulai mengusik emosinya.
[Kamu benar-benar berbeda dari kakakmu,] ucapnya pelan, namun terdengar jelas.
Arsyi tidak langsung menanggapi.
Harsa melanjutkan, kali ini lebih rendah, [Kamu terlalu … matre.]
Arsyi hanya tersenyum tipis.
“Mungkin,” jawabnya santai. “Atau mungkin aku hanya tidak ingin lagi dirugikan,”
Tak ada bantahan yang keluar.
“Kalau Kak Harsa tidak sanggup, tidak masalah,” lanjut Arsyi. “Aku tidak memaksa.”
Nada suaranya tetap datar. Seolah semua ini bukan sesuatu yang penting. Padahal, di balik itu, ia sedang menjaga satu hal terakhir yang tersisa yaitu harga dirinya.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Dan tanpa menunggu lebih lama, Arsyi memutuskan panggilan itu.
Kamar kembali hening.
Ia menatap ponselnya sejenak sebelum meletakkannya perlahan di sampingnya. Tangannya sedikit gemetar, namun wajahnya tetap datar. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi harapan yang tersisa untuk dipertahankan.
“Mulai sekarang…” bisiknya pelan, “aku tidak akan jadi orang yang sama lagi.”
Di Jakarta, Harsa masih berdiri dengan ponsel di tangannya.
Tatapannya kosong namun rahangnya mengeras.
“Seratus gram…” gumamnya pelan. Ia menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke depan.
“Benar-benar berbeda…” ucapnya lirih. Namun, entah kenapa, perbedaan itu justru membuat pikirannya terusik.
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂