Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.
Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Countdown di layar studio terus berdetak. 00: 02:00. 00:01:59. Suara penonton makin riuh, seperti ombak yang memukul dinding panggung. Di atas meja juri, lampu indikator online voting menyala dan memantul pada lensa kamera. Nama-nama peserta bergerak naik turun setiap detik.
Thalia berdiri di sisi panggung, napasnya sudah kembali tenang. "Air, Nyonya," bisik Rina, menyodorkan botol.
"Terima kasih," jawab Thalia pelan. Ia meneguk sedikit. Di layar samping, grafik menampilkan kejutan: garis biru milik Thalia Anderson terus menanjak. Tadinya di posisi kedua dengan selisih tipis, kini merayap, merapat, lalu menyamai angka di atasnya.
Di bangku belakang, Tiffany menatap indikator itu tanpa berkedip. Tangan yang memegang mikrofon terasa dingin. Tidak mungkin, katanya dalam hati. Tidak mungkin dia menyalipku sekarang. Bibirnya tersenyum, tapi mata beningnya menegang. Brengsek.
MC berjalan kembali ke tengah panggung.
"Pemirsa, voting online kita akan ditutup dalam satu menit. Jika Anda belum memilih, sekarang waktunya. Ingat, online voting berbobot 80%, sementara juri memberikan 20%. Malam ini dua peserta dengan skor terendah harus pulang."
Dari balkon sampai bangku terdepan, penonton sibuk menunduk menatap ponsel. Di timeline layar besar, komentar mengalir seperti hujan meteor.
Vote Thalia! Suaranya bikin merinding!
Tiffany tetap ratu!
Dua-duanya bagus, tapi malam ini Thalia lebih ngena!
"Empat puluh lima detik!" seru MC.
Di meja juri, Michael mencondongkan badan, melirik panel. "Pergerakan yang menarik," gumamnya, cukup dekat pada mikrofon kecil di kerah sehingga terdengar jelas.
Marissa mengangguk kecil. "Ini bukti penampilan bisa mengubah persepsi dalam lima menit."
Tanaka menulis singkat di kartu penilaian.
Isabella Cruz menatap panggung dengan senyum tipis.
"Dua puluh detik!" sorak MC.
Thalia menatap layar. Garis biru melewati garis emas. Sedikit... lalu makin jauh. Rina memegang lengan Thalia sebentar, tak berkata-kata. Tiffany mengembuskan napas cepat; asisten pribadinya membisikkan sesuatu yang tidak ia dengar.
"Lima! Empat! Tiga! Dua! Satu! Voting online ditutup!"
Sorak membahana. Lampu-lampu panggung meredup sepersekian detik, lalu menyala lagi. Musik sting WTBS meledak singkat. Kamera menyorot wajah para peserta satu per satu. Jimmy menunduk, Zoey tersenyum tipis, Anna duduk tegak, Garen berusaha terlihat santai, David menarik napas panjang, Ayana mengatupkan jemarinya. Tiffany mengangkat dagu, membentuk senyum ramah untuk kamera. Thalia berdiri tenang, kedua tangannya bertaut rapi.
"Baik," suara MC turun satu oktaf, dramatis.
"Kita akan mulai dari Peringkat Pertama malam ini, gabungan online voting dan nilai juri."
Layar LED besar berputar, menampilkan angka-angka yang menari. Penonton menahan napas.
"Di peringkat pertama..." jeda panjang. "THALIA ANDERSON!"
Studio meledak. Teriakan, siulan, tepuk tangan bercampur jadi satu. Sebagian penonton berdiri memberi standing ovation kedua untuk malam itu. Kamera menyorot Thalia-senyumnya tipis, matanya berkaca tenang. Ia membungkuk sopan.
Rina menutup mulut dengan tangan, matanya ikut basah. "Nyonya..."
Michael bertepuk tangan sambil mengangguk puas. Marissa tersenyum dalam; Tanaka mengetuk meja dua kali, isyarat kagum; Isabella mengangkat kedua alisnya dan menatap kamera seakan berkata: Ingat nama ini.
Di bangku Tiffany, jantungnya terasa jatuh ke perut. Ia tetap tersenyum untuk kamera, tetapi di balik senyum itu ada debar kesal yang menggetarkan dasar dadanya. Tentu saja. Hari pertama. Bintang baru harus dibuat bersinar. Tapi ingat, ini baru awal, batinnya, menyumpahi nama Thalia tanpa suara.
MC melanjutkan, "Peringkat kedua... TIFFANY EVELYN!"
Teriakan dari fans Tiffany langsung menggema, menutupi nada kecewa yang nyaris tidak terdengar.
Banner bertuliskan "WE LOVE TIFFANY" bergetar.
Mereka memanggil namanya berkali-kali. Tiffany berdiri anggun, melambaikan tangan, membiarkan kamera mendapatkan semua sudut terbaik dari wajahnya.
"Dan sekarang," kata MC dengan nada lebih berat, "kita menuju bagian paling tidak menyenangkan. Dua peserta dengan skor gabungan terendah malam ini harus mengakhiri perjalanan di WTBS."
Lampu menyapu deret kursi. Nama-nama berkedip cepat sebelum perlahan berhenti.
"Peserta yang pertama tereliminasi adalah... JIMMY KΑΝΕ."
Jimmy menutup mata, mengembuskan napas panjang, lalu berdiri menerima pelukan singkat dari peserta lain. Beberapa penonton bersorak memberi dukungan; yang lain hanya bertepuk tangan sopan. Kamera menyorot wajahnya-lelah, tapi lega karena duka sudah diberi kepastian.
"Peserta yang kedua tereliminasi... GAREN BROOKS."
Garen mengangguk, mengetuk dadanya dua kali dan menunjuk ke atas, tanda terima kasih. "Gue balik lebih matang," gumamnya ke mikrofon kecil. Beberapa fansnya berteriak "We love you!" dari balkon.
"Untuk para peserta yang lolos," MC menutup pengumuman, "selamat. Untuk dua peserta yang harus pulang malam ini, terima kasih sudah memberi kami penampilan yang jujur. Pemirsa di rumah, voting untuk episode berikutnya akan dibuka kembali besok siang di aplikasi resmi WTBS."
Musik tema kembali mengalun. Kamera menutup dengan wide shot panggung, lalu cut ke iklan.
Backstage berubah seperti pasar malam. Kru berlarian, wartawan entertainment meminta komentar singkat, produser berjabat tangan dengan perwakilan sponsor. Thalia baru saja menaruh in-ear monitor ketika produser eksekutif menghampiri, wajahnya berseri-seri.
"Penampilan yang luar biasa," katanya singkat.
"Terima kasih sudah membuat kami punya cerita yang tidak bisa diprediksi."
"Terima kasih," sahut Thalia. "Saya akan bekerja lebih keras untuk minggu depan."
Rina menepuk-nepuk bahu Thalia ringan.
"Nyonya, jadwal latihan besok sudah saya atur. Komposer dari Gotta Labels juga mengirim tiga demo. Kita pilih yang paling cocok."
"Baik." Thalia melirik ke ujung ruangan.
Tiffany berdiri dikelilingi timnya, menerima touch up pada riasan yang sudah sempurna. Sekilas mata mereka bertemu. Tiffany tersenyum-senyum sopan yang manis. Thalia membalas dengan anggukan kecil. Tidak ada kata-kata, tapi udara di antara mereka memercik.
Jangan senang dulu, batin Tiffany, mempertahankan senyumnya. Kau unggul satu langkah, tapi aku sudah tahu caranya berlari.
Sementara itu, di luar studio, dunia maya terbakar. Tagar #ThaliaAnderson, #TiffanyEvelyn, #WTBS bertarung di jajaran puncak. Dua kubu fans saling lempar pendapat.
Dari fans Tiffany:
"Hasil malam ini aneh. Juri jelas-jelas lebih memuji Tiffany. Kok bisa peringkat satu bukan dia?"
"Thalia pasti curang vote pakai bot!"
"Jangan butakan standar musik hanya karena wajah!"
Balasan dari fans Thalia dan fans netral:
"Tolong jujur, malam ini Thalia memang lebih kuat. Teknik, kontrol, emosi-lengkap."
suara." "Kalau kalah jangan teriak curang. Suara ya
"Fans Tiffany tolong kalem, kalian terlalu anarkis. Semua peserta dihargai."
Cuplikan high note Thalia beredar cepat. Ada yang mengeditnya dengan slow motion, ada yang memotong bagian tatapan Thalia ke kamera dan menulis: "Saat dewi melirik bumi." Dalam dua jam, follower Thalia bertambah ratusan ribu. Komentar membanjiri postingan lamanya, dari "Queen!"
sampai "Kapan rilis single?"
Sementara itu, akun resmi WTBS menulis:
"Terima kasih untuk malam bersejarah! Ingat, ini baru awal. Tetap dukung idola kalian dengan cara yang sehat." Produser membaca kolom komentar sambil menyeringai-untuk televisi, tidak ada yang lebih manis daripada angka rating yang naik bersama riuh pertengkaran timeline. Ia menutup laptopnya, puas.
Di mansion, Liam masih duduk bersila di sofa dengan piyama biru, kedua tangannya memeluk bantal kecil. Di layar TV ruang keluarga, siaran ulang penampilan Thalia diputar dari kanal digital.
"Nyonya akan pulang larut," kata Nanny Rosa lembut. "Liam harus tidur, sayang."
"Tidak mau," Liam menggeleng keras. "Liam mau nonton Mama nyanyi lagi."
Nanny Rosa melirik jam, lalu menyerah. "Sekali lagi, ya."
Penampilan Thalia mengisi ruangan. Liam ikut menirukan gerakan tangan mamanya, lalu bertepuk tangan heboh ketika lagu selesai. "Mama paling hebat! Mama nomol catu!" Ia berdiri di atas sofa, meneriakkan, "Mamaaaa! Nomol catuuu!"
Nanny Rosa tertawa kecil dan menurunkannya dari sofa. "Pelan-pelan, Tuan kecil. Nanti jatuh."
Liam duduk lagi, matanya berbinar. "Becok Mama nyanyi lagi?"
"Tidak setiap hari," jawab Nanny Rosa. "Tapi Mama akan sering tampil. Kita dukung Mama, ya."
Liam mengangguk sangat semangat, lalu akhirnya menguap. "Tapi Liam nunggu Mama pulang..."
"Liam boleh tidur dulu. Nanti kalau Mama pulang, aku bangunkan," janji Nanny Rosa.
"Janji?"
"Janji."
Liam akhirnya meringkuk, memeluk bantalnya.
Di layar TV, replay polling memperlihatkan nama Thalia di posisi puncak. Senyum kecil mengembang di wajah bocah itu sebelum matanya tertutup.
Di kantor, Aiden masih duduk di depan monitor besar. Lampu kota memantul di kaca jendela di belakangnya. Di layar, situs resmi WTBS menampilkan highlight malam ini. Aiden menonton ulang penampilan Thalia dari awal sampai akhir tanpa menekan tombol skip. Pada detik-detik menuju high note, ia bersandar ke kursi, kedua alisnya sedikit terangkat-reaksi kecil yang jarang terlihat dari pria itu.
"Tekniknya bersih," gumamnya, seakan melaporkan pada dirinya sendiri. "Panggungnya... miliknya."
Ia melihat detik ketika Thalia menurunkan tangan, tepat saat lampu backlight menyala. Wajah itu-tenang, indah, tak minta maaf atas sinarnya. Ada sesuatu yang menggerakkan sudut bibir Aiden, hampir seperti... senyum.
Ia menutup mulut, menepuk-nepuk pelan meja, sadar pada dirinya. Berhenti, perintahnya dalam hati. Jangan memuji terlalu jauh. Membiasakan diri tidak memuja siapa pun membuatnya sulit mengakui kekaguman-bahkan pada istrinya sendiri. Rasa gengsi menekan tombol escape di kepalanya.
Ponselnya berbunyi. Notifikasi dari Lucas:
"Rating puncak 12,8. Trending #1 dan #2 milik WTBS. Nama Nyonya juga nomor 1."
Aiden membalas singkat: "Baik."
Jari-jarinya berhenti di atas keyboard. Ia memandangi freeze frame wajah Thalia: mata yang teguh, bibir yang baru saja selesai mengucapkan nada terakhir. Suara itu, pikirnya. Lebih dari sekadar pelarian atau trik. Itu... bakat. Ia menghela napas. Dan aku hampir lupa aku sedang menonton istriku.
Ia mematikan layar, mengambil jasnya, dan berdiri. Malam masih panjang, tetapi sesuatu di dadanya terasa sedikit lebih ringan dari biasanya. Ia tidak akan mengaku-bukan malam ini, mungkin bukan besok-namun pikirannya menyimpan kalimat yang tidak sempat diucapkan: Kau bagus sekali.
Backstage sudah lebih lengang ketika Thalia pamit pada kru satu per satu. "Terima kasih kerja kerasnya," ucapnya pada sound engineer dan lighting director. Orang-orang panggung selalu mengingat siapa yang menatap mata mereka dan berkata terima kasih.
Rina merapatkan mantel di bahu Thalia.
"Nyonya, mobil sudah menunggu."
"Baik. Pastikan jadwal besok mulai siang-aku ingin satu jam pagi bersama Liam."
"Tentu."
Mereka berjalan melewati lorong gelap menuju pintu keluar. Di belakang, suara-suara masih terdengar: tawa, bisik-bisik, rencana, obrolan tentang setlist minggu depan. Di depan, udara malam menyambut sejuk. Thalia menatap langit beberapa detik, lalu tersenyum kecil.
Malam ini, sorotan telah berpihak. Namun ia tahu betul: panggung tidak pernah benar-benar milik siapa pun. Ia hanya meminjamkan diri pada mereka yang berani jujur.
Di tempat lain, Tiffany duduk sendirian sejenak, menatap ponsel yang layarnya penuh mention. Wajahnya tetap cantik, tapi matanya tidak setenang biasa. "Baik," katanya pada bayangannya sendiri.
"Kalau kau bintang baru, Thalia... lihat bagaimana bintang lama bertahan."
lanjuttttt/Kiss/