"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Matahari baru saja terbit, namun bagi Calista, langit tetap terasa kelabu. Setelah semalam suntuk berjaga di selasar rumah sakit yang dingin terbangun setiap kali langkah kaki perawat mendekat ia memulai langkah kakinya yang berat menyusuri jalanan kota. Map cokelat yang kemarin berisi kebanggaan, kini ia gunakan untuk menyimpan lembaran fotokopi KTP dan ijazah sementara yang sedikit kusut. Ia tidak lagi mencari universitas; ia mencari cara agar Ibunya tetap bernapas di tengah deru mesin pendukung hidup.
Langkah kakinya membawanya dari satu ruko ke ruko lain. "Maaf, Dek, kami butuh yang sudah berpengalaman minimal dua tahun. Kami tidak punya waktu untuk melatih anak magang," tolak seorang pemilik toko swalayan dengan nada datar sembari terus menghitung stok barang.
Calista mencoba peruntungannya di sebuah kafe trendi di pusat kota. "Kami sedang tidak menerima karyawan baru, apalagi yang baru lulus SMA. Kami butuh sertifikat barista jika ingin melamar di sini," ujar manajer kafe itu tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.
Satu per satu pintu tertutup di depan wajahnya dengan bunyi dentum yang menyakitkan. Calista mencoba melamar menjadi pelayan restoran, kasir toko buku, hingga buruh cuci di pemukiman padat. Namun, setiap kali ia menyebutkan usianya yang baru 17 tahun, para pemilik usaha langsung memandangnya sebelah mata. Mereka melihatnya sebagai bocah yang hanya akan membawa masalah hukum ketenagakerjaan, bukan solusi. Waktu terus berdetak, dan setiap menit yang terbuang berarti biaya rumah sakit yang terus membengkak layaknya bola salju yang siap menghantamnya.
Sore harinya, Calista kembali ke rumah sakit dengan tangan hampa dan kaki yang lecet karena sepatu sekolahnya yang sudah menipis. Ia duduk di kursi panjang taman rumah sakit yang terpencil, menelungkupkan wajah di antara kedua lututnya. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan di tenggorokan akhirnya pecah. Ia merasa benar-benar hancur, tak berdaya, dan kalah oleh dunia yang begitu keras pada mereka yang tidak memiliki harta.
"Menangis tidak akan melunasi tagihan ICU itu, Calista. Air mata adalah mata uang yang tidak laku di rumah sakit ini."
Sebuah suara bariton yang berat, tenang, namun tajam memecah kesunyian. Calista tersentak dan mendongak dengan mata sembab. Di hadapannya berdiri seorang pria jangkung dengan setelan jas hitam yang tampak sangat mahal, potongan kainnya jatuh dengan sempurna di tubuhnya yang atletis. Pria itu memiliki garis wajah yang tegas, tatapan mata yang gelap namun sangat jernih, dan aura otoritas yang begitu kuat hingga membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat. Usianya mungkin sekitar 30 tahun matang, tenang, namun menyimpan misteri yang pekat.
"Siapa... Anda? Bagaimana Anda tahu namaku?" tanya Calista sambil menghapus air matanya dengan kasar, mencoba menjaga sisa-sisa harga dirinya yang sudah compang-camping.
"Denis Satrya," jawab pria itu singkat. Ia tidak duduk, tetap berdiri tegak seolah sedang memandang rendah dunia dari puncak menara gadingnya. "Aku sudah melihatmu sejak kemarin. Gadis kecil yang putus asa membawa map kelulusan ke meja administrasi, memohon waktu tambahan sambil menggenggam harapan yang sia-sia, lalu berkeliling kota mencari pekerjaan yang upahnya setahun pun tidak akan cukup untuk membayar biaya operasi jantung ibumu besok pagi."
Calista terpaku. Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu. "Apa mau Anda? Anda datang ke sini hanya untuk menghitung luka-lukaku?"
Denis menyunggingkan senyum tipis yang dingin, jenis senyuman yang biasanya dimiliki oleh predator yang sudah mengunci mangsanya. "Aku tidak punya waktu untuk rasa kasihan yang sentimental. Aku punya solusi praktis. Menikahlah denganku, dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali. Biaya rumah sakit Ibumu akan lunas dalam lima menit setelah kau mengangguk, pengobatan terbaik di negeri ini akan tersedia, bahkan masa depanmu yang cerah di universitas mana pun akan terjamin."
Dunia seakan berhenti berputar bagi Calista. Tawaran itu terdengar seperti keajaiban dari dongeng, namun instingnya yang terasah oleh kesulitan hidup berteriak bahwa tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini. "Kenapa? Kenapa harus aku? Seorang gadis SMA yang baru lulus tidak akan memberikan keuntungan apa pun bagi pria seperti Anda. Dan... apa syaratnya?"
Denis melangkah satu langkah lebih dekat, bayangannya yang tinggi menelan tubuh kecil Calista yang duduk di bangku. "Kau cerdas. Itu alasan pertamaku. Dan kau tidak punya pilihan. Itu alasan keduaku." Denis menatapnya lekat-lekat. "Ada harga yang harus kau bayar. Syaratnya tidak mudah secara mental. Kau harus masuk ke dalam keluargaku dan membuat mereka semua membencimu. Kau harus menjadi sosok yang paling menjijikkan di mata mereka."
Calista mengerutkan dahi, bingung dan ngeri. "Membuat keluarga Anda membenciku? Untuk apa?"
"Keluargaku adalah sekumpulan ular yang haus kekuasaan dan harta. Mereka saling sikut dengan topeng kesantunan. Aku ingin kau menjadi duri dalam daging bagi mereka, pengingat bahwa mereka tidak punya kuasa atas pilihanku," ucap Denis pelan namun penuh penekanan. "Kau harus bersikap arogan, serakah, dan menyebalkan hingga mereka muak padamu. Namun, di saat yang sama, kau akan kubekali dengan kekuatan finansial dan hukum untuk membuat mereka semua bertekuk lutut di bawah kakimu saat waktunya tiba. Aku akan memberimu senjatanya, tapi kau yang harus menarik pelatuknya untuk menghancurkan harga diri mereka."
Calista terperangah. Ia diminta menjadi musuh publik di keluarga besar Satrya, membuang martabatnya demi menjadi 'permaisuri iblis' yang menguasai mereka. Ini bukan sekadar pernikahan; ini adalah sebuah misi infiltrasi dan permainan kekuasaan yang kejam.
"Kenapa harus aku yang melakukannya?" bisik Calista ngeri.
"Karena kau tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, kecuali nyawa Ibumu," jawab Denis tanpa belas kasihan. "Pilihannya ada di tanganmu, Calista. Menjadi istri yang dibenci namun Ibumu tetap hidup dan kau menjadi penguasa di rumahku dengan harta yang tak terbatas, atau tetap menjadi anak baik-baik yang malang namun harus melihat Ibumu pulang di dalam mobil jenazah malam ini."
Denis mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tinta emas yang elegan dan meletakkannya di bangku taman di samping Calista. "Aku beri waktu sampai jam delapan malam ini. Setelah itu, tawaran ini hangus dan rumah sakit akan secara otomatis menghentikan bantuan alat pernapasan Ibumu karena tunggakan biaya."
Pria itu berbalik dan melangkah pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan aroma parfum maskulin yang mahal dan dinginnya kenyataan pahit. Calista gemetar memandangi kartu nama itu. Di antara rasa cinta pada Ibunya dan kegelapan yang ditawarkan Denis, Calista menyadari bahwa hari ini adalah hari terakhirnya menjadi seorang gadis remaja yang lugu. Demi napas Ibunya, ia harus siap menjadi wanita yang paling dibenci di dunia. Ia harus menjadi monster untuk melawan monster yang lebih besar.
Bersambung...