NovelToon NovelToon
Di Balik Senyum Anak Pertama

Di Balik Senyum Anak Pertama

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurhikmatul Jannah

"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.

Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.

Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibu yang Berubah dan Kebenaran Terungkap

POV Zhira

"APA?! WANITA ITU?! YA ALLAH SAKTI!! DASAR MULUT BAU!! SELAMA INI IBU KIRA DIA TEMEN, TAUNYA JAHAT BANGET!!"

Teriakan Ibu Zainal menggema keras di ruang tamu rumah keluarga Arfan. Tangannya gemetar hebat menahan amarah yang meledak-ledak. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa tetangga yang selama ini dianggap sahabat dan sering datang minum kopi di rumahnya, ternyata memiliki hati sehitam itu.

Ibu langsung mengambil HP-nya dan menelepon nomor Tante Sari dengan tangan gemetar karena marah.

"HALO SARI!! KAMU SADAR DIRI NGGAK SIH?! BERANI-BERANINYA KAMU GANGGU ANAK SAYA?! KAMU ITU IRI YA?! IRI LIHAT ANAK SAYA BAHAGIA?! KAMU JAHAT BANGET SIH!! JAGA MULUT KAMU YA! JANGAN SAMPAI SAYA SAMPAI RUMAH, SAYA ADUIN KE RT DAN WARGA SEMUA KELAKUAN KAMU ITU! SAYA BEBERIN SEMUA! DASAR ORANG IRIDAN!"

Suara Ibu begitu keras dan garang. Di seberang sana, pasti Tante Sari sudah gemetar ketakutan setengah mati mendengar amukan Ibu Zainal. Dia pasti menyesal sudah memancing harimau yang sedang melindungi anaknya.

Setelah menutup telepon dengan kasar, Ibu langsung berbalik dan memelukku erat-erat. Pelukan itu sangat kuat, seolah takut aku akan hilang atau diculik oleh orang jahat.

"Maafin Ibu ya Nak... Maafin Ibu ya..." isak Ibu di bahuku. Air matanya basah membasahi bajuku.

"Astagfirullah... Ibu menyesal banget. Dulu Ibu sering banget ngomong kasar sama kamu, Ibu pernah bilang kamu pembawa sial, Ibu marah-marah terus. Dan sekarang denger orang lain ngomong gitu ke kamu, rasanya hati Ibu mau copot, Nak. Sakit banget..."

Ibu melepaskan pelukan, lalu memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya yang kasar namun penuh kasih sayang.

"Ternyata kamu itu anak baik banget. Ternyata kamu itu berlian yang Ibu punya, tapi Ibu malah ngubur kamu di tanah. Ibu bodoh ya? Ibu jahat ya?"

"Nggak Bu... nggak..." air mataku juga mengalir deras, membasahi tangan Ibu. "Ibu tetap Ibu terbaik buat Zhira."

"Mulai sekarang," Ibu Zainal menatapku dengan mata yang berapi-api, "Nggak ada yang boleh sakitin kamu. Siapa pun itu! Kalau ada yang berani sentuh kamu satu rambut aja, Ibu lawan mati-matian! Kamu anak Ibu, harta Ibu yang paling berharga!"

Melihat perubahan drastis ini, Arfan dan orang tuanya hanya bisa tersenyum haru menyaksikan dari sisi.

"Lihat tuh Pak," bisik Bu Ratna pelan. "Cinta seorang Ibu itu memang luar biasa. Dia cuma butuh waktu buat sadar caranya yang salah."

"Iya Bu. Zhira memang anak hebat. Dia berhasil meluluhkan hati ibunya sendiri," jawab Pak Darmawan mengangguk bangga.

 

Suasana pun kembali mencair. Ibu Zainal kini duduk di sebelahku, tangannya tak lepas dari genggaman tanganku. Dia terlihat sangat akrab dan mengobrol santai dengan Bu Ratna dan Pak Darmawan.

Ternyata, di balik ketegasannya, Ibu Zainal adalah sosok yang cerdas dan pandai bergaul. Mereka bertiga akrab sekali membicarakan persiapan pernikahan nanti.

"Bu Ratna tenang aja, soal masakan dan hajatan biar saya yang urus di kampung. Saya pastiin semuanya lancar dan hikmat. Yang penting anak-anak kita bahagia," kata Ibu Zainal dengan penuh semangat.

"Siap dong Bu Zainal! Kita kerja sama buat acara terbaik buat mereka berdua," jawab Bu Ratna tertawa renyah.

Siang harinya, sebelum pulang, Ibu memanggilku dan Arfan ke sudut ruangan. Dia mengeluarkan sebuah buku tabungan dan menyerahkannya padaku.

"Nah, ini buat kamu berdua. Isinya nggak banyak, itu hasil tabungan Ibu dari jualan kue dan nasi. Ibu sengaja nggak pernah minta uang kamu lagi karena Ibu mau buktikan kalau Ibu juga bisa mandiri. Ini Ibu kasih buat tambahan biaya nikah atau buat tabungan awal kalian."

Mataku terbelalak tak percaya. "Bu? Ini... ini uang Ibu kan? Zhira nggak berani ambil."

"Ambil aja! Ini hak kamu! Itu rezeki anak yang sholehah. Ibu cuma mau bilang, terima kasih ya Nak sudah sabar sama Ibu selama ini. Maafin Ibu ya..."

Aku menerima buku tabungan itu dengan tangan gemetar. Rasanya berat, bukan karena isinya, tapi karena makna cinta yang luar biasa di dalamnya.

"Makasih Ibu... Makasih sudah jadi Ibu yang luar biasa."

 

Malam harinya, saat Ibu Zainal sudah pulang dan tinggal aku dan Arfan berdua di kamar tamu, aku masih tersenyum memandang langit-langit kamar.

"Fan..."

"Hmm?" Arfan yang sedang membaca HP, langsung menoleh dan memelukku.

"Tadi... Ibu berubah banget ya? Dia marah besar demi aku. Dia kasih aku uang tabungan. Rasanya kayak mimpi."

Arfan tersenyum bangga, lalu mengecup keningku. "Iya Sayang. Ibu kamu sayang banget sama kamu. Dia cuma caranya aja yang dulu salah. Sekarang dia sadar, dan dia mau berubah jadi lebih baik demi kamu."

"Aku bersyukur banget Fan. Jadi pelakunya Tante Sari ya? Orang yang pura-pura baik."

"Iya. Dan karena kejadian ini, kita jadi tahu siapa yang musuh dan siapa yang teman. Tante Sari cuma orang iri yang nggak punya kehidupan sendiri makanya suka ngurusin hidup orang lain. Kita abaikan aja ya."

Aku mengangguk setuju. "Iya. Sekarang aku nggak takut lagi. Aku punya kamu, punya Ibu, punya Ayah, punya keluarga baru yang hebat. Nggak ada yang bisa ngerusak kebahagiaan aku lagi."

"Betul itu! Kita fokus persiapan nikah sekarang ya! Cepat bikin aku halal biar bisa jagain kamu 24 jam!" goda Arfan sambil mencubit pinggangku gemas.

Aku terkikik malu dan memukul pelan dada bidangnya.

Misteri terpecahkan, kejahatan terungkap, dan hubungan keluarga justru makin erat karena ujian ini. Langkah menuju pelaminan kini terbuka lebar, cerah, dan penuh berkah.

POV End

 

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Gimana Bestie? ✅ Nyambung kan sama Bab 25? Judulnya juga seru kan? 😍🔥

Sekarang lanjut Bab 27 lagi gas! Kita mau masuk persiapan nikah dan momen romantis lainnya! 📖💍✨

1
Mona
Bagus banget Thor, kalimat dan alurnya menarik dan membuat tertarik, keren 👍👍👍👍👍
Nurhikmatul Jannah
ya kak terimah kasih ya😍,iya kak nanti tak mampir
haniswity
ceritanya seruuu ,banyak banget plott twist nya suka banget ,walaupun pemula tapi cerita hebat banget 👋
Nurhikmatul Jannah: Terimah kasih sudah mampir
total 1 replies
haniswity
cerita nya bagus bangett,ngene banget banyak juga plot twist ny💪,semngat
Nurhikmatul Jannah: terimah kasih sudah mampir😍
total 1 replies
Nurhikmatul Jannah
bagus.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!